Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 193

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 193

Ia memberi petunjuk sambil duduk bersandar dan menggerak-gerakkan tangannya. Hal ini sangat membantu bagi si nona yang cerdas, sehingga ia dapat mengerti lebih banyak. Menjelang sore, Oey Yong sudah dapat menjalankan ilmu tongkat itu dengan baik, tinggal berlatih terus untuk memahirkan gerakannya.

Sesudah rasa lelahnya hilang, Oey Yong membuka baju luarnya, lalu mencebur ke laut untuk membersihkan tubuh. Ia berenang ke sana kemari hingga teringat sebuah dongeng zaman Dinasti Tang yang mengatakan bahwa di dalam laut terdapat istana raja naga serta putrinya yang elok. "Mungkin Engo Ceng telah pergi ke sana?" lamunnya. Karena itu, ia lantas menyelam.

Tiba-tiba ia merasakan kakinya sakit, lalu lekas-lekas ia menarik kakinya kembali. Ia menyadari kakinya terjepit sesuatu. Ia tidak kaget, menduga itu adalah kerang besar. Ia lantas membungkuk untuk melihat. Saat itulah ia terkejut. Kakinya dijepit oleh kerang yang sangat besar, yang beratnya mungkin dua ratus kati. Sia-sia ia menarik kakinya, sia-sia pula ia mencoba membuka kedua batok kerang itu. Bahkan kakinya dijepit semakin keras hingga terasa sangat sakit. Saking kerasnya ia berusaha, ia sampai tersedak air laut dua kali.

Ia kembali tersedak air laut. Baru sekarang ia mendapat akal. Ia melepaskan batunya dan menggantinya dengan meraup pasir, lalu memasukkannya ke sela-sela mulut kerang. Ternyata binatang laut itu takut sekali dengan pasir; begitu merasakan pasir masuk ke dalam mulutnya, ia membuka cangkangnya. Begitu merasakan jepitan kendur, Oey Yong segera menarik kakinya dengan kuat. Kali ini ia bebas, lalu berenang muncul ke permukaan air dan membuang napas untuk melegakan diri.

Di darat, Ang Cit Kong khawatir melihat muridnya menyelam terlalu lama; ia menduga muridnya menghadapi bahaya. Ia menyesal karena tidak bisa bergerak untuk menolong. Ia hanya bisa mengawasi ke laut dengan jantung berdegup kencang. Akhirnya, saat si nona muncul, hati sang guru menjadi lega hingga ia bersorak. Oey Yong tidak langsung naik ke darat, setelah melambaikan tangan kepada gurunya, ia kembali menyelam.

Ia telah mendapat pikiran. Ia kembali ke tempat tadi dengan persiapan. Ia turun di dekat kerang itu tanpa membiarkan kerang tersebut mencengkeramnya lagi. Ternyata binatang itu menempelkan cangkangnya pada batu karang sehingga tidak bisa berenang pergi. Si nona mencoba menggempur karang itu, setelah berhasil, ia memegang kerang dari bawah dan membawanya naik ke permukaan. Ia menapak seraya kakinya menjejak dasar laut, lalu berenang ke tempat yang dangkal. Di sini kerang itu tak berdaya lagi.

Saking beratnya binatang laut itu, Oey Yong tidak kuat mengangkatnya untuk dibawa ke gua, maka ia mengambil batu besar untuk menghantam cangkangnya. Hanya dengan beberapa kali hantaman, remuklah batok kerang itu. Puas hatinya, apalagi kakinya yang bekas dijepit sudah tidak terlalu sakit. Bahkan malam itu, bersama gurunya, ia bisa makan dengan puas berkat daging kerang yang lezat sekali.

Besok paginya, begitu bangun, Ang Cit Kong merasa sakit pada tubuhnya berkurang. Ia mencoba mengatur napas dan merasa lega. Tanpa sadar, ia berseru girang. Oey Yong terbangun dan segera duduk. "Suhu, kenapa?" tanyanya kaget.

"Setelah tidur semalaman, aku merasa lukaku membaik," sahut sang guru. "Sakitnya tidak sehebat kemarin."

Oey Yong menjadi girang. "Mungkin ini disebabkan guru makan daging kerang!" katanya. Maka ia berlari keluar gua menuju tepi laut untuk memotong sisa daging kerang itu. Saking kegirangan, ia sampai melupakan Auwyang Kongcu. Ia baru memotong dua keping tatkala melihat bayangan orang mendekat perlahan ke arahnya. Ia kaget namun mengerti adanya ancaman bahaya. Baru sekarang ia ingat pada keponakan See Tok itu.

Diam-diam ia memungut batok kerang, lalu dengan sekonyong-konyong ia melemparkannya ke belakang. Tubuhnya sendiri terus melompat jauh hingga berada di pinggiran air. Auwyang Kongcu berhasil berkelit. Ia tidak marah, sebaliknya ia tertawa. Sekian lama pemuda ini tidak pergi jauh dari orang tua dan nona itu, terutama memperhatikan gerak-gerik Ang Cit Kong, hingga timbul kecurigaannya bahwa raja pengemis itu tidak berdaya karena lukanya yang parah. Meski begitu, ia tidak memiliki nyali yang cukup besar untuk menyerbu ke dalam gua. Maka ia terus mengawasi.

Pagi itu ia melihat Oey Yong keluar sendirian menuju pasir, lalu ia mengikuti. Ia girang bukan main, ia menganggap dirinya dikaruniai kesempatan yang baik sekali oleh Thian. Maka ia menghampiri si nona sambil berjingkat-jingkat. Sayang, bayangannya telah menggagalkan niatnya.

"Adik yang baik, jangan pergi!" katanya dengan manis. "Aku hendak bicara denganmu!"

"Orang tidak menggubrismu, apa perlunya kau mengganggu orang?" tanya si nona. "Apakah kau tidak tahu malu?"

Melihat orang itu tidak marah, Auwyang Kongcu menjadi senang dan semakin berani. Ia mendekat dua langkah lagi sambil tertawa. "Semuanya dasar kau! Siapa suruh kau secantik dan semanis ini, hingga kau membuat hati orang terbetot keras?"

Oey Yong tertawa. "Aku bilang tidak menggubrismu, aku tidak mau memedulikanmu! Percuma saja kau mengambil hati atau berbuat baik padaku!"

Pemuda itu maju lagi satu langkah. "Ah, aku tidak percaya!" katanya tertawa. "Hendak aku mencobanya!"

Tiba-tiba si nona memperlihatkan raut muka serius. "Satu langkah lagi kau maju, akan aku minta suhu menghajarmu!" ancamnya.

"Sudahlah!" tawa si anak muda sambil membelalak. "Apakah si pengemis tua itu masih dapat berjalan? Apakah tidak baik jikalau aku menggendongnya?"

Oey Yong terkejut hingga mundur dua langkah. Inilah yang ia khawatirkan. Ia takut jika pemuda ceriwis ini mengetahui gurunya sudah tidak berdaya. Auwyang Kongcu tertawa lagi. "Jikalau kau ingin terjun ke laut, nah terjunlah! Akan aku tunggu kau di darat! Mari kita lihat, siapa yang dapat berdiam lebih lama di dalam air, kau atau aku?"

"Baiklah!" seru si nona. "Kau menghina aku, untuk selamanya aku tidak sudi bergaul denganmu!"

Nona itu memutar tubuhnya untuk lari, namun baru tiga langkah, ia roboh terguling seraya menjerit, "Aduh!" karena kakinya menginjak batu dan terpeleset. Keponakan Auwyang Hong ini benar-benar licik. Ia khawatir si nona hanya menggunakan tipu muslihat untuk menyerangnya dengan jarum, maka sebelum maju, ia membuka baju luarnya untuk dijadikan senjata pelindung diri. Ia bertindak perlahan-lahan.

"Jangan datang mendekat!" bentak si nona. Ia bangun untuk melangkah lagi, namun baru satu langkah, ia roboh kembali. Bahkan kali ini ia terguling hingga separuh tubuhnya rebah di air dan tampak pingsan. Tubuhnya tidak bergerak lagi.

"Budak, kau sangat licik, tidak akan aku membiarkan diriku diperdaya!" kata Auwyang Kongcu dalam hatinya. Ia berdiri sambil mengawasi. Setelah sekian lama, si nona masih tidak berkutik, tubuhnya dari kepala sampai dada masuk ke dalam air.

"Ah, dia benar-benar telah pingsan," pikir sang kongcu. "Jikalau aku tidak menolongnya, mungkin dia mati tenggelam. Sayang, dia begitu cantik dan manis." Ia lantas bertindak maju dan memegang kaki si nona. Ia terperanjat saat menariknya, sebab ia merasakan nona itu dingin sekali seperti membeku. Ia lekas-lekas membungkuk untuk memeluk tubuh orang itu, berniat mengangkatnya ke darat.

Baru saja ia merangkul ketika kedua tangan si nona memeluk kedua kakinya seraya membentak, "Turunlah kau!"

Dalam keadaan seperti itu, Auwyang Kongcu tidak berdaya lagi, maka terceburlah ia ke laut bersama si nona yang berseru sambil menarik dirinya ke laut. Bukan main kagetnya Auwyang Kongcu, hatinya terkesiap. Biarpun ia lebih perkasa daripada si nona, di dalam air, habislah dayanya. Ia menyesal karena walaupun sangat berhati-hati, ia masih bisa diperdaya oleh si nona yang cerdik itu. Pikirnya, "Habislah aku kali ini!"

Oey Yong yang telah berhasil dengan tipu dayanya, dengan penuh nafsu menarik orang itu ke tengah, ke tempat yang lebih dalam. Percuma si anak muda mencoba berontak, ia terseret ke tengah. Ia dijambak pada kepalanya, lalu kepala itu dibenamkan ke dalam air. Berulang-ulang pemuda itu tersedak air laut; mulanya masih terdengar suara gurgel di tenggorokannya, lalu ia kehilangan daya, hanya tangan dan kakinya yang meronta-ronta, rupanya mencoba menjambret si nona tetapi tidak berhasil karena Oey Yong sudah menjaga jarak.

Selang sesaat, Auwyang Kongcu merasakan kakinya menginjak tanah. Ia sudah minum banyak air tetapi belum pingsan, ia masih sadar. Dasar ia lihai, pikirannya tidak menjadi kacau. Selama di tengah air karena tidak bisa berenang, ia tidak dapat berbuat apa-apa, akan tetapi begitu merasakan menginjak dasar laut, ia membungkuk untuk memegang dasar laut itu sambil menahan napas. Ia berhasil mengerahkan tenaga dalamnya. Ia lantas menduga-duga arah daratan, tetapi di dalam air, ia tidak dapat mengenali timur, barat, selatan, atau utara. Ia mencoba berjalan, tangannya mencekal sebuah batu besar. Ia bertindak cepat ke arah dasar laut yang menanjak.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment