Chapter 140
Lantas, mereka berbicara dengan asyik mengenai urusan masing-masing sejak perpisahan beberapa hari itu, padahal rasanya sudah seperti bulanan atau tahunan. Si nona sesekali tertawa hingga si pemuda hanya berdiam diri.
Dalam hati si pemuda bergumam, "Yong-jie begitu mencintaiku. Jika di kemudian hari kita tidak hidup bersama, bagaimana rasanya?"
Ketika malam itu Oey Yong menceburkan diri, ia bersembunyi cukup lama. Setelah menduga ayahnya telah pergi, barulah ia kembali ke Kwie-in-chung. Ia girang karena pemuda pujaannya itu tidak kurang suatu apa pun. Namun, ia juga menyesal karena telah berlaku keras terhadap ayahnya. Ia terus menyembunyikan diri.
Keesokan paginya, saat ia melihat Kwee Ceng berangkat berdua dengan Yo Kang, ia lantas mendahului mereka. Sepanjang perjalanan, ia terus memesan makanan dan penginapan. Ia tahu santapan yang digemari Kwee Ceng, sehingga ia selalu menyelipkan satu atau dua jenis makanan kesukaan pemuda itu. Tentu saja, ia tidak tahu bahwa Kwee Ceng merasa curiga dan lantas mendahului, hingga akhirnya ia tepergok. Namun, hal itu justru membuatnya sangat gembira.
Asyik mereka berbincang hingga jauh malam. Sampai si nona mengantuk, tanpa disadari ia terlelap di pangkuan anak muda itu. Kwee Ceng khawatir orang lain terbangun, ia tidak berani bergerak dan tetap diam menyandarkan diri di bongkol pohon yangliu. Tanpa terasa, ia pun tertidur.
Saat itu bulan keenam, hawa malam terasa sejuk, dan rembulan bersinar terang. Kwee Ceng terbangun lebih dahulu saat telinganya mendengar kicauan burung. Ketika membuka mata, ia mendapati fajar sudah mulai menyingsing dan aroma bunga tercium semerbak. Oey Yong tidur nyenyak dengan napas teratur. Ia mengerutkan alisnya, tetapi wajahnya bersemu merah muda dan mulut mungilnya tersenyum, membuatnya tampak sangat manis. Rupanya, ia tengah bermimpi.
"Biarlah ia tidur, aku tidak boleh mengganggunya," pikir Kwee Ceng.
Pemuda itu mengamati wajah sang nona, bahkan hampir menghitung bulu alisnya yang cantik ketika tiba-tiba ia mendengar suara orang lain dari jarak sekitar dua tombak di sebelah kirinya.
"Telah aku ketahui kamar Nona Thia itu, ialah kamar di dalam taman yang letaknya di belakang rumah gadai Tong Jin," ujar suara itu.
"Baiklah, nanti malam kita bekerja," sahut suara lain yang terdengar seperti suara orang tua.
Mereka berbicara dengan perlahan, tetapi di pagi yang sunyi itu terdengar sangat nyata. Kwee Ceng terperanjat. Ia lantas mencurigai mereka sebagai penjahat tukang petik bunga yang gemar mengganggu kesucian kaum wanita. Ia ingin melihat mereka.
Tiba-tiba Oey Yong terbangun. "Engko Ceng, ayo tangkap aku!" serunya, lalu ia berlari ke arah sebuah pohon besar. Kwee Ceng dapat menebak maksud si nona yang cerdik ini. Ia lantas mengejar sambil tertawa geli, seolah mereka tengah bermain petak umpet. Mereka sengaja mengatur langkah agar tampak berat, seperti orang yang tidak mengerti ilmu silat.
Dua orang tadi terkejut karena tidak menyangka ada orang lain di sana pada pagi hari. Namun, saat melihat dua muda-mudi yang sedang berlarian, mereka tidak menaruh curiga dan langsung berlalu. Kwee Ceng dan Oey Yong memperhatikan punggung orang-orang itu yang mengenakan pakaian compang-camping, tanda dandanan pengemis. Setelah orang-orang tersebut pergi cukup jauh, si nona bertanya kepada si pemuda perihal niat mereka mencari Nona Thia.
"Kebanyakan maksudnya tidak baik. Apakah kita akan menolong orang itu?" tanya Kwee Ceng.
"Memang baik sekali. Cuma kita tidak tahu dua pengemis itu anak buah Ang Cit Kong atau bukan," jawab si nona.
"Aku rasa bukan," balas si pemuda.
Mereka lantas pulang ke penginapan untuk bersantap, lalu pergi berjalan-jalan hingga ke kota barat. Di sana, mereka menemukan rumah gadai Tong Jin dengan papan nama bertuliskan huruf-huruf besar. Benar saja, di belakang bangunan itu terdapat sebuah taman dengan paviliun tinggi yang dialingi kere bambu bercat hijau. Melihat paviliun itu, mereka tersenyum, lalu beranjak pergi untuk berkeliling ke bagian kota lainnya.
Sore harinya mereka pulang untuk bersantap, lalu beristirahat di kamar masing-masing. Lewat satu jam, keduanya keluar dari kamar untuk menuju ke kota barat. Mereka melompati tembok taman hingga dapat melihat paviliun yang disinari cahaya lampu. Mereka terus naik ke atas paviliun untuk bersembunyi di atap guna mengintip ke dalam.
Hawa malam terasa panas, sehingga jendela tidak ditutup. Apa yang mereka lihat membuat mereka terperanjat. Di dalam kamar itu ada tujuh orang wanita. Seorang nona berusia sekitar delapan belas atau sembilan belas tahun yang cantik sedang membaca buku di bawah lampu. Mungkin dia adalah Nona Thia, Thia Toa Siocia yang dimaksudkan oleh kedua pengemis tadi. Enam lainnya berdandan sebagai pelayan, tetapi mereka menggenggam senjata; tiga memegang golok, dan tiga lainnya memegang pedang, sepasang roda, serta sebatang tongkat besar. Melihat keadaan itu, Kwee Ceng dan Oey Yong menduga si nona memiliki kepandaian tinggi. Sekarang, keduanya berpikir lain. Mereka ingin menonton lebih dulu karena pasti ada sesuatu yang aneh mengenai si nona dan para pengemis itu.
Tidak lama mereka mengintai, mereka mendengar suara di luar pekarangan. Oey Yong menarik tangan Kwee Ceng untuk diajak pergi.