Chapter 65
Ia merasakan ada tangan yang lemas memegang tangannya. Ketika ia menoleh, ia segera melihat Oey Yong yang entah kapan telah turun dari kedai tingkat (lauwteng).
"Jangan pedulikan mereka, mari kita naik kembali ke kedai!" ujar sahabat barunya itu.
"Mereka hendak merampas kudaku," kata Kwee Ceng. "Entah bagaimana, mereka roboh dengan sendirinya." Meski ia berkata demikian, Kwee Ceng menurut dan memutar tubuhnya, begitu pula si anak muda itu.
Tepat saat mereka berbalik, pemuda tampan yang berpakaian mewah itu sudah berada di depan. Ia membungkuk untuk melihat delapan pemudi yang menyamar sebagai pemuda tersebut, kemudian mengawasi kedua anak muda di depannya dengan tatapan yang sangat heran.
Oey Yong menarik tangan Kwee Ceng untuk naik ke tangga, kemudian sembari tertawa manis, ia menuangkan teh ke cawan pemuda itu. "Toako, kudamu bagus sekali!" katanya memuji.
Kwee Ceng hendak menanggapi sahabatnya ketika ia mendengar suara keleningan unta di depan rumah makan. Ia pergi ke jendela diikuti Oey Yong. Saat mereka melongok ke bawah, tampak delapan nona berpakaian serba putih itu berlalu dengan unta mereka. Salah satu nona menoleh ke belakang dan memandang Kwee Ceng. Kwee Ceng dapat melihat sinar matanya yang tajam, pertanda kemurkaan, sementara sepasang alisnya tampak terangkat.
Tiba-tiba, nona itu mengayunkan tangan kanannya, membuat dua potong ginso (senjata berbentuk jarum) menyambar ke lantai atas ke arah Kwee Ceng. Kwee Ceng segera mencabut kopiahnya dengan niat menangkis senjata perak itu. Namun, pemuda tampan berpakaian mewah itu lebih dulu bergerak. Dengan dua kali sentilan, ia melayangkan dua batang senjata rahasia yang bersinar emas berkilauan. Di antara suara denting logam, ginso tersebut jatuh bersama senjata penyerangnya.
Kedua pelayan segera memungut keempat senjata itu dan menyerahkannya kepada si pemuda, yang kemudian menyimpannya ke dalam saku. Setelah itu, ia melangkah naik ke kedai, menghampiri Kwee Ceng, lalu berhenti dan memberi hormat dengan berjura.
"Aku mohon tanya marga dan nama mulia dari Toako," pintanya.
Kwee Ceng segera membalas hormat. "Siauwtee bermarga Kwee, bernama Ceng," sahutnya. "Apakah Kongcu memiliki sesuatu untuk disampaikan?"
"Apakah Saudara Kwee datang dari Pulau Tho Hoa To di Laut Timur?" tanya pemuda itu.
"Siauwtee datang dari gurun pasir utara," jawab Kwee Ceng. "Belum pernah siauwtee pergi ke Pulau Tho Hoa To. Barusan Kongcu membantu aku, aku sangat berterima kasih."
Kongcu itu berkata, "Jika Saudara Kwee tidak ingin mengenalkan diri, mari kita berpisah di sini, sampai nanti kita bertemu kembali!" Lalu ia menjura dalam-dalam.
Kwee Ceng segera membalas, namun saat itu ia merasakan sambaran angin. Kongcu itu telah mengibaskan tangan, dan ujung lengan bajunya mengarah ke mata Kwee Ceng. Kwee Ceng tidak menduga serangan itu. Sembari memberi hormat, orang tersebut menyerang dengan hebat. Jika ia terkena, tentu akan berbahaya. Maka, ia segera menunduk, memasukkan kepalanya ke selangkangan, dan melompat berjumpalitan. Meski begitu, pundaknya tetap tersambar hingga terdengar suara nyaring dan ia merasakan sakit ngilu.
Saat kakinya menapak, ia kaget sekaligus gusar. "Kau... kau..."
Namun, si Kongcu memotong, "Aku cuma mencoba ilmu kepandaianmu, Saudara Kwee. Ilmu totokmu lihai sekali, tapi ilmu silat tangan kosongmu biasa saja. Maaf!" Ia kembali menjura.
Kwee Ceng khawatir orang itu akan berbuat jahat, sehingga ia mundur selangkah. Oey Yong tampak terkejut, tubuhnya bergeser, dan tangannya menjatuhkan sebatang sumpit ke kaki si Kongcu. Saat Kongcu itu mengangkat tubuh setelah menjura, Oey Yong sudah mengambil kembali sumpitnya. Pemuda itu tampak jijik melihat pakaian kotor Oey Yong, ia mundur selangkah, tersenyum kepada Kwee Ceng, lalu berputar untuk turun ke tangga.
"Ini untukmu?" kata Oey Yong perlahan sambil menyodorkan tangan.
Kwee Ceng tercengang melihat telapak tangan sahabatnya. Di sana terlihat dua tusuk konde emas serta dua potong ginso yang berkilauan. Itu adalah senjata yang tadi disimpan Kongcu di dalam sakunya. Entah kapan sahabatnya mengambilnya.
Ia menerima tusuk konde emas dan ginso itu. "Kongcu, kau melupakan barangmu ini!" panggilnya kepada si pemuda.
Kongcu itu berhenti dan berpaling. Kwee Ceng mengangsurkan kedua barang itu. Saat melihat barang miliknya, Kongcu terkejut hingga air mukanya berubah. Dengan kecepatan luar biasa, ia menyambar ke arah Kwee Ceng. Lima jarinya yang kuat seperti cengkeraman kuku garuda mengarah ke tangan Kwee Ceng.
Kwee Ceng kaget bukan main. Dari gerakannya, ia menduga orang itu menggunakan ilmu silat Kiu-im Pek-kut Jiauw (Cengkeraman Tulang Putih) sebagaimana sering diceritakan oleh keenam gurunya. Ia teringat bekas cengkeraman Bwee Tiauw Hong di lengannya, namun ia sadar serangan Kongcu ini jauh lebih lemah dibanding si Mayat Besi. Tidak berani menangkis, Kwee Ceng mengerahkan tenaga dan empat senjata di tangannya mencelat ke arah lawan.
Kongcu itu terkejut. Sebelum serangannya mengenai, empat senjata itu sudah mendahului menyambarnya. Ia pun terpaksa menangkap keempat benda itu, lalu memutar tubuh untuk turun dari kedai.
Saat Kwee Ceng kembali ke kursinya, ia mendapati Oey Yong memperhatikannya sambil tertawa geli. "Kenapa barang itu berada di tanganmu?"
"Dia membuatnya jatuh saat menjura kepadamu, lantas aku ambil!" sahut Oey Yong.
Kwee Ceng yang jujur tidak menduga sahabatnya bisa berbuat begitu. "Toako, kenapa rombongan wanita itu mencoba merampas kudamu?" tanya Oey Yong kemudian.
"Sebab kudaku adalah hanma (kuda sakti)," jawab Kwee Ceng, yang kemudian menuturkan perihal kuda itu hingga pertemuannya dengan rombongan wanita yang menyamar menjadi pemuda penunggang unta tersebut. "Entah siapa yang membantuku secara diam-diam dengan merobohkan mereka. Kalau tidak, pasti terjadi pertempuran hebat."
Oey Yong masih tersenyum. "Kudaku lari cepat sekali, aku sudah meninggalkan mereka tiga hari perjalanan. Entah kenapa mereka bisa menyusul?" Kwee Ceng mengutarakan keheranannya.
"Aku melihat di antara mereka ada satu yang mencekal sepasang burung dara," kata Oey Yong.
Tiba-tiba Kwee Ceng menepuk meja. "Ya, aku ingat! Waktu itu aku memang melihat dua ekor burung terbang di atas kepalaku. Rupanya ketiga wanita itu melepaskan burung untuk memberi kabar kepada lima kawannya agar menghadangku. Itulah sebabnya mereka gampang mencariku."
Oey Yong bertanya tentang kemampuan lari kuda merah itu, dan Kwee Ceng menuturkannya dengan jelas. Oey Yong tampak kagum. Ia menghabiskan secawan tehnya, lalu tertawa. "Toako, aku ingin meminta sesuatu yang berharga darimu, apakah kau sudi mengabulkannya?"
"Kenapa tidak?" jawab Kwee Ceng.
"Sebenarnya aku suka sekali dengan kudamu itu," ujar Oey Yong.
"Baik, Hiantee, aku hadiahkan itu untukmu!" kata Kwee Ceng tanpa ragu.
Oey Yong terperanjat. Ia hanya sekadar bermain-main, karena mereka baru pertama kali bertemu. Ia pun berpura-pura menangis tersedu-sedu di atas meja. Kwee Ceng menjadi bingung. "Hiantee, kau kenapa? Apakah kurang sehat?"
Oey Yong mengangkat kepala. Wajahnya penuh air mata, namun ia tertawa. Air mata itu membasuh riasannya hingga tampak kulitnya yang putih mulus. "Toako, marilah kita pergi!" ajaknya.
Kwee Ceng menurut. Mereka turun dari kedai, membayar tagihan, lalu menuntun kuda. Kwee Ceng berpesan pada kudanya, "Aku menghibahkanmu kepada sahabatku yang baik, maka turutilah katanya." Ia menoleh ke Oey Yong, "Hiantee, silakan naik!"
Anehnya, kuda yang biasanya sulit ditunggangi orang lain itu tidak membangkang. Oey Yong naik ke atasnya, Kwee Ceng menyerahkan tali kendali, lalu menepuk pinggul kuda. Kuda itu segera berlari pergi.
Pemuda itu menanti sampai sahabatnya tidak terlihat lagi, lalu ia melihat ke langit. Hari mulai malam, ia pun pergi mencari penginapan. Saat hendak memadamkan api untuk beristirahat, tiba-tiba terdengar ketukan di pintu.
"Siapa?" tanyanya heran.
"Seorang sahabat," sahut suara parau dari luar.
Kwee Ceng membuka pintu. Di bawah cahaya lilin, ia terkejut bukan main melihat lima orang berdiri di depannya. Empat di antaranya membawa golok dan ruyung; mereka adalah Hong Ho Su Koay. Orang kelima, yang berusia sekitar lima puluh tahun, bertubuh kurus dengan wajah lonjong dan tiga kutil besar di dahi, tampak sangat menyeramkan.