Chapter 189
"Jaga, jangan sampai basah!"
Setelah menurunkan Ang Cit Kong, Auwyang Kongcu membawa tangannya ke bibir, ia berdiri mematung. Itulah bagian tangan yang sejak tadi digenggam erat-erat oleh tangan halus dan lembut sang nona. Karena itulah, ia seolah tidak mendengar perkataan si nona.
Beruntung bagi si pemuda, Oey Yong tidak berpikiran buruk terhadapnya. Sambil mendelik, si nona mengulangi perintahnya. Dengan cepat, Auwyang Kongcu mengambil papan. Saat itu, Oey Yong telah menengkurapkan tubuh gurunya di rumput empuk, mencoba meringankan rasa sakitnya.
Diam-diam, pemuda ini berlari ke tanjakan yang tinggi. Sambil berlari, ia bertanya pada dirinya sendiri, "Tempat apakah ini?" Ketika melihat ke sekeliling, ia terkejut sekaligus girang. Itu adalah sebuah pulau kecil yang lebat dengan pepohonan. Ia tidak tahu apakah pulau itu berpenghuni atau tidak. Ia kaget ketika berpikir, jika pulau itu kosong, dari mana mereka mendapatkan makanan, pakaian, dan tempat bernaung? Namun, ia girang ketika teringat bahwa ia berada berduaan saja dengan si nona manis, sementara si pengemis tua ia yakini sulit untuk ditolong lagi.
"Jika aku harus mati di sini dalam sehari atau semalam, aku puas," pikirnya. Begitu girangnya, ia berjingkrak seperti orang menari.
Tiba-tiba ia terkejut saat mengangkat tangan kanannya. Baru saat itulah ia ingat lengannya patah. Segera ia menggunakan lengan kiri untuk mematahkan dua cabang pohon dan merobek ujung bajunya. Tak lama kemudian, ia sudah dapat menggantung tangannya itu.
Oey Yong sendiri telah memencet keluar darah hitam dari luka gurunya. Itu adalah darah yang bercampur racun. Setelah itu, ia bingung harus berbuat apa karena di sana tidak ada obat. Ia memindahkan gurunya ke dekat dua bongkah batu besar agar sang guru bisa beristirahat.
"Apakah di dekat sini ada rumah atau pondokan?" tanya Oey Yong.
"Ini adalah sebuah pulau," sahut Auwyang Kongcu sambil tertawa. "Sudah jelas di sini tidak ada pondokan. Soal rumah penduduk, lihat saja peruntungan kita."
Oey Yong terperanjat. "Pergilah kau periksa!" perintahnya.
Dengan senang hati, si pemuda menerima titah sang nona manis dan segera pergi. Ia masih dapat menggunakan ilmu meringankan tubuh walaupun tangannya sakit. Mulanya, ia lari ke timur yang penuh dengan pepohonan dan akar berduri. Ia tidak menemukan apa-apa, lalu ia berputar ke utara. Di sana pun ia tidak melihat rumah atau gubuk. Namun, dengan melempar batu, ia berhasil menumbangkan dua ekor kelinci yang kemudian ia bawa kembali.
"Benar-benar pulau kosong!" katanya.
Melihat si pemuda tersenyum, Oey Yong mendongkol. "Pulau kosong! Apa yang lucu?" tegurnya.
Pemuda itu menjulurkan lidah, tidak berani banyak bicara. Ia segera menguliti kelinci tersebut lalu menyerahkannya kepada si nona. Oey Yong merogoh sakunya, mengeluarkan pemantik api. Syukurlah ia menyimpannya dengan dibungkus kertas minyak, sehingga alat itu tidak basah. Tak lama kemudian, ia menyalakan api dan memanggang kedua kelinci itu.
Setelah matang, seekor diberikan kepada si anak muda, sementara seekor lagi ia iris pahanya untuk diberikan kepada gurunya. Ang Cit Kong terluka parah dan belum sadar betul, tetapi begitu mencium bau daging, nafsu makannya segera bangkit. Ia memang seorang penggemar kuliner. Segera ia mulai menggerogoti dan mengunyah daging kelinci itu. Setelah habis sepaha, ia memberi isyarat ingin lagi, maka sang murid dengan girang memberikan paha yang lain. Setelah menghabiskan dua paha, Cit Kong menjadi lemas dan langsung tidur pulas.
Melihat cuaca mulai remang-remang pertanda malam telah tiba, Oey Yong segera mencari lubang gua untuk tempat berteduh gurunya. Auwyang Kongcu membantu tanpa diperintah. Ia mencari rumput kering untuk dijadikan kasur dan membantu memapah sang orang tua. Kemudian, ia mencari rumput lagi untuk alas tidurnya sendiri dan si nona.
Selama itu, Oey Yong hanya melirik sekilas dan tidak memedulikan pemuda itu. Namun, saat si pemuda selesai bekerja dan hendak merebahkan diri, Oey Yong mendadak menghunus pisau belatinya.
"Pergi keluar!" usirnya.
Pemuda itu tertawa. "Aku tidur di sini tidak mengganggumu, bukan? Kenapa kau begitu galak?"
"Kau pergi atau tidak!" tegas si nona dengan alis terangkat.
"Aku akan tidur dengan baik, jangan takut," sahut si pemuda sambil tersenyum.
Oey Yong yang habis kesabaran bangkit mengambil puntung api dan membawanya ke tempat si pemuda. Ia membakar rumput alas tidur milik pemuda itu hingga menjadi abu dalam sekejap. Auwyang Kongcu menyeringai dan terpaksa mengeloyor keluar dari gua. Di pulau itu, ia tidak takut pada binatang buas, jadi ia melompat ke atas pohon untuk beristirahat.
Namun, sulit baginya untuk tidur pulas. Ia gelisah dan berulang kali naik-turun pohon. Ia sering menoleh ke arah gua yang bercahaya api. Ia sempat berpikir untuk menyerbu masuk ke dalam gua, namun selalu gagal hingga ia menyalahkan dirinya sendiri yang bernyali kecil. Biasanya, pekerjaan mencuri atau memaksa keinginan seperti itu sudah biasa baginya, namun terhadap nona ini, ia merasa segan. Sebenarnya, walaupun hanya dengan sebelah tangan, ia mampu melawan nona itu. Bukankah tidak ada halangan berarti karena Ang Cit Kong sudah tidak berdaya? Entah mengapa, ia merasa takut sendiri.
Dengan mata menatap tajam, Auwyang Kongcu mengawasi Oey Yong merebahkan diri. Cahaya api membuatnya bisa melihat dengan jelas. Ia hanya memandang tanpa melakukan apa pun. Oey Yong sendiri berbaring dengan mata terpejam, namun tidak benar-benar tidur. Ia tidak memercayai keponakan Auwyang Hong itu, khawatir ia akan menyerbu saat ia terlelap. Ia juga sangat memikirkan luka Ang Cit Kong yang belum tentu bisa diobati.
Hatinya lega ketika pagi menjelang. Baru saat itulah ia berani tidur selama satu jam. Ia terbangun saat bermimpi gurunya merintih.
"Suhu, bagaimana keadaanmu?" tanyanya sambil melompat bangun.
Cit Kong mengangkat tangan, menunjuk mulutnya yang bergerak-gerak. Si nona mengerti gurunya lapar, ia segera memberikan sisa daging semalam. Setelah makan, agaknya Cit Kong memperoleh tenaga. Ia mulai duduk dan bersamadhi untuk meluruskan jalan napasnya.
Oey Yong mengawasi. Ia tidak berani membuka mulut, khawatir mengganggu pemusatan pikiran gurunya. Beberapa kali ia melihat perubahan warna pada wajah pucat gurunya, dari merah padam menjadi pucat pasi. Itu adalah tanda bekerjanya tenaga dalam. Kemudian, sang jago tua mengeluarkan hawa seperti asap, disusul kucuran peluh dingin di dahinya. Tubuh orang tua itu gemetar seperti menggigil.
Pada saat itu, di mulut gua terlihat bayangan seseorang. Itu adalah Auwyang Kongcu yang melongok untuk masuk. Oey Yong mengerti saat itu adalah waktu krusial bagi gurunya; jika dikejutkan, pemusatan pikirannya bisa gagal. Maka, ia membentak perlahan, "Lekas pergi!"
Pemuda itu tertawa. "Aku ingin berdamai denganmu. Bagaimana kita harus melewati hari-hari di pulau kosong ini?" katanya. Ia tidak menyingkir, justru melangkah maju.
Ang Cit Kong membuka matanya. Ia rupanya mendengar perkataan orang. "Pulau kosong apa ini?" tanyanya.
"Kau berlatih terus, Suhu! Jangan pedulikan dia!" sela Oey Yong. Ia berpaling kepada si anak muda sambil bangkit. "Mari ikuti aku, kita keluar!"
Auwyang Kongcu girang dan mengikuti. Pagi itu cuaca sangat terang. Oey Yong memandang sekeliling, ia melihat laut biru dan langit yang seolah menyatu dengan air. Sama sekali tidak tampak daratan lain. Ia menuju tempat di mana mereka mendarat kemarin. Mendadak ia tersentak.
"Di mana perahu kita?" serunya.
"Ah ya, ke mana perginya, ya?" balik tanya si pemuda.
Oey Yong memperhatikan wajah orang itu yang tidak tampak kaget atau heran seperti dirinya. Maka ia bisa menduga, pasti tadi malam pemuda ini mendorong perahu itu agar terbawa gelombang. Dengan begitu, si anak muda ingin memastikan mereka tidak dapat meninggalkan pulau kosong ini.
"Sungguh dia jahat!" batinnya.
Namun, ia tidak takut. Ia memang sudah berpikir akan sulit untuk kembali dalam keadaan selamat. Lagipula, perahu kecil itu tidak mungkin sanggup membawa mereka sampai ke daratan. Ia hanya memikirkan gurunya yang kini mungkin tidak dapat pulang lagi ke Tiongkok.
Kembali si nona mengawasi Auwyang Kongcu dengan tenang. Ia tidak menunjukkan sesuatu. Pemuda itu tidak berani beradu tatap dengan mata si nona, ia segera menunduk. Oey Yong melompat ke atas batu tinggi, lalu duduk sambil memeluk lutut, matanya memandang jauh ke depan.
Auwyang Kongcu mengawasi, hatinya bergejolak. "Kalau bukan sekarang aku mencoba mengambil hatinya, kapan lagi?" pikirnya. Ia pun melompat ke atas batu itu dan duduk di dekat si nona.
Oey Yong diam saja. Ia tidak marah, pun tidak menggeser tubuhnya. Melihat hal itu, si pemuda merasa mendapat harapan. Diam-diam ia menggeser tubuhnya lebih dekat kepada si nona.
"Adikku," katanya perlahan. "Kita berdua bakal hidup bersama di sini hingga hari tua, hidup sebagai dewa-dewi. Aku tidak tahu, di penitisan yang lalu, kebaikan apa yang telah aku lakukan?"
Oey Yong tidak marah, sebaliknya ia tertawa geli. "Di pulau ini, bersama guruku, kita hanya bertiga."