Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 141

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 141

Bersembunyi.

Segera mereka melihat dua bayangan, yang ternyata adalah pengemis tadi. Mereka langsung menuju ke bawah *lauwteng* dan memperdengarkan siulan perlahan.

"Apakah orang-orang gagah dari Kay Pang ada di sana?" tanya seorang pelayan seraya menyingkap kere.

"Silakan naik." Dua pengemis itu melompat ke atas *lauwteng*.

Sang nona segera menyambut. Ia memberi hormat sambil menanyakan *she* (nama keluarga) dan nama kedua tamunya itu.

"Aku yang rendah *she* Lee," sahut si pengemis tua. "Ini keponakan muridku, Ie Tiauw Hin."

Melihat wajah orang yang penuh luka itu, Nona Thia teringat sesuatu. "Bukankah *locianpwee* adalah Hang Liong Ciu Lee Seng?" tanyanya.

"Tajam matamu, Nona!" tawa si pengemis. "Aku yang rendah dan gurumu, Ceng Ceng Sanjin, pernah berjodoh bertemu sekali. Walaupun kita tidak bersahabat rapat, kita saling menghormati."

Mendengar nama Ceng Ceng Sanjin, Kwee Ceng teringat bahwa orang itu adalah yang disebut Sun Put Jie Sun Siang-kouw, salah satu dari Coan Cin Cit Cu. Karenanya, Nona Thia bukanlah orang luar.

"Locianpwee baik sekali hendak menolong, *boanpwee* (sebutan rendah diri) sangat bersyukur," kata sang nona. "Dalam segala hal, *boanpwee* akan menuruti kata *locianpwee*."

"Nona adalah orang terhormat. Kalau kau dipandang lebih dari itu oleh binatang tersebut, itu pun sudah hebat," sahut Hang Liong Ciu Lee Seng, si Penakluk Naga.

Mendengar itu, wajah sang nona memerah.

"Sekarang, silakan Nona beristirahat di kamar ibumu. Jangan tinggalkan pelayanmu di sini," Lee Seng memberi petunjuk. "Aku yang rendah punya daya untuk menghadapi binatang itu."

"Boanpwee tidak gagah, tetapi boanpwee tidak gentar terhadap binatang itu," sahut sang nona. "*Locianpwee* hendak bertanggung jawab sendiri, sungguh aku malu."

"Jangan berkata demikian, Nona," sambung Lee Seng. "Ang Pangcu kami bersahabat kental dengan Ong Tiong Yang Cinjin dari Coan Cin Pay, jadi kita seperti keluarga sendiri."

Sebenarnya Nona Thia ingin sekali mencoba ilmu silatnya, tetapi melihat mata tajam Lee Seng, ia tidak berani membantah. Ia lantas memberi hormat. "Baiklah, aku menurut saja kepada *locianpwee*," ucapnya.

Lantas ia turun dari *lauwteng*-nya. Lee Seng segera menghampiri pembaringan sang nona dan menyingkap kelambunya. Pembaringan itu indah, tetapi ia naik ke atas tanpa membuka sepatu. Tak peduli sepatu dan pakaiannya dekil, ia terus merebahkan diri.

"Turunlah," perintahnya kepada Ie Tiauw Hin. "Kalian semua berjaga di bawah. Tanpa perintahku, aku larang kalian lancang turun tangan!"

Tiauw Hin menurut dan berlalu. Lee Seng menutup diri dengan selimut indah, lalu menyuruh pelayan menurunkan kelambu dan memadamkan api. Kemudian, mereka pun mengundurkan diri.

Oey Yong tertawa dalam hati menyaksikan kelakuan Lee Seng. "Semua orang Kay Pang telah meneladani tingkah laku pemimpinnya; semua suka berjenaka, tidak peduli di tempat apa."

Karena sudah mengetahui ada penjagaan, Nona Thia bersama Kwee Ceng mendekam terus di bawah payon, berdiam menanti dengan mulut terbungkam. Lantas terdengar suara kentongan ronda tanda jam tiga. Menyusul kemudian suara batu dilempar ke dalam taman. Itulah batu tanda dari orang yang biasa keluar malam.

Oey Yong menarik ujung baju Kwee Ceng untuk memberi tahu. Hanya sebentar, di luar tembok terlihat tujuh atau delapan orang melompat masuk, lalu naik ke atas *lauwteng*. Mereka menyalakan api sejenak, lalu menuju pembaringan.

Dalam sekejap, Oey Yong dapat melihat wajah orang-orang itu. Dua yang menjadi kepala adalah anak buah Auwyang Kongcu, yaitu dua pria yang biasa membawa galah panjang penggiring ular. Enam yang lain adalah murid-murid wanita Auwyang Kongcu.

Si dua pria berdiri di kiri-kanan pembaringan, empat wanita menutup tubuh Lee Seng dengan sehelai selimut lebar. Lalu dua yang lain membentangkan sebuah kantung besar, tubuh Lee Seng dimasukkan ke dalamnya, lalu karung itu diikat kuat-kuat. Mereka bekerja sangat cepat, seperti sudah terlatih mahir, tanpa suara. Dua wanita menggendong kantung itu, lalu melompat turun dari *lauwteng*.

Kwee Ceng hendak bangkit untuk menyusul, tetapi Oey Yong mencegahnya. "Biarkan orang-orang Kay Pang jalan lebih dulu," bisik sang nona. Kwee Ceng menurut dan mengawasi. Kantung berisi manusia itu digotong oleh delapan orang. Di belakang mereka mengiringi lebih dari sepuluh orang lainnya yang menggenggam tongkat bambu; rupanya mereka adalah orang-orang Kay Pang.

Menanti sampai mereka berjarak beberapa tombak, barulah Oey Yong dan Kwee Ceng keluar dari persembunyian untuk membuntuti. Seorang pengemis berjalan paling belakang. Kedua rombongan itu menuju ke luar kota, ke sebuah rumah besar. Rombongan Auwyang Kongcu masuk ke dalam, sementara rombongan pengemis berpencar mengepung rumah tersebut.

Oey Yong menarik tangan Kwee Ceng ke arah belakang, tempat mereka melompati tembok untuk masuk ke pekarangan dalam. Rumah besar itu ternyata rumah abu keluarga Lauw. Di pendopo terdapat sejumlah *sincie* dan papan nama almarhum yang dihormati. Pendopo diterangi lima batang lilin besar. Duduk di tengah adalah seorang pria yang sedang mengipas diri perlahan-lahan.

Menduga dialah Auwyang Kongcu, Oey Yong dan Kwee Ceng berlaku hati-hati. Mereka mengintai dari bawah jendela, bertanya-tanya apakah Lee Seng sanggup melayani pemuda lihai itu.

Sebentar kemudian muncullah delapan penggotong kantung manusia tadi. "Kongcu, Nona Thia sudah disambut!" lapor salah seorang.

Auwyang Kongcu tertawa dingin. Alih-alih menyambut anak buahnya, ia memandang ke luar pendopo seraya berkata, "Sahabat, setelah bersusah payah datang berkunjung, kenapa tidak masuk saja untuk minum teh?"

"Hebat orang ini," pikir Kwee Ceng. Orang-orang Kay Pang tetap bersembunyi. Tanpa tanda dari Lee Seng, mereka tidak berani bertindak lancang.

Auwyang Kongcu memandang ke arah kantung. "Aku tidak sangka Nona Thia begitu gampang diundang!" Ia melangkah menghampiri dengan tenang. Ketika ia mengibaskan kipasnya, kipas itu tertutup rapat dan menjadi sepotong besi mirip *pit* (alat tulis Tionghoa).

Kwee Ceng dan Oey Yong terkejut. Mereka menduga musuh telah mengetahui siapa yang berada di dalam kantung itu. Diam-diam mereka menyiapkan *kong-piauw*, bersedia menolong Lee Seng.

Mendadak terdengar suara *sar-ser* dari jendela, lalu dua batang panah tangan menyambar ke arah Auwyang Kongcu. Rupanya orang-orang Kay Pang merasakan pemimpin mereka terancam. Auwyang Kongcu menggerakkan tangan kirinya ke samping, menjepit dengan telunjuk dan jari tengah; sebatang panah patah seketika.

Orang-orang Kay Pang terkejut, bahkan Ie Tiauw Hin berseru, "Paman Lee, keluarlah!"

Menyambut seruan itu, tiba-tiba terdengar suara kain kantung yang robek. Dua bilah golok menyambar keluar, disusul tubuh Lee Seng yang berguling keluar sambil memegangi kantung sebagai pelindung diri. Lee Seng melompat berdiri. Ia tahu Auwyang Kongcu lihai, maka ia menggunakan akal untuk membokong, namun ternyata gagal.

Auwyang Kongcu bebas dari sambaran golok; bukannya kaget, ia justru tertawa. "Si nona cantik berubah menjadi pengemis tua, sungguh ilmu sulap kantong yang jempolan!"

Lee Seng tidak menggubris ejekan itu. "Selama tiga hari ini, tempat ini kehilangan empat orang nona. Bukankah itu perbuatan hebat darimu, Tuan yang terhormat?"

Kongcu itu tertawa lagi. "Kota Po-eng ini bukan kota miskin, kenapa polisi berubah menjadi tukang minta-minta?"

Lee Seng tetap tenang. "Sebenarnya aku tidak mengemis nasi di sini. Tetapi kemarin aku mendengar kabar dari beberapa pengemis cilik tentang hilangnya beberapa nona cantik. Karena penasaran, aku si pengemis tua datang melongok!"

Dengan ogah-ogahan Auwyang Kongcu berkata, "Sebenarnya beberapa nona itu tidak cantik luar biasa. Kalau kau menginginkannya, dengan melihat wajahmu, aku sukarela membiarkan mereka pulang!" Ia mengibaskan tangannya, maka beberapa murid perempuannya membawa keluar empat orang nona. Pakaian mereka tampak kusut dan semuanya menangis.

Murka Lee Seng menyaksikan keadaan keempat nona itu. "Tuan yang terhormat, apakah *she* dan namamu yang besar? Murid siapakah kau ini?"

Auwyang Kongcu tetap bersikap acuh tak acuh. "Aku *she* Auwyang. Saudara, apa ada yang ingin kau sampaikan?"

"Mari kita main-main!" tantang Lee Seng keras.

"Tidak ada yang lebih baik dari itu!" sahut si anak muda. "Silakan kau mulai dulu!"

"Bagus!" seru Lee Seng, lalu menggerakkan tangan kanannya.

Namun, belum sempat ia menyerang, sebuah bayangan putih berkelebat di depan matanya disertai desiran angin. Lee Seng kaget dan mencoba mencelat, namun lehernya tetap terkena sentuhan jari. Syukur ia cukup cepat, kalau tidak, lehernya bisa tercekik!

Lee Seng adalah tokoh berkedudukan tinggi di Partai Pengemis (Kay Pang) yang lihai. Semua pengemis di empat provinsi di Ouwlam, Ouwpak, Ciat-kang, dan Kangsouw tunduk di bawah perintahnya. Namun, dalam satu gebrakan saja, ia hampir celaka. Wajahnya menjadi merah. Begitu ia hendak memutar tubuh, tangannya sudah mendahului melayang.

"Dia juga mengerti Hang Liong Sip-pat Ciang," bisik Oey Yong pada Kwee Ceng. Pemuda itu mengangguk.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment