Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 100

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 100

"Ini adalah saat yang paling baik untuk mengangkat nama kita!" Karena berpikir demikian, ia lantas berseru, "Mari maju bersama!" Ia pun mengeluarkan sepasang *poan-koan-pit* miliknya dan langsung menerjang imam itu.

Ia menerjang sambil melompat. Ia tahu lawannya lihai, maka ia segera menotok ke arah jalan darah *kin-jie* dan *pek-hay-hiat*.

Khu Cie Kee tidak terkejut melihat serangan itu, ia hanya berpikir, "Si kate ini galak sekali! Dia pun agaknya lihai!" Ia lantas menghunus pedangnya. Sembari berkelit dari serangan, ia menikam ke arah pinggang See Thong Thian. Setelah menarik kembali pedangnya, ia melanjutkan serangan ke arah jalan darah *ciang-bun-hiat* di rusuk Hauw Thong Hay.

Jadi, dengan sekali bergerak, imam ini telah melayani tiga lawan. Inilah cara berkelahi yang langka. Hampir saja Hauw Thong Hay terkena pedang, syukurlah ia sempat berkelit, tetapi ia terkena susulan tendangan di bagian pinggul oleh si imam. Pheng Lian Houw dan See Thong Thian lantas menyerang, disusul Nio Cu Ong yang merangsek untuk mengepung. Orang bermarga Nio ini terperanjat melihat kecepatan sang imam.

Auwyang Kongcu melihat bagaimana sang imam dilibat oleh See Thong Thian dan Pheng Lian Houw, serta bagaimana Nio Cu Ong merangsek dari arah kiri. Ia pun memanfaatkan kesempatan itu untuk mengeroyok. Dengan tangan kiri hanya memberikan ancaman, ia menotok dengan kipas di tangan kanannya, mengarah ke tiga jalan darah *hong-bwee*, *ceng-cok*, dan *pwee-sim* di punggung si imam.

Kelihatannya Khu Cie Kee sudah sangat terdesak; ketiga jalan darahnya akan menjadi sasaran kipas istimewa itu. Namun, mendadak satu bayangan berkelebat di samping sang kongcu, lalu kipasnya ditahan. Itulah Ma Giok yang membantu saudaranya.

Imam ini heran melihat munculnya begitu banyak orang pandai yang mengeroyok saudaranya. Ia tidak mengerti mengapa Auwyang Kongcu menyerang secara pengecut, maka ia terpaksa melompat maju untuk menghalangi. Auwyang Kongcu melihat berkelebatnya satu bayangan. Sambil menarik pulang kipasnya yang hendak dirampas, ia memandang bayangan itu; ternyata seorang imam berusia lanjut dengan rambut dan kumis yang sudah memutih. Ia lantas menduga bahwa ia berhadapan dengan anggota Coan Cin Kauw yang tertua. Ia pun melompat ke belakang.

"Tuan-tuan, siap?" tanya Ma Giok. "Kita tidak saling mengenal. Adakah kesalahpahaman di antara kita? Aku minta sukalah tuan-tuan menjelaskannya." Imam ini berbicara dengan sabar sekali. Suaranya halus, tidak keras dan mengagetkan seperti suara Pheng Lian Houw, namun di dalamnya terkandung wibawa yang membuat orang-orang yang sedang bertempur itu secara otomatis melompat mundur untuk memperhatikan sang orang suci.

"Siapakah marga Totiang yang mulia?" tanya Auwyang Kongcu.

"Pinto berasal dari keluarga Ma," jawab Ma Giok tetap sabar.

"Oh, kiranya Tan Yang Cinjin Ma Totiang!" seru Pheng Lian Houw dengan suara keras.

"Maaf, maaf! Pengetahuan pinto tentang agamaku masih terlalu sedikit, sebutan Cinjin itu tidak berani pinto terima," tolak Ma Giok.

Pheng Lian Houw mencoba bersikap halus, tetapi di dalam hatinya ia berpikir, "Kita telah bentrok dengan pihak Coan Cin Kauw, di kemudian hari pastilah sukar untuk menyelesaikan masalah ini. Sekarang dua anggota utama mereka berada di sini, baiklah kita berlima mengepung dan membinasakan mereka. Perkara di belakang hari, itu soal lain. Hanya saja, apakah di sini masih ada saudara mereka yang lain?" Ia lantas melihat ke sekitarnya. Di situ cuma terlihat Yo Tiat Sim sekeluarga.

Maka ia pun berkata, "Nama Coan Cin Kauw sangat kesohor, kami sangat mengaguminya. Mana lagi lima saudara Totiang? Silakan minta mereka sudi menemui kami." Itulah kata-kata pancingan.

"Nama kami kosong belaka, hanya untuk ditertawakan tuan-tuan," jawab Ma Giok. "Kami tujuh bersaudara tinggal di beberapa provinsi, agak sukar bagi kami untuk datang berkumpul. Kali ini kami datang ke Tiong-touw untuk mencari Ong Sutee. Baru saja kami mendapat tahu alamatnya dan hendak menjenguknya, kebetulan di sini kita bertemu dengan tuan-tuan. Ilmu silat di kolong langit ini banyak perbedaannya, tetapi asal mulanya adalah satu, maka bagaimana pula jika kita mengikat persahabatan?" Imam ini jujur; ia tidak menduga bahwa mereka sedang memancingnya.

Pheng Lian Houw girang sekali. Mereka hanya berdua dan belum sempat menemui Ong Cie It, maka ia bebas mengeroyok. Namun, ia masih tertawa dan berkata, "Totiang berdua tidak mencela kami, itu bagus sekali. Aku bermarga Sam dan namaku Hek Miauw."

Ma Giok dan Khu Cie Kee heran; mereka memikirkan siapa Sam Hek Miauw ini, yang namanya aneh. Nama itu berarti "Tiga Kucing Hitam". Sama sekali mereka belum pernah mendengarnya.

Pheng Lian Houw menyelipkan senjatanya di pinggang, lalu menghampiri Ma Giok. "Ma Totiang, aku merasa beruntung dengan pertemuan kita ini," katanya seraya mengulurkan tangan untuk berjabat tangan, namun telapak tangannya dibalik ke bawah.

Ma Giok menyangka orang itu bermaksud baik, ia pun mengulurkan tangannya untuk menyambut. Ia merasa lawan menggenggam dengan sangat keras, lalu berpikir, "Kau hendak menguji tenagaku, baiklah!" Ia tersenyum sembari mengerahkan tenaga. Tiba-tiba ia merasakan lima jari tangannya sakit seperti tertusuk jarum. Saking kaget, ia lantas menarik kembali tangannya. Pheng Lian Houw tertawa sambil melompat mundur sejauh satu tombak.

Ma Giok melihat telapak tangannya; lima jarinya berlubang kecil masing-masing dan terdapat garis hitam. Ketika tadi Pheng Lian Houw menyelipkan senjatanya, bersamaan dengan itu ia menarik keluar senjata rahasianya, yaitu *ban Tok-hoan-taya*, yang tipis seperti benang namun memiliki lima batang jarum beracun yang sangat keras. Siapa pun yang terluka hingga ke dagingnya akan tewas dalam tempo enam jam. Ia sengaja memakai nama Sam Hek Miauw untuk membuat Ma Giok lengah, dan saat orang tidak curiga, ia menggunakan jarum jahatnya.

Ketika Ma Giok sadar ia telah dicurangi dan hendak menyerang, si licik sudah melompat mundur. Khu Cie Kee heran melihat saudaranya berjabat tangan namun justru berujung penyerangan.

"Kenapa?" tanyanya.

"Jahanam licik, dia telah melukai aku dengan racun!" jawab Ma Giok yang melompat maju untuk menyerang.

Khu Cie Kee kenal baik kakak seperguruannya yang sangat sabar ini, yang selama puluhan tahun tidak pernah berkelahi. Melihat ia menyerang dengan *Sam Hoa Cie Teng Ciang-hoat*, ilmu pukulan paling lihai dari kaumnya, ia mengerti penyebab kemarahan itu. Maka ia pun menggerakkan pedangnya, melompat maju ke depan Pheng Lian Houw untuk menerjang.

