Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 16

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 16

Dengan cepat ia melepaskan pelukannya, ia memindahkan kedua tangannya ke bawah jambangan untuk digunakan menampan, kemudian bersamaan dengan itu ia menolak dengan dadanya, kedua tangannya juga turut menolak dengan gerakannya, "Sia ciang ie san" atau "Sepasang tangan memindahkan bukit".

Maka melesatlah jambangan itu ke arah Khu Cie Kee.

Tenaga yang dikerahkan itu luar biasa besarnya.

Wanyen Lieh menyaksikan itu dengan kekaguman dan juga terkejut.

Ia telah menyaksikan suatu gerakan tenaga dalam dari Gwa-kee, ahli luar yang sangat tangguh.

Khu Cie Kee dengan tenang menyambut kembali jambangannya itu dan ia pun menghirupnya lagi.

"Sekarang aku menghormati Kwa Toako dengan satu jambangan!" ia berkata lagi, bersamaan dengan itu, jambangan arak tersebut dilemparkan ke arah si buta.

Wanyen Lieh heran dan khawatir juga, tapi keingintahuannya sangat besar.

"Bagaimana caranya dia dapat menyambutnya?" ia berpikir.

"Sudah buta ia juga pincang." Kwa Tin Ok adalah yang tertua di Kanglam Cit Koay, pasti memiliki kepandaian yang istimewa.

Sekalipun senjata rahasia, ia dapat mendengar suara sambarannya dan tahu tepat arahnya, apalagi sebuah jambangan yang besar yang anginnya menderu-deru.

Sewaktu jambangan dilemparkan kepadanya, ia tetap duduk tenang seolah ia tidak mengetahuinya.

Wanyen Lieh khawatir sehingga hampir ia berseru tanpa sadar.

Tepat ketika jambangan sampai, Kwa Tin Ok menyambutnya dengan tongkat besinya, yang ia gunakan untuk menahan dasar jambangan itu, hingga jambangan itu bertengger di ujung tongkat, berputar seperti pemain dangsu sedang memberikan pertunjukan.

Ketika tongkat itu miring, jambangannya ikut miring juga.

Hebat kalau jambangan jatuh dan menimpa batok kepala si buta ini.

Tapi jambangan tetap miring, namun araknya segera meluncur keluar seperti pancuran, lalu Kwa Tin Ok membuka mulutnya untuk menampung.

Dengan begitulah ia meneguk arak, sampai belasan tegukan.

Setelah itu ia menggerakkan lagi tongkatnya, membuat jambangan itu berdiri tegak lagi, hanya sekarang ia tidak menunda lagi seperti tadi, tiba-tiba ia mengangkat tongkatnya dengan cepat, sampai jambangan itu seolah melambung, kemudian tongkat itu diputar, digunakan untuk mendorong badan jambangan, hingga terdengar suara nyaring, bersamaan dengan itu jambangan itu melesat kembali kepada Khu Cie Kee.

Selagi melayang jambangan itu masih mengeluarkan suara mendesing.

Tiang Cun Cu mengacungkan jempolnya, ia tertawa.

"Sewaktu mudanya pasti Kwa Toako gemar bermain putaran nampan!" katanya.

Sembari bicara, ia menyambut jambangan araknya itu.

"Sewaktu kecil, Siauwtee melarat, maka kepandaian ini digunakan sebagai modal untuk mengemis makanan," sahut Tin Ok dingin.

"Tentang seorang gagah, tidak perlu ditanyakan asal-usulnya," ujar si imam.

"Sekarang aku hendak menyuguhkan Lam Sieko sejambangan arak!" Ia lantas menghirup lagi satu tegukan, setelah itu jambangan itu ia lemparkan ke arah Lam Hie Jin.

Lam San Ciauw-cu si Tukang Kayu dari Gunung Selatan adalah pendiam, tidak gemar berbicara, pada wajahnya tak tertera rasa girang atau murka, demikian juga kali ini, sikapnya tenang dan wajar, ketika jambangan itu tiba kepadanya, ia mengangkat kayu pikulannya untuk menahannya sebelum jambangan itu jatuh.

Ketika kayu pikulan dan jambangan beradu, keduanya menimbulkan suara yang keras dan nyaring.

Kayu pikulan itu ternyata bukanlah kayu, melainkan sejenis logam, yang terbuat dari campuran bubuk tungsten, emas hitam, dan baja pilihan, karenanya menjadi berat dan kuat luar biasa.

Begitu terbentur pikulan logam itu, jambangan berhenti melayang, lalu turun ke bawah akan tetapi belum lagi jambangan arak istimewa itu jatuh ke lantai, Hie Jin sudah menyambar araknya dengan tangannya untuk disendok dan dihirup.

Jambangan itu tertahan pikulan dan terduduk di lutut orang keempat yang aneh ini, yang segera menekuk lutut kirinya.

Setelah itu, dengan dibantu tangan kanan, jambangan itu diangkat, siap untuk dilemparkan kembali!

Belum lagi jambangan melayang pergi, terdengarlah tawa Lauw-sie In Hiap Coan Kim Hoat, yang kemudian berkata: "Aku si pedagang kecil suka sekali mendapat keuntungan, oleh karenanya aku ingin tanpa menggunakan banyak tenaga untuk turut minum arak!" Ia segera menghampiri Lam Hie Jin, yang telah menurunkan jambangan di tangannya, maka itu dengan sekali sendok, Pendekar Tersembunyi di kota sudah turut mencicipi arak itu.

Tapi ia tidak ragu-ragu.

Dengan cepat ia memasang kuda-kudanya, ia mengerahkan tenaganya, maka tak lama kemudian jambangan itu sudah terangkat naik dan terlempar melayang ke arah Khu Cie Kee.

"Bagus! Bagus!" Biauw Ciu Sie-seng Cu Cong memuji seraya ia menggoyang-goyangkan kipasnya.

Tiang Cun Cu menyambut jambangannya itu, kembali ia meneguk araknya.

"Bagus! Bagus!" ia pun ikut memuji.

"Sekarang pinto hendak menyuguhkan kepada Cu Jieko!" Belum lagi jambangan itu dilemparkan, Cu Cong sudah melonjak bangun.

"Ayo! Tidak bisa!" dia berseru.

"Jangan! Aku si mahasiswa kecil tidak punya tenaga bahkan untuk menangkap ayam, perutku tidak dapat memuat segantang arak, maka jikalau aku disuguhkan, seandainya aku tidak mati tertimpa, mungkin aku akan mati karena mabuk?" Akan tetapi sia-sia saja ia memperlihatkan ekspresi ketakutan seperti orang gila itu, jambangan sudah segera terbang melayang ke arahnya.

"Tolong! Tolong!" dia berteriak-teriak selagi jambangan itu mengancamnya.

"Orang akan mati tertimpa! Tolong!" Ia mengoceh tak karuan, namun kipasnya ia gunakan untuk mencelup ke dalam jambangan, untuk menyendok araknya dan membawanya ke dalam mulutnya, kemudian dengan gagang kipas, dia segera menahan turunnya jambangan itu, yang kemudian ia dorong menjauh.

"Brak!" demikian suara nyaring, dan lantai papan pecah berlubang, membentuk sebuah lubang besar ke dalamnya tubuh si mahasiswa terjeblos saat itu terdengar jeritannya berulang-ulang: "Tolong! Tolong!"

Selagi jambangan memantul kembali, hampir tiba di ambang jendela, Wan Lie Kiam Han Siauw Eng telah melompat menyusul.

Nona ini tiba-tiba menjejakkan kaki kanannya, tubuhnya segera melesat ke arah jendela, gerakannya bagaikan burung walet menyambar air; ketika ia berada di atas jambangan, ia menundukkan kepalanya ke dalam jambangan itu, mulutnya segera menyedot arak.

Bersamaan dengan itu kakinya sudah segera menginjak palang jendela.

Lincah gerakannya itu, indah dipandang.

Ahli Pedang Gadis Wat sangat mahir ilmu pedangnya, tubuhnya ringan tetapi ia kurang tenaga, oleh karena itu, kekurangan itu ditutupi dengan kelincahan dan kecerdikannya.

Ia menyadari, kalau jambangan berat itu dilemparkan kepadanya – memang gilirannya akan tiba – ia tidak akan sanggup menahannya, maka itu ia memanfaatkan kesempatan ini untuk meneguk arak tanpa menunggu Khu Cie Kee menyuguhkannya.

Kecerdikan semacam ini tadi pun telah digunakan oleh Coan Kim Hoat, hanya saja Lauw-sie In Hiap menambahkannya dengan memulangkan jambangan kepada Khu Cie, sehingga jambangan itu tidak ada yang menahan, maka ia melintasi jendela, terus melayang ke luar, menuju ke bawah loteng.

Semua orang terkejut, si imam sendiri tidak terkecuali.

Kalau jambangan itu jatuh ke bawah loteng, pasti ada orang yang akan tertimpa dan menjadi korban.

Bersamaan dengan rasa kagetnya, Tiang Cun Cu berniat melompat, akan mendahului jambangan itu, guna menyingkirkan semua orang untuk mencegah kecelakaan yang tidak dikehendaki itu. Namun, ia baru saja berpikir, tapi telinganya sudah mendengar seruan keras namun bernada halus: "Siancay!"

Itu adalah sebuah pujian dari seorang penganut Buddha.

Bersamaan dengan pujian itu Ciauw Bok Taysu melompat melesat menyusul jambangan itu.

Pendeta ini sangat taat beribadah dan murah hati, sekarang ia menggunakan hasil latihannya beberapa puluh tahun, untuk mengorbankan diri, guna menolong siapa pun yang dapat ditolong dari bencana tertimpa jambangan itu.

Untuk itu ia perlu mendahului jambangan, karena untuk mencegahnya dengan menahan, ia tidak sanggup melakukannya.

Baru pendeta itu melewati jendela, orang lain telah mendahuluinya.

Itulah seorang berbaju kuning yang sembari melompat, telah memperdengarkan suara siulan.

Mendengar siulan itu, kuda kuning di bawah loteng segera berlari ke jalan besar tepat di depan jendela loteng itu.

Semua mata segera diarahkan ke ambang loteng.

Maka itu mereka dapat melihat benda bagaikan segumpal daging yang seolah bertabrakan dengan jambangan, lalu keduanya jatuh miring bersamaan, hingga kecepatan jatuhnya menjadi berkurang.

Tepat sekali keduanya jatuh di punggung kuda yang lalu berlari beberapa langkah, kemudian berbalik untuk terus berlari masuk ke dalam ciaulauw dan mendaki loteng!

Selagi kuda itu beraksi, Ma Ong Sin Han Po Kie, yang merupakan segumpal daging yang tadi telah melayang menyambar jambangan sudah menempatkan dirinya di bawah perut kuda itu, kaki kirinya tersangkut pada sanggurdi, kedua tangannya dibantu kaki kanannya menahan jambangan, hingga jambangan itu dapat bertengger di atas kuda dengan stabil.

Kemudian, selagi binatang itu mendaki loteng, Han Po Kie menggerakkan tubuhnya untuk naik sedikit, guna mengulurkan kepalanya ke bibir jambangan, dengan begitu ia pun dapat mencicipi arak itu secara bersamaan.

Setelah itu, dengan sekali gerak lincah dan cerdik, ia menggendong jambangan untuk diturunkan dari punggung kuda, guna diletakkan di lantai loteng.

Ia lakukan itu sembari tertawa, salah satu tangannya mengedut tali kekang kuda, dan dengan itu binatang itu segera melompat melewati jendela untuk turun ke bawah.

Ia sendiri masih bertengger terus di punggung kuda.

Maka berselang sesaat, bersama Cu Cong, sang kakak kedua, dengan bergandengan tangan dan tertawa, mereka sudah mendaki kembali ke loteng!

Wanyen Lieh menyaksikan semua itu, ia menjulurkan lidahnya.

Ciauw Bok Taysu juga segera menyusul naik kembali ke loteng.

Khu Cie Kee tertawa, ia berkata: "Benar-benar Kanglam Cit memang tersohor, bukan nama belaka. Semuanya sangat tangguh, hamba takluk!"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment