Chapter 93
Guru yang nomor satu ialah Hui Thian Pian-hok, yang bermarga Kwa. Wanita itu batuk-batuk beberapa kali, agaknya ia kesulitan berbicara.
"Dialah Kwa Tin Ok!" katanya kemudian.
"Benar," Kwee Ceng mengangguk.
"Apakah kau datang dari Mongolia?" tanya wanita itu lagi.
"Benar," sahut Kwee Ceng heran. "Kenapa wanita ini tahu aku datang dari Mongolia?"
"Kau dipanggil Yo Kang, bukan?" tanya wanita itu lagi.
"Bukan, teecu bermarga Kwee," jawab si anak muda.
Wanita itu mengeluarkan suara seperti merintih. Dari sakunya, ia menarik keluar sebuah benda lalu meletakkannya di tanah. Itulah sebuah bungkusan, entah terbuat dari kain atau kertas. Ketika bungkusan itu dibuka, tampaklah benda yang berkilauan. Itulah sebuah pisau belati yang terasa familier bagi Kwee Ceng.
Ia meraihnya untuk melihat dengan teliti. Di gagangnya terdapat ukiran dua huruf: "Yo Kang". Itulah pisau yang ia gunakan untuk menikam Tong Sie Tan Hian Hong, si Mayat Perunggu. Selagi si anak muda mengamati pisau itu, wanita tersebut merampasnya kembali.
"Kau kenal pisau belati ini, bukan?" tanyanya.
"Benar," jawab Kwee Ceng.
"Di masa kecil, aku pernah menggunakan pisau ini untuk membunuh seorang penjahat, lalu mendadak orang jahat itu lenyap bersama pisau ini..." Belum habis ia bicara, lehernya sudah dicekal si wanita dan dicekik. Kwee Ceng kaget dan memberontak, sebelah tangannya mencoba menyerang, tetapi tangannya segera tertangkap.
Wanita itu melepaskan tangan kanannya lalu duduk di tanah. "Kau lihat, aku ini siapa!" bentaknya. Di tengah malam yang gelap, suaranya terdengar menyeramkan. Mata Kwee Ceng berkunang-kunang, namun ia masih bisa melihat wanita dengan rambut panjang berantakan dan wajah pucat seperti kertas itu. Ia lantas mengenali Tiat Sie Bwee Tiauw Hong, si Mayat Besi, salah satu dari Hek Hong Siang Sat.
Ia kaget bukan kepalang dan berusaha melepaskan diri, tetapi sia-sia. Cengkeraman kuku orang itu sudah menembus dagingnya. Ketika malam itu di atas gunung terjadi pertempuran antara Kanglam Cit Koay dengan Hek Hong Siang Sat, Tan Hian Hong telah mati di tangan Thi A Seng, sebaliknya ia tewas karena tikaman Kwee Ceng pada titik kematiannya. Bwee Tiauw Hong memang buta, tetapi ia masih bisa melarikan mayat suaminya di tengah hujan lebat.
Sekarang, setelah Kwee Ceng tiba-tiba mengantarkan nyawanya sendiri ke tangan Bwee Tiauw Hong, wanita itu merasa sangat girang. Sudah belasan tahun ia mencari pembunuh suaminya dengan sia-sia. Ia diliputi perasaan girang bercampur sedih, lalu teringat masa lalunya.
"Dulu aku adalah gadis lincah yang selalu bermain dan disayangi orang tua," lamunnya, sementara tangannya terus mencengkeram si anak muda. "Setelah kedua orang tuaku tiada, orang-orang menghinaku, hingga guruku, Oey Yok Su, menolong dan membawaku ke Pulau Tho Hoa To untuk belajar ilmu silat."
Sejenak kemudian, terbayang wajah seorang pemuda bermata besar, Tan Hian Tong, kakak seperguruannya. Mereka belajar bersama hingga saling jatuh hati. Suatu malam di musim semi, di bawah pohon persik, pemuda itu merangkulnya. Wajah si Mayat Besi memerah, napasnya memburu. Ia teringat bagaimana mereka melarikan diri dari Tho Hoa To karena takut dimurkai guru, lalu menikah. Saat itu, Tan Hian Hong mengaku telah mencuri sebagian kitab *Kiu Im Cie Keng*.
Banyak orang sakti yang mereka robohkan, bahkan Hui Thian Sin-liong Kwa Pek Sia berhasil mereka binasakan, dan mata Kwa Tin Ok pun mereka buat buta. Bwee Tiauw Hong teringat kata-kata suaminya kala itu, "Perempuan bangsat, kitab *Kiu Im Cie Keng* ini hanya kucuri bagian bawahnya. Bagian atasnya berisi pelajaran tenaga dalam. Pelajaran kita jadi kepalang tanggung. Bagaimana sekarang?"
Ia menjawab dengan putus asa, "Apa daya?"
"Kita kembali ke Tho Hoa To, kita curi bagian satunya!"
Ia tidak berani. Meskipun kepandaian mereka sepuluh kali lipat lebih hebat, mereka tidak akan sanggup melawan dua jari gurunya. Hian Hong pun takut, tetapi ia penasaran. Ia berkata pada istrinya, "Aku harus pergi. Kita harus menjadi orang tanpa tandingan di kolong langit ini, atau kau akan menjadi janda, perempuan busuk!" Karena tidak ingin menjadi janda, mereka pun nekat.
"Kami tahu, karena pelarian kami, Suhu sangat murka," lanjut Tiauw Hong dalam lamunannya. "Dalam amarahnya, Suhu memutuskan otot semua muridnya lalu mengusir mereka. Ketika kami tiba di pulau, kami menemukan peristiwa luar biasa. Musuh Suhu datang menantang. Kami sangat kaget. Aku berbisik kepada suamiku, 'Kita gagal, mari lekas pergi!' Namun suamiku menolak. Kami menyaksikan Suhu berhasil membekuk musuhnya dan mematahkan kakinya."
Ia teringat pula pada Subo yang budinya tak terlupakan. Ia mengintip ke ruang meja abu dan melihat Subo telah tiada. Di tepi meja abu, duduk seorang anak perempuan kecil yang mirip dengan Subo, sedang menertawainya. "Mungkin Subo meninggal saat melahirkan anak ini. Karena itu, aku berpikir untuk tidak melahirkan anak juga!"
Saat itu, Suhu mendengar kehadiran mereka. Tiauw Hong lemas tak berdaya. Bocah itu berseru, "Ayah, Empo!" sambil tertawa manis dan merentangkan tangan ke arah ayahnya. Bocah itulah yang menolong mereka. Hian Hong menarik tangannya dan mereka kabur dengan perahu.
Angin bertiup dingin, suara burung hantu di kejauhan terdengar seram. Bwee Tiauw Hong masih tenggelam dalam ingatannya. "Menyaksikan pertempuran hebat Suhu, suamiku akhirnya sadar bahwa kami bukan tandingan bagi lawan Suhu, apalagi Suhu sendiri."
Mereka menyingkir jauh ke gurun pasir di Mongolia. Suaminya sangat menjaga kitab itu, bahkan ia tidak pernah diperbolehkan melihatnya. "Aku berbuat baik padamu! Jika kau lihat ini, kau ingin mempelajarinya, tapi tanpa dasar ilmu dalam, tubuhmu bisa rusak," kata suaminya. Meski begitu, suaminya mengajarkan *Kiu Im Pek-ku Jiauw* (Cengkeraman Tulang Putih) dan *Cwie-sim-ciang* (Pukulan Meremukkan Hati).
"Kemudian terjadilah pertempuran di gunung itu. Kanglam Cit Koay mengepungku. Mataku! Aku merasa sangat sakit dan gatal. Aku mengerahkan semangat untuk melawan racun. Aku tidak mati, tetapi mataku buta! Suamiku binasa! Itulah pembalasan. Pernah kami membinasakan kakaknya dan membuat mata adiknya buta."
Cengkeraman Bwee Tiauw Hong semakin keras.
"Matilah aku kali ini," batin Kwee Ceng. Ia berkata, "Sekarang aku tidak mengharapkan hidup lagi. Aku minta satu hal padamu, harap kau kabulkan."
"Kau minta sesuatu dari aku?" Tiauw Hong tertawa dingin.
"Ya," jawab Kwee Ceng. "Di tubuhku ada beberapa macam obat, tolong serahkan itu pada Onng Totiang yang sedang menginap di penginapan Ang Ie, di luar kota barat."
"Seumur hidupku tidak pernah aku melakukan kebaikan!" sahut Tiauw Hong. Ia tidak ingat lagi berapa banyak jiwa yang telah ia bunuh, namun pertempuran di gunung itu masih sangat jelas dalam ingatannya. Matanya menjadi gelap, ia tidak bisa lagi melihat bintang.
"Suamiku berkata bahwa rahasia *Kiu Im Cie Keng* ada di dadanya," gumamnya dalam hati. Hujan turun dengan lebat. Ia teringat kembali bagaimana ia memanggul jenazah suaminya dan melarikan diri di tengah hujan tanpa pengejaran musuh. Itu adalah misteri yang belum ia pecahkan hingga kini.