Chapter 85
Ia melangkah menuju pintu, dari sana, setelah melihat ke sekeliling, ia berjalan cepat ke arah kurungan Bok Ek dan gadisnya.
Selagi ia mendekati kurungan, ia mendapati penjagaan ketat di sana. Namun, ia harus bisa masuk. Ia memutar ke belakang. Di sana ia menunggu lewatnya serdadu ronda, lalu dengan sangat cepat ia melompat ke bagian dalam. Ia menghampiri kurungan. Sembari memasang telinga, ia melihat ke sekeliling. Tidak ada serdadu jaga di sana.
"Bok Cianpwee, aku datang untuk menolong," ucapnya perlahan.
"Kau siapa, Tuan?" tanya Bok Ek.
Kwee Ceng memperkenalkan dirinya. Bok Ek pernah mendengar samar-samar nama Kwee Ceng, namun karena sedang terluka dan bingung, ia tidak sempat memikirkannya. Sekarang, di tengah malam, ia mendengarnya dengan nyata.
"Kau... kau bermarga Kwee?" tanyanya menegaskan. Ia tampak terperanjat.
"Benar," sahut pemuda itu hormat. "Aku adalah orang yang tadi siang melawan pangeran muda."
"Siapakah ayahmu?" tanya Bok Ek lagi.
"Ayahku almarhum bernama Siauw Thian," jawab Kwee Ceng.
Tiba-tiba air mata Bok Ek mengembang dan berlinang. Ia mengangkat kepala, menengadah, seraya mengeluh, "Oh, Thian... Thian..." Ia mengulurkan tangannya dari balik jeruji untuk mencekal tangan pemuda itu dengan erat. Kwee Ceng merasakan tangan orang itu gemetar dan air mata menetes ke telapak tangannya.
Ia berkata dalam hati, "Rupanya dia tahu ada orang yang akan menolongnya, ia menjadi girang luar biasa." Maka ia berbisik, "Aku punya golok tajam. Dengan itu, kunci dapat dirusak agar Cianpwee bisa keluar dari kerangkeng ini."
"Ibumu bermarga Lie, bukankah?" tanya Bok Ek lagi, seolah tidak memedulikan perkataan Kwee Ceng. "Apakah ibumu masih ada atau telah menutup mata?"
Kwee Ceng heran dan balik bertanya, "Ah, kenapa Cianpwee tahu ibuku bermarga Lie? Ibu masih ada di Mongolia."
Hati Bok Ek terguncang hebat. Ia mencekal tangan Kwee Ceng semakin keras dan tidak hendak melepaskannya.
"Tolong, lepaskan cekalanmu, nanti aku bacok kunci ini," ujar Kwee Ceng.
Bok Ek tetap memegangi dengan erat, seolah mendapati sesuatu yang berharga dan tidak ingin itu lenyap. "Ah, kau telah menjadi sebesar ini?" katanya menghela napas. "Dengan memejamkan mata sekejap saja, aku dapat membayangkan wajah ayahmu yang telah almarhum itu."
Kwee Ceng semakin heran. "Cianpwee kenal ayahku?"
"Ayahmu adalah kakak angkatku," beritahu Bok Ek. "Kita telah mengangkat saudara hingga hubungan kita erat bagaikan saudara kandung." Orang tua itu tidak dapat melanjutkan kata-katanya, ia menangis sesenggukan.
Tanpa sadar, air mata Kwee Ceng pun berlinang. Ia tidak tahu bahwa Bok Ek ini adalah Yo Tiat Sim, yang dulu saat bertempur melawan tentara negeri, terluka tusukan tombak pada punggungnya. Karena lukanya parah, ia roboh pingsan. Beruntung karena malam gelap, ia tidak tertawan. Keesokan paginya, ia sadar dan merayap menuju rumah seorang petani. Lebih dari satu tahun ia merawat diri hingga sembuh, lalu merantau mencari Lie Peng, istri Kwee Siauw Thian, serta Pauw See Yok, istrinya sendiri.
Selama ayahnya berbicara dengan pemuda itu, Bok Liam Cu berniat mengingatkan agar meminta Kwee Ceng segera menolong mereka. Akan tetapi, sebelum ia sempat membuka mulut, pikirannya berubah. Ia berpikir, "Sekali kita keluar dari sini, aku khawatir selamanya tidak akan bisa bertemu dengannya lagi." Yang dimaksud adalah Wanyen Kang, pangeran muda itu. Ia telah jatuh cinta kepada sang pangeran hingga tak ingin pergi jauh.
Kwee Ceng ingat bahaya yang mengancam, maka ia menarik tangannya. Namun, saat hendak mengayunkan golok untuk menghancurkan kunci, mendadak ia melihat sinar terang disusul suara langkah kaki. Ia terkejut, dengan sigap ia menyimpan golok dan bersembunyi di balik pintu.
Sesaat kemudian, daun pintu dibuka. Terlihat beberapa orang masuk, di antaranya adalah selir Chao Wang yang merupakan ibu Wanyen Kang.
"Adakah mereka ini yang hari ini dikurung Siauw-ongya?" tanya sang nyonya mulia.
"Ya," sahut pemimpin pengiringnya.
"Sekarang juga merdekakan mereka!" perintah sang selir. Opsir itu terkejut dan ragu. "Jikalau Siauw-ongya menanyakan, bilang aku yang memerdekakan mereka. Lekas buka kuncinya!"
Setelah ayah dan gadis itu berada di luar kerangkeng, sang selir mengeluarkan dua potong emas dan mengangsurkannya kepada Bok Ek. "Nah, pergilah kamu baik-baik!"
Tiat Sim tidak menyambut emas itu, sebaliknya ia menatap dengan tajam. Sang selir heran. "Putraku berbuat keliru, harap kamu tidak menyesalinya."
Tiat Sim akhirnya menerima emas itu, lalu menuntun putrinya pergi dengan langkah lebar.
"Ha, orang kasar!" bentak sang opsir. "Kamu tidak berterima kasih kepada Nyonya yang telah menolong jiwamu!"
Bagaikan tidak mendengar, Tiat Sim terus berjalan. Setelah mereka pergi, Kwee Ceng menunggu sampai pintu ditutup dan langkah kaki menghilang, baru ia keluar dari persembunyiannya. Ia tidak lagi mendapati Bok Ek dan Liam Cu. "Pasti mereka sudah keluar dari istana," pikirnya.
Ia pun bergegas menuju Hoa Cui Kok untuk mencari Oey Yong. Namun, saat tiba di sebuah tikungan, ia melihat cahaya lentera dan mendengar langkah kaki cepat. Ia melompat ke balik tumpukan batu.
"Siapa!" tegur orang yang berjalan paling depan. Orang itu melompat maju dan menyerang. Kwee Ceng menggerakkan tangannya untuk membebaskan diri, namun ia terkejut. Di bawah cahaya api, ia mengenali Wanyen Kang.
Wanyen Kang datang dengan cepat karena baru menerima laporan bahwa Bok Ek telah dibebaskan. Ia kaget dan membatin, "Sungguh lemah hati Ibu, hingga tidak memedulikan urusan besar. Kalau guruku tahu, bagaimana aku harus menyangkal?" Ia berniat mencegat Bok Ek, namun di luar dugaan, ia bertemu Kwee Ceng. Keduanya pun terlibat pertempuran yang jauh lebih seru daripada siang tadi.
Sementara di pihak lain, pertandingan antara Oey Yong dan Thong Hay telah berubah. Dengan gerakan luar biasa, Oey Yong membuat tiga cawan di kepala dan tangannya melayang, lalu menerjang Thong Hay. Pria itu kewalahan dan terpaksa berkelit, namun tangan kanan Oey Yong menyambar kembali. Mereka berbenturan dan arak tumpah. Cawan di kepala Thong Hay jatuh dan pecah. Oey Yong dengan tangkas menyambar kembali cawan-cawannya.
"Bagus!" seru orang banyak.
Mau tidak mau, mereka harus memuji kecerdikan dan kelincahan sang nona. Thong Hay berwajah merah padam, menahan malu dan dongkol.