Chapter 122
Kedua gua itu kesohor karena pemandangan alamnya yang indah. Sampai sore baru mereka kembali dengan perasaan senang.
"Bagaimana, Yong-jie, kita tolongi dia atau jangan?" tanya Kwee Ceng saat mereka hendak tidur.
"Kita sebaiknya tinggal dulu di sini beberapa hari," sahut si nona. "Kita masih belum mengetahui jelas tentang tuan rumah kita ini."
"Ilmu silatnya sama dengan ilmu silatmu," Kwee Ceng memberitahukan.
Oey Yong berpikir, "Inilah anehnya," katanya. "Mungkinkah ia kenal Bwee Tiauw Hong?" Keduanya tidak dapat menebak. Mereka pun khawatir tembok punya telinga, lantas mereka memadamkan api dan tidur.
Pada tengah malam, keduanya terjaga karena telinga mereka mendengar suara perlahan di atas genting. Keduanya lantas melompat bangun untuk menghampiri jendela. Begitu mereka membuka daun jendela, mereka melihat berkelebatnya satu bayangan orang yang terus bersembunyi di antara pohon-pohon mawar. Setelah celingukan, orang itu bergerak ke timur dengan sikap yang sangat hati-hati, menandakan ia bukan salah seorang penghuni rumah.
Oey Yong menarik tangan Kwee Ceng; keduanya melompat keluar dari jendela untuk membuntuti bayangan itu. Mereka bisa langsung bertindak karena saat hendak tidur, mereka tidak membuka pakaian luar. Belasan langkah kemudian, di antara cahaya bintang-bintang, terlihat nyata bayangan itu adalah seorang nona yang ilmu silatnya lumayan. Karena ini, Oey Yong bergerak mendekat. Tepat saat orang itu menoleh, ia lantas mengenali Bok Liam Cu.
Ia pun tersenyum dan berkata dalam hati, "Bagus, kau hendak menolong kekasihmu! Hendak aku lihat bagaimana caramu bertindak!"
Bok Liam Cu berjalan di taman itu, lalu tersesat. Oey Yong sebaliknya mengenal taman itu yang diatur menurut *patkwa*. Inilah keistimewaan Oey Yok Su, ayahnya. Ayahnya telah mengajari hal tersebut kepadanya, sehingga taman ini diatur menurut barisan rahasia *Pat-kwa-tin*.
"Dengan caramu berjalan ini, sampai seratus tahun pun kau tidak akan dapat menemui kekasihmu itu," kata Oey Yong dalam hati.
Namun, ia ingin membantu. Maka, ia memungut segumpal tanah dan melemparkannya. "Ambil jalan ke sana!" ia menunjuk dengan suara perlahan, sementara ia sendiri bersembunyi di belakang pohon.
Nona Bok terperanjat. Ia menoleh, namun tidak melihat siapa pun. Ia pun curiga dan bimbang. Lantas ia melompat ke arah datangnya lemparan itu, tetapi tentu saja Oey Yong telah lenyap.
"Entah ia bermaksud baik atau jahat, tapi baiklah aku ikuti petunjuknya," pikir Nona Bok. Ia terus pergi ke kiri. Begitu seterusnya; setiap ia bimbang, ada lemparan tanah yang memberi petunjuk. Ia telah berjalan berliku-liku, sampai mendadak ada lemparan jauh yang bersuara di jendela sebuah kamar di depannya. Berbarengan dengan itu, dua bayangan berkelebat dan lenyap.
Cerdas, Liam Cu segera berlari menghampiri jendela rumah kecil itu. Setibanya di depan rumah tersebut, dua orang lelaki tergeletak di tanah dengan mata mengawasi dia. Mereka masih mencekal senjata, tetapi tidak dapat bergerak. Terang sudah mereka adalah korban totokan jalan darah.
"Pasti ada orang pandai yang membantu aku," pikir Liam Cu. Ia masuk ke dalam rumah dengan telinga dan mata yang waspada. Segera ia mendengar suara napas.
"Engko Kang!" panggilnya perlahan.
"Kau?"
"Ya, aku!" ada jawaban untuk itu. Itulah suara Wanyen Kang yang sadar karena mendengar suara tubuh roboh di luar rumah. Ia memang sedang memasang telinga dan mengenali suara si nona.
Dalam gelap gulita, Liam Cu segera menghampiri. "Ada dua orang pandai yang membantu aku, entah siapa mereka itu," kata sang nona. "Mari kita pergi!"
"Apakah kau membawa pisau belati mustika?" tanya pangeran itu.
"Kenapa?" tanya balik si nona.
Wanyen Kang tidak menjawab, ia hanya memperdengarkan suara borgol. Liam Cu mengerti dan merasa sangat masgul. "Menyesal pisau belati mustikaku itu telah kuberikan pada Adik Oey," ia menyesali diri.
Oey Yong dan Kwee Ceng yang tetap bersembunyi dapat mendengar suara si nona. Dalam hatinya, Oey Yong berkata, "Sebentar lagi akan aku serahkan pisau mustika itu."
"Nanti aku pergi curi kunci borgolnya!" kata Liam Cu akhirnya. Ia bingung dan khawatir.
"Jangan pergi, Adik!" Wanyen Kang mencegah. "Orang di sini lihai, percuma kau pergi."
"Bagaimana kalau aku gendong kau?" tanya si nona.
"Tidak dapat, orang mengikatku pada tiang," jawab sang pangeran.
"Habis bagaimana?" tanya si nona lagi. Kemudian, terdengar suara tangis perlahan dari nona itu.
"Mari kau dekati aku," kata Wanyen Kang tertawa.
Liam Cu mengentakkan kaki. "Orang sedang gelisah, kau masih bisa bergurau!" tegurnya.
"Siapa bergurau?" Wanyen Kang masih tertawa. "Aku bicara sebenarnya."
Liam Cu tidak memedulikannya dan terus mengasah otaknya. "Kenapa kau tahu aku berada di sini?" tanya Wanyen Kang kemudian.
"Aku mengikutimu terus-menerus," jawab si nona perlahan.
"Oh, Adik, kau baik sekali." Suara Wanyen Kang agak tergerak. "Mari kau dekati aku, kau bersandar di tubuhku, hendak kubicarakan sesuatu." Liam Cu duduk dan menuruti.
"Aku adalah utusan negeri Kim, mereka tidak akan berani lancang membunuhku," kata Wanyen Kang. "Hanya dengan tertahan di sini, pastilah gagal urusan tentara dari ayahku. Aku bingung... Adik, baiklah kau tolong aku?"
"Bagaimana?"
"Di leherku ada cap emas, kau ambil itu." Liam Cu menurut.
"Inilah cap perutusan," Wanyen Kang memberitahukan. "Sekarang kau lekas pergi ke Liman, di sana kau temui Soe Mie Wan, itu perdana menteri kerajaan Song."
Nona Bok terkejut. "Aku seorang wanita biasa, bagaimana cara perdana menteri itu dapat menemuiku?"
"Kalau ia melihat cap ini, pasti ia repot sekali menyambutmu!" kata Wanyen Kang tertawa. "Kau beritahu padanya bahwa aku ditawan perampok di Thay Ouw ini hingga karenanya aku tidak dapat datang padanya. Kau pesan apabila ada utusan Mongolia yang datang, suruh ia jangan menerimanya, melainkan segera bunuh saja utusan itu!"
"Eh, kenapa begitu?" tanya si nona heran.
"Inilah urusan besar tentara dan negara, dijelaskan pun kau tidak bakal mengerti! Pergi kau sampaikan pesanku ini kepada perdana menteri itu; itu artinya kau sudah mewakilkan aku melakukan satu pekerjaan besar. Jikalau utusan Mongolia itu keburu sampai dan dapat bicara dengan raja Song, itu artinya kerugian besar bagi kami, negara Kim."
"Apa itu negara Kim?" tanya Liam Cu. "Aku adalah rakyat kerajaan Song! Sebelum kau bicara jelas, aku tidak bisa bekerja..."
"Bukankah nanti kau bakal menjadi permaisuri di negara Kim?" Sembari berbicara, Wanyen Kang tersenyum.
"Ayah angkatku ialah ayahmu sejati, ia orang Han. Apakah kau benar-benar sudi menjadi raja Kim?" tanya Liam Cu.
"Aku cuma tahu..."
"Kenapa?" Wanyen Kang memotong.
"Sampai sebegitu jauh aku pandang kau sebagai orang pintar dan gagah," kata Liam Cu. "Dan aku menyangka kau berpura-pura saja menjadi pangeran, bahwa kau sedang menantikan waktu yang baik untuk berbuat sesuatu bagi kerajaan Song! Kau benar-benar hendak mengakui musuh sebagai ayahmu!"
Wanyen Kang berdiam. Ia dapat mendengar suara napas orang berubah; kata-katanya seperti macet di tenggorokan. Itulah tanda orang gusar dan menyesal. Maka ia berdiam.
"Negara yang indah dari kerajaan Song telah separuhnya dirampas orang asing!" berkata pula Liam Cu. "Dan rakyat kita bangsa Han telah ditangkap, dibunuh, dan dianiaya! Mustahilkah kau sendiri tidak memikirkan itu? Kau... kau..."
Berhenti si nona berbicara, ia melemparkan cap itu ke tanah sambil menutup muka, lalu beranjak pergi. Wanyen Kang terkejut, segera ia memanggil, "Adik, aku salah! Mari kembali!"
Liam Cu berhenti dan berpaling, "Mau apa kau!"
"Tunggulah sampai aku sudah lolos dari sini, aku tidak akan lagi menjadi utusan negeri Kim," kata Wanyen Kang. "Aku juga tidak akan kembali ke negara Kim itu. Hanya bersama kau, aku akan hidup menyepi sebagai orang tani supaya kita bisa hidup bersama dengan tenang dan berbahagia..."
Nona Bok menghela napas, ia berdiri mematung. Semenjak *pibu*, ia sudah memandang Wanyen Kang sebagai pemuda yang paling gagah. Bahwa Wanyen Kang tidak hendak mengakui ayahnya sendiri, ia masih menyangka ada sebabnya. Ia pun menduga orang menjadi utusan negara Kim karena ada maksud tersembunyi guna melakukan usaha besar untuk kerajaan Song. Namun, siapa tahu, sekarang sia-sia saja pengharapannya itu. Ia mendapatkan kenyataan bahwa orang itu hanyalah manusia angkuh yang kemaruk harta dan kemuliaan.
"Adikku, kau kenapa?" tanya Wanyen Kang.
"Memang ibuku memberitahuku bahwa ayah angkatmu adalah ayah kandungmu," kata Wanyen Kang pula. "Sayang, sebelum aku bertanya dengan jelas, mereka sudah menutup mata. Karenanya sampai sekarang aku jadi ragu-ragu..."
Pikiran Liam Cu tergerak juga. "Kalau ia belum mengetahui jelas, apakah ia dapat diberi maaf?" pikirnya. Lalu ia berkata, "Sekarang kau jangan sebut lagi hal aku harus pergi kepada perdana menteri Song untuk membawa capmu ini. Hendak aku mencari Adik Oey untuk minta pisau mustika guna menolongmu!"
Oey Yong mendengar itu semua. Kalau tadinya ia hendak menyerahkan pisaunya, ia segera mengubah maksudnya. Ia benci mendengar Wanyen Kang hendak berbuat sesuatu untuk tentara Kim. Ia berpikir, "Baiklah aku membiarkan dia tertahan lagi beberapa hari di sini." Ayahnya memang sangat membenci negara Kim.
"Taman ini aneh jalannya, kenapa kau tahu jalanannya itu?" kemudian Wanyen Kang bertanya.
"Ada orang pandai yang memberi petunjuk padaku," sahut Liam Cu. "Dia menyembunyikan diri, aku belum tahu siapa dia."
Wanyen Kang menghela napas panjang. "Adikku," katanya pula, "kalau lain kali kau datang lagi, mungkin kau akan ketahuan oleh penghuni rumah ini."