Chapter 108
"Kepandaian memasak istrimu ini nomor satu di kolong langit! Seumur hidupmu, kau sangat berbahagia! Sungguh heran, kenapa semasa aku muda, aku tidak pernah bertemu nona semacam dia?" Kwee Ceng tertawa, begitu pun Oey Yong. Keduanya lantas bersantap. Si nona berperut kecil, ia sudah cukup makan satu mangkuk. Kwee Ceng sebaliknya menghabiskan sampai empat mangkuk, namun ia tidak memperhatikan sayurannya. Sayurannya telah dihabiskan si pengemis!
Setelah meludahkan semangkuk sayur, Ang Cit Kong mengusap-usap perutnya. "Eh, anak-anak, aku tahu kau mengerti ilmu silat," katanya tiba-tiba. "Dan kau bocah perempuan, kau masakkan aku hidangan lezat. Aku tahu, kau tidak mengandung maksud baik! Kau tentunya menghendaki aku mengajarkanmu beberapa jurus! Baiklah, tidak apa-apa! Aku telah merasakan hidangan lezat, tidak enak rasanya jika aku tidak mengajarimu! Mari, ikut aku!"
Ia bangkit, menggendong cupu-cupunya, mencekal tongkatnya, lantas berjalan keluar. Tanpa berkata apa-apa, sepasang muda-mudi itu mengikuti hingga ke sebuah rimba.
"Kau ingin mempelajari apa?" Cit Kong bertanya kepada Kwee Ceng. Pemuda itu berpikir, "Banyak sekali macamnya ilmu silat di kolong langit ini. Kalau aku menginginkan sesuatu, benarkah kau sanggup mengajarinya?" Selagi si pemuda berpikir, Oey Yong mendahului. "Cit Kong, kepandaian dia ini tidak melebihi aku," katanya. "Dia sering marah-marah, ingin sekali dia menandingi aku!"
"Eh, kapan aku pernah marah terhadapmu?" tanya Kwee Ceng. Oey Yong mengedipkan mata pada pemuda itu. Kwee Ceng lantas menutup mulutnya. Cit Kong tertawa, ia berkata, "Aku lihat gerak kaki tanganmu, kau pasti mempunyai latihan dari beberapa puluh tahun, maka kenapa kau tidak sanggup melawan dia? Sekarang, ayo kalian berdua bertempur, aku mau lihat!"
Oey Yong berjalan beberapa tindak. "Engko Ceng, mari!" ia memanggil. Pemuda itu bimbang. "Jikalau kau tidak mempertontonkan kepandaianmu, mana bisa Guru mengajarimu?" kata si nona. "Marilah!"
Kwee Ceng berpikir si nona itu benar juga, maka lantas ia berkata kepada si pengemis, "Apa yang pernah aku pelajari tidak sempurna, aku minta sudilah Guru memberi petunjuk."
Cit Kong tersenyum. "Mengajari sedikit tidak apa-apa, mengajar banyak, itu lain soal!" katanya. Mendengar itu, Kwee Ceng tertegun. Ia heran. Justru itu Oey Yong berteriak, "Awas!" seraya tangannya menyambar. Ia terkejut, lekas-lekas ia menangkis. Tetapi si nona lihai sekali; ia menarik tangannya, kakinya menggantikan menyapu ke bawah.
"Bagus, nona cilik!" seru Ang Cit Kong. "Kau lihai!"
Si nona tidak melayani pujian itu, hanya seperti berbisik ia berkata kepada Kwee Ceng, "Mari bertempur sungguh-sungguh." Kwee Ceng menurut, ia berkelahi dengan bersemangat. Ia keluarkan ilmu silat ajaran Lam Hie Jin, yaitu Lam San Ciang-hiat. Hebat permainannya ini, karena sesudah meminum darah ular, tenaganya bertambah berkali lipat.
Oey Yong melayani pelbagai serangan, setelah itu ia keluarkan kepandaian ciptaan ayahnya, Oey Yok Su, yaitu "Lok Eng Ciang". Dengan begitu, tenaganya lantas dimainkan di delapan penjuru, bagaikan badai mengamuk di rimba pohon tho. Kwee Ceng kontan menjadi repot. Selagi ia kelabakan, empat kali ia terhajar punggungnya. Habis itu si nona melompat keluar dari gelanggang sambil tertawa.
"Yong-jie, kau lihai!" Kwee Ceng memuji. Ia tidak gusar atau malu, sebaliknya ia girang sekali. Ia tidak dihajar keras oleh si nona.