Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 20

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 20

Ke mana ia harus menyingkir supaya selamat? Akhirnya ia teringat pendeta dari Kuil Kong Hauw, yang adalah pamannya.

"Baik, aku akan pergi menemui Paman," ia memutuskan.

Ia segera beranjak. Untuk memastikan keselamatannya, ia membawa serta Lie-sie. Jika perlu, Nyonya Kwee itu dapat dipakai sebagai jaminan bagi jiwanya. Dan untuk mencegah kecurigaan orang luar, ia memaksa Lie Peng berdandan sebagai prajurit. Mereka keluar secara diam-diam dari belakang barak, tanpa memedulikan gelapnya malam, mereka terbirit-birit menuju ke Kuil Kong Hauw.

Pamannya, Thian Tek, sudah lama menyucikan diri, nama sucinya adalah Kouw Bok. Ia menjadi kepala di Kuil Kong Hauw itu. Sebenarnya sudah lama ia tidak berhubungan dengan keponakannya itu, sebab ia tidak menyetujui kelakuan sang keponakan, ia tak suka bergaul dengannya. Maka ia terkejut saat tengah malam itu sang keponakan muncul tiba-tiba.

Dalam ilmu silat, Thian Tek tidak seberapa kepandaiannya, namun dalam hal kecerdikan, ia melebihi kebanyakan orang. Ia tahu sebab pamannya itu menjadi paderi, yaitu karena sang paman sangat membenci bangsa Kim dan sangat menyesali pemerintah Song. Bukan saja pemerintah tidak melakukan perlawanan, sebaliknya, menteri dan panglima yang setia malah dicelakakan. Seandainya ia bercerita terus terang bahwa ia telah bekerja sama dengan bangsa Kim untuk menawan Kwee Siau Thian dan Yo Tiat Sim, ia pasti akan mendapat kesulitan di tangan pamannya itu. Oleh karena itu, sejak awal ia telah mengarang sebuah alasan.

Kouw Bok Hwesio pandai dalam ilmu silat. Ia bahkan menjadi Ciangbunjin, ahli waris dari Partai Hoat Hoa Cong golongan Selatan. Ia pernah memangku pangkat di ketentaraan. Sejak menyucikan diri, ia tidak mengabaikan ilmu silatnya itu, ia terus berlatih dengan rajin. Karena itu, Thian Tek segan terhadap pamannya.

"Mau apa kau datang kemari?" sang paman menegur keponakannya. Sikapnya dingin.

Thian Tek segera menekuk lutut di depan pamannya, ia mengangguk-angguk. "Keponakanmu telah dihina orang," katanya dengan suara serak dan sedih. "Peehu, aku mohon pertolonganmu?"

"Kau tinggal di barak tentara, kau memangku pangkat, siapa berani menghinamu?" paman itu bertanya kembali.

Thian Tek lantas memperlihatkan wajah sangat berduka. "Aku dihina oleh seorang imam," ia menyahut dengan cerita karangannya, "Imam itu mengepungku hingga aku tak tahu ke mana harus menyingkir. Peehu, demi menghormati ayahku, aku mohon Paman bersedia menolong keponakanmu ini."

Melihat raut wajahnya, Kouw Bok turut merasa kasihan. "Kenapa imam itu mengepungmu?" ia bertanya.

Thian Tek sudah berdiri, ia lekas-lekas berlutut kembali. "Celaka, keponakanmu celaka," ia menjawab. "Dua hari yang lalu aku pergi ke barat Jembatan Ceng Leng Kio. Aku bersama beberapa teman. Di sana kami bermain-main di Lam-wa-cu di bawah panggung Hie Cun Lauw."

"Hm!" sang paman bergumam.

Lam-wa-cu itu diambil dari kata *wa-sia*, dan *wa-sia* berarti "rumah genting". Lebih jauh, *wa-sia* itu diambil sebagai arti ringkas dari sebutan: "Di waktu datang, genting utuh; di waktu pergi, genting pecah". Lebih tegas lagi, bermaksud: "mudah berkumpul, mudah bubar". Tapi maksud yang paling jelas adalah: Pada zaman Song itu, setelah pemerintahan dipindah ke selatan, untuk mengikat hati tentara, pemerintah mengadakan apa yang dinamakan *wa-sia* itu di dalam dan di luar kota Hangciu. Itulah tempat hiburan prajurit. Penghuni *wa-sia* adalah wanita-wanita melarat yang tidak punya sanak keluarga. Mulanya, mereka menjadi barang permainan tentara, belakangan, orang berpangkat atau sembarang hartawan pun dapat mempermainkan mereka.

Thian Tek pura-pura tuli terhadap ejekan pamannya itu. Ia terus berbicara: "Aku punya seorang kenalan nona, hari itu aku minum arak bersamanya. Tiba-tiba muncul imam itu, ia memaksa si nona melayani dia?"

"Mustahil seorang suci pergi ke tempat semacam itu!" Kouw Bok menyela.

"Tapi kejadiannya benar demikian. Maka itu aku telah menyingkirkannya, aku menyuruhnya pergi. Ternyata ia sangat galak. Ia memaki-makiku, ia mengatakan aku bakal terpisah kepala dari badanku, hingga tak perlu aku main gila lagi."

"Apa maksudnya dengan kata-katanya, 'kepala terpisah dari badan'?" tanya Kouw Bok lagi.

"Ia menjelaskan, tak lama lagi tentara bangsa Kim akan datang menyeberang ke sini, tentara itu bakal membunuh habis semua pembesar dan tentara kita?"

Kouw Bok lantas saja menjadi gusar. "Dia berani mengatakan demikian!"

"Benar, dasar tabiatku jelek, aku menegurnya dan jadi berkelahi karenanya. Sayang aku bukan tandingannya. Aku lari, ia mengejar, mengejar terus-menerus, karena sudah tidak ada jalan lain, terpaksa aku lari kemari. Aku mohon Peehu suka menolongku."" Thian Tek pura-pura merengek.

"Aku adalah seorang suci, aku tak bisa mengurusi perkara main perempuanmu ini," kata paderi itu.

"Tolong, Peehu," Thian Tek merintih. "Tolong untuk kali ini saja. Aku tak berani main gila lagi."

Sebagai seorang suci dan juga mengingat almarhum saudaranya, hati Kouw Bok tergerak. "Baik," katanya akhirnya, "Untuk beberapa hari kau boleh berdiam di sini. Aku larang kau main gila lagi!"

Thian Tek menghaturkan terima kasih berulang-ulang.

"Seorang pembesar tentara seperti ini tidak ada gunanya, ah."" Kouw Bok mengeluh. Ia menghela napas panjang.

Lie Peng sudah diancam oleh Thian Tek, walaupun ia tahu orang itu sudah mendusta, ia menutup mulutnya.

Keesokan harinya, Tie-kek-cung, yaitu paderi pelayan tamu, masuk dengan tergesa-gesa, ia menemui Kouw Bok dan melaporkannya dengan gugup: "Di luar ada seorang imam, ia galak, dan ia meminta Toan Tiang-khoa keluar menemuinya."

Thian Tek adalah seorang perwira, maka itu ia dipanggil *tiang-khoa*.

"Panggil Thian Tek," Kouw Bok menitahkan.

"Dia, benar dia itu?" kata Thian Tek, setelah ia muncul.

"Imam itu sangat galak, ia adalah paderi dari partai mana?" tanya sang paman.

"Entahlah ia imam dari desa mana," Thian Tek mendusta tanpa tanggung-tanggung. "Sebenarnya tidak seberapa ilmu silatnya, ia cuma bertenaga besar, dasar aku yang tidak berguna, aku tak sanggup melawannya?"

"Baiklah, nanti aku temui dia." Kouw Bok mengenakan jubahnya, lalu ia pergi keluar. Ia lantas bertemu dengan si imam, yaitu Khu Cie Kee, ketika imam itu hendak memaksa memasuki pendopo walaupun paderi penjaga pendopo mencegahnya. Ia maju mendekati, ia langsung mendorong bahu si imam itu. Ia tampaknya menggerakkan tangan dengan perlahan tetapi ia menggunakan tenaga dalam. Ia ingin mendorong imam itu keluar pendopo. Tapi begitu bahu si imam tersentuh, ia kaget sekali. Ia menyentuh daging yang empuk bagaikan kapas. Celakanya, waktu ia hendak menarik kembali tangannya, ia sudah terlambat, di luar kendalinya, tubuhnya terdorong mundur dengan sangat keras, ia terlempar membentur patung Wie Hok di pendopo itu tanpa ampun, tentu saja benturan itu menimbulkan suara yang keras, separuh patung pun hancur!

Dalam keterkejutannya yang tak terkira, Kouw Bok berpikir, "Dia lihai sekali, ia bukan cuma besar tenaganya?" Lekas-lekas ia merangkapkan kedua tangannya untuk memberi hormat seraya bertanya: "Ada keperluan apakah sehingga Totiang datang berkunjung ke kuil kami ini?"

"Aku datang mencari seorang bangsat busuk marga Toan!" Cie Kee menjawab ringkas.

Kouw Bok menyadari bahwa ia bukan tandingan imam ini, ia berlaku sabar. "Seorang pertapa berlandaskan belas kasihan dan murah hati, kenapa Totiang berpandangan sama dengan seorang biasa saja?" ia bertanya.

Cie Kee tidak menjawab pertanyaan itu, ia hanya bertindak masuk. Tindakannya itu sungguh lancang. Pada hari musim semi itu, Kuil Kong Hauw kedatangan banyak penduduk yang bersujud, baik pria maupun wanita. Sebagai seorang yang beribadat, ia tak mau mengganggu kesujudan banyak orang itu. Sambil tertawa dingin, terpaksa ia berlalu. Kouw Bok melirik Tie-kek-cung untuk menyuruh muridnya itu mengantar tamu tak diundang itu.

Setelah mengetahui imam itu sudah pergi, Thian Tek keluar dari persembunyiannya.

"Mana mungkin ia hanya seorang imam dusun!" kata Kouw Bok dengan dongkol. "Coba kalau ia tidak berlaku murah hati, jiwaku pasti sudah melayang!"" Thian Tek membungkam, ia tak berani membuka mulut.

"Dia sudah pergi jauh," kata Tie-kek-cung, yang muncul di depan gurunya.

"Apakah ia mengucapkan sesuatu?" tanya Kouw Bok setelah terdiam sesaat.

"Ia tak mengatakan apa-apa," jawab muridnya itu.

"Inilah aneh," kata Kouw Bok. "Apakah ada sikapnya yang aneh ketika ia hendak berlalu?" tanya lagi.

"Tidak, kecuali setibanya ia di mulut pintu pekarangan, ia menyandarkan diri di dua singa-singaan batu, agaknya ia sangat letih," sahut Tie-kek-cung. "Ia membuang napas, setelah itu ia mengangkat kaki sambil tertawa *haha-hihi*." lanjut muridnya lagi.

"Ah, celaka, celaka."" Kouw Bok lantas mengeluh. "Celakalah singa-singaan kita itu, yang usianya telah beberapa ratus tahun?" Dan tangannya melayang ke wajah Thian Tek. "Singa-singaan itu musnah di tanganmu!" katanya, setelah itu ia berlari keluar.

Thian Tek dan Tie-kek-cung menjadi heran, lebih-lebih Thian Tek yang wajahnya menjadi bengap dan merah, hingga ia harus menutupi wajahnya itu. Keduanya turut berlari keluar, untuk menyusul Kouw Bok.

Di pintu pekarangan, Kouw Bok Hwesio berdiri tertegun mengawasi sepasang *cio-say*, singa-singaan batu, yang disebutkan tadi. Tampak wajahnya yang sangat berduka dan menyayangi singa-singaan itu.

"Kenapa, Peehu?" sang keponakan bertanya.

"Inilah takdir," sahut si paderi dengan masygul. "Aku keliru telah menyalahkanmu. Kau tahu, sepasang *cio-say* ini adalah peninggalan zaman Lam Pak Tiauw, ketika itu Kaisar Liang Bu Tee telah memanggil tukang yang pandai untuk membuatnya. Sampai saat ini, aku memandang *Cio-say* itu sebagai mustika Kuil Kong Hauw. Sekarang...ah!"" Ia menghela napas panjang.

Thian Tek masih tidak mengerti. Ia mengawasi *cio-say* itu, yang tidak kurang suatu apa pun. Oleh karena penasaran, ia mendekati singa-singaan batu itu, ia meraba kepalanya. Tiba-tiba saja ia menjadi kaget. Tanpa disangka, begitu diraba, kuping dan hidungnya *cio-say* itu runtuh jatuh. Ia segera menarik kembali tangannya, matanya mengawasi pamannya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment