Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 168

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 168

Melihat hal itu, Oey Yok Su dan keponakannya menjadi girang sekali. Mereka merasa pasti kali ini mereka bakal menang. Bukankah acara yang ketiga pun acara bunyi? Mereka percaya bahwa mereka bakal memenangi acara ketiga itu.

Oey Yong bersikap sebaliknya. Ia merasa gelisah dan khawatir Kwee Ceng akan kalah. Maka, dengan jari tangan kanannya, ia menepuk-nepuk lengan kirinya. Ia berharap si anak muda itu melihatnya dan meniru caranya. Namun, ia justru mendapati Kwee Ceng sedang mendongak menatap langit, berdiam diri, dan tidak melihat pertanda darinya.

Oey Yok Su masih terus meniup serulingnya. Sejenak kemudian, mendadak Kwee Ceng menepuk batang bambunya di tengah-tengah antara dua bagian tepukan irama. Auwyang Kongcu tertawa terkekeh. "Baru mengetuk, dia sudah kalah!" pikir pemuda itu.

Kwee Ceng kembali menepuk pula di bagian tengah seperti tadi. Ketika ia mengulangi sampai empat kali, semuanya tidak tepat. Oey Yong menggeleng-gelengkan kepala. "Engko tololku ini tidak mengerti ilmu tetabuhan, tidak selayaknya Ayah mengujinya dengan lagu!" katanya dalam hati. Sembari berpikir begitu, ia menoleh kepada ayahnya dan terkejut melihat air muka ayahnya berubah. Sang ayah agaknya merasa heran.

Kwee Ceng masih memperdengarkan suara kecrek bambunya, lalu terdengar irama seruling seperti rancu. Namun, hanya sebentar kemudian, irama itu kembali dengan rapi menuruti lagunya. Kwee Ceng tetap menepuk dengan cara yang sama—di tengah-tengah antara dua bagian kecrekan—hanya temponya yang berubah-ubah; sebentar cepat, sebentar perlahan, kadang mendahului, kadang ketinggalan. Cara ini hampir mengacaukan lagu Oey Yok Su.

Kejadian ini bukan cuma mengherankan pemilik Pulau Tho Hoa To itu, yang perhatiannya menjadi tertarik sekali, melainkan juga Auwyang Hong dan Ang Cit Kong ikut menjadi heran. Tadi Kwee Ceng telah mendengar suara pertempuran antara seruling, ceng, dan siulan. Tanpa sadar, ia menginsyafi irama pertempuran istimewa itu. Sekarang, saat mendengar lagu Oey Yok Su, mulanya ia memasang kuping dengan melongo, lalu akhirnya ia memainkan bambunya untuk mengacau.

Ia mengetuk dengan keras, suaranya "Bung! Bung! Bung!" Tidak peduli betapa mahir ilmu menetapkan atau menenangkan hati Oey Yok Su, ia pun tergempur suara bambu orang itu. Beberapa kali Oey Yok Su hampir membuat lagunya berbalik mengikuti suara kecrek istimewa Kwee Ceng. Lantas, Oey Yok Su membangkitkan semangatnya. "Hebat kau, bocah!" pikirnya. Ia meniup serulingnya lagi, sekarang dengan irama perlahan tetapi banyak perubahan dan tekukan.

Auwyang Kongcu memasang kupingnya untuk menangkap lagu itu. Baru sesaat, tanpa sadar ia mengangkat bambunya dan mulai bergerak-gerak menari. Auwyang Hong terkejut dan menghela napas. Segera ia maju untuk mencekal lengan keponakannya itu dan menekan nadinya. Menyusul itu, ia mengeluarkan sapu tangan sutra untuk menyumbat telinga keponakannya agar tidak dapat mendengar lagu tersebut. Ketika si keponakan mulai tenang hatinya, baru ia lepaskan cekalan dan tekanannya.

Oey Yong sendiri tidak terganggu oleh seruling ayahnya. Seperti sang ayah, ia sudah terbiasa mendengar lagu "Thia Mo Bu" atau "Tarian Hantu Langit". Ia hanya khawatir untuk Kwee Ceng, takut si anak muda tidak dapat menenangkan diri untuk mempertahankan diri. Kwee Ceng sudah duduk bersila di tanah, ia menenangkan diri dengan latihan tenaga dalam Coan Cin Kauw. Dengan begitu, ia menentang rayuan irama seruling yang menggoncangkan hati itu. Berbarengan dengan itu, tak hentinya ia membunyikan kecrek bambunya untuk mengacau lagu tersebut.

Tadi, Oey Yok Su, Ang Cit Kong, dan Auwyang Hong telah mengadu irama; mereka dapat saling menyerang dan membela diri. Sekarang, karena Kwee Ceng kalah dalam latihan tenaga dalam, ia tidak dapat menyerang, ia hanya bisa membela diri dengan pertahanan yang rapat. Benar ia tidak bisa membalas serangan, tetapi Oey Yok Su juga tidak dapat menaklukkannya.

Selang sesaat, suara seruling semakin lama makin perlahan dan halus, sampai sukar terdengar. Mendengar itu, Kwee Ceng berhenti mengetuk bambunya dan memasang kuping. Justru inilah kehebatan Oey Yok Su. Makin perlahan suara serulingnya, makin besar tenaga tarikannya. Begitu Kwee Ceng diam mendengarkan, bekerjalah pengaruh menarik itu. Irama seruling dan irama bambu bergabung menjadi satu, yang mestinya akan membetot pemusatan pikiran si anak muda.

Tetapi Kwee Ceng bukanlah orang biasa. Ia pernah menyakini ilmu saling serang dengan tangan sendiri sebagaimana ia telah lama berlatih dengan Ciu Pek Thong, maka hatinya dapat dipecah menjadi dua. Begitu mendengar suara aneh yang membetot hatinya itu, ia memecah pikirannya. Ia insyaf akan bahaya yang mengancam. Dengan demikian, sambil menetapkan hati, ia memperdengarkan pula suara sebatang bambu yang dipegang tangan kirinya, hingga terdengar bunyi "bung-bung".

Oey Yok Su menjadi terperanjat saking herannya. "Bocah ini mempunyai kepandaian luar biasa, tidak dapat dipandang enteng," pikirnya. Namun ia penasaran dan mencoba lagi. Ia tidak lagi berdiri diam, melainkan melangkah mengikuti penjuru patkwa sambil terus meniup serulingnya. Kwee Ceng masih menepuk terus, kedua tangannya menghasilkan bunyi yang berbeda, seolah-olah ia adalah dua orang yang menentang satu orang. Tenaganya pun bertambah.

Oey Yok Su bukan sembarang orang. Makin ditentang, ia jadi makin gagah. Nada serulingnya menjadi tinggi dan rendah, makin luar biasa iramanya. Kwee Ceng terus melawan dan mempertahankan diri, sampai mendadak ia merasakan hawa dingin yang menyambar, bagaikan es yang membungkus dirinya. Tanpa sadar, ia menggigil.

Karena suara seruling yang halus itu berubah menjadi keras bagaikan serangan dahsyat, Kwee Ceng merasakan hawa dingin meresap ke tulang-tulangnya. Lekas-lekas ia memusatkan pikiran lagi. Ia membayangkan matahari panas terik di musim panas, saat orang memukul besi, atau membayangkan dirinya sedang memegang obor besar di dapur yang apinya berkobar panas. Pemusatan pikiran ini berhasil mengurangi serangan hawa dingin tersebut.

Oey Yok Su kembali heran. Ia melihat di tubuh sebelah kiri Kwee Ceng ada hawa dingin, sementara di sebelah kanan tampak keringat keluar tanda hawa panas. Ia lantas mengubah irama lagunya, melenyapkan hawa dingin dan menggantinya dengan hawa panas musim kemarau. Kwee Ceng terkejut. Saat ia hendak menentang, suara batang bambunya menjadi kacau.

Oey Yok Su menyaksikan itu dan membatin, "Kalau ia memaksa melawan, ia masih dapat bertahan sekian lama, hanya saja kalau ia terserang terus oleh hawa panas dan dingin bergantian, kesudahannya ia bakal sakit berat." Karena berpikir demikian, ia berhenti meniup serulingnya hingga suaranya lenyap.

Kwee Ceng segera mengerti bahwa orang itu telah mengalah terhadapnya. Ia lantas melompat bangun untuk memberi hormat dan menghaturkan terima kasih kepada Oey Yok Su. Oey Yok Su heran dan menduga, "Bocah ini masih sangat muda, siapa tahu ilmu dalamnya begini bagus. Mustahilkah ia sengaja memperlihatkan sikap ketolol-tololan sedangkan sebenarnya ia cerdas luar biasa? Jikalau tepat dugaanku ini, anakku mesti dijodohkan dengannya. Baiklah aku mencoba pula!"

Begitulah ia tersenyum. "Kau baik sekali!" katanya manis. "Kau masih memanggil Oey Tocu kepadaku?" Dengan pertanyaan itu, Oey Yok Su hendak memberi isyarat bahwa dari tiga ujian, Kwee Ceng sudah lulus dua, sehingga sudah boleh mengubah panggilan menjadi "gakhu tayjin", yaitu ayah mertua yang terhormat.

Kwee Ceng yang jujur dan polos tidak mengerti maksud tersirat itu, sehingga ia menjadi gugup. "Aku... aku?" katanya, lalu ia tak dapat meneruskan. Matanya menatap Oey Yong untuk memohon bantuan. Oey Yong girang bukan main. Ia lantas menekuk-nekuk jempol kanannya, memberi isyarat agar Kwee Ceng bertekuk lutut kepada Oey Yok Su.

Kwee Ceng mengerti tanda itu, tanpa ragu lagi ia menjatuhkan diri di depan tuan rumah sambil mengangguk sampai empat kali. Meski memberi hormat, mulutnya tetap bungkam. "Kau memberi hormat kepadaku, kenapa?" tanya Oey Yok Su tertawa. "Yong-jie yang menyuruh aku," sahut si jujur itu. "Ah, dasar tolol, tetap tolol!" pikir Oey Yok Su.

Ia lantas mengulur tangan kepada Auwyang Kongcu untuk menyingkirkan sumbatan di telinga anak muda itu sembari berkata, "Bicara dari hal tenaga dalam, Kwee Sieheng yang lebih mahir, akan tetapi ketika aku menguji dengan lagu, kaulah, Auwyang Sieheng, yang lebih mengerti. Begini saja, acara nomor dua ini aku anggap seri. Sekarang hendak aku mulai acara yang ketiga, supaya didapat keputusan siapa di antara kedua Sieheng yang menang dan siapa yang kalah."

"Aku setuju!" Auwyang Hong cepat-cepat memberi persetujuan. Ia tahu keponakannya sudah kalah, dan ia tidak menyangka Oey Yok Su sebagai juru pemisah telah berbuat berat sebelah.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment