Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 107

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 107

Kwee Ceng mencari kayu kering untuk menyalakan api unggun. Di situ, mereka memanggang pakaian hingga kering, kemudian keduanya rebah untuk tidur di udara terbuka.

Mereka begitu polos; mereka tidak ingat apa pun.

Keduanya sadar saat fajar tiba, ketika mereka mendengar suara ayam berkokok dari sebuah rumah tidak jauh dari tepi sungai.

"Aku lapar!" ucap Oey Yong sambil menguap.

Ia bangkit untuk berlari ke rumah tadi. Tak lama kemudian, ia sudah berlari kembali sambil membawa seekor ayam jago besar di tangannya.

"Mari kita pergi ke sana supaya pemilik rumah tidak melihat kita," ajak Kwee Ceng.

Si nona mengangguk, lalu mereka berjalan sejauh kira-kira satu li. Kuda merah terus mengikuti mereka.

Di sini, Oey Yong menyembelih ayam itu, mencucinya bersih, lalu membungkusnya dengan lumpur untuk dibakar. Tak lama kemudian, ayam itu matang. Saat bulu dan kulitnya dirontokkan, terlihatlah dagingnya yang gemuk.

Saat si nona hendak memotong ayam itu, tiba-tiba ia mendengar suara dari belakangnya, "Potonglah menjadi tiga bagian, pahanya berikan kepadaku!"

Kedua muda-mudi itu terkejut. Bukankah pendengaran mereka tajam? Mengapa mereka tidak mendengar suara langkah orang hingga orang itu sudah berada di belakang mereka? Mereka memutar tubuh dengan cepat.

Terlihatlah seorang pengemis paruh baya. Pakaiannya penuh tambalan, tetapi anehnya, bahannya tersulam rapi hingga menyerupai pakaian pengemis di atas pentas. Ia memegang sebatang tongkat yang mirip batu pualam, sementara di punggungnya tergantung sebuah cupu besar berwarna merah. Wajah orang itu tampak acuh tak acuh dan wajar sekali.

Belum sempat kedua muda-mudi itu memberi jawaban apakah mereka mau berbagi ayam atau tidak, si pengemis sudah menjatuhkan diri duduk di hadapan mereka. Tangannya meraba punggung untuk mengambil cupunya, lalu membuka tutupnya. Seketika, terciumlah aroma arak yang harum.

Ia meneguk arak itu beberapa kali, lalu mengangsurkannya kepada si pemuda. "Eh, bocah, minumlah!" katanya.

Sebenarnya Kwee Ceng kurang senang dengan kelakuan orang yang tidak sopan itu, tetapi karena tingkah lakunya aneh, ia tidak berani bersikap kasar.

"Aku tidak minum arak, Lojinkee, minumlah sendiri!" sahutnya hormat.

"Dan kau, nona kecil, apakah kau minum arak?" tanya si pengemis kepada Oey Yong.

Si nona tidak menjawab, ia hanya menggelengkan kepala. Namun, matanya sangat jeli. Dalam sekejap, ia dapat melihat jemari tangan si pengemis yang memegang tempat arak. Betapa terkejutnya ia, jemarinya hanya sembilan; satu dari lima jari tangan kanannya hilang!

Ia lantas ingat perkataan Ong Cie It dan Khu Cie Kee perihal Kiu Cie Sin Kay, si Pengemis Aneh Berjemari Sembilan.

"Benarkah di kolong langit ini ada peristiwa kebetulan seperti ini?" tanyanya dalam hati. "Baiklah, aku ingin mendengar suaranya." Nona ini tertawa dalam hati saat melihat wajah si pengemis yang terus memandangi ayamnya. Hidung pria itu bergerak-gerak, mulutnya bergetar pertanda ia mengiler.

Karena tidak berniat menjahili orang, ia memotong ayamnya menjadi dua dan menyodorkan separuh kepada orang tua itu. Pengemis itu menyambarnya seperti kilat, memasukkan ayam itu ke mulut, lalu mengunyahnya. Ia memakannya dengan penuh nafsu hingga paha ayam itu segera habis. Tulang-tulang ayam pun ia semburkan.

"Sungguh lezat! Sungguh lezat!" pujinya berulang-ulang. "Bahkan aku, leluhur pengemis, tidak bisa memasak ayam selezat ini!"

Oey Yong tertawa, ia menyodorkan potongan lainnya.

"Ah, mana bisa!" pengemis itu menolak. "Kalian berdua belum makan." Meski mulutnya berkata begitu, tangannya tetap menyambar. Tak lama kemudian, habis sudah sebelah ayam bakar itu!

Lantas ia menepuk-nepuk perutnya. "Hai, perutku, perutku!" ocehnya seorang diri. "Bukankah jarang sekali kau menyantap ayam selezat ini?" Mau tidak mau, si nona tertawa geli.

Pengemis itu merogoh sakunya, mengeluarkan sepotong besar perak, lalu menyodorkannya kepada Kwee Ceng. "Bocah, ambillah ini!" katanya.

Pemuda itu menggeleng. "Kami menganggapmu sebagai sahabat, kami tidak menginginkan uang," jawabnya.

Pengemis itu menyeringai, agaknya ia kaku. "Inilah sulitnya," katanya. "Meskipun aku pengemis, aku tidak biasa menerima budi orang sedikit pun."

"Apakah artinya seekor ayam?" kata Kwee Ceng sambil tertawa. "Lagipula, ayam ini pun kami dapatkan dengan cara 'tangan panjang' tanpa izin pemiliknya."

Pengemis itu tertawa terbahak-bahak. "Ah, anak muda, tabiatmu sama dengan tabiatku! Mari, katakan padaku, apa niatmu, biarkan aku dengar!"

Belum sempat si pemuda menyahuti, Oey Yong sudah mendahuluinya. "Aku masih punya beberapa macam sayuran untuk kau coba, Lojinkee!" katanya manis. "Maukah kau ikut kami pergi ke pasar di sana?"

Pengemis itu tampak sangat girang. "Bagus, bagus!" sahutnya.

"Lojinkee bermarga apa?" tanya Kwee Ceng.

"Aku bermarga Ang, anak ketujuh," jawab pengemis itu. "Kalian berdua, panggil saja aku Ang Cit Kong."

"Ha, benar saja dugaanku!" kata Oey Yong dalam hati. "Tapi dia masih begitu muda, bagaimana mungkin dia sama kesohornya dengan Coan Cin Cit Cu?" Walaupun berpikir demikian, Oey Yong tidak mengatakan apa pun.

Bertiga mereka berjalan menuju ke selatan, ke sebuah dusun bernama Kiang-bio-tin, lalu mencari pondokan.

"Kalian berdua menanti sebentar, aku hendak membeli bumbu," kata Oey Yong yang kemudian pergi meninggalkan mereka.

Ang Cit Kong memperhatikan punggung si nona, lalu tertawa. Ia berkata kepada Kwee Ceng, "Apakah dia istrimu?"

Wajah Kwee Ceng memerah, sulit baginya untuk mengiyakan atau menyangkal. Ang Cit Kong tidak bertanya lagi, ia tertawa, lalu duduk bersandar di kursinya dengan mata terpejam.

Tak lama kemudian, Oey Yong kembali dengan sayuran dan bumbu. Ia pergi ke dapur untuk memasak. Kwee Ceng hendak membantu, namun sambil tertawa, pemuda itu ditolaknya.

Selang setengah jam, Ang Cit Kong menguap. Segera ia mengendus-endus. "Ah, harum sekali!" katanya. "Masakan apakah itu?" Ia melongok ke arah dapur dengan leher yang dijulurkan panjang-panjang. Melihat tingkah laku orang itu, Kwee Ceng tertawa dalam hati.

Bau wangi hidangan semakin menusuk, tetapi Oey Yong belum juga muncul. Si pengemis jadi serba salah; ia duduk, berdiri, lalu duduk kembali.

"Kau tahu tabiatku?" katanya kepada Kwee Ceng yang memperhatikannya. "Mulutku aneh. Asal aku mencium makanan lezat, aku langsung lupa segalanya!"

Kali ini ia tidak kaku lagi. Ia memperlihatkan tangan kanannya seraya menambahkan, "Orang dahulu bilang, jari telunjuk bisa bergerak, itu benar. Aku, asal melihat orang menyantap makanan lezat, jari telunjukku ini langsung bergerak-gerak tak henti. Suatu kali, karena saking gemasnya, aku memotong jari itu sendiri!"

"Oh!" seru Kwee Ceng.

Si pengemis tertawa. "Meski jari tanganku lenyap, tabiatku tetap tidak berubah!"

Baru saat itu Oey Yong muncul bersama sebuah nampan berisi dua mangkuk nasi putih, secawan arak, serta dua mangkuk sayuran. Dua mangkuk sayuran itu langsung diletakkan di meja. Kwee Ceng mencium bau harum yang menandakan masakan itu sangat lezat. Masih ada semangkuk masakan daging yang mengeluarkan bau lebih harum lagi, dan semangkuk lainnya berisi rebung dengan kuah hijau.

Oey Yong mengisi cawan dan meletakkannya di depan si pengemis. "Cit Kong, mari coba masakanku!" katanya sambil tertawa.

Tanpa ditawari dua kali, Cit Kong langsung meneguk araknya, lalu menyumpit dua potong bakso ke dalam mulutnya. Ia mengunyah dengan sangat asyik, menandakan bakso itu sangat lezat.

"Ah, aku tahu!" katanya kemudian. "Bakso ini adalah campuran daging kambing, daging babi, daging kerbau, dan daging... daging..." Ia tidak dapat menyebutkannya.

"Kalau kau bisa menebak, betul kau hebat, Cit Kong!" Oey Yong tertawa.

Namun, sebelum ia berhenti tertawa, si pengemis sudah berseru, "Itu daging mencit dicampur daging kelinci!"

Si nona bertepuk tangan. "Bagus! Bagus!" pujinya. "Kau sungguh hebat!"

Kwee Ceng ternganga. "Hebat sekali, Yongjie!" pikirnya. "Bagaimana ia bisa memasak semua ini?"

Ang Cit Kong girang bukan main. Ia menyumpit dua buah 'engtoh' (kacang polong) yang dimasak bersama sayur berkuah hijau itu. "Aku tahu, ini sup daun teratai campur rebung dan engtoh!" katanya. Ia memasukkan engtoh ke dalam mulut dan mengunyahnya. Mendadak ia mengeluarkan suara "Ah!" berulang-ulang.

Kwee Ceng heran. Ia menduga engtoh itu tentu lezat sekali.

"Ah, nona kecil, aku takluk padamu!" kata Ang Cit Kong kemudian setelah mengunyah. "Sepuluh tahun yang lalu, aku pernah memakan masakan ini di dapur kaisar, tetapi rasanya tidak selezat ini!"

Oey Yong tertawa. "Cit Kong," katanya, "Coba katakan, di dapur kaisar ada makanan lezat apa lagi? Aku ingin mempelajarinya agar aku bisa memasakkannya untukmu."

Namun, belum sempat si pengemis berbicara, ia sudah sibuk dengan bakso dan sayurannya. Dalam sekejap, semua makanan itu tersisa dua persepuluh bagian saja.

Baru kemudian ia berkata, "Di dapur kaisar tidak ada makanan yang bisa mengalahkan masakanmu ini!"

Kwee Ceng heran. "Eh, Cit Kong, apakah kaisar pernah mengundangmu menjamu?" tanyanya.

Cit Kong tertawa tergelak-gelak. "Betul, kaisar pernah mengundangku! Hanya saja kaisar sendiri tidak mengetahuinya! Selama tiga bulan aku bersembunyi di langit-langit dapur kaisar, semua hidangannya sudah kucoba satu per satu. Mana yang lezat, kuhabiskan; mana yang tidak lezat, kubiarkan kaisar yang memakannya! Koki dan lainnya semua heran, mereka sampai mengatakan di dapur itu muncul dewa tikus besar!"

Kwee Ceng dan Oey Yong tersenyum. Dalam hati mereka berkata, "Orang ini sangat doyan makan, mulutnya besar, tapi nyalinya juga besar!"

"Eh, bocah!" tertawa pula si pengemis.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment