Chapter 92
"Apakah kamu sudah bosan hidup?" Suara itu adalah suara seorang wanita, hanya kali ini suara tersebut disusul dengan napas yang memburu. Mungkin sekali, ia adalah seorang yang sedang sakit.
"Aku datang kemari tidak sengaja," jawab Kwee Ceng perlahan. "Aku sedang dikejar-kejar orang." Sebagai orang yang polos, ia tidak bisa berdiam diri atau berdusta.
Baru saja Kwee Ceng berhenti bicara, terdengar sambaran angin. Ia tahu Nio Cu Ong sedang menyerangnya, mungkin untuk menawannya. Ia pun segera berkelit. Nio Cu Ong menyadari tangkapannya gagal, lalu ia menyerang kembali. Kwee Ceng menjadi cemas dan sibuk; ia terus berkelit ke kiri dan ke kanan.
"Siapa yang berani datang kemari menangkap orang?" terdengar suara wanita tadi lagi.
Nio Cu Ong tidak takut, ia bahkan marah. "Apakah kau hendak menyamar menjadi iblis untuk menakut-nakutiku?" tantangnya.
Wanita itu tidak menyahut, ia hanya berkata kepada Kwee Ceng, "Eh, anak muda, kemarilah, bersembunyilah di dekatku!" Rupanya ia dapat menduga posisi Kwee Ceng dari suara orang tersebut. Meski berkata demikian, ia tidak beranjak dari tempatnya.
Kwee Ceng sedang bingung. Dalam keadaan seperti ini, ia tidak bisa lagi bersangsi, maka ia pun melompat ke arah datangnya suara itu. Begitu kakinya menginjak tanah, tangannya disambar dan dicekal oleh tangan orang lain yang dingin sekali. Tenaga orang itu begitu besar sehingga tubuh Kwee Ceng tertarik hingga roboh menubruk sebuah dipan tempat wanita itu bersemedi.
Wanita itu masih bernapas memburu. Ia berkata kepada Nio Cu Ong, "Barusan seranganmu yang berupa tangkapan itu lihai sekali. Apakah kau seorang jago rimba persilatan dari Kwang-wa?"
Nio Cu Ong heran bukan buatan. "Aku tidak dapat melihatnya, kenapa ia justru segera mengenali asal-usul ilmu silatku?" pikirnya. "Dia hebat sekali! Mungkinkah ia dapat melihat di tempat gelap?" Ia menjadi tidak mau berlaku sembrono dan menjawab, "Aku adalah seorang saudagar ginseng dari Kwantong, bermarga Nio. Bocah ini telah mencuri barangku, maka aku harus menangkapnya. Aku minta Nyonya jangan menghalangi aku."
"Oh, kiranya saudagar ginseng, Nio Cu Ong!" kata wanita itu. "Jika orang lain yang tidak tahu apa-apa lancang masuk ke rumahku ini, dia sudah tidak dapat diberi ampun, apalagi kau, Nio Lao Koay, seorang ketua partai! Apakah benar kau tidak mengenal aturan kaum rimba persilatan?"
Nio Lao Koay terperanjat. "Nyonya yang terhormat, aku mohon tanya siapa namamu yang mulia," pintanya.
"Aku... aku..." sahut si wanita terbata-bata.
Kwee Ceng baru mendengar sampai di situ, tiba-tiba ia merasakan tangan wanita itu gemetar keras, lalu perlahan-lahan cekalannya menjadi kendor. Ia pun mendengar wanita itu merintih, tanda bahwa ia sangat menderita.
"Apakah kau sakit?" tanya Kwee Ceng perlahan.
Nio Cu Ong mendengar suara Kwee Ceng dan kembali marah. Ia sangat mengandalkan kegagahannya dan tidak memedulikan siapa wanita itu, yang ia duga sedang sakit keras atau terluka parah. Ia mengulurkan kedua tangannya untuk membekuk si anak muda. Baru saja ia meraih baju Kwee Ceng, tiba-tiba tangannya terbentur tenaga yang besar hingga ia terkejut. Meski begitu, ia segera mengirim tangan kirinya untuk menyerang.
