Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 73

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 73

Jika mereka tidak menyaksikan gerakan yang gesit serta melihat tapak kakinya tadi, tidaklah mungkin mereka mau percaya bahwa ia adalah Thie Kak Sian Giok Yang Cu, sang Dewa Kaki Besi yang pernah menaklukkan jago-jago di Utara.

Ong Cie It tersenyum, lalu menunjuk ke arah Kwee Ceng dan berkata, "Pinto tidak mengenal anak ini, hanya saja karena kemuliaan hati dan kegagahannya barusan, hatiku menjadi sangat tertarik. Maka itu, dengan memberanikan diri, pinto mohon Pheng Ceecu memberikan ampun kepada jiwanya." Melihat sikap lawan bicara yang demikian hormat, ditambah lagi dengan reputasi orang Coan Cin Kauw, Peng Lian Houw pun tidak keberatan untuk berbuat baik. Sambil membalas hormat, ia memberikan persetujuannya.

Ong Cie It menjura pula seraya menghaturkan terima kasih. Ketika ia memutar tubuh, ia menghadapi si siauw-ongya dengan wajah yang sangat keren.

"Siapakah namamu?" ia bertanya dengan bengis. "Siapakah gurumu?" Siauw-ongya itu merasa kurang enak hati.

Sebenarnya ia sudah berpikir untuk berlalu, tetapi ia terlambat.

Ia berdiri diam dan menyahuti, "Namaku Wanyen Kang. Nama guruku tidak dapat aku beritahukan kepadamu."

"Bukankah gurumu memiliki tanda tahi lalat merah pada pipi kirinya?" Ong Cie It bertanya lagi.

Wanyen Kang tertawa kecil. Ia hendak menjawab secara jenaka, namun mendadak mata si imam bersinar tajam bagaikan kilat. Hatinya terkesiap, dan niatnya untuk bersenda gurau pun batal.

Ia lantas mengangguk.

"Memang telah aku duga, kau adalah murid dari Khu Suheng-ku itu," kata Ong Cinjin. "Hm, bagus sekali perbuatanmu, ya? Pada mulanya saat gurumu hendak mengajarkan silat kepadamu, apakah ia tidak berpesan sesuatu?" Wanyen Kang memperlihatkan roman cemas. Ia dapat merasakan suasana yang buruk.

"Anak, lekas pulang!" terdengar suara ibunya dari dalam joli.

Anak itu mendengar panggilan tersebut. Tepat saat itu pula, ia mendapat suatu pikiran. Ia insaf, jika gurunya mengetahui perbuatannya, ini akan menjadi masalah besar. Maka itu, ia segera mengubah sikapnya.

Dengan sabar, ia berkata, "Totiang mengenal guruku itu, terang Totiang adalah seorang cianpwee. Oleh karena itu, boanpwe mohon sukalah Totiang datang ke rumahku, agar boanpwe dapat mendengar segala pengajaranmu." Siauw-ongya ini lantas membahasakan diri sebagai "boanpwe"—orang dari tingkat yang lebih rendah—karena ia tahu sedang berhadapan dengan seorang cianpwee, yakni orang yang tingkat derajatnya lebih senior.

"Hm!" Ong Cie It mendengus.

Wanyen Kang benar-benar cerdik. Tanpa menunggu orang lain bicara lagi, ia segera menjura kepada Kwee Ceng sambil tersenyum. "Saudara Kwee, kalau kita tidak bertempur, pasti kita tidak saling mengenal. Aku sangat mengagumi ilmu silatmu. Maka itu, aku mohon sudilah kau bersama Totiang berkunjung ke rumahku. Bolehkah kita mengikat persahabatan?" Kwee Ceng tidak menjawab, ia hanya menunjuk kepada Bok Ek dan gadisnya, lalu bertanya, "Bagaimana urusan jodohmu dengan nona itu?"

Wanyen Kang menjadi serba salah. "Hal itu perlahan-lahan saja kita bicarakan lagi," katanya.

Mendengar itu, Bok Ek menarik tangan Kwee Ceng. "Engko Kwee kecil, mari kita pulang! Buat apa kau melayani manusia hina dina ini?"

Wanyen Kang mendengar hinaan itu, namun ia tidak menjadi gusar. Ia hanya menjura kembali kepada Ong Cie It seraya berkata, "Totiang, boanpwe menantikan kehormatan atas kedatangan Totiang ke rumahku. Totiang tanyakan saja Istana Chao Wang." Setelah berkata demikian, ia menyambar les dari seekor kuda pilihan yang dibawa pengiringnya, lalu melompat naik ke atas kuda tersebut. Ia memacu kudanya di antara kerumunan orang, hingga mereka berlarian untuk menyingkir demi menghindari bahaya terinjak kuda.

Ia berkata kepada Kwee Ceng, "Engko kecil, kau ikut aku."

"Aku hendak menantikan sahabatku dulu," jawab Kwee Ceng.

Belum berhenti suaranya, Oey Yong muncul dari antara orang banyak dan langsung berkata sambil tertawa, "Aku tidak kenapa-kenapa! Sebentar lagi aku pergi mencarimu!" Begitu mengucap, ia segera menyelinap di antara kerumunan orang. Ia memang bertubuh kecil dan lincah.

Di lain pihak, terlihat Sam-tauw-kauw Hauw Thong Hay lari mendatangi. Melihat si Ular Naga Kepala Tiga ini, Kwee Ceng tertawa di dalam hati. Namun, ia cukup cerdik untuk menjatuhkan diri di depan Ong Cinjin. "Totiang, terima kasih banyak," katanya.

Ong Cie It tidak menjawab apa-apa. Ia mencekal tangan si bocah untuk diajak pergi, hingga beberapa saat kemudian mereka sudah meninggalkan kerumunan itu dan menuju ke luar kota.

Tindakan si imam sangat cepat; sebentar saja mereka sudah berada di luar kota. Selang beberapa lie, tibalah mereka di belakang sebuah puncak bukit. Di sini si imam berjalan semakin cepat. Rupanya ia hendak menguji keringanan tubuh si bocah.

Sejauh itu, Kwee Ceng dapat mengikuti langkah si imam dengan baik. Ia telah belajar lari cepat, tubuhnya enteng, dan di bawah pimpinan Tan Yang Cu Ma Giok, ia mampu memanjat puncak. Maka itu, ia bisa berlari-lari tanpa napas yang memburu atau jantung yang berdegup kencang.

Ong Cie It melepaskan cekalannya dan terperanjat saat mengawasi bocah itu. "Dasarmu tidak jelek!" ujarnya heran. "Kenapa kau tidak dapat mengalahkan dia tadi?"

Kwee Ceng tidak tahu harus menjawab apa, ia hanya tertawa.

"Siapakah gurumu?" Ong Cinjin bertanya lagi.

Kwee Ceng tahu di antara adik seperguruan Ma Giok ada yang bernama Ong Cie It—yaitu imam ini—maka ia tidak mau berdusta. Ia menyebutkan Kanglam Cit Koay dan Ma Giok.

Mendengar itu, Ong Cie It menjadi girang sekali. "Toasuko telah mengajarkanmu ilmu silat, bagus! Sekarang aku tidak usah mengkhawatirkan apa-apa lagi!"

Kwee Ceng heran dan mengawasi imam itu.

"Orang yang tadi kau tempur, yang dipanggil siauw-ongya Wanyen Kang, adalah murid dari suheng-ku, Tiang Cun Cu. Kau tahu atau tidak?" tanya si imam.

Bocah itu tercengang. "Apa? Aku tidak tahu," jawabnya.

Ma Giok mengajarkan Kwee Ceng tanpa penjelasan rinci, sehingga bocah ini tidak tahu tentang ilmu silat kaum Coan Cin Kauw. Namun, setelah mendengar pertanyaan Ong Cie It, ia teringat pertempurannya dengan In Cie Peng dan menyadari bahwa ilmu silat Wanyen Kang sama dengan ilmu silat In Cie Peng.

Ia lantas menundukkan kepala. "Teecu tidak tahu siauw-ongya itu adalah murid Khu Totiang. Teecu telah berlaku kurang ajar, mohon Totiang memberikan maaf," mohonnya.

Ong Cie It tertawa bergelak. "Hatimu mulia, aku suka sekali! Mustahil aku menyalahkan kau!"

Kemudian ia meneruskan dengan sikap sungguh-sungguh, "Kami kaum Coan Cin Kauw memiliki aturan yang keras. Kalau ada murid yang bersalah, ia dapat dihukum berat, tetapi tidak akan dilindungi. Siauw-ongya itu sombong dan ceriwis, nanti aku akan minta Toasuko menghukumnya!"

"Asal ia mau menikah dengan Nona Bok, baiklah Totiang memberikan ampun kepadanya," kata Kwee Ceng, yang tidak pendendam karena hatinya masih ingin membantu jodoh Nona Bok.

Ong Cie It menggelengkan kepala. Ia tidak berkata apa-apa, namun di dalam hati ia menyukai bocah yang jujur dan pemurah ini. Kemudian, setelah berpikir, ia bergumam sendiri, "Toasuko biasanya benci kejahatan sebagai musuh besarnya, dia bahkan lebih membenci bangsa Kim. Maka itu, kenapa dia mengajari silat kepada seorang pangeran Kim? Sungguh membikin pusing kepala."

Ia mengawasi Kwee Ceng kembali. "Khu Toasuko telah menjanjikan untuk bertemu denganku di Yan-khia. Dalam beberapa hari ini ia pasti tiba. Setelah bertemu dengannya, aku akan menanyakan semuanya dengan jelas. Toasuko telah menerima seorang murid bernama Yo, katanya ia hendak mengajak muridnya itu pergi ke Kee-hin untuk diuji pibu denganmu. Entah bagaimana kepandaian murid bernama Yo itu, nanti kau jangan khawatir. Di sini ada aku, tidak akan kubiarkan kau mendapat susah."

Kwee Ceng sebelumnya telah menerima titah gurunya untuk sampai di Kee-hin, Ciat-kang, sebelum tanggal dua puluh empat bulan tiga. Namun, untuk apa ia harus pergi ke sana, gurunya tidak memberikan keterangan apa-apa. Maka itu, ia heran atas perkataan sang imam.

"Totiang, pibu apakah itu?" tanyanya.

Ong Cie It dapat menduga, ia menghela napas. "Gurumu belum memberitahumu, maka tak baik aku mewakilkan mereka untuk memberikan keterangan," jawabnya.

Ong Cie It mengetahui maksud Kanglam Cit Koay. Ia telah mendengar riwayat keluarga Yo dan Kwee. Bahwa dalam pibu nanti, Kanglam Cit Koay pasti menghendaki kemenangan. Maka tidak heran Tujuh Manusia Aneh dari Kanglam itu tidak mau menjelaskan apa pun kepada Kwee Ceng, maksudnya pasti untuk mencegah Kwee Ceng menjadi bersusah hati hingga keyakinan ilmu silatnya terganggu. Atau mungkin karena musuhnya adalah turunan sahabat ayahnya, Kwee Ceng nanti tidak akan berkelahi dengan sungguh-sungguh dan karenanya gagal memperoleh kemenangan.

Kwee Ceng tidak berani bertanya apa-apa lagi, ia hanya manggut-manggut.

"Sekarang mari kita lihat orang bermarga Bok dan gadisnya itu," kata Ong Cie It kemudian. "Nona itu bertabiat keras, aku khawatir ia nanti menimbulkan bencana jiwa."

Kwee Ceng terkejut. Ia menjadi teringat kepada nona itu. Maka, keduanya lantas berjalan cepat ke kota bagian barat, terus menuju ke penginapan Kho Seng di jalan besar utama.

Begitu sampai di depan pintu, dari dalam hotel muncul beberapa pengiring dengan pakaian seragam bersulam. Mereka semua memberi hormat kepada Ong Cinjin seraya berkata, "Kami diperintahkan siauw-ongya untuk mengundang Totiang serta Tuan Kwee menghadiri perjamuan di gedung kami." Mereka lantas menyerahkan sehelai kartu nama yang bertuliskan: "Hormat dari teecu Wanyen Kang."

"Sebentar lagi kami datang," jawab Ong Cie It.

"Dan ini kue-kue serta buah-buahan, siauw-ongya minta Totiang dan Tuan Kwee sudi menerimanya," kata pengiring itu pula.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment