Chapter 134
"Engko Ceng, lekas mundur!" ia berteriak.
Ia pun hendak menerjang.
Semangat Kwee Ceng bangkit mendengar suara si nona. Ia menyerang dengan tangan kirinya menggunakan jurus kesebelas dari *Hang Liong Sip-pat Ciang* yang dinamakan "Menunggang Enam Naga". Lengannya bergerak lambat.
Oey Yong dapat melihat serangan itu dengan jelas. Di saat itu, mereka justru hendak menyerang. Serangan Kwee Ceng itu perlahan, sehingga Bwee Tiauw Hong tidak menangkis atau berkelit. Serangan itu jitu dan pundak si Mayat Besi menjadi sasaran. Mendadak saja ia jatuh berguling.
Kejadian ini di luar dugaan. Sebabnya, karena serangan datang perlahan, Tiauw Hong tidak mendengarnya. Ia hanya mengandalkan pendengarannya karena matanya tidak dapat melihat. Oey Yong tercengang, tetapi Han Po Kie, Lam Hie Jin, dan Coan Kim Hoat sudah lantas melompat menubruk dengan niat membekuk si Mayat Besi.
Tiauw Hong lihai sekali. Dengan gerakan kedua tangannya, ia berontak. Po Kie dan Kim Hoat dibuat mental. Lalu, sebelah tangannya menyambar Hie Jin. Menghadapi ini, si orang bermarga Lam membuat dirinya jatuh bergulingan.
Tiauw Hong melompat bangun dengan cepat. Tepat saat ia hendak menapakkan kaki, tinju Kwee Ceng tiba di punggungnya. Serangan itu hebat, sekali lagi ia roboh. Tinju itu pun datang tanpa suara. Namun, karena serangan tidak keras, ia tidak terluka. Setelah dua kali menyerang, Kwee Ceng terhuyung, lalu roboh di samping Tiauw Hong.
Oey Yong melompat untuk membantu Kwee Ceng bangun. Tiauw Hong mendengar suara orang di dekatnya. Tanpa ayal, tangannya menyambar dan lima jarinya mencengkeram. Setelah itu, ia menjadi kaget. Lima jari tangannya terasa gatal sekali. Hampir saat itu juga, ia sadar telah menyerang tubuh Oey Yong; tangannya menancap di baju lapis *joan-wie-kah* milik si nona.
Dalam kagetnya, ia melompat dengan gerakan "Ikan Gabus Meletik". Tepat saat itu, terdengar seseorang berseru, "Ini untukmu!"
Pemilik Pulau Tho Hoa, To Cu Cong, mendengar suara itu dan segera menoleh. Ia melihat sebuah benda disambar ke arah Bwee Tiauw Hong yang langsung menangkisnya. Tepat saat ditangkis, benda itu mengeluarkan suara keras, hancur, dan jatuh. Nyata itu adalah sebuah kursi.
Menyusul kemudian, terdengar desingan angin dari arah datangnya benda lain yang lebih besar. Kali ini si Mayat Besi mengulurkan tangan kirinya untuk menangkap. Ia memegang benda yang lebar dan licin. Ternyata itu adalah meja yang berada di samping Cu Cong, yang patah kakinya akibat tertimpa pilar. Penyerangnya adalah Cu Cong sendiri.
Setelah itu, Tiauw Hong menendang meja tersebut. Bersamaan dengan itu, Cu Cong mengulurkan tangan kanannya dan memasukkan tiga benda ke leher baju wanita lihai itu. Tiauw Hong kaget hingga menggigil. Ia merasakan benda yang hawanya dingin menyusup ke dadanya. Ia menduga itu adalah senjata rahasia yang aneh atau ilmu dukun. Ia lantas merogoh untuk menangkapnya. Ia memegang beberapa ekor ikan emas. Namun, yang membuatnya kaget luar biasa ialah tangannya tidak dapat meraba botol obat di dalam saku; obat itu lenyap bersama pisau belatinya serta kitab *Kiu Im Cin-keng*. Ia sampai berdiri mematung.
Si cerdik Cu Cong telah menggunakan tiga ekor ikan emas itu untuk mengalihkan perhatian Bwee Tiauw Hong. Ikan-ikan emas itulah yang lolos dari jambangannya karena pecah tertimpa runtuhan. Saat memasukkan ikan ke leher baju, ia sekalian menyambar isi saku lawan. Setelah itu, dengan cepat ia membuka tutup botol kecil tersebut dan membawanya ke hidung Tin Ok. "Bagaimana?" tanyanya.
"Untuk dimakan dan dioleskan, inilah obatnya!" jawab saudara tua itu yang ahli dalam penggunaan obat beracun.
Tiauw Hong mendengar pembicaraan itu. Ia sadar dan segera melompat menerjang. Namun, ia disambut tongkat Tin Ok, cambuk Han Po Kie, dacin Coan Kim Hoat, dan pikulan Lam Hie Jin. Ia hendak mengeluarkan cambuknya sendiri, namun dibatalkan karena pedang Han Siauw Eng menikam ke arah dadanya.
"Kasih dia makan, torehkan padanya!" perintah Cu Cong kepada Oey Yong sambil menyerahkan obat penawar racun itu. Di sisi lain, ia menyisipkan pisau belati milik si Mayat Besi kepada muridnya seraya memberi tahu, "Inilah pisau milikmu." Setelah itu, dengan memainkan kipas besinya, ia membantu saudara-saudaranya mengepung musuh yang lihai itu.
Pertempuran itu hebat karena setelah berselang sepuluh tahun, *Kanglam Liok Koay* telah memperoleh kemajuan pesat. Seng Hong dan anaknya heran menyaksikan pertempuran itu. Mereka beranggapan, "Tiauw Hong benar-benar lihai, tetapi jago-jago Kanglam itu pun tidak bernamakan kosong."
Seng Hong lantas berseru, "Tuan-tuan, berhenti dulu! Mari dengar aku!" Orang-orang yang sedang bertarung hebat itu tidak memedulikan teriakan tersebut dan terus bertempur. Tidak lama setelah meminum obat, Kwee Ceng mulai sadar. Racun itu menyerang cepat, tetapi pergi dengan cepat pula. Lukanya masih menimbulkan rasa sakit, tetapi tidak mengganggu gerakan lengan kirinya. Maka, setelah memasukkan pisau belati ke dalam sakunya, ia melompat bangun dari rangkulan Oey Yong.
Ia maju ke gelanggang pertempuran untuk berkelahi lagi. Seperti tadi, ia menyerang dengan gerakan perlahan, pada saatnya baru ia mengerahkan tenaganya. Tiauw Hong repot melayani musuh-musuhnya dan tidak mendengar sambaran angin dari serangan si anak muda. Tahu-tahu ia sudah terhajar dan kembali roboh. Saat itu, senjata Po Kie dan Hie Jin turun ke arah tubuhnya.
"Suhu, ampuni dia!" seru Kwee Ceng sambil menangkis senjata kedua gurunya. Liok Koay menurut dan melompat mundur.
Tiauw Hong masih hendak membela diri dan bersiap dengan cambuknya, *Tok-liong-pian* yang beracun. Kwee Ceng tidak menyerang lebih jauh. Ia hanya berkata kepada wanita lihai itu, "Hari ini baiklah pertempuran diakhiri secara baik! Kami tidak hendak membuat susah padamu, kau pergilah!"
Tiauw Hong menyimpan cambuknya. "Kau kembalikan kitabku!" katanya.
Cu Cong melengak. "Aku tidak mengambil kitabmu!" katanya. "Kau tahu sendiri, tidak pernah *Kanglam Liok Koay* berdusta!" Ia tidak tahu bahwa kertas kulit manusia di dalam pisau belati adalah rahasia *Kiu Im Cin-keng*.
Tiauw Hong tahu *Kanglam Cit Koay* jujur. Karena itu, ia percaya kitabnya pastilah terjatuh selagi ia bertempur. Ia lantas membungkuk dan meraba-raba tanah. Sekian lama mencari, ia tidak berhasil mendapatkan barang yang dicari itu. Menyaksikan orang itu meraba-raba, semua orang merasa kasihan. Tidakkah ia buta walaupun sangat lihai?
Seng Hong lantas berkata, "Suci, di sini benar-benar tidak ada barangmu! Mungkin kau kehilangan di tengah jalan?"
Tiauw Hong tidak menjawab, ia pun tidak berhenti mencari. Sekonyong-koyong, mata orang banyak bagaikan berkelebat. Di hadapan mereka muncul si orang berbaju hijau yang gerakan tubuhnya bagaikan kilat. Tahu-tahu ia sudah mencekal punggung Bwee Tiauw Hong, lalu mengangkat dan membawanya pergi. Ia lenyap dalam sekejap di antara pepohonan di luar Kwie-in-chung. Begitu lihainya si Mayat Besi, ia tidak berdaya. Orang semua melongo dan saling memandang. Suasana menjadi sunyi kecuali suara gelombang yang sesekali terdengar.
Selewat sekian lama, barulah Kwa Tin Ok memecahkan kesunyian. Ia berkata kepada tuan rumah, "Murid kami telah bertempur dengan wanita jahat itu. Karena kami merusak rumahmu, Tuan, kami sangat menyesal."
"Jangan berucap demikian, *tayhiap*," sahut Seng Hong. "Justru aku girang sekali kalian semua serta muridmu datang kemari. Aku hendak menghaturkan terima kasih, sebab kalau tidak, mungkin rumahku ini bakal ludes."
"Aku minta sudi kiranya semua Tuan duduk beristirahat," Koan Eng menimpali ayahnya dengan sikap ramah tamah. "Saudara Kwee, apakah lukamu tidak sakit?"
"Tidak," sahut Kwee Ceng.
Namun, baru saja ia menutup mulut, tiba-tiba terlihat lagi si baju hijau bersama Bwee Tiauw Hong. Kedatangannya tidak terlihat. Bwee Tiauw Hong berdiri dengan berkacak pinggang dan berkata nyaring, "Eh, bocah bermarga Kwee, kau sudah menghajar aku dengan *Hang Liong Sip-pat Ciang* ajaran Ang Cit Kong. Karena mataku buta, aku tidak dapat melihat segala gerakanmu! Aku tidak ambil pusing, tetapi jikalau hal ini tersiar di kalangan *kangouw* dan ada yang bilang Bwee Tiauw Hong tidak sanggup melawan murid si pengemis, bukankah itu akan meruntuhkan nama guruku dari Pulau Tho Hoa? Maka mari, mari kita mencoba lagi sekali!"
Kwee Ceng berlaku sabar dan jujur. "Sebenarnya aku bukanlah tandinganmu. Dengan mengandalkan matamu yang tidak dapat melihat, aku dapat melindungi jiwaku. Aku sudah menyerah sejak siang tadi."
"*Hang Liong Sip-pat Ciang* terdiri dari delapan belas jurus, kenapa kau tidak menggunakan semuanya?" tanya Tiauw Hong.
"Oleh karena sifatku tolol..." sahut Kwee Ceng.
Tepat saat itu Oey Yong memberi tanda supaya ia tidak membuka rahasia, tetapi Kwee Ceng terus berkata, "Ang Locianpwee cuma mengajarkan aku lima belas jurus."
"Bagus!" kata Tiauw Hong. "Kau cuma bisa lima belas jurus, Bwee Tiauw Hong telah jatuh di tanganmu! Apakah benar Ang Cit Kong, si pengemis tua bangkotan itu demikian lihai? Tidak, tidak bisa, kau mesti mencoba bertempur lagi denganku!"
Orang-orang menjadi heran dan cemas. Nyata Tiauw Hong bukan hendak membalas sakit hati saja. Di sini ada bibit bentrokan antara Oey Yok Su dan Ang Cit Kong. Kwee Ceng masih berlaku sabar. Ia berkata, "Nona Oey yang begitu muda masih bukan tandinganku, apalagi kau. Ilmu silat dari Tho Hoa To adalah ilmu silat yang paling aku kagumi."
"Eh, Bwee Suci, kau masih hendak bicara apa lagi?" tanya Oey Yong.