Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 156

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 156

"Dia diusir gurunya tanpa bersalah, hanya karena Hek Hong Siang Sat yang mencuri kitab. Aku tidak dapat mencari Hek Hong Siang Sat itu, jadi tentu saja aku mencari Oey Lao Shia. Oleh karena khawatir akan kehilangan kitab itu, aku membawa-bawa bagian atas Kiu Im Cie-keng tersebut. Setibanya di Tho Hoa To, aku menegur Oey Lao Shia."

"Dia berkata kepadaku, 'Pek Thong, aku Oey Yok Su, jika aku berkata satu, tentu satu. Aku telah bilang tidak akan melihat kitabmu itu, dan aku memegang perkataanku! Kapan aku melihat kitabmu? Kiu Im Cie-keng yang aku baca adalah catatan istriku, hal itu tidak ada sangkutannya denganmu!' Aku tidak mau mengerti, maka kita berselisih. Lantas aku minta ia mengizinkanku bertemu dengan istrinya."

"Mendengar itu, aku melihat ia meringis dengan roman muka berduka, lalu ia mengajakku ke ruang dalam. Di sana aku terkejut melihat istrinya sudah meninggal dunia; hanya ada meja abu beserta sincienya. Aku ingin memberi hormat pada arwah Nyonya Oey, tetapi Oey Lao Shia berkata dengan dingin: 'Loo Boan Tong, tidak usah kau berpura-pura! Coba kau tidak mengoceh tentang kitab tulen dan yang palsu, tidak mungkin istriku meninggalkan aku!' Aku heran. 'Apa katamu?' tanyaku. Ia tidak menjawab, hanya mengawasiku dengan murka. Kemudian, mendadak air matanya mengalir. Setelah beberapa saat, barulah ia menceritakan tentang meninggalnya sang istri."

"Apa sebabnya, Toako?"

"Istri Oey Lao Shia adalah seorang yang otaknya sangat cerdas. Untuk suaminya, ia mampu mengingat isi kitab Kiu Im Cin-keng yang ia pinjam dariku hanya setelah dua kali membaca. Oey Yok Su baru mendapatkan bagian bawah dan ingin mendapatkan bagian atasnya agar bisa meyakinkan semuanya. Namun, kitab itu dicuri oleh Tan Hian Hong dan Bwee Tiauw Hong, kedua muridnya. Untuk menghibur suaminya, Nyonya Oey hendak membuat catatan baru. Ia sebenarnya tidak mengerti isi kitab itu dan sukar mengingat karena waktunya telah lama berselang."

"Kebetulan saat itu istrinya sedang mengandung delapan bulan. Nyonya Oey berpikir keras selama beberapa malam hingga berhasil mencatat tujuh sampai delapan ribu huruf, tetapi tidak ada hubungan yang tepat antara satu dengan yang lain. Karena terlalu memeras otak, ia menjadi lelah dan akhirnya melahirkan sebelum waktunya. Bayinya berjenis kelamin perempuan. Oey Yok Su sangat pandai, tetapi ia tidak dapat merebut kembali jiwa istrinya yang sangat ia cintai. Memang ia bertabiat aneh dan suka menimpakan kesalahan kepada orang lain. Begitu pula kali ini, saking bersedih, pikirannya seolah terganggu. Ia mengoceh tidak karuan kepadaku. Aku mengerti kedukaannya, jadi aku tidak melayaninya. Aku pun merasa kasihan."

"Sambil tertawa aku berkata, 'Kau gemar silat, bagaimana bisa mencintai istrimu sampai begini? Apakah kau tidak khawatir orang akan menertawakanmu?' Atas itu, ia menjawab, 'Kau tidak tahu, istriku ini berbeda dari istri orang kebanyakan.' Aku menimpali, 'Kau telah kehilangan istrimu, inilah waktunya untuk meyakinkan ilmu silatmu. Jika aku jadi kau, inilah saat yang paling aku harapkan.'"

Kwee Ceng terperanjat. "Ah, mengapa kau mengatakan demikian?"

Pek Thong membelalakkan mata. "Apa yang aku pikir, itulah yang aku katakan! Mengapa aku tidak boleh mengucapkannya? Karena itu, Oey Lao Shia menjadi sangat gusar dan mendadak menyerangku. Kita pun berkelahi. Karena perkelahian itu, akhirnya aku harus duduk bercokol di sini selama lima belas tahun."

"Jadi, Toako kalah?" tanya Kwee Ceng.

Ciu Pek Thong tertawa. "Jika aku menang, tidak mungkin aku berada di sini. Dia menghajar hingga kedua kakiku patah dan memaksaku mengeluarkan bagian atas Kiu Im Cin-keng dengan alasan untuk dibakar sebagai sesaji bagi arwah istrinya. Aku tidak menyerahkan kitab itu yang kusimpan di dalam gua ini. Aku telah memutuskan, jika ia memaksa, aku akan melenyapkan kitab itu. Atas sikapku, Oey Yok Su bilang ia harus membuatku meninggalkan gua ini untuk mendapatkannya. 'Marilah kita coba!' tantangku. Demikianlah, aku berdiam diri di dalam gua ini selama lima belas tahun. Ia tidak berani membiarkanku kelaparan dan telah menggunakan berbagai tipu daya, tetapi tetap tidak berhasil. Aku tidak bisa dipaksa atau dibujuk. Hanya tadi malam aku hampir runtuh, syukur kau datang membuat lubang. Jika tidak, tentu kitab itu sudah jatuh ke tangan Oey Lao Shia."

Kwee Ceng berpikir keras mendengar keterangan itu. "Toako, lalu bagaimana selanjutnya?"

Pek Thong tertawa. "Aku akan melewatkan waktu bersama Oey Lao Shia untuk membuktikan siapa yang lebih panjang umur!"

Kwee Ceng merasa itu bukan cara yang sempurna, namun ia sendiri belum bisa memikirkan jalan lain. "Mengapa Ma Totiang dan yang lainnya tidak datang menolongmu?" tanyanya kemudian.

"Kebanyakan mereka tidak tahu aku berada di sini," jawab Pek Thong. "Seandainya pun tahu, mereka tidak akan bisa masuk ke sini kecuali Oey Lao Shia sengaja mengizinkan."

Kwee Ceng terdiam. Ia menyadari Ciu Pek Thong adalah orang tua yang usianya tinggi namun berjiwa anak-anak, jujur, dan tidak licik. Ia pun mulai menyukai orang tua itu.

Tidak lama kemudian, matahari naik tinggi dan si bujang tua datang membawa makanan. Setelah bersantap, Pek Thong berkata kepada Kwee Ceng, "Lima belas tahun aku melewatkan waktu di Tho Hoa To ini tanpa menyia-nyiakannya. Aku tidak pernah melangkah barang sedikit pun, hatiku tenang, sehingga aku berhasil dalam keyakinanku. Di tempat lain, mungkin aku membutuhkan waktu dua puluh lima tahun. Sayangnya, aku tidak punya kawan berlatih, jadi terpaksa aku menggunakan kedua tanganku sendiri."

Kwee Ceng heran. "Bagaimana bisa tangan kanan bertempur dengan tangan kiri?"

"Itu hanya perumpamaan," terang Pek Thong. "Tangan kananku diumpamakan Oey Lao Shia, tangan kiriku adalah aku sendiri. Saat tangan kanan memukul, tangan kiri menangkis dan langsung membalas menyerang." Sembari berbicara, Pek Thong menggerakkan kedua tangannya hingga terlihat seperti dua orang sedang berkelahi.

Kwee Ceng awalnya merasa lucu, tetapi setelah beberapa jurus, ia menjadi kagum. Gerak-gerik kedua tangan itu luar biasa. Anak muda itu terus mengamati sampai ia bertanya, "Toako, barusan kau menggunakan jurus 'Di Bawah Pohon Membereskan Pakaian', kau menggerakkan tangan kanan, mengapa tidak menggunakan kaki?"

Pek Thong berhenti dan tertawa. "Benar, matamu tajam. Mari, coba kau lawan!" Ia mengulurkan tangan kanannya. Kwee Ceng pun mengulurkan tangan untuk menandingi. Saat Pek Thong mengerahkan tenaga dan menggunakan jurusnya, Kwee Ceng yang sudah siap segera melawan dengan *Hang Liong Sip-pat Ciang*. Akibatnya, ia terpukul mundur tujuh atau delapan langkah dengan tangan yang lemas dan sakit.

"Barusan aku meminjam tenaga dari kakiku, kau hanya terdorong," kata Pek Thong. "Sekarang mari coba lagi tanpa menggunakan tenaga kaki." Kwee Ceng menurut, namun kali ini ia merasa seperti tertolak dan tertarik hingga kuda-kudanya runtuh dan kepalanya membentur tanah.

"Mengerti kau sekarang?" tanya Pek Thong tertawa.

"Tidak," jawab Kwee Ceng sambil menggeleng.

"Ilmu ini aku dapatkan selama sepuluh tahun di dalam gua ini secara tiba-tiba. Dulu aku tidak menginsafinya, baru kemudian aku memahaminya. Tadinya aku belum percaya karena belum pernah mencobanya, sekarang barulah aku mengujinya terhadapmu. Adik, mari kita coba lagi. Jangan takut, aku tidak akan menjatuhkanmu dengan keras."

Kwee Ceng mengamati tangan orang tua itu yang tampak antusias. "Baiklah," sahutnya, "terjatuh beberapa kali tidak masalah." Mereka pun kembali bentrok. Selang beberapa jurus, Pek Thong mengerahkan tenaganya dan Kwee Ceng terguling, lalu disampok dengan tangan kiri hingga ia berjumpalitan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment