Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 199

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 199

Suhu telah menyuruhku menjadi Pangcu dari Kay Pang. Oleh karena itu, aku pun jadi memikirkan kawanan pengemis itu," Kwee Ceng tertawa.

"Maka itu, aku pikir lebih baik kita memikirkan cara untuk pergi dari sini," katanya.

Oey Yong sudah selesai menyisiri, lalu ia mengonde rambut pemuda itu.

"Yong-jie, kau menyisiri rambutku, kau mirip ibuku," kata Kwee Ceng.

"Kalau begitu, panggillah aku Ibu!" Oey Yong tertawa.

Si anak muda diam saja, lantas si nona menggelitiknya.

"Kau memanggil atau tidak?" nona itu pun bertanya.

Kwee Ceng terkejut kegelian. Ia berjingkrak bangun, maka konde-nya pun kacau.

"Kau tidak mau memanggil, ya sudahlah!" kata Oey Yong sambil tertawa.

"Memang siapa yang begitu menginginkan itu? Kau tahu, kelak tentu bakal ada orang yang memanggilku Ibu. Nah, kau duduklah!" Kwee Ceng duduk lagi, agar si nona dapat menata kembali rambutnya.

"Kakang Ceng," si nona bertanya lagi, "Bagaimana perihal melahirkan anak? Tahukah kau?"

"Tahu."

"Coba bilang."

"Orang menikah menjadi suami istri, itu berarti memiliki anak."

"Hal itu pun aku tahu. Hanya, bagaimana sebenarnya?"

"Sejauh ini, aku tidak tahu. Cobalah kau bilang."

"Aku juga tidak tahu. Pernah aku tanya Ayah, Ayah bilang..." Kwee Ceng hendak bertanya lebih jelas ketika mereka mendadak mendengar suara seperti sesuatu pecah di belakang mereka: "Urusan memiliki anak itu nanti juga kamu akan tahu sendiri! Sekarang air pasang mau naik pula!"

Keduanya terkejut. Mereka tidak menyangka Auwyang Hong —orang yang bersuara nyaring itu— tiba-tiba sudah berada di antara mereka.

Wajah Oey Yong pun memerah.

Kwee Ceng menyusul kawannya itu. Auwyang Kongcu tertindih batu sehari semalam, ia sangat payah.

"Nona Oey!" kata Auwyang Hong, suaranya serak. Ia pun menyusul mereka.

"Kau yang mengatakan bahwa saat air pasang akan ada orang datang membantu kita. Urusan ini menyangkut nyawa manusia, bukan urusan main-main!"

"Ayahku pandai ilmu meramal, putrinya pasti mengerti pula tiga bagian ilmu itu," sahut si nona.

"Apalah artinya hanya ilmu meramal?" Auwyang Hong memang mengetahui betul kepandaian Oey Yok Su. "Jadi, ayahmu yang akan datang?" dia menegaskan. "Bagus!"

"Hm!" si nona mendengarkan dengan acuh tak acuh. "Untuk urusan remeh ini, kenapa aku harus sampai mengganggu ayahku? Lagi pula, jika ayah melihatmu, mana dia sudi mengampuni? Apa yang membuatmu girang?"

Ditegur begitu, Auwyang Hong bungkam.

"Kakang Ceng," kata si nona, tanpa menggubris Auwyang Hong, "Coba kau tolong mencari pangkal pohon. Semakin banyak semakin bagus. Dan pilihlah yang besar-besar." Si anak muda bersedia untuk bekerja. Ia lantas pergi.

Oey Yong pun bekerja, menganyam tali dan menyambung yang putus kemarin. Auwyang Hong tidak dapat berdiri diam saja. Ia bertanya kepada nona itu, apa benar Oey Yok Su akan datang. Sia-sia belaka ia bertanya sampai beberapa kali, Oey Yong membalasnya dengan bernyanyi-nyanyi perlahan, sementara tangannya terus bekerja. Karena itu, ia terpaksa pergi, untuk membantu Kwee Ceng mencari balok.

Ia dapat melihat Kwee Ceng merobohkan pohon dengan serangan Hang Liong Sip-pat Ciang. Dengan dua kali pukulan saja, ia dapat mematahkan batang sebesar mangkuk.

"Hebat bocah ini," pikir Auwyang Hong. "Dia pun hafal Kiu Im Cin-keng. Jika dia terus dibiarkan hidup, kelak dia akan menjadi bahaya bagiku?" Maka berpikirlah ia: entah keponakannya tertolong atau tidak, pemuda ini harus disingkirkan.

Setelah itu, ia bekerja, membuat Kwee Ceng heran dan kagum. Ia berdiri di antara dua pohon. Begitu ia menggerakkan kedua tangannya, kedua pohon itu roboh patah secara bersamaan.

"Paman Auwyang," Kwee Ceng bertanya, "Sampai kapan aku dapat mencapai ilmu seperti yang kau miliki ini?"

Wajah Auwyang Hong bermuram durja. Dalam hatinya, ia berkata, "Tunggu sampai kau bereinkarnasi lagi?" Ia tidak memberikan jawaban pada pemuda itu.

Setelah memperoleh belasan potong balok, Kwee Ceng dan Auwyang Hong membawa itu semua kepada Oey Yong.

Mata Auwyang Hong kemudian diarahkan ke tengah laut. Ia mau melihat ada perahu datang atau tidak. Ketika itu air mulai naik. Ia jelas sudah tidak sabar, maka ia pun mengajak si nona dan pemuda itu lekas bekerja.

Kali ini, Oey Yong mengikat potongan-potongan balok itu kepada batu. Ia menggunakan balok-balok itu untuk memanfaatkan daya apungnya. Setelah itu, dengan tali yang terikat rapi pula pada pohon besar, mereka mulai lagi dengan usahanya mendorong memutar ujung-ujung balok yang diikat pada pohon itu.

Percobaan si nona ini memberi hasil yang menyenangkan. Dengan bantuan daya apung balok-balok itu, batu besar itu dapat terangkat hanya dengan beberapa putaran.

Auwyang Hong menyuruh kedua muda-mudi itu menahan kuat-kuat. Ia sendiri berlari ke arah batu. Air telah pasang dalam, maka untuk menolong keponakannya, ia harus menahan napas untuk menyelam.

Tidak sukar baginya untuk menggendong Auwyang Kongcu, untuk dibawa ke darat.

Kegirangan Kwee Ceng tidak terhingga besarnya karena pertolongan mereka telah berhasil. Tanpa sadar, ia bersorak-sorai, kemudian menarik tangan Oey Yong, untuk diseret berlari-lari ke gua mereka tanpa memedulikan paman dan keponakannya itu.

"Adik Yong, pantaskah aku bersorak?" tanya Kwee Ceng. "Apakah hatimu lega?"

"Aku hanya sedang memikirkan tiga masalah yang kurasa sulit," sahut si nona.

"Kau sangat cerdas, kau pasti mempunyai caranya," kata Kwee Ceng. "Masalah-masalah apakah itu?"

Oey Yong menyebut-nyebut kesulitan, tetapi ditanya begitu, ia tersenyum. Hanya, belum lagi ia memberikan jawabannya, kedua alisnya telah dikerutkan.

"Masalah yang pertama tidak apa-apa," kata Ang Cit Kong yang sedari tadi berdiam saja. "Yang kedua dan yang ketiga memang sulit sekali. Sungguh itu dapat membuat orang tidak berdaya."

"Eh, mengapa Suhu tahu?" katanya.

"Apakah itu?"

"Aku dapat menerka pikiran Yong-jie," sahut sang guru. "Yang pertama-tama adalah bagaimana cara ia dapat mengobati lukaku. Di sini tak ada tabib, tak ada obat. Aku, si pengemis tua ini, menyerah saja kepada takdir. Lihat saja, aku akan mati atau bisa hidup terus? Yang kedua itu ialah bagaimana caranya untuk melawan Auwyang Hong si licik dan berbisa itu. Dia suka berbalik pikiran, maka dia tidak dapat dipercaya sepenuhnya atas segala ucapannya. Dia sangat lihai, kalian berdua nanti tidak akan bisa melawannya. Yang ketiga ialah masalah bagaimana kita bisa pulang ke daratan. Benar bukan, Yong-jie?"

Nona itu mengangguk. "Benar!" sahutnya. "Inilah masalah yang sangat penting bagi kita, masalah yang bagaikan bencana di depan mata. Aku memikirkan cara untuk dapat mengendalikan si tua bangka berbisa itu. Walaupun tidak sempurna, asalkan dia tidak berani memandang remeh kita."

"Melihat keadaan, sekarang ini kita harus melawan si bangkotan berbisa itu dengan otak, bukannya dengan tenaga," kata Ang Cit Kong. "Hanya, dia sangat cerdik dan licik. Inilah kesulitannya. Sulit ia dapat diperdayakan."

Oey Yong berdiam, ia berpikir. Kwee Ceng pun tidak berdaya. Ang Cit Kong berpikir keras sekali. Ia merasakan dadanya sakit, karena itu ia lalu batuk-batuk.

Nona Oey kaget. Lekas-lekas ia memegangi guru itu, untuk dibaringkan. Disaat itu, mendadak gua menjadi gelap. Ada bayangan hitam yang mengalinginya. Si nonalah yang paling dulu mengangkat kepalanya. Ia melihat Auwyang Hong berdiri tegar seraya menggendong keponakannya.

Dengan suara serak tetapi bengis, Auwyang Hong membentak: "Kalian semua keluar! Serahkan gua ini padaku untuk merawat keponakanku!"

Kwee Ceng gusar hingga ia melompat bangun. "Di sini ada guruku!" ia berseru.

Auwyang Hong bersuara dingin: "Sekalipun Giok Hong Taytee yang tinggal di sini, dia juga harus keluar!"

Kwee Ceng bertambah gusar, tetapi Oey Yong lekas menarik lengan bajunya. Kemudian, si nona menggendong tubuh gurunya, untuk dibawa keluar dari gua itu.

Ketika melewati samping Auwyang Hong, Ang Cit Kong menyeringai. "Sungguh gagah, sungguh angker!" ia menyindir.

Mata Auwyang Hong melotot. Jika ia menyerang, Ang Cit Kong akan segera terbinasa. Entah mengapa, ia merasakan suatu pengaruh aneh, maka lekas-lekas ia berpaling ke arah lain, untuk menyingkir dari tatapan tajam si pengemis. Walaupun begitu, mulutnya berkata, "Sebentar lagi kalian bawakan makanan untuk kami berdua. Dan kalian, dua makhluk kecil, jika kalian main-main dengan makanan itu, hati-hati dengan nyawa kalian bertiga!"

Ketiganya berjalan terus, hati mereka panas. Kwee Ceng sangat mendongkol, ia mengutuk tak hentinya. Ang Cit Kong dapat menutup mulut, demikian juga Oey Yong. Hanya nona ini yang menggunakan otaknya.

"Kalian tunggu sebentar di sini, aku akan mencari tempat yang baru," kata Kwee Ceng kemudian.

Oey Yong menurut. Ia berhenti di bawah sebuah pohon teduh. Di atas pohon itu ada dua ekor bajing tengah berlari-lari di cabang-cabang, naik turun, matanya mengawasi ketiga orang itu. Berani sekali mereka, mereka berani datang mendekat kira-kira tiga kaki.

Oey Yong tertarik kepada kedua bajing itu. Seekor bajing sangat berani. Ia datang mendekat dan mencium-cium nona itu. Kawannya lebih berani lagi. Ia turun dan merayap di ujung baju Ang Cit Kong!

Oey Yong menghela napas. Ia berkata, "Jelas sudah di sini tak pernah ada manusia. Lihat, binatang ini tidak takut orang."

Mendengar suara orang, bajing itu lari naik ke atas pohon. Oey Yong mengawasi, maka ia dapat melihat banyak cabang-cabang pohon yang besar, yang terjalin dengan akar-akar hutan. Daun pohon itu pun lebat sekali.

"Sudah, Kakang Ceng, tak usah kau pergi mencari tempat lagi," berkata nona ini. "Mari kita naik saja ke atas pohon ini."

Kwee Ceng sudah bertindak ketika ia mendengar suara si nona. Ia mengangkat kepalanya, untuk melihat ke atas. Benar-benar ia menemukan sebuah tempat perlindungan. Sampai di situ, keduanya naik ke atas pohon itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment