Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 177

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 177

Menduga mesti terjadi sesuatu, Cit Kong bertiga berlompat keluar untuk melihat. Oey Yong telah diajak pulang; dia terus ditarik hingga ke dalam rumah. Karena dipaksa ayahnya, tentu saja ia tidak dapat berbicara dengan Kwee Ceng.

Ia menjadi masgul dan dongkol sekali. Ia terus masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu, lalu menangis perlahan. Oey Yok Su menyesal telah mengusir Kwee Ceng karena menuruti hawa amarahnya, terutama karena ia menganggap si anak muda itu sedang menghadapi bahaya maut. Ia hendak menghibur gadisnya, tetapi Oey Yong tidak memedulikannya. Anak ini terus mengunci pintu kamarnya; bahkan di waktu santap malam, ia tidak muncul untuk makan. Ketika sang ayah menyuruh pelayan perempuannya membawa makanan, ia melemparkan makanan itu ke lantai hingga tumpah berserakan dan piring serta mangkuknya pecah.

Oey Yong berpikir keras. "Ayah akan melakukan apa yang dia ucapkan. Kalau Engko Ceng datang lagi ke mari, dia bakal dihajar sampai mati. Kalau aku kabur, lain hari Ayah tentu tidak bakal memberiku ampun."

Selain itu, dengan membiarkan ayahnya tinggal seorang diri, tidakkah ia menjadi kesepian? Bukan main berdukanya nona ini. Ia tidak mendapat pikiran yang baik. Beberapa bulan yang lalu, saat ia dimaki ayahnya, ia kabur tanpa berpikir panjang. Setelah bertemu kembali dengan ayahnya itu, ia mendapati rambut ayahnya mulai memutih; hanya selang beberapa bulan, sang ayah tampak bertambah tua puluhan tahun. Melihat itu, ia masgul sekali hingga bersumpah tidak akan membuat ayahnya berduka lagi.

Sekarang, di luar sangkaannya, ia menghadapi kesulitan ini. Tidak kabur, ia memikirkan Kwee Ceng. Kalau ia kabur, berarti ia melawan ayahnya. Maka, ia menangis sambil mendekam di pembaringan. "Coba Ibu masih hidup, tentulah Ibu dapat mengambil keputusan untukku. Ibu tidak mungkin membiarkan aku bersusah hati begini," pikirnya sembari mengingat ibunya yang sudah lama meninggalkan dunia fana ini.

Mengingat ibunya, ia menjadi lebih sedih. Ia bangkit, membuka pintu, dan pergi ke ruang depan. Pintu rumah Oey Yok Su di Pulau Tho Hoa To ini seolah hanya dipasang untuk main-main saja. Pintu besarnya siang atau malam dipentang lebar-lebar, sehingga dengan tindakan perlahan, Oey Yong bisa keluar. Di luar pintu, ia melihat bintang-bintang di langit dan kembali berpikir keras. "Tentulah sekarang Engko Ceng sudah terpisah beberapa puluh lie dari sini," pikirnya. "Entah sampai kapan aku bakal dapat bertemu lagi dengannya."

Ia menghela napas, lalu menyeka air mata dengan ujung bajunya. Ia berjalan ke arah pepohonan bunga, menyingkap cabang-cabang, dan mengebut-ngebut daun-daun sampai ia berada di depan kuburan ibunya. Di depan kuburan itu tumbuh pelbagai macam pohon bunga yang berbunga bergantian di empat musim. Semuanya adalah bunga pilihan yang ditanam Oey Yok Su sendiri. Selain harum, jika dipandang di antara sinar rembulan, bunganya tampak permai.

Oey Yong memutar batu nisan tiga kali ke kiri dan tiga kali ke kanan, lalu menariknya ke depan. Dengan perlahan-lahan batu itu berkisar, memperlihatkan sebuah lorong di dalam tanah. Ia masuk ke dalam lorong itu, membelok tiga kali, lalu membuka pintu rahasia yang terbuat dari batu. Tibalah ia di dalam kuburan ibunya yang pekarangannya luas. Ia menyalakan api untuk memasang pelita di muka kuburan. Pintu kuburan itu pun tertutup dengan sendirinya, maka Oey Yong berada di sana seorang diri.

Ia memandang gambar ibunya yang dilukis oleh ayahnya sendiri. "Seumur hidup belum pernah aku melihat ibuku," pikirnya. "Kalau nanti aku sudah mati, bisakah aku bertemu dengannya? Bisakah Ibu masih semuda dan secantik gambar ini? Di mana sekarang adanya Ibu? Di atas langit atau di bawah langit? Apakah Ibu masih di dalam pekarangan yang luas ini? Baiklah aku berdiam di sini untuk selama-lamanya demi menemani Ibu."

Di tembok liang kubur ini ada sebuah meja yang di atasnya diletakkan pelbagai macam batu permata yang luar biasa indah. Semuanya dikumpulkan oleh Oey Yok Su dari pelbagai tempat ketika ia malang melintang di kolong langit. Baik istana, keraton, gedung orang berpangkat, hartawan, maupun sarang berandal, hampir tak ada tempat yang tidak ia datangi. Asal ada barang permata yang ia sukai, ia akan mengambil atau merampasnya. Ia tidak akan puas sebelum mendapatkannya. Ia gagah luar biasa dan matanya sangat tajam, sehingga ia bisa mendapatkan banyak permata itu. Semua sekarang dikumpulkan di dalam kuburan istrinya untuk menemani arwah sang istri. Semua permata itu bergemerlapan tertimpa cahaya api.

Oey Yong berpikir lagi, "Semua permata ini tidak mempunyai perasaan, tetapi mereka benda yang ribuan tahun tak akan rusak. Malam ini aku melihatnya. Bagaimana kalau nanti tubuhku sudah berubah menjadi tanah? Bukankah permata ini tetap berada di dunia? Benarkah makhluk yang berjiwa, makin cerdik ia, makin pendek umurnya? Oleh karena Ibu cerdas luar biasa, dia cuma hidup dua puluh tahun lalu menutup mata?"

Ia terdiam mengawasi gambar ibunya, kemudian memadamkan api. Ia pergi ke tepi peti kumala ibunya, mengusapnya sekian lama, lalu duduk di tanah dengan tubuh menyandar pada peti tersebut. Ia berduka sekali, merasakan seolah sedang menyandar pada tubuh ibunya. Setelah sekian lama, ia ketiduran dan pulas.

Dalam mimpinya, Oey Yong merasa berada di kota raja, di dalam Istana Chao Wang, di mana ia seorang diri melawan pelbagai jagoan. Lalu di tengah jalan perbatasan, ia bertemu Kwee Ceng. Baru mereka bicara beberapa patah kata, mendadak ia melihat ibunya, namun tidak jelas. Ibunya terbang ke langit sementara ia mengejarnya di bumi. Ibu itu terbang makin lama makin tinggi, membuatnya sangat khawatir. Sekonyong-konyong, ia mendengar suara ayahnya memanggil-manggil ibunya. Suara itu makin lama terdengar makin nyata.

Sampai di situ, sang nona terbangun. Ia masih mendengar suara ayahnya dan menyadari bahwa ia bukan bermimpi lagi. Ayahnya benar-benar telah berada di dalam kuburan itu bersamanya. Ia ingat, ketika ia masih kecil, ayahnya sering membawa ia ke kuburan ini untuk berdiam sambil mengobrol. Baru akhir-akhir ini saja ia jarang menemani ayahnya ke sini. Ia tidak heran ayahnya datang. Ia berdiam diri. Di antara ia dan ayahnya terhalang sehelai kain. Karena sedang dongkol, ia tidak sudi menemui ayahnya. Ia ingin keluar kalau nanti ayahnya sudah pergi.

Lalu ia mendengar suara ayahnya, "Telah aku berjanji padamu hendak mencari Kiu Im Cin-keng sampai dapat, hendak membakarnya supaya kau melihatnya dan arwahmu di langit mengetahuinya. Kitab yang sangat kau pikirkan itu, yang ingin kau ketahui bunyinya, aku telah mencarinya sia-sia selama lima belas tahun. Baru hari ini aku dapat memenuhi keinginanmu itu."

Oey Yong heran bukan main. "Dari mana Ayah mendapatkan kitab itu?" tanyanya dalam hati.

Ia mendengar ayahnya bicara terus, "Bukan maksudku sengaja hendak membinasakan mantumu itu. Siapa suruh mereka sendiri ingin menaiki perahu itu?"

Oey Yong terkejut. "Mantu ibuku?" pikirnya. "Apakah Ayah maksudkan Engko Ceng? Kalau Engko Ceng duduk di dalam perahu itu, kenapakah?" Ia lantas memasang telinga.

Kali ini ayahnya bicara mengenai kesusahan hati dan kesepiannya sejak ditinggal pergi sang istri yang cantik, baik hati, dan mencintainya. Hati Oey Yong tergetar mendengarkan keluh kesah ayahnya. "Aku dan Engko Ceng masih belasan tahun, maka mustahil di belakang hari kita tidak bakal bertemu lagi," pikirnya. "Sekarang ini tidak dapat aku meninggalkan Ayah."

Belum sempat Oey Yong berpikir lebih jauh, ia mendengar ayahnya berkata, "Loo Boan Tong telah memusnahkan kitab bagian atas dan bawah dengan genggaman tangannya. Ketika itu aku mengira tidak dapat mewujudkan keinginanmu. Siapa tahu, seperti disuruh hantu atau malaikat, dia bersikeras hendak menaiki perahu terpajang yang sengaja kubikin untuk pertemuan kita nanti?"

Oey Yong kembali heran. "Sering aku minta naik perahu itu, Ayah selalu melarang dengan keras. Kenapa Ayah membuatnya untuk bertemu sama Ibu?"

Anak ini tahu tabiat ayahnya aneh, tetapi ia belum tahu keinginan terakhir ayahnya. Oey Yok Su memang aneh, namun ia sangat mencintai istrinya yang meninggal karena dirinya. Maka, ia telah berpikir untuk mengorbankan diri demi istrinya itu. Ia tahu kepandaiannya sangat tinggi sehingga mustahil ia bisa tewas dengan cara menggantung diri atau meminum racun. Ia pun memikirkan cara lain. Ia pergi dari pulaunya, menculik pembuat perahu yang pandai, dan menyuruhnya membuat perahu terpajang itu.

Segala sesuatu pada perahu itu sama dengan perahu biasa, hanya papan dasarnya tidak dipasang kuat dengan paku, melainkan diikat dengan tali yang dipolesi getah. Memang, jika berlabuh di muara, perahu itu tampak indah. Namun, sekali berlayar di laut dan terhantam gelombang dahsyat, tidak sampai setengah hari, perahu itu bakal karam dengan sendirinya karena "paku-paku istimewa" itu musnah.

Oey Yok Su telah berpikir untuk membawa jenazah istrinya ke dalam perahu itu untuk berlayar dan mati bersama di dalam gelombang. Namun, setiap kali ia mau berangkat, hatinya tidak tega membawa anak daranya yang manis itu. Ia juga tidak tega meninggalkan anak itu sebatang kara. Maka akhirnya, ia membangun pekuburan ini. Oleh sebab itu, perahu berhias tersebut dibiarkan saja tak terpakai; setiap tahun dicat baru agar selalu tampak bagus.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment