Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 83

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 83

Sebagai gantinya, ia meninggalkan sepucuk surat warisan yang isinya tidak keruan juntrungannya. Cin Kwee mempunyai kepandaian sebagai *conggoan*, namun ia tetap tidak dapat menangkap arti surat wasiat itu, maka surat tersebut dikirim ke negeriku. Selama beberapa puluh tahun, surat itu disimpan di dalam istana.

Di pihak kami pun tidak ada yang bisa mengartikan surat itu. Orang hanya menduga, karena saking berduka dan penasaran, di saat-saat kematiannya, Gak Hui menulis sesuatu yang tidak jelas. Tidak tahunya, itu adalah sebuah teka-teki istimewa. Orang heran, tetapi sekarang mereka memuji kecerdikan Chao Wang itu.

"Gak Hui begitu pandai. Kalau kita bisa mendapatkan surat warisan ilmu perangnya itu, bukankah gampang bagi negaraku untuk mempersatukan benua ini?" berkata Chao Wang. Mendengar itu, barulah semua orang dapat menerka maksud pangeran ini. Mereka berkata dalam hati masing-masing, "Kiranya Chao Wang mengundang kita untuk meminta kita menjadi pembongkar kuburan?"

"Menurut dugaanku semula, surat wasiat itu mestinya dibawa Gak Hui ke dalam liang kubur," Chao Wang berkata pula. Ia berdiam sebentar, agaknya ia berpaling. "Tapi, Tuan-tuan adalah orang-orang yang gagah, mustahillah aku meminta Tuan-tuan pergi mencuri dengan membongkar kuburan. Di samping itu, ada satu keberatan lainnya. Gak Hui itu memang musuh negaraku, tetapi ia adalah orang yang gagah, setia, dan pencinta negara yang dihormati siapa pun. Oleh karena itu, mana mungkin aku berani mengganggu tempat perkuburannya? Karena ini, aku sudah memikirkannya lebih jauh. Aku pun telah membongkar surat-surat kerajaan Song yang dikirim semenjak dulu. Akhirnya, aku berhasil memperoleh suatu sumber lain."

"Ketika hari Gak Hui menjalankan hukuman mati di paseban Hong Po Teng, dia dikubur di tepi Jembatan Ciong An Kio di dekat paseban itu. Baru kemudian Kaisar Song Hauw Cong memindahkan kuburannya ke tepi Telaga See Ouw, di mana didirikan sebuah rumah abu untuknya. Di lain pihak, pakaian dan kopiah Gak Hui disimpan di tempat lain, ialah di Kota Raja Liman. Karena itu, tidak gampang untuk mencari surat wasiat tersebut. Pada hal ini, ada satu rahasia yang tidak boleh didengar orang lain, atau orang nanti mendahului kita mengambilnya. Harus diketahui, di wilayah Selatan ada banyak sekali orang-orang gagah. Maka itu, setelah berpikir lama, tidak ada jalan bagiku kecuali mengundang Tuan-tuan yang terhitung sebagai orang Rimba Persilatan kelas satu."

Mendengar ini, para hadirin mengangguk. "Pernah aku menduga, mungkin surat wasiat itu telah diambil orang lain," Wanyen Lieh berkata lebih jauh. "Bukankah pakaian Gak Hui itu telah dipindahkan? Ada kemungkinan selama perpindahan itu, suratnya telah diambil orang. Hanya kalau surat itu sampai ada yang mengambil, orang itu mesti mengerti kepentingannya. Siapa yang menghormati Gak Hui, dia tentu tidak berani mengganggu pakaiannya. Aku percaya, belum ada orang lain yang mengetahuinya. Kalau kita sudah sampai di sana, aku percaya kita bakal mendapatkan surat itu. Memang, kalau dikata sukar, sukarnya bukan main, akan tetapi di mata orang lihai, gampangnya bukan buatan. Sebenarnya surat wasiat itu disimpan di..."

Baru Chao Wang mengucapkan sampai di situ, tiba-tiba pintu ruang ditabrak hingga terbuka terpentang, lalu seseorang terlihat menerobos masuk. Matanya bengkak dan mukanya matang biru. Dia lantas lari ke Nio Cu Ong. "Suhu!" dia berseru, lantas suaranya tertahan. Segera orang mengenali, dia adalah si kacung yang tadi Nio Cu Ong perintahkan pergi mengambil obat.

Kwee Ceng telah terus mengikuti si pengurus bersama si kacung pergi untuk mengambil obat. Jalanan berliku-liku. Selama itu ia masih terus mengancam si pengurus yang khawatir nanti jatuh atau bermain gila. Akhirnya mereka tiba di tempat Nio Cu Ong. Kacung itu membuka pintu, masuk ke dalam, dan menyulut lilin. Begitu berada di dalam kamar, Kwee Ceng melihat obat-obatan memenuhi meja, pembaringan, dan lantai. Di situ pun ada banyak botol dan guci, besar dan kecil. Rupanya Nio Cu Ong gemar sekali membuat obat-obatan.

Kacung itu rupanya mengerti obat-obatan. Ia lantas mengambil kertas untuk menjumput empat rupa obat yang dibungkus masing-masing. Obat-obatan itu terus ia serahkan pada si *koankee*. Tapi Kwee Ceng yang tidak tahan sabar, sudah lantas mengulurkan tangannya untuk menyambut obat-obatan itu. Tanpa memedulikan si *koankee*, ia bertindak untuk pergi lebih dulu. Si *koankee* itu cerdik; walaupun ia telah terluka, pikirannya tetap bekerja. Ia sengaja jalan perlahan. Ia tunggu sampai Kwee Ceng dan si kacung sudah keluar dari kamar, dengan sebat ia tiup padam api lilin, segera ia menyambar daun pintu untuk ditutup dan dikunci, menyusul mana ia berteriak-teriak, "Ada penjahat! Ada penjahat!"

Kwee Ceng terkejut. Ia memutar tubuh dan mencoba membuka pintu, tetapi sia-sia belaka; ia sudah ketinggalan. Ia gusar dan terburu nafsu. Selagi begitu, si kacung menyambar bungkusan obat di tangannya, bungkusan mana terus dilemparkan ke empang di dekat mereka. Kacung itu adalah murid Nio Cu Ong. Dia masih kecil tetapi cerdik. Mendengar teriakan si *koankee*, dia menjadi kaget dan heran, kemudian curiga, maka ia merampas obat itu dan membuangnya.

Dalam gusarnya, Kwee Ceng mengerahkan tenaganya menghajar pintu kamar. Kali ini daun pintu dapat digempur terbuka. Dalam sengitnya, ia menyerang si *koankee* yang segera roboh tanpa dapat mengeluarkan suara. Ketika Kwee Ceng menoleh, si kacung sudah lari. Dalam murkanya, ia melompat untuk mengejar dan segera berada di belakang kacung itu, pundaknya dijambret. Kacung itu dapat mendengar suara menyambar, ia berkelit sambil mendak, lalu seraya memutar tubuh, ia membalas menyerang dengan sapuan kakinya.

Kwee Ceng jadi tambah penasaran. Setelah berkelit, ia menyerang dengan hebat. Dua kali kacung itu kena dihajar mukanya; cuma sebab ia masih keburu membuang muka, dia tak sampai roboh. Adalah kemudian, setelah kepalanya disampok, dia roboh dan pingsan. Dengan satu dupakan, Kwee Ceng membuat tubuh si kacung terlempar ke tempat tumbuh rumput di dekatnya, habis itu ia lari ke dalam kamar.

Ia lantas menyalakan api. Terlihat si *koankee* masih rebah tanpa berkutik. Ia mengawasi obat, ia menjadi bingung. Tadi ketika si kacung mengambil obat, ia tidak memperhatikan dari mana orang mengambilnya. Pun nama obat yang tertempel di botol tidak dapat ia baca, sebab ditulis dalam huruf-huruf Nuchen. Tapi ia mesti bekerja cepat. "Tadi kacung ini berdiri di dekat sini, baik aku ambil semua obat ini, sebentar Ong Totiang yang memilih sendiri," pikirnya kemudian.

Maka ia lantas mengambil kertas dan membungkus setiap obat. Karena ia bekerja cepat, tanpa sengaja Kwee Ceng menyenggol sebuah keranjang di sampingnya. Ketika itu jatuh ke lantai, tutupnya terbuka. Alangkah kagetnya ia melihat isi keranjang adalah sebuah ular besar yang tubuhnya merah mulus. Malah ular itu segera menyambar! Kwee Ceng kaget, syukur ia masih sempat melompat. Sekarang ia dapat melihat dengan jelas, tubuh ular ada sebesar cangkir; separuh tubuhnya masih ada di dalam keranjang, jadi belum ketahuan berapa panjangnya tubuh ular itu. Yang aneh adalah warna merah mulus tersebut. Lidah ular yang diulur keluar bercabang dua, bergerak-gerak tak hentinya.

Selagi mundur, Kwee Ceng membentur meja, lilin di atas meja roboh dan padam, maka ruangan segera menjadi gelap gulita. Tapi obat telah didapat, ia lantas lari ke pintu untuk pergi. Tiba-tiba ia merasakan kakinya disambar dan dipeluk, mirip dengan libatan tali. Saking kaget, ia melompat untuk meloloskan diri, tapi ia tidak berhasil. Sebaliknya, ia lantas merasakan barang dingin mengenai lengannya. Kembali ia menjadi kaget. Ia tahu sekarang bahwa ia telah dililit ular. Tapi ia tak hilang akal. Dengan tangan kirinya, hendak ia cabut golok emas hadiah Jenghiz Khan.

Di saat itu, ia merasakan bau obat tercampur bau amis menyambar hidungnya, lalu mukanya terasa dingin. Itulah ular yang telah menjilati mukanya! Lagi sekali ia kaget tak terkira! Tak sempat ia menghunus goloknya, dengan tangan kirinya ia menyambar leher ular untuk dipencet. Ular itu agaknya kaget; dia bertenaga besar. Sebelum lehernya tercekik, ia mempentang mulutnya untuk mencoba menggigit muka Kwee Ceng. Di lain pihak, ular itu melilit dengan mengerahkan tenaganya hingga Kwee Ceng lantas merasakan tubuhnya terlilit keras, sampai napasnya mulai sesak, bahkan tenaga tangan kirinya mulai berkurang. Baunya ular itu sangat mengganggu pernapasan si anak muda hingga ia menjadi mual dan hendak muntah. Adalah sejenak kemudian, ia kehabisan tenaga, ia seperti hendak pingsan, cekikan tangan kirinya terlepas sendirinya...

Adalah di saat itu di lain pihak, si kacung telah sadar dari pingsannya. Dia mendapatkan kamar gelap sekali. Dia tahu, orang jahat itu tentu telah kabur. Maka tidak ayal lagi, ia lari keluar dari kamar, kabur kepada gurunya. Oey Yong terkejut mendengar keterangan si kacung, dengan gerakan "Burung meliwis turun di pasir datar", dengan enteng sekali ia melompat turun. Ia menaruh kaki tanpa menerbitkan suara. Meski begitu, tak urung ia telah kepergok. Inilah sebabnya, segera setelah keterangan si kacung, semua orang menjadi curiga. Mereka memang semuanya orang-orang lihai. Sejenak saja tubuh Nio Cu Ong sudah mencelat keluar, bahkan segera ia menghadang di depan si nona. Dia lantas menegur, "Siapa kau?" Oey Yong menginsyafi bahaya. Ia tahu orang itu lihai. Di samping dia ini, masih ada yang lainnya. Maka ia hendak menggunakan akal. Untuk ini ia cerdik sekali. Tiba-tiba saja ia tertawa dengan manis. "Bunga bwee ini indah sekali, maukah kau memetiknya setangkai untuk aku?" ia berkata kepada orang bermarga Nio itu, jago dari Kwan-gwa. Nio Cu Ong tercengang.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment