Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 152

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 152

"Baik, baik, Kakak, hamba menurut?" katanya gugup.

Pek Thong masih menangis ketika ia berkata, "Kau menurutiku karena aku paksa. Jika lain hari ada orang menanyakanmu, kau akan menimpakan kesalahan padaku! Aku tahu kau tidak sudi mengangkat saudara denganku!" Kwee Ceng merasa lucu sekaligus heran. "Mengapa ada orang tua yang begitu tidak mengindahkan masa tuanya sendiri?" Ia tidak mengetahui bahwa Ciu Pek Thong itu, dalam kalangan Rimba Persilatan, bergelar Loo Boan Tong, Bocah Tua Nakal. Tabiatnya memang sangat aneh dan ajaib. Walaupun usianya lanjut dan tingkat derajatnya tinggi, sepak terjangnya mirip dengan anak-anak.

Begitu ia mengambil sepiring sayur, ia melemparkannya keluar kurungan. Ia tidak mau memakannya. Orang tua itu bingung, lekas-lekas ia memungutinya.

Menyaksikan itu, Kwee Ceng tertawa, lalu ia berkata, "Kakak begitu baik hati, bagaimana hamba bisa menolaknya? Mari, Kakak, marilah kita mengangkat saudara! Mari kita gunakan tanah sebagai ganti hio!" Mendengar itu, tiba-tiba saja Ciu Pek Thong tertawa.

"Aku berada di dalam gua, terhalang kawat ini," ia berkata. "Karena aku tidak bisa keluar, aku akan pai kui di dalam kurungan ini dan kau di sebelah luar!" Kwee Ceng mengamati kawat kurungan itu sekian lama, ia tidak mengerti mengapa Pek Thong bisa terkurung di situ.

Tetapi ia menurut. Ia melakukan hormat dari luar kurungan itu. Pek Thong benar-benar berlutut, sehingga mereka pai kui sambil berhadap-hadapan, terpisahkan kawat kurungan itu. Berkatalah si orang tua, "Hamba, Ciu Pek Thong, hari ini hamba mengangkat saudara dengan Saudara Kwee. Siapa yang kemudian melanggar janji, biarlah Thian mengutuknya!" Kwee Ceng mengikuti pengangkatan sumpah itu. Setelah itu keduanya menyiram arak ke tanah dan Kwee Ceng lalu pai kui kepada kakak angkatnya itu.

Pek Thong puas sehingga ia tertawa terbahak-bahak. "Sudah, sudah!" katanya. Ia menuang araknya, lalu menenggak sendiri. Ia menambahkan, "Oey Lao Shia itu sempit sekali pandangannya. Dia memberikan arak yang begitu tawar! Hanya pernah ada satu hari, si nona kecil menyuguhkan arak kepadaku, araknya jempolan, cuma sayang semenjak itu dia tidak pernah datang lagi?" Kwee Ceng tahu, si nona yang disebutkan itu ialah Oey Yong. Bukankah si nona pernah memberitahunya bahwa karena ia mengantar arak kepada Ciu Pek Thong, ia ditegur dan dimarahi oleh ayahnya, maka ia kabur. Tentulah Pek Thong tidak mengetahui sebab mengapa si nona tidak pernah datang lagi.

Kwee Ceng sudah lapar, ia tidak memikirkan arak, ia hanya menyendok nasi dan memakannya, sampai ia menghabiskan lima mangkuk. Orang tua itu menanti sampai Kwee Ceng cukup makan, lalu ia membereskan segala sesuatunya dan berlalu.

"Eh, Adik, kenapa kau bersalah terhadap Oey Lao Shia?" kemudian Pek Thong bertanya. "Coba kau ceritakan itu kepada kakakmu." Kwee Ceng menceritakan bagaimana ia membinasakan Tan Hian Hong dan di Kwie-in-chung bertempur melawan Bwee Tiauw Hong, bagaimana Oey Yok Su hendak mencelakai Kanglam Liok Koay, dan oleh karena itu ia berjanji untuk dalam tempo satu bulan datang ke pulau ini untuk menerima kematiannya.

Loo Boan Tong paling gemar mendengar orang bercerita. Kali ini, ia memasang telinga sambil terpejam dan membuka mata, dan jika si adik angkat melambatkan ceritanya, ia akan langsung memotong dengan pertanyaannya. "Kemudian bagaimana?" tanya dia akhirnya.

"Kemudian adalah sekarang ini, adikmu berada di sini," Kwee Ceng menjawab.

Pek Thong lalu berdiam, agaknya ia berpikir. "Kiranya gadis cantik itu baik denganmu," katanya. "Mengapa setelah pulang dia menghilang? Pasti ada sebabnya, mungkin dia dikurung oleh Oey Lao Shia?" "Hamba pun menduga demikian," kata Kwee Ceng masygul.

"Apa kau bilang?" tanya Pek Thong, mukanya merah. Kwee Ceng tahu, ia salah menggunakan bahasa "teecu" itu, ia lekas menyahut, "Adikmu melakukan kesalahan, harap Kakak jangan berkecil hati." Pek Thong tertawa. Ia berkata, "Mengenai panggilan, jangan kau persulit! Seumpama kau sedang bermain sandiwara, kau memanggil ibu kepadaku boleh saja, nona juga boleh!" "Baik, baik, Kakak," sahut adik angkat itu.

"Coba kau terka, kenapa aku berada di sini?" tanyanya kemudian.

"Justru inilah adikmu hendak menanyakannya," sahut Kwee Ceng.

"Ceritanya panjang, nanti aku akan menuturkannya perlahan-lahan," sahut si kakak jenaka ini. "Kau tahu tentang kejadian dahulu, hari itu Tong Sia, See Tok, Lam Tee, Pak Kay, dan Tiong Sin Thong berlima mengadu kepandaian di puncak Gunung Hua Shan?" Kwee Ceng mengangguk. "Pernah adikmu mendengar itu," sahutnya.

"Ketika itu adalah akhir musim dingin, di Gunung Hua Shan itu salju seperti membungkus puncak," sang kakak bercerita. "Mereka berlima itu mulut berunding, tangan beradu pedang, lamanya tujuh hari tujuh malam. Pada akhirnya Tong Sia, See Tok, Lam Tee, dan Pak Kay berempat mengakui kakak seperguruanku itu, Ong Tiong Yang, sebagai orang gagah nomor satu di kolong langit ini. Tahukah kamu mengapa mereka membuat pertemuan di Hua Shan itu?"

"Tentang itu adikmu belum pernah mendengarnya."

"Itulah gunanya sebuah kitab."

"Kitab Kiu Im Cin-keng!" Kwee Ceng memotong.

"Benar! Adikku, kau masih muda tetapi sudah banyak yang kau dengar! Untuk kaum persilatan, Kiu Im Cin-keng adalah kitab luar biasa yang nomor satu. Menurut penuturan, kitab itu dikumpulkan dan ditulis oleh Tat Mo Couwsu setelah ia datang ke negeri kita ini dan sesudah ia bertanding mengadu kepandaian melawan para ahli silat kita. Ketika itu, mereka menang dan kalah bergantian, lalu ia duduk bersemedi menghadapi tembok selama sembilan tahun. Entah bagaimana, suatu tahun, kitab itu muncul di luar, dan karena itu, timbullah perebutan di antara ahli-ahli silat. Tidak seorang pun yang tidak menghendakinya. Kakak seperguruanku bilang, karena perebutan itu, tidak sedikit ahli silat yang tewas sebagai korban, lebih dari seratus orang. Seumpama seseorang menemukannya, lalu ia menyembunyikannya, belum satu tahun, orang lain mengetahuinya, lalu orang lain itu merampasnya. Perampasan itu terjadi berulang kali. Maka siapa yang mendapatkan kitab itu, dia terpaksa menyembunyikan diri. Karena itu juga, orang pun menggunakan banyak akal muslihat?" Kwee Ceng menghela napas.

"Kalau begitu, kitab itu adalah kitab celaka di dunia kita ini," katanya. "Kalau Tan Hian Hong tidak mendapatkannya, tentulah ia bisa hidup berbahagia dengan Bwee Tiauw Hong di dalam desa tempat mereka menyembunyikan diri dan Oey Tocu tidak akan menginginkannya."

"Tetapi ilmu silat tidak boleh tidak dipelajari!" sambung si kakak angkat. Kwee Ceng menyahutinya, namun di dalam hatinya ia mengatakan, "Kalau begitu, kakak tua ini sudah kegilaan ilmu silat. Sebenarnya aku belum pernah mendengar orang lain segila dia."

"Eh, tadi aku bercerita sampai di mana?" Pek Thong bertanya, rupanya ia lupa.

"Sampai di bagian orang-orang ahli di kolong langit ini hendak merampas Kitab Kiu Im Cin-keng itu."

"Benar, urusan lalu menjadi makin hebat. Bahkan Ketua Coan Cin Kauw, Guru Pulau Bunga Persik (Tho Hoa To), Ketua Kay Pang, dan lainnya, ikut campur tangan. Berlima mereka itu merundingkan ilmu silat dengan perjanjian: siapa yang paling tangguh, ialah yang mendapatkan kitab itu."

"Akhirnya kitab itu jatuh ke tangan kakak seperguruanku," kata Kwee Ceng.

"Memang!" jawab Ciu Pek Thong dengan sangat gembira. "Persahabatanku dengan Ong Suko memang erat sekali. Sebelum ia menjadi imam, kita memang sudah bergaul rapat. Belakangan ia mengajariku ilmu silat. Dia mengatakan aku belajar ilmu silat terlalu berlebihan dan kukuh sekali, sehingga menjadi seperti tolol. Katanya itulah bukan syarat para imam. Karena itu, aku tidak menjadi murid Coan Cin Kauw. Katanya, karena terlalu mengutamakan ilmu silat, ia jadi mengabaikan agama. Kalau belajar silat, orang harus sungguh-sungguh; belajar ilmu Tao mestilah hati orang tenang. Jadi kedua ilmu itu bertentangan satu sama lain. Ma Giok yang mewarisi ajaran agamanya dari suheng dan Khu Cie Kee yang ilmu silatnya sempurna."

"Jikalau demikian adanya, mengapa Ong Cinjin dapat menjadi orang suci sejati sekaligus tangguh juga ilmu silatnya?" tanya Kwee Ceng tidak mengerti.

"Itulah disebabkan pada dasarnya suko memang berbakat baik dan ia gampang mempelajari segala macam ilmu. Dia bukanlah seperti kita yang memerlukan latihan mendalam. Eh ya, tadi ceritaku sampai di mana? Mengapa kau memotongnya?"

"Sampai di bagian sukomu mendapatkan Kitab Kiu Im Cin-keng."

"Benar! Setelah mendapatkan kitab itu, suko tidak memahami apa isinya, ia hanya menyimpan buku itu di dalam kotak yang kotaknya ia tindih dengan batu di belakang kuil. Aku heran sekali, aku telah menanyakan sebab perbuatannya itu. Suko tidak mau memberikan keterangannya, ia hanya menjawabku dengan tersenyum. Ketika aku mendesak, dia menyuruhku menerka sendiri. Sekarang cobalah kau yang menerka, apakah sebabnya itu?"

"Tentulah itu disebabkan ia khawatir kitab itu dicuri?" tebak Kwee Ceng.

"Bukan, bukan," Pek Thong menggelengkan kepalanya berulang-ulang. "Siapakah yang berani mencuri barang Ketua Coan Cin Kauw? Siapa berani berbuat begitu, itu tandanya dia sudah bosan hidup!" Kwee Ceng berpikir pula, lalu ia melompat berjingkrak. "Benar memang pantaslah kitab itu disimpan di bawah batu!" katanya. "Sebetulnya, lebih baik lagi kalau dibakar habis saja?" Pek Thong heran, ia menatap adik angkatnya itu. "Memang dahulu suko pun pernah mengatakan demikian," katanya. "Hanya saja ia tidak dapat melakukan itu, beberapa kali sudah ia mencoba, dan setiap kali gagal karena kesangsiannya. Ah, Adikku, kau tampaknya tolol, mengapa kau dapat menebaknya?" Wajah Kwee Ceng memerah.

"Aku pikir, sukomu itu sudah tangguh, walaupun ia belajar lebih jauh, dia tetap nomor satu," sahut Kwee Ceng. "Aku pikir pula, dia tentunya pergi ke Hua Shan bukan untuk mendapatkan nama jago nomor satu, hanya semata-mata untuk mendapatkan kitab itu, dan dia mendapatkannya bukan untuk belajar lebih jauh, hanya untuk menolong orang-orang gagah di kolong langit supaya mereka tak usah terus-menerus saling membunuh."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment