Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 195

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 195

"Kalau aku tidak keburu sampai di batu itu, pasti dia bakal dapat menawan aku?" Maka ia lari terus sekuat-kuatnya.

Beberapa puluh tombak lagi, Auwyang Kongcu telah datang semakin dekat. Oey Yong lari ke kiri, mendekati laut, tinggal beberapa kaki lagi. Auwyang Kongcu benar-benar telah menjadi cerdik; ia tidak mau mendekat.

"Baiklah, mari kita main petak umpet!" katanya tertawa. Ia maju pula sembari tetap waspada.

Oey Yong menghentikan langkahnya, ia juga tertawa. "Di depan sana ada seekor harimau galak," katanya, "jikalau kau tetap menyusul aku, kau nanti diterkam dan disantap olehnya!"

"Aku sendiri pun harimau!" tertawa si anak muda. Ia tidak percaya perkataan orang.

"Aku pun hendak mencaplokmu!" Oey Yong tertawa, lalu tanpa menyahut ia lari lagi.

Demikianlah mereka main kejar-kejaran hingga sampai dekat ke batu yang separuh tergantung itu. Di sini Oey Yong lari makin kencang. Ia harus menang waktu. "Mari!" tantangnya. Ia melompat pesat ke arah depan batu. Sekelebatan, ia merasa melihat bayangan orang di pesisir, namun karena sedang menghadapi saat tegang, ia tidak sempat mencari tahu.

Ia lari terus sampai di tempat akar rotan tadi. Dengan tiga kali lompatan, tibalah ia di lembah.

"Mana si harimau?" tanya Auwyang Kongcu mengejek. Ia pun menambah kecepatan larinya hingga tiba di depan lembah. Sekonyong-konyong pemuda ini mendengar suara berkeresek di atas kepalanya, disusul sambaran angin. Ia lantas mendongak untuk melihat. Bukan main kagetnya, ia menampak sebuah batu besar jatuh tepat ke arahnya.

Tidak ada jalan lain. Ia melompat ke samping tanpa melihat arah. Ia terkejut ketika tubuhnya membentur sebuah pohon yang terus patah, dan bagian patahannya melukai punggungnya. Lupa pada rasa sakit, ia cuma ingat harus menyingkir.

Saat itu, Auwyang Kongcu sudah seperti pingsan, tetapi ia masih merasakan ada tangan kuat yang menyambar dan menjambak batang lehernya untuk menariknya. Meski begitu, jatuhnya batu luar biasa cepat; ia masih tertimpa juga, maka robohlah ia dibarengi jeritannya yang hebat. Debu dan batu pun berhamburan.

Debu mengepul bagaikan uap. Oey Yong melihat jebakannya berhasil, ia girang sekaligus kaget. Ia tidak menyangka jatuhnya batu demikian hebat. Ia menjatuhkan diri ke tanah, duduk bersila seraya meletakkan kedua tangannya di atas kepala. Ia baru mengangkat kepala dan membuka mata ketika mendengar suara nyaring dan berisik.

Samar-samar ia menampak dua sosok orang berdiri di sisi batu besar itu. Seperti orang bermimpi, ia mengucek-ucek matanya. Lalu ia mengawasi dengan saksama. Tidak salah, di situ ada dua orang lain, bahkan orang itu adalah Auwyang Hong dan Kwee Ceng! Si anak muda yang tidak dapat ia lupakan.

"Engko Ceng!" akhirnya ia berseru seraya melompat bangun.

Kwee Ceng juga tidak menyangka di tempat itu dapat menemui kekasihnya. Ia pun melompat menubruk untuk merangkul erat-erat si nona. Hingga keduanya lupa bahwa di samping mereka berada musuh besar mereka.

Auwyang Hong dan Kwee Ceng sebelumnya tenggelam terbawa perahu mereka yang hancur hingga ke dasar laut karena pusaran air. Perahu itu sudah kemasukan banyak air. Segera mulut dan hidung mereka menyedot air asin, hingga keduanya kaget dan menginsyafi bahaya. Mereka tidak berkutat lebih jauh, sama-sama melepaskan tangan mereka untuk digunakan menekap hidung dan kuping.

Mereka terbawa arus hingga jauh. Ketika Kwee Ceng timbul di permukaan untuk bernapas, ia melihat suasana gelap; perahu kecil entah pergi ke mana. Ia menjerit-jerit, tidak ada yang menyahuti, meskipun sebenarnya Oey Yong tengah mencari-carinya. Damparan gelombang sangat berisik, angin juga tak kurang ributnya. Selagi Kwee Ceng berteriak, ia merasa ada yang menarik kakinya. Auwyang Hong muncul di sisinya.

Dia tidak pandai berenang, maka setelah tercebur di laut, ia habis daya. Syukur ia dapat mencekal kaki si anak muda, ia terus tidak mau melepaskannya, bahkan ia memegang juga kaki yang kanan. Sia-sia Kwee Ceng meronta. Mereka berkutat hingga tenggelam kembali. Tak lama, keduanya mengambang lagi.

"Lepaskan tanganmu!" Kwee Ceng berseru.

"Aku tidak akan tinggalkan kau!" Auwyang Hong tidak mau melepaskan, baru sesaat kemudian ia melepaskan kaki yang sebelah. Rupanya ia ingat, dengan bergulat terus, mereka bakal mati bersama. Kwee Ceng lantas berenang sembari mengangkat sedikit rusuk jago tua itu. Untung bagi mereka, tidak lama kemudian mereka membentur sepotong balok, maka si anak muda berpegang pada balok itu.

"Lekas peluk balok ini!" teriaknya. "Jangan lepas!" Auwyang Hong menurut. Bukan main girangnya pemuda ini. Mereka terombang-ambing di laut hingga fajar tiba. Ternyata balok itu adalah patahan tiang layar mereka. Hanya melihat sekeliling, mereka tidak tampak perahu. Auwyang Hong sangat berduka. Tongkatnya pun sudah lenyap, hingga ia merasa khawatir.

"Kalau ada ikan cucut di sini, mana bisa aku melawan seperti Ciu Pek Thong?" pikirnya. "Ketika itu ada aku yang menolongnya, tetapi sekarang, siapa yang menolong aku?"

Mereka lapar dan dahaga. Syukur, mereka bisa mengunyah ikan mentah. Kalau ada ikan yang lewat di sampingnya, Kwee Ceng menikam dengan pisau belatinya, dan Auwyang Hong menghajar dengan tangannya. Mereka tidak bergulat lagi. Pada hari itu, sampailah mereka di tepian pulau di mana Cit Kong, Oey Yong, dan Auwyang Kongcu telah tiba.

Mereka mendarat untuk beristirahat. Tiba-tiba mereka mendengar suara orang berbicara sambil tertawa. Keduanya heran, Auwyang Hong melompat paling dulu untuk melihat. Tepat ia melihat batu jatuh dan keponakannya terancam, maka ia melesat akan menyambar keponakannya itu. Namun, ia terlambat; kedua kaki Auwyang Kongcu tertindih batu raksasa itu. Anak muda itu menjerit lalu pingsan.

Untuk sejenak Auwyang Hong memandang sekeliling, setelah merasa pasti tidak ada ancaman bahaya lainnya, ia menghampiri keponakannya. Ia mendapat kenyataan sang keponakan cuma pingsan, hatinya menjadi sedikit lega. Ketika mencoba mendorong batu, ia tidak berhasil, tidak peduli tenaganya besar luar biasa.

"Paman?" panggil keponakan itu perlahan setelah sadar, sementara pamannya membungkuk.

"Tahan sakit," sahut paman itu. Ia lalu memeluk untuk menarik. Auwyang Kongcu menjerit, kembali pingsan. Hebat tarikan itu, sedang kaki tidak bergeming.

"Mana suhu?" tanya Kwee Ceng yang menarik tangan Oey Yong. Ia seperti tidak ingat itu paman dan keponakannya.

"Di sana," sahut si nona sambil menunjuk.

Lega hati si anak muda. Selagi ia mau minta si nona mengajak dia pergi kepada gurunya, ia mendengar jeritan Auwyang Kongcu itu. Dasar hatinya mulia, ia menjadi tidak tega. "Mari aku bantu!" katanya kepada Auwyang Hong.

Oey Yong menarik tangan pemuda itu. "Mari kita lihat suhu!" ajaknya. "Kita jangan pedulikan manusia jahat!"

Auwyang Hong tidak tahu bahwa batu besar itu jatuh karena ulah si nona, meski begitu ia gusar mendengar perkataan orang itu. Ia juga ingat bahwa Ang Cit Kong masih hidup serta berada di tempat itu. Ia membiarkan orang pergi; kepada keponakannya, ia berbisik, "Kau tahan sabar, aku nanti cari akal untuk menolongmu."

Ia melompat naik ke atas pohon, mengawasi ke arah mana muda-mudi itu pergi. Panas hatinya menyaksikan orang berjalan dengan begitu akrab. "Jikalau aku tidak dapat menyiksa kalian berdua bangsat cilik hingga kau mati tidak, hidup pun tidak, percuma aku disebut See Tok!" katanya dalam hati dengan sengit. Habis itu ia melompat turun dari pohon untuk menguntit.

Kwee Ceng dan Oey Yong berjalan terus sampai di mulut gua. Mereka tidak tahu bahwa ada yang membayangi. "Suhu!" panggil si anak muda saat memasuki gua.

Cit Kong kelihatan sedang bersandar di batu, matanya tertutup rapat, mukanya sangat pucat. Karena diganggu Auwyang Kongcu, penyakitnya yang baru baikan kambuh pula. Karena itu ia berdiam saja mendengar panggilan muridnya. Kwee Ceng dan Oey Yong menghampiri; yang satunya membuka kancing bajunya, yang lainnya mengurut tangan dan kakinya.

Akhirnya Ang Cit Kong membuka mata. Melihat Kwee Ceng yang segera dikenali, ia girang. Ia tersenyum. "Anak Ceng, kau pun datang!" katanya lemah.

Kwee Ceng hendak menyahuti gurunya ketika ia terkejut mendengar suara nyaring di belakangnya, "Pengemis tua, aku juga datang!"

Itulah suara Auwyang Hong yang telah menguntit sampai di luar gua. Kwee Ceng bangun untuk memutar tubuh dan melompat maju, ia menghalang di pintu dengan sikap "Sin Liong Pa Bwee" atau "Naga Sakti Menggoyang Ekornya". Oey Yong sendiri menyambar tongkat gurunya lalu melompat ke samping pemudanya.

"Pengemis bangkotan, keluar!" katanya nyaring. "Jikalau kau tidak keluar, nanti aku yang masuk ke dalam!"

Kwee Ceng menoleh kepada Oey Yong dan mengedipi mata, maksudnya memberitahu bahwa apa pun yang terjadi, ia hendak membela gurunya. Auwyang Hong tidak memperoleh jawaban, ia tertawa lalu maju. Tanpa bimbang lagi, Kwee Ceng menyerang. Inilah yang sudah diduga See Tok; ia malah menerka orang akan menggunakan Hang Liong Sip-pat Ciang, dari itu ia sudah bersiaga untuk berkelit dengan melompat ke kanan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment