Chapter 49
Kwee Ceng dan Gochin berlari menghampiri pertapa itu. Sang pertapa merogoh dua anak burung tersebut dan mengangsurkannya seraya bertanya kepada Gochin, "Bisakah kau merawat anak-anak burung ini?"
"Bisa, bisa, bisa!" sahut si putri dengan cepat seraya menyambutnya.
"Hati-hati, jangan sampai tanganmu dipatuk!" peringat si imam. "Burung ini kecil, akan tetapi patukannya sakit sekali."
Gochin meloloskan benang pengikat rambutnya, lalu ia gunakan untuk mengikat kaki kedua burung itu. Ia girang bukan main. "Aku nanti akan ambilkan daging untuk memeliharanya!"
"Eh, tunggu dulu!" kata si imam. "Kau mesti berjanji padaku satu hal, baru aku sudi menyerahkan burung ini padamu!"
"Apakah itu?" tanya si putri.
"Aku ingin kau tidak memberitahu siapa pun bahwa aku telah mendaki jurang itu dan mengambil anak burung ini," kata si imam.
"Baik," sahut si nona. "Hal itu sebenarnya sulit juga, tapi biarlah, aku tidak akan menyebutkannya."
Si imam tertawa, ia berkata, "Kalau nanti sepasang anak burung ini menjadi besar, mereka bakal menjadi sangat kuat dan galak. Maka itu, saat memberinya makan, kau mesti hati-hati."
"Aku tahu," sahut Gochin dengan gembira. Ia berkata kepada Kwee Ceng, "Engko Ceng, burung ini kita miliki masing-masing satu, akan tetapi sekarang akulah yang membawa dulu untuk memeliharanya. Akur?"
Kwee Ceng mengangguk. Gochin lantas melompat naik ke atas kudanya dan pergi. Kwee Ceng bengong mengawasi sang putri, lalu di lain pihak ia mengagumi si imam yang demikian lihai dan pandai memainkan jurus-jurus sulit tersebut. Ia merasa kehilangan semangat.
Si imam konde tiga itu memungut pedangnya untuk dikembalikan kepada pemiliknya, lalu ia memutar tubuhnya sembari tertawa dan berlalu.
"Totiang, jangan pergi dulu!" teriak Kwee Ceng. Agaknya ia baru sadar, hingga susah baginya untuk membuka mulut.
"Kenapa?" tanya si imam sambil tertawa pula.
Bocah itu menggaruk-garuk kepalanya, rupanya sulit ia berbicara. Namun, sesaat kemudian ia menjatuhkan diri berlutut di depan si imam dan bersujud berkali-kali.
"Eh, untuk apa kau bersujud terhadapku?" tanya si imam sambil tertawa.
Mendadak Kwee Ceng mengucurkan air mata. Ia melihat si imam demikian sabar dan ramah, seolah sedang menghadapi salah satu sanak keluarganya yang terdekat. "Totiang, apakah aku sangat bebal?" katanya kemudian. "Aku belajar rajin dan ulet, akan tetapi tetap tidak dapat belajar dengan sempurna. Karenanya, aku membuat keenam guruku menjadi tidak senang."
"Habis, apakah yang kau kehendaki?" tanya si imam, tetap tertawa.
"Siang dan malam aku berlatih, tetapi tetap saja gagal," kata Kwee Ceng lagi.
"Apakah kau ingin petunjukku?" tanya si imam.
"Benar!" Kwee Ceng mendekam kembali dan mengangguk-angguk.
"Aku lihat kau jujur dan bersungguh hati. Begini saja," kata si imam. "Tiga hari lagi ada bulan purnama. Nanti, selagi rembulan terang benderang, aku nantikan kau di atas puncak. Tapi, kau tidak boleh memberitahukan hal ini kepada siapa pun!" Ia menunjuk ke puncak yang ia maksudkan.
Kwee Ceng menjadi bingung. "Aku... aku tidak dapat mendaki!" katanya.
Si imam sudah berjalan pergi, ia tidak memedulikannya lagi.
"Kalau begini, sengaja Totiang hendak menyulitkan aku," pikir Kwee Ceng. "Terang dia tidak ingin mengajariku." Namun, sesaat ia berpikir kembali, "Aku toh bukannya tidak punya guru yang pandai. Di depan mataku ada enam guru yang bersungguh-sungguh mengajariku. Dasar aku yang tolol! Apa daya sekarang? Meski Totiang lihai sekali, mana mungkin aku dapat mewarisi kepandaiannya itu? Percuma aku belajar dengannya." Bocah itu menjadi tawar hatinya.
Ia pulang sesudah matahari terbenam dan merasakan perutnya lapar. Tiga hari telah lewat. Hari itu, Han Po Kie mengajarkan muridnya ilmu cambuk Kim-liong-pian. Senjata lemas itu berbeda daripada golok atau senjata tajam lainnya; jika tenaga latihannya kurang, orang tidak akan terluka karenanya, sebaliknya, ia sendiri yang bisa mencelakai diri sendiri. Demikianlah yang terjadi, suatu kali Kwee Ceng salah menggerakkan tangannya dan cambuknya mengenai kepalanya sendiri.
Po Kie menjadi dongkol dan menyentil telinga muridnya itu hingga kepalanya memerah. Kwee Ceng tetap diam dan belajar terus. Melihat orang bersungguh hati, lenyaplah rasa dongkol Po Kie. Ia membiarkan saja walaupun si murid lagi-lagi membuat kesalahan. Setelah mengajari lima jurus dan berpesan agar muridnya belajar dengan sungguh-sungguh, ia pergi dengan menunggang kudanya.
Ilmu cambuk itu benar-benar sukar. Kwee Ceng menjadi korban hingga babak belur. Kepalanya benjol, jidatnya memar, lengan dan kakinya membiru. Saban salah menarik, ujung cambuk mengenai diri sendiri. Akhirnya, dengan rasa sakit dan letih, ia merebahkan diri di rumput dan tertidur pulas.
Ia terbangun sesudah rembulan muncul. Ia merasakan sakit pada tubuhnya, tapi ia memandang ke atas bukit. Ia teringat janji si imam. "Dia bisa mendaki, mustahil aku tidak!" katanya dengan penasaran.
Ia lari ke kaki jurang untuk mulai mendaki. Ia menjambret setiap akar rotan dan naik dengan merayap. Ia berhasil naik setinggi enam atau tujuh tombak, lalu berdiam diri. Jalan di depan tampak batu melulu, seperti tembok yang licin.
"Mesti dapat!" ia mengeraskan hatinya dan mencoba. Ia mencari lubang atau sela batu untuk dipegang sebagai tumpuan kaki. Satu kali ia terpeleset, hampir saja ia terjatuh! Saat memandang ke bawah, ia merasa ngeri bukan main. Sekarang, naik tak dapat, turun pun sukar!
Kwee Ceng menghela napas karena kesukarannya. Tiba-tiba ia teringat perkataan gurunya yang keempat, "Di kolong langit ini tidak ada urusan yang sukar, asal hati orang kuat!" Ia mengertakkan gigi. Ia mendapat akal untuk menggunakan golok pendeknya guna mencungkil batu, menjadikannya lubang tempat pegangan dan pijakan kaki.
Ia merayap maju setapak demi setapak, sangat lambat. Tenaganya terkuras habis. Baru memanjat dua tombak, kepalanya sudah pusing, kakinya lemas. Ia mendekam dan bernapas perlahan. Ia tidak memedulikan berapa banyak lubang lagi yang harus dibuat untuk mencapai puncak. Setelah cukup beristirahat, ia mulai mencongkel batu lagi.