Pheng Lian Houw sempat mencabut *poan-koan-pit* miliknya untuk menangkis. Setelah beruntun dua tikaman, ia membalas satu kali. Ia tidak tahu bahwa tangan kiri Tiang Cun Cu selihai tangan kanannya yang memegang pedang. Imam ini menyambut *poan-koan-pit* tersebut, menyambar ujungnya, lalu menggentak ke samping seraya berseru, "Lepas!"

Pheng Lian Houw adalah seorang jago, senjatanya tidak terlepas. Ia melawan keras dengan keras. Saat ia mengerahkan tenaga dan menarik, hasilnya hebat: *poan-koan-pit* itu terputus menjadi dua potong!

"Bagus!" Khu Cie Kee memuji, namun ia terus menyerang dengan kedua tangannya. Pheng Lian Houw segera mundur karena tangan kanannya terasa kesemutan, hingga hatinya menjadi gentar.

Di sisi lain, See Thong Thian dan Nio Cu Ong maju memenggal Ma Giok, sedang Auwyang Kongcu dan Hauw Thong Hay membantu Pheng Lian Houw. Khu Cie Kee heran mengapa mendadak berkumpul orang-orang tangguh ini. Ia ingat, semenjak bertempur melawan Kanglam Cit Koay, sudah delapan tahun ia tidak pernah menemui tandingan. Karena itu, ia bersilat dengan sungguh-sungguh.

Dikepung bertiga, Khu Cie Kee tidak terdesak, namun tidak demikian dengan kakak seperguruannya. Tangan Ma Giok menjadi bengkak dan menghitam, rasanya kaku dan gatal. Itulah tanda bekerjanya racun dahsyat. Imam itu tidak menyangka karena mengira racun biasa. Makin ia bergerak, peredaran darahnya makin cepat. Karena menyadari bahaya, segera ia menjatuhkan diri untuk duduk bersemedi guna mencegah perambatan racun, sedang tangan kirinya melindungi diri.

Nio Cu Ong menyerang terus dengan senjatanya yang berupa gunting panjang, dan See Thong Thian dengan pengayuh besinya. Maka, selang beberapa puluh jurus, Ma Giok terancam bahaya. Ia harus melawan musuh di luar dan racun di dalam tubuhnya. Khu Cie Kee heran melihat kelakuan kakaknya; dari atas kepalanya tampak mengepul hawa seperti uap. Ia hendak menolong tetapi tidak sanggup karena ketiga musuhnya mendesak keras. Benar bahwa Hauw Thong Hay agak lemah, tetapi Auwyang Kongcu lebih gagah daripada Pheng Lian Houw. Karena khawatir, ia pun terdesak.

Yo Tiat Sim tahu ilmu silatnya tidak berarti, akan tetapi melihat kedua imam itu terancam, ia maju menyerang Auwyang Kongcu, mengarah ke punggungnya.

"Saudara Yo, jangan maju!" cegah Khu Cie Kee. "Percuma kau mengantarkan nyawa!"

Belum habis ucapan sang imam, Auwyang Kongcu sudah menendang patah tombak orang itu dengan kaki kiri dan kaki kanannya mendupak roboh orang bermarga Yo tersebut.

Pada saat itu, dari kejauhan terdengar derap beberapa ekor kuda mendekat. Ternyata yang datang adalah Wanyen Lieh bersama Wanyen Kang. Wanyen Lieh melihat istrinya duduk di tengah, ia girang dan segera menghampiri. Namun, sebatang golok menyambar ke arahnya. Syukur ia sempat berkelit. Ia segera menyadari bahwa penyerangnya adalah seorang nona berbaju merah dengan golok yang lihai. Nona itu segera dikepung oleh para pengikutnya.

Wanyen Kang heran melihat gurunya dikepung, ia lantas berteriak, "Semua berhenti! Tuan-tuan berhenti!" Pangeran ini harus berteriak beberapa kali barulah Pheng Lian Houw dan yang lain melompat mundur. Wanyen Kang segera menghampiri gurunya untuk memberi hormat.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment