Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 77

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 77

Leng Tie Siangjin mencuci tangan seperti yang lain. Sikapnya wajar saja, hanya saja ketika yang lain sudah selesai, ia masih merendam kedua tangannya di dalam baskom. Hal ini dilihat oleh semua orang, dan mereka menjadi heran. Mereka justru menantikan tanda dari paderi itu untuk bergerak.

Selang beberapa saat, Ong Cie It dan Auwyang Kongcu adalah yang paling dulu melihat perubahan. Baskom paderi itu lantas mengembuskan uap. Yang lain baru dapat melihat setelah uap itu tampak semakin nyata, mirip asap, kemudian terdengar suara perlahan dari air yang bergolak. Selagi semua orang heran dan kagum, Ong Cie It terperanjat.

"Hebat tenaga dalam paderi ini," katanya dalam hati. "Aku tidak boleh berlambat lagi, aku mesti mendahului turun tangan terhadap dia."

Tengah semua mata diarahkan kepada Leng Tie Siangjin, Ong Cie It mencenderungkan tubuhnya, melewati dua orang, tangannya menyambar ke arah Wanyen Kang yang duduk berselang daripadanya. Ia menangkap nadi siauw-ongya itu, tubuhnya terus diangkat untuk digeser ke depannya. Orang-orang lantas melihat kejadian ini dan mereka heran. Kemudian, mereka kaget melihat pangeran itu ditotok hingga tak berdaya. Selanjutnya, sang imam meletakkan tangan kirinya di punggung pangeran tersebut.

See Thong Thian kaget sekaligus gusar, tetapi mereka tidak segera dapat berbuat apa-apa. Dengan tangan kanannya, Ong Cinjin mengangkat poci arak, lalu berkata, "Barusan aku saksikan kepandaian mengagumkan dari tuan-tuan, maka dengan ini aku hendak menghormati kalian dengan secawan arak." Ia tidak bangkit, tetapi dapat menuangkan arak ke dalam cawan semua orang. Asal tangannya digerakkan, arak meluncur keluar dari mulut poci, turun ke dalam cawan, mengisi hingga penuh tanpa ada yang berceceran.

Leng Tie Siangjin mulai menginsafi tenaga dalam yang terlatih baik dari imam ini; ia sadar jika tangan kiri imam itu digerakkan, celakalah Wanyen Kang. Mereka juga insaf bahwa Ong Cinjin berbuat begini karena dia bersendirian. Paling akhir, Ong Cie It mengisi cawan Kwee Ceng serta cawannya sendiri, kemudian meletakkan poci arak, lalu mengangkat cawan untuk dihirupnya hingga kering.

Habis itu ia berbicara, "Pinto tidak berselisih, tidak bermusuhan dengan tuan-tuan. Pinto juga tidak bersanak tidak bersahabat dengan anak ini, cuma pinto merasa suka kepadanya karena dia berhati polos dan pemurah, ia bersemangat. Maka itu, dengan memandang mukaku, pinto minta sudilah tuan-tuan melepaskan dia hari ini."

Semua orang berdiam sejak Wanyen Kang dicekuk. "Jikalau tuan-tuan memberi ampun kepada anak ini," berkata pula Ong Cie It, "maka pinto juga akan bebaskan siauw-ongya ini. Siauw-ongya adalah seumpama cabang emas daun kumala, sedangkan anak ini sebaliknya adalah rakyat jelata. Dari itu, jikalau mereka ditukar guling, tidakkah siauw-ongya rugi? Bagaimana?"

"Ong Totiang, kau baik sekali!" ujar Nio Cu Ong sambil tertawa. "Baiklah, beginilah kita mengambil keputusan."

Tanpa bersangsisi sedikit pun, dengan sikutnya Ong Cie It membentur pinggang Wanyen Kang. Pangeran itu bebas dari totokan dan segera dikembalikan ke kursinya. Ia percaya pada semua jago itu, tidak peduli mereka licin atau licik. Habis itu ia mengangguk kepada semua orang, lalu menarik tangan Kwee Ceng untuk diajak pergi.

Ia mengucapkan, "Izinkanlah kami mengundurkan diri. Sampai bertemu pula!"

Semua orang mengawasi dengan air muka muram. Bukankah ikan telah masuk ke dalam jala tetapi dapat lolos pula? Tidakkah itu sayang? Wanyen Kang lantas dapat menenangkan hatinya. Sambil tersenyum, ia berkata kepada Ong Cinjin, "Totiang, apabila ada waktu luang, silakan datang untuk berbincang di sini, supaya saya yang lebih muda dapat banyak pengajaran." Ia lantas bangkit dan dengan sikap menghormat, ia mengantar mereka keluar.

"Hm!" suara si imam, yang terus bilang, "Urusan kita telah selesai, maka itu mesti ada harinya kita bertemu pula!"

Setibanya mereka di pintu hoa-thia, tiba-tiba Leng Tie Siangjin berbicara. "Totiang sangat lihai, yang membuat orang sangat kagum!" demikian katanya. Ia merangkapkan kedua tangannya untuk memberi hormat, akan tetapi ketika ia membuka kedua tangannya itu, siuran angin hebat menyambar ke arah sang imam!

"Celaka!" Ong Cie It berseru di dalam hatinya sambil lekas-lekas mengangkat kedua tangan untuk membalas hormat. Ia mengerahkan tenaga latihannya selama beberapa puluh tahun untuk memecahkan serangan hebat itu. Sebat luar biasa, Leng Tie Siangjin mengubah tenaga dalamnya menjadi tenaga luar, tangan kanannya diulur untuk menyambar lengan Ong Cie It. Namun, sang imam pun tidak diam saja; ia menyambut dengan sama kerasnya. Karena ia telah melihat sambaran itu, ia pun berbalik menyambar lengan lawan. Cuma sekali bentrok, kedua tangan sama-sama ditarik pulang.

"Sungguh aku takluk, aku takluk!" berkata Leng Tie Siangjin yang air mukanya berubah, seraya melompat mundur.

Ong Cie It tersenyum, ia bertanya, "Nama Taysu bersemarak dalam dunia kangouw, mengapa kata-katanya tidak masuk hitungan?"

Leng Tie menjadi gusar. "Aku bukan hendak menahan bocah she Kwee ini, aku hanya hendak menahan kau," katanya, tapi belum dapat ia meneruskan, lantas saja ia muntah darah. Sebab bentrokan itu membuatnya terluka. Jika ia berlaku tenang dan memainkan napasnya, darahnya itu tidak akan menyemprot keluar, tetapi karena ia diejek sang imam, ia tidak dapat mengendalikan diri.

Ong Cie It segera menarik tangan Kwee Ceng untuk diajak berlalu dengan cepat dari istana itu. See Thong Thian tidak berani mencegah, bukan saja karena mereka sudah berjanji, tetapi melihat kondisi Leng Tie Siangjin juga membikin hati mereka gentar. Imam ini benar-benar tidak dapat dibuat main-main, sehingga mereka tidak berani merintangi.

Sesudah belasan tombak keluar dari pintu istana, setelah melintasi sebuah tikungan dan melihat di belakangnya tidak ada orang yang menyusul, Giok Yang Cu berkata dengan perlahan kepada bocah yang ia tuntun itu, "Kau gendong aku sampai di penginapan?"

Kwee Ceng kaget sekali. Ia mendengar suara orang itu sangat lemah, seperti kehabisan napas. Ia juga lantas dapat melihat roman pucat dari sang imam. "Adakah Totiang terluka?" tanya Kwee Ceng heran.

Ong Cie It mengangguk, lalu tiba-tiba saja tubuhnya terhuyung. Kwee Ceng mengerti, maka lantas saja ia membungkuk di depan sang imam untuk menggendongnya agar dibawa pergi dengan cepat. Ia mau mampir di hotel pertama yang ditemukan, tetapi Cie It bilang dengan perlahan, "Cari tempat yang sepi dan hotel kecil."

Kwee Ceng menurut, ia maju terus sambil berlari. Ia tahu imam ini khawatir nanti disusul musuh. Jika ia terluka dan ia sendiri tidak punya kemampuan, mereka bisa terancam bahaya. Ia tidak tahu jalan, jadi ia memilih jalan yang sepi saja. Sementara itu, ia merasakan napas sang imam semakin mendesak. Syukur ia lantas dapat mencari sebuah hotel yang kecil dan jorok, tetapi tanpa memedulikan itu, ia memasukinya.

Setibanya di dalam, ia segera menurunkan imam itu di atas pembaringan. "Lekas cari sebuah jambangan besar," berkata Ong Cie It. "Kau isikan penuh air bersih."

"Untuk apakah itu, Totiang?" tanya Kwee Ceng.

Cie It tidak menyahuti, ia hanya memberi tanda dengan tangannya supaya bocah itu lekas pergi. Kwee Ceng menurut. Ia mencari orang hotel, meletakkan sepotong perak di atas meja, seraya minta lekas disediakan jambangan. Ia juga memberi persen kepada pelayan. Kwee Ceng lari ke dalam kamar untuk memberi kabar.

"Bagus, anak yang baik!" berkata Ong Cie It. "Sekarang gendong aku, letakkan aku di dalam jambangan itu. Kau larang orang lain datang dekat padaku!"

Kwee Ceng tidak mengerti, tetapi ia menggendong sang imam, memasukkan tubuh orang itu ke dalam jambangan hingga sebatas leher, sedang pelayan dipesan untuk melarang siapa saja masuk ke kamar itu. Ong Cie It merendam di dalam jambangan seraya memejamkan kedua matanya; dengan tenang ia memainkan napasnya. Kira-kira selama waktu makan nasi, air jambangan yang bersih bening itu berubah menjadi hitam. Di pihak lain, kulit muka sang imam dari pucat pasi berubah menjadi bersemu dadu.

"Coba bantu aku bangun, air ini tukar dengan yang bersih," pintanya kepada Kwee Ceng. Permintaan itu diturut, maka sebentar kemudian, Cie It sudah berendam pula di dalam air yang baru. Sekarang barulah Kwee Ceng mengetahui orang itu tengah mengerahkan tenaga dalamnya untuk menyembuhkan diri dari luka dalam akibat pertempuran dahsyat dengan Leng Tie Siangjin.

Imam ini menang tipis. Kwee Ceng melayani terus sampai ia menukar air tujuh kali, baru air itu tak lagi berubah hitam. Giok Yang Cu lantas saja tertawa dan berkata, "Sudah tidak ada bahaya lagi!" Dengan memegang pinggiran jambangan, ia dapat merayap keluar.

Namun, ia menghela napas ketika berkata pula, "Paderi dari Tibet itu sangat berbahaya!"

Kwee Ceng merasa lega dan girang sekali. "Apakah tangan paderi Tibet itu ada racunnya?" tanya Kwee Ceng.

"Benar," sahut Cie It. "Itulah racun dari Cu-see-ciang. Ilmu semacam itu, Tangan Pasir Merah, sering aku temukan tetapi tidak ada yang selihai ini. Hari ini hampir aku kehilangan jiwa."

"Totiang ingin makan apa? Nanti aku pergi belikan," tanya Kwee Ceng kemudian.

Cie It meminjam peralatan tulis pada tuan rumah, ia menulis sehelai daftar obat. "Aku telah bebas dari bahaya jiwa," berkata sang imam. "Tetapi hawa racun di dalam tubuh belum bersih betul. Jikalau dalam dua belas jam tidak disingkirkan, akibatnya akan menyebabkan cacat seumur hidup. Sekarang kau tolong aku lekas membeli obat."

Kwee Ceng mengerti, ia pergi sambil terus berlari. Di persimpangan jalan, ia melihat rumah obat yang pertama, ia segera mampir dan menyerahkan resepnya itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment