Chapter 111
Ia hendak menunggu Nio Cu Ong menyerang, dan ia siap menyambutnya.
Som Sian Lao Koay menjadi gusar sekaligus menggerutu, namun ia juga merasa lucu.
Dalam hatinya ia berkata, "Dari mana bocah ini bisa mempelajari ilmu sehebat ini? Padahal ia hanya memiliki satu jurus." Meskipun demikian, ia tidak berani melawannya secara langsung, bahkan tidak berani mendekat.
Karena terpisah cukup jauh, Kwee Ceng tidak bisa menyerang.
Oleh karena itu, pertempuran menjadi terhenti, mereka hanya berdiri berhadapan.
"Anak tolol, awas!" Nio Cu Ong berteriak kemudian, lalu melompat untuk menyerang.
Kwee Ceng menanti, lantas menyambutnya dengan serangannya.
Namun Nio Cu Ong menggunakan akal licik.
Ia tidak langsung menyerang.
Bahkan sebelum tubuhnya mendekat, tangannya sudah terayun, lalu tiga batang jarum Touw-kut-ciam menyerang si anak muda dari tiga arah: atas, tengah, dan bawah!
Kwee Ceng melihat bahaya, terpaksa membatalkan serangannya, dan ia segera berkelit.
Kesempatan ini digunakan Nio Cu Ong untuk melompat maju, tangannya menyambar leher Kwee Ceng, menjambak kerah bajunya.
Kwee Ceng terdesak, ia menyundul dengan kepalanya.
Namun Nio Cu Ong benar-benar lihai, Kwee Ceng merasa seperti membentur kapas.
Nio Cu Ong puas sekali, ia berniat menghajar anak muda itu.
Kali ini Oey Yong muncul dengan tiba-tiba.
"Siluman tua, lihat apa ini!" serunya.
Nio Cu Ong mengenali si nona licik ini, lebih dulu ia menekan jalan darah Kin-ceng-hiat Kwee Ceng, baru ia menoleh kepada si nona nakal.
Ia lantas melihat Oey Yong menghampirinya dengan langkah perlahan, tangannya mencekal sebuah tongkat bambu berwarna hijau seperti giok (huicui).
Betapa terkejutnya, ia mengenali tongkat itu hingga ia berseru tertahan, "Ang Pangcu!" Oey Yong tidak meladeni, ia hanya membentak, "Masih tidak kau lepaskan tanganmu?!" Jinaklah agaknya si jago ini, ia segera melepaskan cekalannya dari Kwee Ceng.
Sejak tadi ia sudah heran, kenapa Oey Yong ada yang mengajarinya cara melawan dirinya dan niat penyerangannya telah terbongkar.
Kini ia melihat tongkat si kepala pengemis, betapa terkejutnya ia.
Oey Yong mendekati, ia terus memegang tongkat dengan kedua tangannya.
Ia berkata pula dengan membentak, "Cit Kong bilang bahwa ia sudah memperdengarkan suaranya, tetapi kau bernyali besar, kau tetap berani bertingkah gila di sini! Maka Cit Kong bertanya, kenapa kau berani berlaku kurang ajar begini?!" Nio Cu Ong lantas menekuk lututnya.
"Sesungguhnya hamba yang rendah ini tidak mengetahui Pangcu ada di sini," katanya dengan hormat, "Jika hamba yang rendah ini mengetahui, tentu hamba tidak berani berbuat salah terhadap Pangcu."
Oey Yong heran. "Ia sangat lihai, mengapa ia begitu takut kepada Cit Kong? Mengapa ia pun memanggilnya Ang Pangcu?" Tapi, pada wajahnya, ia tetap bersikap tenang.
"Tahukah kau apa dosamu?"
"Nona, tolong sampaikan kepada Pangcu, bahwa Nio Cu Ong sudah menginsyafi kesalahannya dan meminta Ang Pangcu sudi mengampuninya," kata Som Sian Lao Koay.
"Ingat baik-baik!" kata si nona, "Mulai hari ini dan seterusnya, untuk selamanya tidak boleh kau mengganggu kami berdua!"
"Hamba yang rendah ini tadinya tidak tahu apa-apa," sahut Nio Cu Ong. "Hamba tidak bermaksud sengaja, maka itu hamba meminta kesediaan tuan berdua untuk memaafkannya." Dengan "jiwi" yang berarti "tuan berdua" dimaksudkan Kwee Ceng dan si nona.
Oey Yong menjadi sangat puas, ia tersenyum, lantas ia menarik tangan Kwee Ceng, untuk diajak pergi masuk ke dalam rumah penginapan.
Di dalam pondok itu Ang Cit Kong tengah duduk menghadapi empat mangkuk besar berisi hidangan, tangan kirinya mengangkat cawan arak, tangan kanannya mencekal sumpit, mulutnya mengunyah dan menggerutu.
"Cit Kong!" kata si nona tertawa. "Dia berlutut, ia sama sekali tidak berani berkutik!" Ia pun menyampaikan permohonan Nio Cu Ong.
Cit Kong menoleh kepada Kwee Ceng, "Pergi kau hampiri dia, hajar dia sekali saja, nanti ia tidak akan berani melawan!" katanya.
Kwee Ceng melongok ke jendela.
Ia melihat Nio Cu Ong terus berlutut di bawah terik matahari, dua muridnya pun berlutut di belakangnya, wajah mereka sangat muram.
Ia menjadi tidak tega.
"Cit Kong, berilah dia ampun," katanya.
"Hai, makhluk tidak tahu diri!" bentak si pengemis. "Orang menghajarmu, kau tidak mampu melawan, aku si tua bangka menolongmu, sekarang kau memohonkan ampun untuknya! Apakah artinya ini?!" Ditegur begitu, Kwee Ceng berdiri diam.
Ia tidak menyangka si pengemis, yang biasanya jenaka dan manis budi, kini menjadi galak begini.
Oey Yong tertawa, ia maju ke depan.
"Cit Kong, nanti aku yang hajar dia!" katanya.
Dan lantas ia melangkah keluar dengan masih membawa tongkat istimewa itu.
Ia menghampiri Nio Cu Ong, yang berlutut tanpa bergeming, wajahnya menunjukkan ketakutan.
Oey Yong lantas menegur, "Cit Kong mengatakan kau jahat, hari ini sebenarnya kau seharusnya disembelih, tetapi syukur ada kakang Ceng-ku yang berhati murah, ia telah memohonkan ampun untukmu, ia memohon cukup lama barulah Cit Kong mengabulkannya." Kata-kata itu ditutup dengan diangkatnya tongkat, lalu dipukulkan ke betis orang itu.
"Nah, pergilah!" akhirnya si nona mengusir.
Nio Cu Ong tidak segera berangkat, ia hanya memandang ke arah jendela.
"Ang Pangcu, aku ingin bertemu denganmu, untuk menghaturkan terima kasih karena kau tidak membunuhku," katanya.
Dari dalam pondokan tidak terdengar suara apa-apa.
Nio Cu Ong terus bertekuk lutut.
Sampai sekian lama, barulah Kwee Ceng muncul.
Ia mengibas-ngibaskan tangan, ia berkata dengan perlahan, "Cit Kong sedang tidur, kau jangan membuat gaduh di sini!" Baru sekarang Nio Cu Ong bangkit, ia melotot kepada kedua muda-mudi itu, lalu ia pergi begitu saja dengan mengajak ketiga muridnya.
Oey Yong dan Kwee Ceng tidak menghiraukan tatapan tajam orang itu, bersama-sama mereka kembali ke dalam pondokan.
Benar-benar Cit Kong terlihat sedang mendengkur dengan kepalanya terletak di atas meja.
Si nona memegang pundak Ang Cit Kong, ia menggoyang-goyangkan.
"Cit Kong, Cit Kong," katanya. "Tongkat bambu mustikamu ini sangat besar pengaruhnya, jika kau tidak memakainya, berikan saja padaku! Bolehkah?" Cit Kong mengangkat kepalanya, ia menguap, ia pun mengeliat.
"Enak saja kau berbicara seenaknya!" katanya tertawa. "Benda ini adalah alat untuk mencari makan kakekmu. Seorang pengemis tanpa tongkat pemukul anjing mana mungkin bisa menjadi pengemis?"
Oey Yong bermanja. "Ilmu silatmu sudah sangat lihai, orang takut kepadamu, lalu untuk apa kau menginginkan tongkat ini?" desaknya.
"Hai, budak tolol!" tawa si pengemis. "Sekarang lekas kau masakkan aku beberapa macam hidangan lezat, sebentar lagi aku akan menceritakan perlahan-lahan kepadamu."
Oey Yong menurut, ia lantas pergi ke dapur.
Ia menyiapkan tiga macam masakan.
Apabila sudah selesai, ia membawanya keluar.
Cit Kong memegang cawan araknya dengan tangan kanan, tangan kirinya memegang sepotong ham, yang ia gerogoti.
Ia mengunyah perlahan-lahan.
"Makhluk di dunia ini tiada yang tidak berkumpul dengan sesamanya," ia berkata kemudian. "Hartawan yang rakus uang berkumpul satu rombongan, orang-orang Rimba Hijau yang suka membegal atau merampok juga berkumpul satu rombongan. Demikian pula kami para pengemis, kami pun berkumpul dalam satu golongan."
"Aku tahu sudah, aku tahu sudah!" Oey Yong memotong seraya menepuk-nepuk tangan. "Tadi Nio Cu Ong memanggilmu Pangcu, kau rupanya adalah pemimpin para pengemis!" Cerdik sekali nona ini, ia lantas dapat menerka.
"Benar!" Cit Kong mengaku. "Kami bangsa pengemis biasa dihinakan orang, bisa digigit anjing, apabila kami tidak bersatu, mana mungkin kami dapat hidup? Maka tongkat ini serta sebuah cupu-cupu ini, semenjak zaman Cian Tong Ngo Tay sampai hari ini, sudah beberapa ratus tahun, selamanya dipegang oleh orang yang menjadi Pangcu, yakni pemimpin tertinggi, jadi inilah mirip dengan stempel seorang kaisar atau stempel seorang pembesar negeri."
Mendengar itu, Oey Yong meleletkan lidahnya.
"Syukurlah kau tidak memberikannya kepadaku!" katanya.
"Kenapa?" Cit Kong tertawa. "Jika semua pengemis di kolong langit ini mencari aku, agar aku mengurus mereka, apakah itu tidaklah merepotkan?" sahutnya.
Cit Kong tertawa pula.
Ia menggerogoti pula sepotong ceker.
Ia berkata pula, "Rakyat negeri di Utara diurus oleh Kerajaan Kim, rakyat negeri di Selatan diurus oleh Kerajaan Song, tetapi pengemis di kolong langit ini...?"
"Tidak peduli mereka dari Selatan atau Utara, semua mereka diurus olehmu, *lojinkee*!" Oey Yong mendahului.
Ang Cit Kong tertawa terbahak, ia mengangguk.
"Pantaslah siluman tua bangka bermarga Nio itu sangat takut kepadamu!" sambung si nona. "Kalau semua pengemis di kolong langit ini mencarinya untuk mengganggu, nah, betapa sulitnya bagi dia! Umpama satu pengemis menangkap seekor tuma lalu ditaruh di lehernya, tidakkah ia akan mati karena gatalnya?"
Kwee Ceng tertawa.
Ang Cit Kong tidak gusar, ia malah turut tertawa.
"Tetapi," jelas si raja pengemis kemudian, "Ia takut kepadaku bukan karena itu?"
"Lalu karena apa?" tanya Oey Yong.
"Itulah kejadian pada kira-kira dua puluh tahun yang lalu. Pada hari itu aku bertemu dengannya di Kwan-gwa, kebetulan ia tengah melakukan suatu perbuatan buruk dan aku memergokinya?"
"Perbuatan buruk apakah itu?" tanya si nona.
Cit Kong agaknya ragu-ragu tetapi ia tetap menerangkan, "Siluman tua itu percaya kepada ajaran sesat tentang memetik bunga untuk menambah tenaga atau panjang umur, ia lantas mencari banyak nona-nona untuk dirusak kesuciannya?"
"Apakah itu yang dinamakan merusak kesucian para nona?" tanya si nona kembali.
Oey Yong polos, ia belum mengetahui tentang hal kesucian yang dirusak itu.