Chapter 105
"Ya, kau tidak dapat dipersalahkan!" katanya.
Tadi ia tak ingat akan hal ini.
Habis itu, ia menuturkan kejadian delapan belas tahun yang lampau di Gu-kee-cun; bagaimana ia berkenalan dengan Kwee Siauw Thian dan Yo Tiat Sim, bagaimana ia memukul mundur musuh, bagaimana ia menyusul dua orang itu hingga berbentrokan dengan Kanglam Cit Koay, yang kesudahannya dibuat perjanjian *pibu* antara keturunan Siauw Thian dan Tiat Sim.
Kwee Ceng lantas menangis. Baru sekarang ia mengetahui jelas tentang dirinya sendiri. Ia berduka untuk sakit hati ayahnya yang belum terbalas. Karena ini pula, ia teringat budi semua gurunya.
Han Siauw Eng menghibur muridnya, "Sudah lumrah laki-laki mempunyai tiga istri serta empat gundik. Maka itu, kelak bolehlah kau memberitahukan kepada Khan yang agung bahwa kau akan menikahi dua istri. Ini demi kebaikan kedua pihak, bukan?"
Kwee Ceng menepis air matanya. "Aku juga tidak akan menikahi Putri Gochin!" katanya.
Nona guru itu terkejut dan heran. "Kenapa?" tanyanya.
"Aku tidak senang ia menjadi istriku," sahut Kwee Ceng terus terang.
"Bukankah kau mengenalnya dengan baik dan pernah bergaul rapat?" tanya Siauw Eng lagi.
"Ya, tetapi aku memandang ia sebagai adik saja, sebagai sahabat. Aku tidak ingin menikah dengannya."
Khu Cie Kee menjadi girang mendengar itu. "Anak yang baik, kau bersemangat! Peduli apa dia Khan yang agung atau putri, kau baiklah menuruti pesan ayahmu almarhum dan Paman Yo-mu itu. Kau menikahlah dengan nona yang baru saja dibicarakan!"
Kwee Ceng menggeleng. "Aku juga tidak akan menikahi nona itu," katanya.
Semua orang heran, tidak tahu apa yang dipikirkan pemuda ini.
"Apakah kau telah mempunyai nona lain yang kau tuju?" tanya Siauw Eng perlahan. Dasar wanita, Nona Han ini dapat menyelami hati orang. Muka Kwee Ceng menjadi merah, ia berdiam sejenak, baru kemudian mengangguk.
Han Po Kie dan Khu Cie Kee terperanjat. "Siapakah nona itu?" tanya mereka keras.
Kwee Ceng tidak menjawab. Sesaat itu, Han Siauw Eng lantas ingat Oey Yong, yang ia perhatikan ketika malam itu bertempur dengan Bwee Tiauw Hong dan Auwyang Kongcu di dalam istana pangeran. Ia tahu nona itu berkulit putih bersih dan cantik menarik.
"Bukankah kau maksudkan si nona berbaju putih?" tegasnya kepada sang murid.
Kwee Ceng tidak menjawab, tetapi mukanya memerah.
"Siapakah dia itu?" tanya Khu Cie Kee.
"Aku dengar Bwee Tiauw Hong memanggilnya *sumoay* dan ayahnya disebut *suhu*," jawab Siauw Eng perlahan.
Khu Tin Ok dan Khu Cie Kee terperanjat hingga melompat bangun. "Mustahilkah ia putrinya Oey Yok Su?" tanya mereka serempak.
Siauw Eng menarik tangan muridnya agar mendekat. "Anak Ceng, apakah nona itu bermarga Oey?"
Kwee Ceng mengangguk perlahan. "Ya."
Mendapat jawaban itu, Han Siauw Eng tergugup. "Apakah ayahnya yang menjodohkan kau dengan putrinya?" tanya Cu Cong.
"Aku belum pernah bertemu ayahnya dan tidak tahu siapa ayahnya," jawab sang murid.
"Kalau begitu, kalian berdua saja yang mufakat?" tanya Cu Cong lagi.
Kwee Ceng tidak mengerti jelas, ia membuka lebar matanya tanpa menjawab.
"Bukankah dia mengatakan mesti menikah denganmu dan kau bilang akan menikahi dia?"
"Tidak pernah dikatakan begitu," sahut Kwee Ceng, lalu sesaat kemudian menambahkan, "Tidak usahlah itu dijelaskan lagi. Aku tidak dapat tidak mempunyai dia, dan dia juga tidak dapat tidak mempunyai aku. Hati kami sama-sama mengetahuinya."
Han Po Kie belum pernah mengenal asmara, mendengar itu ia menjadi tidak puas. "Habis, bagaimana jadinya?" ia membentak.
Cu Cong menimpali, "Kau tahu tidak, ayahnya nona itu adalah iblis besar yang jika membunuh orang tidak pernah mengedipkan mata? Jikalau ia ketahui kau secara diam-diam mencuri hati anak gadisnya, apa kau sangka kau masih memiliki nyawamu? Bwee Tiauw Hong saja belum mewariskan sepersepuluh dari kepandaian gurunya, ia sudah sangat lihai. Maka, jikalau tuan dari Pulau Tho Hoa To itu hendak membunuhmu, siapa yang dapat menolong?"
"Yong-jie demikian baik, aku pikir ayahnya tidak mungkin bukan orang baik-baik," kata si murid perlahan.
"Angin busuk!" bentak Po Kie yang tetap murka. "Kau mesti bersumpah bahwa selanjutnya kau tidak akan bertemu lagi dengan nona itu!"
Kanglam Liok Koay sangat membenci Hek Hong Saing Sat yang telah membinasakan Siauw Mie To Thio A Seng, sehingga mereka membenci pula guru orang itu. Kwee Ceng menjadi susah hati. Di satu pihak adalah guru-gurunya yang telah berjasa banyak, di lain pihak adalah cinta sejati. Ia pikir, kalau seumur hidup ia tidak dapat bertemu lagi dengan Oey Yong, apakah artinya hidupnya? Buat apa ia menjadi manusia? Ia jujur dan polos, maka halus sekali perasaannya. Ketika melihat guru-gurunya mengawasi dengan bengis, hancur rasa hatinya. Ia lantas menekuk lutut, air matanya turun mengalir di kedua pipi.
Han Po Kie maju selangkah. "Lekas bicara!" ia membentak.
Belum lagi Kwee Ceng menyahut, di luar jendela terdengar suara seorang wanita muda: "Kenapa kamu memaksa orang!"
Tercenganglah Tin Ok dan kawan-kawan. Sementara itu, si nona berkata lagi: "Engko Ceng, lekas keluar!"
Kwee Ceng mengenali suara Oey Yong, ia kaget sekaligus heran. Ia lantas bangkit dan memburu keluar. Di depannya berdiri si nona cantik, tangan kirinya memegangi pelana kuda Han-hiat Po-ma. Kuda merah itu meringkik panjang saat melihat si pemuda, lalu mengangkat kedua kaki depannya untuk berjingkrak.
Han Po Kie bersama Cu Cong, Coan Kim Hoat, dan Khu Cie Kee menyusul keluar. Menampak ketiga guru itu, Kwee Ceng menunjuk si nona seraya berkata, "Sam-suhu, inilah dia si nona, dia bukannya siluman!"
Oey Yong menjadi gusar. "Hai, orang katek yang menyebalkan, kenapa kau berani memaki aku perempuan siluman!" Ia menuding Cu Cong sembari menambahkan: "Ada lagi kau, mahasiswa iblis yang jorok, kenapa kau mencaci ayahku? Kenapa kau katakan ayahku iblis besar yang membunuh orang tanpa mengedipkan mata?"
Biauw Ciu Sie-seng, si Mahasiswa Tangan Lihai, bersikap sabar. Ia tidak sudi melayani seorang nona, maka ia tersenyum. Ia harus mengakui nona ini sangat cantik, seumur hidupnya belum pernah ia lihat nona lain yang melebihi kecantikannya; jadi tidak heran jika Kwee Ceng jatuh hati. Namun berbeda dengan Han Po Kie yang gusar bukan main hingga kumisnya berdiri.
"Pergi kau! Lekas pergi!" usirnya.
Bukannya pergi, Oey Yong justru bertepuk tangan sambil bernyanyi: "Hai, labu parang! Hai, bola kulit bundar! Ditendang satu kali, lalu bergelindingan!"
"Jangan nakal, Yong-jie!" kata Kwee Ceng mencegah. "Inilah guruku."
Han Po Kie maju, ia mengulurkan tangan hendak menolak si nona agar pergi. Namun Oey Yong masih bernyanyi: "Labu parang! Bola kulit bundar!" Ia mundur dari jangkauan tangan si katek, lalu mendadak tangannya menyambar pinggang Kwee Ceng. Sedetik kemudian, keduanya sudah bercokol di atas kuda merah. Si nona menarik tali les, Han-hiat Po-ma membuka langkah lebar dan kabur!
Han Po Kie boleh sangat gesit dan sebat, tetapi ia tidak sanggup menyamai kecepatan kuda jempolan itu. Ketika Kwee Ceng menoleh ke belakang, wajah Po Kie dan yang lainnya hanya terlihat samar, lantas bergelempang hitam dan lenyap saking kerasnya lari kuda merah tersebut.
Oey Yong mencekal les dengan tangan kanan, tangan kirinya memegang tangan si anak muda. Hatinya berdenyut keras; walaupun belum lama berpisah, Kwee Ceng sendiri bingung. Berat baginya berpisah dari keenam gurunya, tetapi pepat juga hatinya ketika ingat guru-gurunya hendak memisahkan ia dari pacarnya. Mana bisa ia tunduk?
Kabur kira-kira satu jam lamanya, Han-hiat Po-ma telah terpisah dua ratus *lie* dari kota Yan-khia. Sampai di situ, Oey Yong menarik tali les untuk menghentikan kudanya. Ia melompat turun, diikuti pemuda pujaannya. Kuda itu menggosok-gosokkan leher ke pinggang si anak muda, menandakan kelulutannya.
Sepasang muda-mudi ini berpegangan tangan, mereka berhadapan tanpa mengucapkan sepatah kata. Banyak yang ingin diucapkan, tetapi mereka tidak tahu harus memulai dari mana. Hanya hati mereka yang berbicara satu sama lain.
Beberapa saat kemudian, Oey Yong melepaskan tangannya. Ia merogoh kantung kulit di pelana, menarik keluar sepotong sapu tangan, lalu pergi ke tepi kali kecil untuk mencelupkannya sebelum kembali kepada pemudanya.
"Kau pakailah ini," katanya perlahan, meminta Kwee Ceng menyusut mukanya yang berkeringat.
Kwee Ceng berdiri bengong, agaknya ia berpikir keras. Ia tidak menyambut sapu tangan itu, malah sekonyong-konyong berkata keras, "Yong-jie, tidak dapat kita berbuat begini."
Pemudi itu terperanjat, "Apa katamu?" tanyanya.
"Kita harus kembali," ujar Kwee Ceng. "Kita mesti menemui guruku semua!"
Kembali Oey Yong terperanjat. "Kembali?" ia menegasi. "Kita kembali bersama?"
"Benar!" sahut pemuda itu. "Hendak aku mencekal tanganmu, di depan guruku semua dan Ma Totiang, aku ingin mengatakan: Inilah Yong-jie!"