"Pergi!" bentak si wanita. Sebelah tangannya menghantam perut Nio Lao Koay hingga ia terhuyung tiga langkah. Berkat ketangguhan ilmu dalamnya, ia tidak sampai terluka di dalam, namun ia heran atas kecepatan wanita itu.
"He, bangsat perempuan, mari maju!" serunya murka.
Wanita itu terdengar napasnya memburu tanpa menggerakkan tubuh. Sekarang Nio Cu Ong percaya bahwa lawan tidak dapat bergerak, karena itu ia menjadi lebih berani. Dengan perlahan ia mendekat. Saat ia hendak melompat untuk menerjang, tiba-tiba ia mendengar suara angin dan sebuah cambuk panjang menyambar kakinya. Ia kaget sekali, tetapi tidak mau menyerah. Sambil melompat, kakinya terus menendang ke arah wanita itu.
Tendangan orang bermarga Nio ini sangat kesohor di wilayah Kwang-wa selama dua puluh tahun lebih. Namun, kali ini hasilnya membuat ia kaget bukan main. Belum lagi tendangannya mengenai sasaran, jalan darahnya tiba-tiba menjadi kaku sendiri. Jalan darah itu ada di batas mata kaki; biasanya siapa yang terkena totokan di sana akan langsung roboh.
Dalam kagetnya, ia melompat untuk berjumpalitan sambil menyampok dengan tangannya. Dalam hati ia berkata, "Wanita ini awas sekali matanya! Dia bisa menotok jalan darah, mungkinkah dia siluman?"
Sampokan Cu Ong adalah jurus istimewa, tenaganya telah dikerahkan sepenuhnya. Ia menduga karena lawan sedang sakit, jika serangannya mengenai sasaran, pastilah berhasil. Tiba-tiba terdengar urat-urat meretak, lalu tangan si wanita terulur panjang, ujung kukunya menyambar pundak Cu Ong.
Cu Ong terkejut dan menangkis dengan tangan kiri. Saat kedua tangan berbenturan, ia merasakan tangan lawan dingin sekali bagaikan es, bukan seperti daging manusia. Tanpa berpikir panjang, ia membuang diri ke tanah, bergulingan pergi, bahkan merayap keluar dari terowongan itu hingga akhirnya bisa bernapas lega.
"Sudah beberapa puluh tahun, belum pernah aku mengalami kejadian seperti ini," pikirnya. "Benarkah di dunia ini ada iblis? Ah, mungkin Ong-ya mengetahui rahasia ini?" Maka dengan cepat ia kembali ke Hoa Cui Kok.
Kwee Ceng mendengar langkah orang berlari pergi. Hatinya lega, dengan penuh syukur ia berlutut di depan wanita itu dan mengangguk tiga kali. "Teecu mengucapkan banyak terima kasih atas pertolongan Cianpwee."
Wanita itu bernapas tersengal-sengal, rupanya melawan Nio Cu Ong telah menguras tenaganya. Ia pun terbatuk-batuk. "Kenapa Lao Koay hendak membunuh kau?" tanyanya setelah napasnya agak tenang.
"Ong Totiang mendapat luka dan membutuhkan obat, maka teecu datang ke istana ini," sahut Kwee Ceng. Tiba-tiba ia berhenti berpikir, "Wanita ini tinggal di dalam istana, apakah dia bukan orang dari Wanyen Lieh?"
"Oh!" seru si wanita. "Jadinya kau telah mencuri obatnya Lao Koay! Aku dengar kabar ia tengah menyakinkan pembuatan obat-obatan."
"Apakah Cianpwee terluka?" tanya Kwee Ceng, seolah tidak memedulikan perkataan wanita itu. "Teecu punya empat macam obat, yaitu thian-cit, hiat-kat, him-tha, dan bu-yok. Ong Totiang tentu tidak membutuhkan sebanyak itu. Kalau Cianpwee..."
"Mana aku terluka!" potong si wanita dengan gusar. "Siapa yang menghendaki kebaikanmu itu!"
"Ya, ya," sahut Kwee Ceng yang tak tahu harus menjawab apa. Hatinya menjadi lemas mendengar napas wanita itu yang tersengal. "Jika Cianpwee tidak sanggup berjalan, mari Boanpwee menggendong untuk pergi keluar?"
"Siapakah yang tua!" bentak wanita itu. "Bocah tolol, dari mana kau tahu aku sudah tua?"
"Ya, ya," sahut Kwee Ceng yang tidak berani banyak bicara. Ia diam membisu, namun ia tidak tega meninggalkan wanita ini sendirian. "Kau menghendaki barang apa? Nanti aku pergi mengambilkannya."
"Ah, kau benar-benar baik," kata wanita itu, namun ia tertawa dingin. Ia mengulurkan tangan kiri, meletakkannya di pundak Kwee Ceng, lalu menariknya. Kwee Ceng merasakan pundaknya sakit sekali dan tanpa daya ia tertarik ke depan wanita itu. Yang membuatnya terkejut adalah lehernya terasa dingin karena tangan kanan si wanita sudah merangkulnya.
"Gendong aku pergi!" seru wanita itu dengan keren.
"Memang aku pun hendak menggendongmu," kata Kwee Ceng dalam hati. Ia lantas menggendong wanita itu dan melangkah perlahan menuju luar.
"Aku yang memaksa kau menggendongku keluar dari sini," kata si wanita. "Jangan sampai aku dijual orang!"
Mendengar ini, Kwee Ceng merasa wanita itu sangat angkuh dan tidak tahu berterima kasih. Ia berjalan terus hingga di mulut terowongan tadi. Ia mengangkat kepala untuk melihat bintang-bintang di langit, lalu mencoba merayap naik menggunakan kedua tangannya. Dalam hal ilmu ringan tubuh, ia telah berlatih cukup di bawah pimpinan Tan Yang Cu Ma Giok. Liang sumur itu cukup tinggi, namun Kwee Ceng berhasil memanjatnya. Tak lama kemudian, mereka pun keluar dari gua itu.
"Siapa yang mengajari kau ilmu ringan tubuh?" tanya si wanita. "Lekas bicara!" Ia memegang keras leher Kwee Ceng sampai si anak muda itu sukar bernapas. Karena kaget, Kwee Ceng mengerahkan tenaga di lehernya untuk melawan cekikan itu. Ia tidak tahu bahwa wanita itu sedang mengujinya. Cekikan itu menjadi semakin keras, namun sesaat kemudian, tangan si wanita kendor dengan sendirinya.
"Ha, kau mengerti ilmu tenaga dalam yang sejati," seru wanita itu. "Kau bilang tadi Ong Totiang mendapat luka. Siapa nama Ong Totiang itu?"
Sebelum menjawab, Kwee Ceng berpikir, "Kau telah menolongku, segala apa boleh kau tanyakan, tidak mungkin aku berdusta. Tapi mengapa kau berlaku begini kasar?" Namun, ia tetap menjawab, "Ong Totiang itu bernama Ong Cie It, orang memanggilnya Giok Yang Cu."
Tiba-tiba wanita itu bergetar dan napasnya kembali tersengal. "Jadinya kau adalah murid dari Coan Cin Pay!" katanya. "Siapanya Ong Cie It kau? Kenapa kau memanggilnya Totiang, bukan Suhu atau Susiok?"
"Teecu bukan murid Coan Cin Kauw," kata Kwee Ceng. "Adalah Tan Yan Cu Ma Giok, yaitu Ma Totiang, yang pernah mengajarkan aku ilmu mengendalikan napas dan bersemedi."
"Habis, siapakah gurumu itu?" desak si wanita lagi.
"Guru Teecu semuanya ada tujuh orang," sahut Kwee Ceng. "Merekalah yang disebut Kanglam Cit Koay."