Baru saja mulai, mendadak ia mendengar suara orang tertawa di atasnya. Ia heran, namun tidak berani menengadah. Tiba-tiba, seutas tali merosot turun, ujungnya diam tepat di depannya.
"Ikat pinggangmu, nanti aku tarik kau naik!" suara si imam konde tiga terdengar. Kwee Ceng merasa girang sekali hingga semangatnya terbangun. Tanpa banyak pikir, ia menyimpan goloknya, lalu dengan tangan kanan ia melilit pinggangnya sendiri dan mengikatnya keras-keras.
"Apakah kau sudah selesai mengikat?" tanya si imam dari atas.
"Sudah!" sahut si bocah.
"Sudah atau belum?" tanya suara di atas lagi, rupanya tidak mendengar jawabannya. Tiba-tiba ia tertawa, "Ah, aku lupa! Suaramu tidak cukup keras, tak sampai ke atas sini. Kalau kau sudah mengikat rapi, kau tariklah tali ini tiga kali!"
Kwee Ceng menurut dan menarik tali itu tiga kali. Mendadak ikatan pada pinggangnya menjadi kencang dan tubuhnya terangkat, hingga terlepaslah pegangannya pada batu. Ia terkejut, namun ia tahu sedang diangkat naik. Tanpa disangka, ia langsung sampai di atas dan berdiri tepat di depan si imam.
Bukan main ia girang dan bersyukur. Tanpa menunggu waktu, ia menekuk lutut untuk bersujud menghaturkan terima kasih, akan tetapi si imam mencekal tangannya sambil tertawa. "Kemarin kau telah bersujud padaku seratus kali, sudah cukup! Bagus, anak bagus, kau punya semangat!"
Puncak gunung itu datar dan terdapat sebuah batu besar yang rata, dipenuhi salju. "Duduklah di sana!" kata si imam.
"Biar Teecu berdiri saja menemani Suhu," kata Kwee Ceng.
"Kau bukannya kaumku, aku bukannya gurumu," kata si imam. "Kau juga bukan muridku. Duduklah!"
Dengan hati bingung, Kwee Ceng duduk.
"Keenam gurumu itu semua orang Rimba Persilatan kenamaan," kata si imam. "Walaupun kita tidak kenal satu sama lain, akan tetapi kita saling menghormati. Untukmu, asal dapat mempelajari kepandaian satu saja dari enam gurumu itu, kau sudah bisa menonjolkan diri di muka umum. Kau bukannya tidak rajin belajar, kenapa selama sepuluh tahun ini kemajuanmu tidak banyak? Tahukah kau sebabnya?"
"Itulah karena dasarku yang bebal. Biar Suhu semua bersungguh-sungguh mengajariku, aku tidak bisa memperoleh kemajuan," jawab Kwee Ceng.
"Itu tidak benar seluruhnya!" jawab si imam dengan tertawa. "Inilah yang dibilang, yang mengajar tak jelas caranya dan yang belajar tak menginsyafi jalannya."
"Kalau begitu, aku mohon... eh, Totiang, sudi mengajariku," pinta Kwee Ceng.
"Berbicara tentang ilmu silat, sebenarnya sudah jarang orang Rimba Persilatan yang sepandai kau," terang si imam pula. "Kau baru belajar silat, lantas dijatuhkan oleh si imam muda; ini pun satu pukulan untukmu hingga kau merasa pelajaranmu tak ada faedahnya. Hahaha, kau ternyata keliru!"
Kwee Ceng heran. Kenapa imam ini tahu urusan kekalahannya itu? "Imam itu memang berbeda daripada kau, ia sebenarnya telah menggunakan akal," kata si imam. "Coba kau bertempur secara biasa, belum tentu ia dapat mengalahkanmu. Di samping itu, kepandaian keenam gurumu tidak ada di bawah kepandaianku, oleh karena itu tidak dapat aku ajarkan kau ilmu silat!"
Kwee Ceng heran berbareng putus asa.