Chapter 154
"Apa sangkutannya dia dengan kitab itu?"
"Aku mendapatkan terang sekali cahaya muka Oey Lao Shia itu, maka untuk memberi selamat kepadanya sebagai mempelai, aku undang dia untuk berjamu. Aku pun menuturkan halnya suka pura-pura mati dan sudah menghajar Auwyang Hong. Mendengar ceritaku itu, istri Oey Lao Shia minta pinjam lihat kitab tersebut. Dia mengaku bahwa dia tidak mengerti ilmu silat; dia hanya ingin melihat karena penasaran. Dia ingin melihat kitab yang sudah menyebabkan kebinasaan begitu banyak ahli silat kenamaan."
"Oey Lao Shia sangat menyayangi istrinya itu sehingga ia tidak ingin menolak keinginannya, meskipun aku terlihat keberatan. Dia berkata kepadaku, 'Pek Thong, istriku benar-benar tidak mengerti silat. Dia masih muda sekali dan gemar melihat hal baru, maka berikanlah ia melihat-lihat. Apa halangannya? Jika aku sendiri, melirik saja kitabmu itu, aku nanti korek biji mataku untuk diserahkan padamu!' Oey Lao Shia adalah seorang jagoan, pasti aku percaya padanya, tetapi kitab itu sangat penting sehingga aku terpaksa menggelengkan kepala. Dia menjadi tidak senang dan berkata, 'Mustahil aku tidak menginsyafi kesulitanmu! Kalau kau memperlihatkan kitab itu pada istriku ini, satu kali saja, nanti akan datang harinya aku membalas budi kamu pihak Coan Cin Pay! Jikalau kau tetap menampik, terserah padamu! Siapa suruh kita bersahabat! Dengan pihak Coan Cin Pay, semua anggotanya tidak aku kenal!'"
"Aku mengerti maksudnya itu. Dia biasa melakukan apa yang dia katakan. Dia tidak enak mengganggu aku, tetapi dia dapat mencari alasan untuk mengganggu Ma Giok dan Khu Cie Kee. Dia lihai sekali dan sungguh berbahaya kalau sampai bergusar. Maka itu aku berkata padanya, 'Oey Lao Shia, jikalau kau hendak melampiaskan penasaranmu, carilah aku, Loo Boan Tong Ciu Pek Thong. Perlu apa pula kau mencari segala keponakan itu?' Istrinya tertawa mendengar aku menyebut julukanku sebagai Loo Boan Tong, lalu berkata, 'Ciu Toako, kau gemar sekali berkelakar! Baiklah kita jangan ngotot saja, lebih baik kita pelesiran. Tentang kitab mustikamu itu, tak apalah aku tidak melihatnya!' Ia menoleh kepada Oey Lao Shia dan melanjutkan, 'Rupanya kitab Kiu Im Cin-keng itu sudah dirampas si orang she Auwyang, maka itu Ciu Toako tidak sanggup memperlihatkannya kepadaku. Maka dari itu, apa perlunya kita memaksa dia? Bisa-bisa dia menjadi hilang muka.'"
"Oey Lao Shia tertawa dan berkata, 'Kau benar! Eh, Pek Thong, marilah, mari aku membantu kau mencari si tua bangka berbisa itu untuk membuat perhitungan!'"
"Kalau begitu, ibunya Yong-jie sama cerdiknya seperti putrinya," Kwee Ceng berpikir. Ia lantas memotong, "Mereka itu tengah memancing kemendongkolanmu, Toako!"
"Itulah yang aku ketahui," kata Pek Thong. "Hanya saja aku pun tidak mau mengalah. Maka itu aku berkata padanya, 'Kitab itu ada padaku sekarang! Pula tidak ada halangannya untuk memberi lihat itu pada Enso! Tapi kau tidak memandang muka padaku, kau menganggap aku tidak sanggup melindungi kitab itu, itulah yang tidak aku mengerti. Coba kau jelaskan, apakah syaratmu?' Oey Lao Shia tertawa, dia berkata, 'Kalau kita bertempur, kita jadi renggang. Kaulah si tua bangka nakal seperti bocah, aku pikir baiklah kita mengadu sesuatu seperti bocah-bocah tengah bermain-main!' Belum lagi aku memberikan jawaban, istrinya sudah bertepuk tangan dan mengatakan, 'Bagus, bagus! Baiklah berdua kau mengadu gundu!'"
Mendengar itu, Kwee Ceng tertawa. "Main gundu adalah kepandaianku," kata Pek Thong.
"Maka itu aku menjawab, 'Mengadu gundu ya mengadu gundu! Mustahil aku takut!' Nyonya Oey tertawa, ia berkata, 'Ciu Toako, jikalau kau kalah, kau kasih lihat kitab itu padaku! Jikalau kau yang menang, kau menghendaki apa?' Atas kata-kata istrinya, Oey Lao Shia membilang, 'Coan Cin Kauw memiliki mustika, mustahil Tho Hoa To tidak punya?' Ia terus membuka buntalannya dan mengeluarkan serupa barang hitam, semacam baju yang ada durinya. Coba tebak, barang apakah itu?"
"Itulah Joan-wie-kah, baju lapis duri," sahut Kwee Ceng.
"Oh, kiranya kau tahu itu?" kata kakak angkat ini. "Oey Lao Shia berkata padaku, 'Pek Thong, kau bilang kau tidak membutuhkan ini untuk melindungi dirimu. Hanya kalau di belakang hari kau menikah sama si bocah wanita nakal dan dia melahirkan bocah yang nakal, jika bocah nakal itu mengenakan baju lapis ini, faedahnya bukan kepalang! Jikalau kau menang, pusaka Tho Hoa To ini menjadi kepunyaanmu!' Aku menjawab, 'Si bocah nakal tidak bakal terlahir, tetapi baju lapismu ini sangat kesohor di dalam kalangan Rimba Persilatan. Kalau aku mengenakannya, pastilah aku aksi sekali! Dengan begitu, biarlah diketahui, tocu dari Tho Hoa To telah roboh di tangan Loo Boan Tong si Bocah Tua Nakal!' Lantas Nyonya Oey memotong aku, katanya, 'Kau jangan omong saja! Sekarang mulailah kalian berdua!' Sampai di situ cocoklah sudah. Lantas kita mulai. Kita memegang masing-masing sembilan biji gundu, kita membuat delapan belas lubang. Pemenangnya adalah siapa yang gundunya masuk paling dulu."
Mendengar itu, Kwee Ceng menjadi teringat saat ia bersama Tuli, saudara angkatnya, bermain gundu di gurun pasir. Maka itu ia tersenyum.
"Gundu itu selalu aku sediakan di saku," Pek Thong berkata pula. "Bertiga kita pergi ke luar, ke pelataran. Selagi keluar, aku perhatikan gerak-gerik istri Oey Lao Shia, aku dapat kenyataan dia benar tidak mengerti ilmu silat. Akulah yang membuat lubang di tanah, lalu aku menyuruh Oey Lao Shia yang mulai. Dalam hal menggunakan senjata rahasia, Oey Lao Shia lihai istimewa, dia mestinya menang daripada aku, tetapi dalam hal main gundu, ada lain tipunya. Aku membuat lubang yang istimewa. Kalau gundu masuk ke dalam situ, gundu itu bisa keluar pula. Untuk itu, aku mesti pandai mengimbangi dengan menyentil gundu tersebut agar dapat berdiam terus di dalam lubang. Tiga kali Oey Lao Shia menyentil, ketiganya masuk tepat, hanya saja begitu masuk, semuanya melompat keluar. Aku telah memasukkan lima biji, semuanya tidak keluar lagi. Oey Lao Shia lihai, ia mencoba menyusul tetapi gagal. Kembali satu gunduku masuk. Aku girang bukan main, aku percaya aku bakal menang, dia bakal kalah, dewa pun tidak bakal berhasil membantunya. Ah, siapa tahu Oey Lao Shia main curang, dia menggunakan akal! Coba tebak, apakah akal liciknya itu?"
"Adakah dia melukai tanganmu, Toako?"
"Bukan, bukan! Oey Lao Shia busuk sekali, tidak mungkin dia memakai akal sekasar itu. Dia tahu dia bakal kalah, mendadak dia mengerahkan tenaganya dan menghajar tiga gunduku hingga hancurlah sisa semua gunduku, gundunya sendiri lantas masuk ke dalam lubang."
"Jadi, Toako kehabisan gundu?"
"Ya, aku cuma bisa melihat dia main sendiri. Demikianlah aku kalah!"
"Toh itu tidak masuk dalam hitungan!" kata Kwee Ceng.
"Mestinya begitu, tetapi Oey Lao Shia berkeras. Memang, umpama kata aku memukul gundunya, kedua gundu itu mesti pecah. Aku tidak dapat memukul seperti dia, yang hancur justru gunduku. Terpaksa aku menyerah. Aku berkata pada istrinya, 'Enso Oey, sekarang aku berikan kitabku padamu, tapi sebentar, sebelum malam, kau mesti mengembalikannya padaku.' Kemudian dengan main-main aku menambahkan, 'Bukankah kita tidak menetapkan waktu lamanya kau meminjam? Maka itu, kau sudah melihat semua atau belum, kau mesti kembalikan.' Aku khawatir mereka tidak sudi mengembalikan, bisa-bisa dia meminjamnya sampai sepuluh tahun atau seratus tahun. Bukankah kau khawatirkan aku nanti jadi seperti Lauw Pie yang meminjam kota Kengciu untuk selamanya? Baiklah, aku duduk di sini, segera aku membaca, segera aku membayar pulang, tidak usah juga sampai malam! Kau jangan khawatir, kau boleh duduk menantikan!'"
"Mendengar perkataannya itu, aku keluarkan kitab Kiu Im Cin-keng tersebut dan aku serahkan padanya. Dia menyambutnya, lalu membawanya ke bawah sebuah pohon. Di situ ia duduk di atas sebuah batu dan mulai membalik-balik lembarnya. Oey Lao Shia mengawasi aku, ia dapat kenyataan hatiku tidak tenteram, ia berkata padaku, 'Eh, Lao Boan Tong, di zaman sekarang ini ada berapa orangkah yang dapat mengalahkan kita berdua?' Aku menjawab, 'Yang dapat mengalahkan kau, belum tentu ada, tetapi yang dapat mengalahkan aku, terhitung kau sendiri, ada empat atau lima orang!' kataku. 'Tong Shia, See Tok, Lam Tee, dan Pak Kay, berempat mereka mempunyai kepandaian sendiri-sendiri, mereka tidak dapat saling mengalahkan. Auwyang Hong telah dirusak ilmunya Kap-mao-kang, dalam waktu sepuluh tahun ia tidak bisa berbuat apa-apa terhadap kita. Loo Boan Tong, bagaimana adanya ilmu silatmu, aku tahu baik sekali, selain beberapa orang yang sudah disebutkan barusan, kaulah yang nomor satu. Maka itu kalau kita berserikat, siapapun tidak bisa melawan kita!'"
"Atas pendapat itu aku menjawab, 'Memang!' Oey Lao Shia berkata pula, 'Maka itu, kenapa hatimu tidak tenteram? Dengan adanya kita berdua di sini, siapakah di kolong langit ini sanggup merampas kitab itu?' Aku pikir, dia benar juga, dari itu hatiku menjadi sedikit lega. Ketika aku mengawasi Nyonya Oey, ia tetap masih membalik-balik lembaran kitab. Terang ia membaca dari permulaan. Mulutnya berkelemik tak henti-hentinya. Melihat lagaknya itu, aku merasa lucu. Isinya Kiu Im Cin-keng rahasia semuanya, meski ia pandai surat, dengan tidak mengerti ilmu silat, tidak mungkin ia dapat menangkap artinya. Ia membaca dengan perlahan, aku menjadi tidak sabaran. Ketika ia sudah membaca habis halaman terakhir, aku anggap habis sudah ia membacanya. Siapa tahu, ia lantas mengulanginya dari mula pula. Hanya kali ini ia membacanya dengan cepat sekali, boleh dikata selama semakan teh saja, habislah sudah."