Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 45

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 45

Angin mulai reda, salju yang turun lebat baru saja berhenti. Kendati demikian, untuk daerah di gurun pasir utara, hawa udara masih terasa dingin.

Dalam iklim demikian, pada hari Ceng Beng, Kanglam Liok Koay membawa barang-barang sembahyang ke kuburan Thio A Seng untuk mendoakan saudara yang sudah beristirahat selamanya di alam baka itu. Kwee Ceng pun diajak bersama.

Tempat kediaman bangsa Mongol tidak menentu, maka untuk pergi ke kuburan, rombongan ini harus memacu kuda mereka selama setengah hari perjalanan. Setelah tiba, mereka mengatur barang sembahyang, memasang hio, lalu melakukan penghormatan.

Siauw Eng bergumam dalam hati, "Ngo-ko, belasan tahun kami mendidik anak ini, sayang ia bebal. Ia tidak dapat menyerap semua pengajaran kami. Maka itu, aku mohon bantuanmu untuk melindunginya. Biarlah tahun lusa, dalam pertandingan di Kee-hin, ia tidak sampai memalukan nama Kanglam Cit Koay!"

Selama sepuluh tahun enam saudara itu tinggal di utara, rambut dan kumis jenggot mereka sudah mulai beruban, tetapi Siauw Eng, walaupun tidak secantik dahulu, masih menyisakan keelokan yang menarik hati.

Melihat tulang-tulang yang berserakan, Cu Cong tampak melamun. Ia teringat pada Bwee Tiauw Hong yang dicari sia-sia; orangnya tidak ketemu, mayatnya pun tidak didapat. Jika tidak mati, si Mayat Besi mestinya tidak bisa bersembunyi terus-menerus. Ke mana perginya wanita seperti siluman itu? Dalam sepuluh tahun itu, kepandaian Liok Koay juga turut bertambah. Misalnya Tin Ok yang mengutamakan *Hok Mo Thung-hoat*, yakni ilmu tongkat "Penakluk Iblis". Ia bersiap sedia menyambut Tiauw Hong.

Lam Hie Jin paling menyayangi Kwee Ceng, murid yang bebal namun rajin. Ia teringat masa mudanya yang ulet seperti bocah ini. Kali ini, ia melihat kemajuan Kwee Ceng yang membuatnya girang. Usai sembahyang, Kwee Ceng bangkit berdiri, tetapi kakinya menginjak batu kecil hingga terpeleset. Namun, dengan cepat ia mampu mengimbangi tubuhnya sehingga tidak jadi jatuh. Ia tersenyum kepada Kim Hoat yang melihatnya.

"Mari!" kata Hie Jin seraya melompat dengan tangan kiri melindungi diri, sementara tangan kanannya menyambar pundak murid itu.

Kwee Ceng terkejut tapi dapat menangkis, hanya saja ketika ia menggerakkan tangannya, ia segera menurunkannya kembali. Melihat itu, Hie Jin tersenyum. Sekarang ia meninju ke arah dada.

"Coba kau tunjukkan kebiasaanmu melayani sie-suhu berlatih," anjur Siauw Eng. "Tunjukkan pada ngo-suhu!"

Baru sekarang Kwee Ceng mengerti. Serangan Hie Jin dibatalkan di tengah jalan, lalu berganti dengan sambaran tangan kiri ke pinggang. Kali ini sang murid melompat mundur. Gerakannya cepat, tapi Hie Jin jauh lebih cepat. Dengan satu enjotan tubuh, guru keempat itu sudah menyusul dan tangan kanannya kembali menjambak pundak. Dengan merendahkan tubuh, Kwee Ceng meloloskan diri.

"Balas menyerang, anak tolol! Mengapa hanya bertahan?" seru Po Kie.

Anjuran itu diturut. Kwee Ceng membalas dengan menggunakan ajaran *Lo Han Kun*, ilmu silat Tangan Arhat dari guru bermarga Han itu, yakni bagian *Kay San Ciang-hoat* atau teknik "Membuka Gunung". Ia dapat bertempur dengan seru. Selang beberapa jurus, dengan satu tolakan, Kwee Ceng terpental dan jatuh, tapi begitu jatuh, ia melompat bangun kembali meski mukanya merah padam. Hie Jin segera menjelaskan bagian kelemahannya.

Selagi sang guru berbicara, tiba-tiba terdengar dua kali suara tertawa yang datang dari pepohonan lebat di samping mereka. Cu Cong dan Kim Hoat terperanjat. "Siapa?" tanya mereka.

Mereka melompat untuk mencegat jalan orang tersebut. Orang yang tertawa itu tidak lari, ia justru muncul dari persembunyiannya. Tampaklah seorang nona elok dengan muka putih potongan telur dan kedua pipi bersemu merah. Ia tersenyum.

"Engko Ceng, apakah kau kena dihajar suhu?" tanyanya.

Wajah Kwee Ceng memerah. "Siapa suruh kau datang kemari?" tegurnya.

Nona itu tertawa, "Aku senang melihat kau dihajar!"

Nona itu tidak lain adalah Gochin Baki, putri Temuchin. Usianya tidak terpaut jauh dengan Kwee Ceng dan ia biasa bergaul serta bermain bersama. Ia sangat disayangi ayah ibunya sehingga cenderung manja, sementara Kwee Ceng jujur dan agak tolol. Sering Kwee Ceng digoda hingga mereka bentrok, tetapi tak lama kemudian mereka akur kembali.

Hari itu, Gochin tahu Kwee Ceng hendak pergi sembahyang kubur, maka ia mendahului dengan menunggang kuda dan bersembunyi di antara pepohonan untuk menyaksikan segalanya. Sengaja ia baru muncul saat Kwee Ceng terjatuh untuk menggodanya.

"Apakah kau tidak senang aku datang?" tanya si nona tertawa.

"Baiklah, nanti aku pulang!" ucap Kwee Ceng dengan lugu, meskipun ada enam orang guru di sana.

"Oh, tidak, tidak!" kata Kwee Ceng lekas.

"Kita pulang bersama sebentar." Gochin tertawa dan tak jadi pergi.

Cu Cong dan yang lain menyaksikan eratnya hubungan kedua anak itu dengan tersenyum. "Mana orang yang ikut bersamamu?" tiba-tiba Tin Ok bertanya kepada si putri.

Gochin melongo. "Siapa? Aku datang sendirian."

"Bukankah kakakmu datang di belakangmu untuk bergurau?"

"Kakak tidak datang! Benar, aku datang sendirian."

"Liok-tee, coba lihat!" pinta Tin Ok. Ia menunjuk ke pepohonan lebat di belakang kuburan dengan tongkatnya. Coan Kim Hoat pergi memeriksa. "Di sini tidak ada orang," katanya.

"Terang sekali aku dengar suara dua orang!" Tin Ok berkukuh. Tadi ia mendengar tawa Gochin menyusul suara orang lain. Ia mengira orang itu adalah kawan si nona, namun karena kini tidak ada seorang pun, ia menjadi heran. Ia lantas berpikir sejenak.

"He, tengkorak hilang satu!" tiba-tiba Kim Hoat berseru.

Semua orang berlari menghampiri. Memang benar, sebuah tengkorak telah lenyap dan masih ada bekasnya di atas salju. Seseorang pasti baru saja mencurinya. Kim Hoat menjelaskan keadaan itu kepada Tin Ok.

"Cegat di empat penjuru!" seru sang kakak tertua. Ia mendahului lari turun gunung disusul saudara-saudaranya sembari memasang telinga. "Di sana ada jejak kaki kuda, lekas susul!" perintahnya sambil menunjuk ke arah selatan.

"Apakah aku yang salah?" tanya Gochin pada Kwee Ceng perlahan.

"Ini bukan urusanmu," sahut Kwee Ceng. "Rupanya telah datang musuh yang lihai."

Si nona menjulurkan lidahnya. Tidak lama kemudian, muncul beberapa puluh penunggang kuda bangsa Mongolia yang dipimpin oleh seorang perwira. Melihat tuan putrinya, ia melompat turun dari kuda untuk memberi hormat.

"Tuan Putri, Kha Khan menitahkan aku menjemput," katanya.

"Untuk apa?" tanya si putri dengan kening berkerut.

"Ada utusan dari Wang Khan yang datang," sahut perwira itu.

Si nona gusar mendengar itu. "Aku tak mau pulang!" katanya sengit.

Perwira itu menjadi serba salah. "Kalau Tuan Putri tidak pulang, Kha Khan bakal menghukum hambamu ini."

Gochin dijodohkan dengan Tusaga, cucu Wang Khan, tapi ia lebih sering bergaul dengan Kwee Ceng. Meski tidak ada hubungan asmara, ia berat untuk berpisah. Sebaliknya, ia tidak suka menikah dengan Tusaga yang sombong dan kasar. Siauw Eng yang mengamati keadaan itu berkata pada Kwee Ceng, "Anak Ceng, pergilah temani Tuan Putri pulang." Tanpa menunggu jawaban, ia memacu kudanya menyusul saudara-saudara yang lain.

Gochin masih bimbang, namun akhirnya ia pulang juga karena tidak mau menentang ayahnya. Kwee Ceng tidak mengantar sampai ke tenda Temuchin, ia langsung balik ke tendanya sendiri. Ia merasa berduka dan duduk diam saja. Ketika Lie Peng, ibunya, bertanya, ia tetap membungkam. Saat itu terdengar suara tetabuan, tanda penyambutan utusan Wang Khan. Lie Peng mulai menduga perasaan putranya.

"Tuan Putri memang baik padamu, tetapi kita tetap orang Han. Maka, sudah tepat jika ia dijodohkan dengan cucu Wang Khan," hibur ibunya.

"Ibu, bukan itu yang kupikirkan," akhirnya Kwee Ceng buka mulut. "Hanya saja Tusaga itu kasar dan kejam. Dengan menikah dengannya, Tuan Putri bakal menderita."

Lie Peng menghela napas, "Apa daya kita sekarang?"

Kwee Ceng berdiam diri sampai selesai makan malam, lalu pergi ke tenda gurunya yang sudah pulang dengan tangan hampa dari pengejaran. Setelah berlatih jurus-jurus dari Kim Hoat, Kwee Ceng pulang ke tenda dan langsung naik ke pembaringan tanpa berganti pakaian. Lamat-lamat ia mendengar suara tetabuan hingga akhirnya tertidur pulas.

Kira-kira tengah malam, ia terbangun dengan terperanjat mendengar tanda tiga kali tepuk tangan. Ia bangkit dan mengintip dari celah tenda dengan hati-hati. Betapa kagetnya ia melihat di bawah sinar rembulan, sebuah tengkorak tergeletak tepat di jalanan muka kemahnya. Ia bisa melihat dengan jelas ada lima lubang bekas jari pada tengkorak itu.

"Musuh datang mencari musuh?" pikirnya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment