Chapter 68
Tiba-tiba ia memutar ke kanan hingga baju panjang beserta lengan bajunya turut bergerak, lalu tangan kirinya menyambar ke pundak si nona.
Terkejut si nona menyaksikan gerakan luar biasa orang itu. Sambil merunduk, ia menyelinap di bawah ujung baju sang pemuda. Di luar dugaannya, orang itu sangat gesit. Kini, ujung baju dari tangan kanan si pemuda menyusul menyambar.
Sukar untuk menghindar dari serangan susulan itu, maka si nona menjejak tanah untuk melompat mundur.
"Bagus!" seru si kongcu.
Ia lantas merangsang. Tidak menunggu kedua kaki si nona menapak tanah, ia mengebut pula. Nona itu tidak sekadar melompat mundur, ia berjumpalitan. Ketika si kongcu datang mendekat, sebelah kakinya menendang ke arah hidung si kongcu. Untuk membebaskan diri, kongcu itu melompat ke kanan. Mereka pun mendarat secara bersamaan.
Para penonton kagum melihat kehebatan si kongcu dan kelincahan si nona. Mereka sama-sama lincah. Si nona dengan wajah memerah mulai membalas serangan. Kini si kongcu yang bermain berkelit. Sungguh menarik menyaksikan baju indah si kongcu yang bagaikan bercahaya dan baju si nona yang tampak seperti mega bermain.
Kwee Ceng pun kagum. Pemuda-pemudi itu berimbang usianya; mereka tampan dan elok, serta pandai bersilat. Sungguh cocok apabila mereka menjadi pasangan hidup, suami-istri. Karena hal ini, rasa benci Kwee Ceng terhadap kelakuan kongcu di rumah makan tadi mereda, dan kini ia justru mengharap kemenangan si kongcu.
Pertandingan terus berjalan seru sampai tiba-tiba terdengar suara kain robek, "Bret!"
Ternyata si nona berhasil menjambret ujung baju si kongcu. Saat ia menariknya, si kongcu juga menarik bajunya ke arah berlawanan, hingga kain tersebut putus dengan suara nyaring. Si nona lantas melompat mundur jauh-jauh sambil mengibaskan kain hasil rampasannya.
"Tunggu dulu!" Bok Ek segera bersuara. "Kongcu, silakan kau lepaskan bajumu agar bisa ditentukan siapa pemenang terakhir!"
Kongcu itu bermuram wajah. Kedua tangannya bergerak merobek bajunya hingga kancing-kancingnya berhamburan ke tanah. Ia tidak membukanya dengan rapi, melainkan langsung menyobeknya. Seorang pengiring berlari menghampiri untuk membantu melepaskan baju itu. Kini terlihatlah sang kongcu mengenakan pakaian dalam dari sutra hijau muda yang indah, dengan pinggang yang dililit sabuk berwarna senada. Ia tampak semakin tampan dengan wajah putih yang bercahaya dan bibir merah.
Tanpa berkata apa-apa, kongcu itu mulai menyerang menggunakan tangan kirinya; angin pukulannya menyambar keras. Melihat itu, si nona, Bok Ek, dan Kwee Ceng terperanjat. Mereka tidak menyangka kongcu itu sebegitu hebat.
Setelah memperhatikan cukup lama, Kwee Ceng berpikir, "Ilmu silatnya mirip sekali dengan ilmu silat In Cie Peng, imam muda yang menyerangku malam itu. Apakah mungkin mereka berasal dari satu perguruan?"
Sekarang si kongcu tidak mau mengalah lagi, sehingga sukar bagi si nona untuk membalas, bahkan untuk sekadar merapat pun sulit.
"Kongcu ini lebih hebat daripada In Cie Peng, si nona bukan tandingannya," pikir Kwee Ceng setelah mengamati lebih jauh. "Apakah jodoh mereka akan terwujud?"
Bok Ek girang melihat jalannya pertempuran, bahkan ia berseru, "Anakku Liam, sudah, tidak usah melawan lebih lama lagi, kongcu menang jauh daripadamu!"
Namun, mereka masih bertempur hebat. Di dalam hatinya, si kongcu membatin, "Kalau sekarang aku hendak merobohkanmu, gampang sekali, hanya saja aku tidak tega."
Benar saja, ketika tangan kirinya menyambar, tangan kiri si nona tercekal. Ia tahu si nona akan mengibas keluar. Selagi si nona mengerahkan tenaganya, ia sekalian menolak seraya melepas cekalannya. Tidak ampun lagi, nona itu roboh terjengkang. Namun, sebelum tubuhnya mengenai tanah, tangan kanan si kongcu sudah menyambar dan merangkulnya hingga si nona berada di dalam pelukan.
Orang banyak bersorak, meski ada pula yang menggerutu. Si nona menjadi sangat malu.
"Lekas lepaskan aku!" pintanya dengan suara pelan.
Si kongcu tertawa. "Kau panggil engko padaku, nanti aku lepaskan!" sahutnya.
Nona itu mendongkol; itu permintaan yang cerewet. Ia lantas berontak, tetapi sia-sia saja, ia justru terpeluk semakin erat.
Bok Ek lantas maju. "Kongcu sudah menang, tolong lepaskan anakku," pintanya.
Pemuda itu tertawa lebar, masih enggan melepas pelukannya. Dalam kemarahannya, si nona menendang. Kongcu itu melepaskan tangan kanannya untuk menangkis dan menangkap kaki lawan, namun tetap memegang tubuh si nona. Nona itu penasaran dan berontak sekuat tenaga. Akhirnya ia bebas, namun jatuh terduduk di tanah. Ia menjadi sangat malu, menunduk, dan meraba kaos kakinya yang putih karena sepatunya telah terlepas.
Kongcu itu berdiri sambil tertawa, tangannya mencekal sepatu si nona yang kemudian ia bawa ke hidungnya. Melihat itu, beberapa penonton dari golongan preman berseru, "Harum! Harum!"
"Kau marga apa, Kongcu?" tanya Bok Ek.
Si pemuda tertawa, tidak menghiraukan sikap cerewetnya sendiri. "Tidak usah bicara lagi!" katanya seraya berputar meminta jubah sulamnya kepada pengiring. Ia menoleh kepada si nona yang ia awasi, sementara sepatu si nona dimasukkannya ke dalam saku.
"Kami tinggal di Hotel Ko Seng di jalan utama kota barat," kata Bok Ek. "Mari kita pergi bersama-sama ke sana untuk berbicara."
"Aku tidak sempat," jawab anak muda itu. "Apa yang hendak dibicarakan?"
Bok Ek heran, air mukanya berubah. "Kau telah mengalahkan anakku! Aku telah berjanji, maka tentu saja aku hendak menjodohkan anakku ini denganmu. Ini urusan seumur hidup, mana bisa dipandang enteng?"
Kongcu itu melongo, lalu tertawa besar. "Bukankah kita hanya bermain ilmu silat? Tidakkah itu sangat menarik? Tentang perjodohan, terima kasih banyak!"
Wajah Bok Ek menjadi pucat, ia hanya diam saja.
"Kau! Kau!" katanya kemudian seraya menuding.
Pengiring si kongcu tertawa dingin dan menyela, "Kau kira kongcu kami ini bangsa apa? Kongcu kami bersanak saudara denganmu, orang kang-ouw tukang jual silat kelas tiga? Pergilah kau tidur dan bermimpi di siang bolong!"
Bukan main gusarnya Bok Ek. Tangannya melayang hingga pengiring itu berteriak kesakitan, mulutnya mengeluarkan darah, beberapa giginya rontok, dan seketika ia roboh ke tanah lalu pingsan.
Kongcu itu tidak peduli. Ia menyuruh pengiring lain menolong yang terluka, sementara ia sendiri menghampiri kudanya untuk naik.
"Jadi kau sengaja mengganggu kami!" teriak Bok Ek.
Kongcu itu tidak menggubris dan menginjak sanggurdi. Bok Ek yang sudah habis sabar mencekal lengan kiri pemuda itu.
"Baik!" seru Bok Ek. "Anakku tidak akan menikah denganmu, manusia hina! Bayar kembali sepatu anakku itu!"
Kongcu itu mengawasi sambil tertawa. "Sepatu ini toh anakmu yang dengan sukarela menghanturkannya kepadaku. Apa urusannya denganmu?"
Ia menggerakkan lengan kirinya hingga cekalan Bok Ek terlepas.
"Aku akan mengadu nyawa!" teriak sang ayah yang merasa dipermainkan. Ia melompat berjingkrak, kedua tangannya bergerak bersamaan untuk menyerang pelipis lawan. Itulah jurus *Ciong Kouw Cie Beng* atau "Gembreng dan Tambur Ditabuh Berbareng".
Kongcu itu berkelit sambil menginjak sanggurdi hingga tubuhnya mencelat ke tengah kalangan.
"Jikalau aku telah menghajar roboh dirimu, orang tua, kau tentunya tidak bakal memaksa aku menikahi anakmu, bukan?" ejeknya sambil tertawa.
Selain golongan preman, semua penonton menjadi panas hati; dari yang tadinya bersimpati, kini mereka menjadi benci. Kongcu ini benar-benar cerewet, kurang ajar, dan keterlaluan. Namun, mereka hanya bisa diam, tidak ada yang berani membuka mulut.
Bok Ek kembali menerjang. Menyadari serangan itu sangat berbahaya, si kongcu dengan cepat berkelit. Dari samping, tangan kirinya membalas menyerang perut dengan jurus *Tok Coa Sim Hiat* atau "Ular Berbisa Mencari Lubang".
Bok Ek berkelit ke kanan lalu menyerang kembali dengan dua jari tangan yang mengarah ke pundak. Itu adalah jurus *Eng Jiauw Kun* atau "Kuku Garuda" dari ilmu silat Utara.
Kongcu itu lihai; ia hanya merunduk sedikit untuk lolos dari bahaya. Tanpa terlihat menarik tangan kiri, tangan kanannya sudah melakukan serangan balasan. Tangan kirinya diangkat ke depan muka dalam sikap *Touw In Hoat Jit* atau "Menyelinap ke Mega Menukar Matahari" untuk melindungi wajah.
Bok Ek menarik lengan kirinya dan membalas serangan dengan tangan kanan. Saat lawan berkelit, ia mendesak dengan kedua tangan ke arah pipi. Itulah pukulan *Wie Hok Hong Cu* atau "Malaikat Wie Hok Mempersembahkan Toya".
Kongcu itu tidak memandang enteng, ia membalas dengan sama hebatnya. Mendadak kedua tangannya bergerak menyambar telapak tangan Bok Ek dari arah belakang, lalu ia menarik tubuh dan melompat mundur. Sepuluh jarinya berubah menjadi merah semua.
Para penonton berseru kaget karena punggung telapak tangan Bok Ek telah berlumuran darah. Si nona kaget bercampur gusar, ia memburu kepada ayahnya untuk menolong dengan merobek ujung bajunya guna membalut luka. Bok Ek menolak bantuan anaknya dan mundur.