Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 40

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 40

Lam Hie Jin bersama Coan Kim Boat dan Han Siauw Eng mencoba merintangi musuh ini. Sementara itu, Cu Cong bersama Thio A Seng dan Han Po Kie, yang sudah lari ke peti mati, mengerahkan tenaga untuk mengangkat papan batu penutup peti mati itu.

Mereka menggesernya ke samping.

Hebat Bwee Tiauw Hong, ia dapat menyambar kayu pikulan dari Lam Hie Jin.

Ia menggunakan tangan kirinya, lalu dengan tangan kanannya, ia menyambar sepasang mata lawannya.

Saat itu, Cu Cong berteriak keras, "Lekas turun menyerang!" Dengan tangan kanan ia menunjuk ke atas, kedua matanya mengawasi ke langit, dengan tangan kiri yang diangkat tinggi, ia menggapai-gapai.

Itulah teriakan dan tanda untuk kawan yang bersembunyi di dalam peti mati agar segera turun tangan.

Bwee Tiauw Hong heran, tanpa sadar ia mengangkat kepalanya, memandang ke atas.

Ia hanya melihat rembulan, tidak tampak seorang manusia pun.

"Di depan tujuh tindak!" Cu Cong berteriak lagi.

Kwa Tin Ok di dalam peti mati sudah siap sedia. Segera kedua tangannya diayunkan, enam buah senjata rahasianya langsung menyerang ke tempat tujuh tindak, menyasar tiga bagian: atas, tengah, dan bawah.

Sambil berseru keras, ia ikut melompat keluar dari dalam peti mati.

Maka, ia langsung bekerja sama dengan enam saudaranya.

Bwee Tiauw Hong sendiri mendengar jeritan hebat dan mengerikan.

Nyata kedua matanya telah menjadi korban tok-leng, senjata rahasia Tin Ok itu.

Empat yang lain, mengenai dada dan paha, tidak memberi hasil. Keempatnya jatuh tergeletak di tanah.

Bwee Tiauw Hong merasakan sakit yang luar biasa dan menjadi gusar. Tanpa mengacuhkan sakitnya, ia terus menggempur Kwa Tin Ok dengan kedua tangannya, tetapi Tin Ok segera berkelit ke samping.

Dengan suara keras, batu telah hancur terkena pukulan.

Dalam murkanya, Tiauw Hong terus menendang papan batu yang menghalanginya. Papan batu itu patah menjadi dua tanpa ampun lagi!

Kanglam Cit Koay menyaksikan itu, hati mereka bergetar.

Untuk sesaat mereka tidak menyerang lagi.

Bwee Tiauw Hong telah kehilangan penglihatan kedua matanya, maka ia berkelahi secara kalap.

Ia bersilat ke empat penjuru, kedua tangannya menyambar berulang-ulang.

Cu Cong tidak bersuara, dengan tangannya ia memberi isyarat kepada saudara-saudaranya untuk menjauhkan diri dari orang kalap itu. Dari jauh, mereka menyaksikan bagaimana Mayat Besi menyambar pepohonan dan batu yang melintang di depannya, membuatnya pohon-pohon tumbang dan batu hancur tertendang.

Selang beberapa lama, Tiauw Hong merasakan matanya perih.

Ia rupanya menyadari terkena senjata rahasia yang beracun.

"Kamu siapa!" ia berteriak bertanya.

"Lekas beritahu!

Kalau nyonya besarmu mati, ia akan mati dengan puas!" Cu Cong menggoyangkan tangan kepada kakak tertuanya agar tidak bersuara.

Ia ingin si Mayat Besi mati sendiri karena racun senjata rahasia itu bekerja.

Baru dua kali ia menggoyangkan tangannya, ia terkejut sendiri.

Kakaknya buta, mana bisa ia melihat isyarat itu? Benar saja, Tin Ok telah terdengar suaranya yang dingin.

"Apakah kau masih ingat Hui-thian Sin Liong Kwa Pek Shia atau Hui-thian Pian-hok Kwa Tin Ok?" tanyanya.

Bwee Tiauw Hong melongo lalu tertawa panjang.

"Hai, bocah, kiranya kau belum mampus?" tanyanya.

"Jadi kau datang untuk menuntut balas untuk Hui-thian Sin Liong?" "Tidak salah!" jawab Tin Ok.

"Kau juga belum mampus, bagus!" Tiauw Hong menghela napas, ia terdiam.

Tujuh saudara itu mengawasi, mereka berdiam tetapi siap siaga.

Saat itu, angin dingin bertiup membuat orang merinding.

"Toako awas!" tiba-tiba Cu Cong dan Coan Kim Hoat berseru.

Belum habis peringatan kedua saudara itu, Tin Ok merasakan sambaran angin ke arah dadanya. Dengan menancapkan tongkat besinya ke tanah, tubuhnya melesat naik ke atas pohon.

Bwee Tiauw Hong menabrak sasaran kosong, karenanya tubuhnya maju terus, merangkul pohon besar di belakang Tin Ok tadi. Batang pohon besar itu tercengkeram sepuluh jarinya, terlihat enam Manusia Aneh bergidik sendiri.

Coba Tin Ok yang terkena rangkulan, masihkah ia memiliki nyawa? Gagal serangan itu, Bwee Tiauw Hong berteriak keras, suaranya tajam dan terdengar jauh.

"Celaka, dia lagi memanggil Tong Sie, suaminya?" kata Cu Cong dalam hati.

Lalu ia melanjutkan seruannya, "Lekas bereskan dia!" Ia pun mendahului, mengerahkan tenaga di tangannya, ia menyerang bokong si Mayat Besi.

Ia menepuk keras.

Thio A Seng menyerang dengan salah satu papan batu yang tadi ditendang patah oleh Bwee Tiauw Hong.

Ia memilih batok kepala musuh sebagai sasarannya.

Tiat Sie buta sekarang, ia belum pernah meyakinkan ilmu mendengar suara seperti Kwa Tin Ok, tetapi telinganya tajam. Sambaran angin papan batu itu keras, ia mendengar angin itu, maka ia segera berkelit ke samping.

Ia dapat menghindar dari batu, tetapi tidak dari serangan Cu Cong.

Ia terkejut saat merasakan bokongnya sakit sampai jauh ke ulu hatinya.

Tidak peduli ia kebal, tetapi serangan Biauw Ciu Sie-seng hebat bukan main, ia tergempur di bagian dalam.

Setelah hasil pertama ini, Cu Cong tidak berhenti sampai di situ.

Segera menyusul serangannya yang kedua.

Kali ini ia gagal, ia malah harus melompat menyingkir.

Rupanya Tiauw Hong telah dapat menduga, ia mendahului menyambar.

Hampir bersamaan dengan itu, dari kejauhan terdengar pekikan nyaring seperti pekikan Tiauw Hong barusan.

Pekikan itu membuat hati orang terkesiap.

Lalu menyusul pekikan kedua, yang lebih nyaring lagi, tanda bahwa orang yang memperdengarkan itu telah datang lebih dekat.

Kanglam Cit Koay terkejut.

"Hebat larinya orang itu!" kata beberapa di antaranya.

Han Siauw Eng melompat ke samping, untuk memandang ke bawah bukit.

Ia tampak satu bayangan hitam berlari mendatangi dengan sangat cepat.

Sambil mendatangi, bayangan itu masih berteriak-teriak.

Saat itu, Bwee Tiauw Hong sudah tidak mengamuk sendirian lagi. Ia berdiri diam dengan sikap siap sedia, napasnya diatur, guna mencegah racun di matanya menjalar.

Dengan sikap ini ia menantikan suaminya, agar suaminya menolongnya sambil membasmi musuh.

Cu Cong segera menggerakkan tangannya ke arah Coan Kim Hoat, lalu berdua mereka melompat ke tumpukan rumput.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment