Chapter 43
Ngoko, aku akan menikah denganmu, untuk menjadi istrimu! Kau setuju, bukan?" kata Nona Han itu tanpa malu-malu.
A Seng tertawa, tetapi lukanya sangat mendatangkan rasa sakit. Ia terus berjingkat, hampir ia tak sadarkan diri.
"Ngoko, legakan hatimu," kata pula si Nona.
"Aku telah jadi orangnya keluarga Thio, seumurku, aku tidak akan menikah dengan orang lain. Kalau nanti aku mati, apakah aku akan selalu bersama kamu?" A Seng masih mendengar suara itu. Ia tersenyum pula, hingga dua kali.
"Citmoay, biasanya aku memperlakukan kau tidak manis?" katanya.
Masih dapat ia mengatakan demikian.
Siauw Eng menangis.
"Kau justru memperlakukan aku baik, baik sekali, inilah yang aku ketahui," katanya.
Tin Ok terharu sekali, begitu pula dengan yang lainnya. Mereka itu pada melinangkan air mata.
"Kau datang kemari, kau tentu hendak berguru pada kami?" Cu Cong bertanya pada Kwee Ceng, yang telah mendekati mereka.
Bocah itu menyahut, "Ya!"
"Kalau begitu, selanjutnya kau mesti dengar perkataan kami," kata Cu Cong pula.
Kwee Ceng mengangguk.
"Kami tujuh saudara adalah gurumu semua," kata Cu Cong.
"Ini gurumu yang kelima bakal pulang ke langit, mari kau tunjukkan hormatmu padanya." Meski masih kecil, Kwee Ceng sudah mengerti banyak. Maka itu, ia menjatuhkan diri di depan tubuh A Seng, untuk bersujud sambil mengangguk berulang kali.
Thio A Seng tersenyum meringis.
"Cukup?" katanya. Ia menahan sakit.
"Anak yang baik, sayang aku tidak dapat memberi pelajaran kepadamu. Sebenarnya sia-sia saja kau berguru padaku. Aku sangat bodoh, aku pun malas kecuali tenagaku yang besar. Coba dulu aku rajin belajar, tidak mungkin aku antarkan jiwa di sini." Tiba-tiba kedua matanya berbalik. Ia menarik napas, tetapi masih meneruskan kata-katanya: "Bakatmu tidak bagus, perlu kau belajar rajin dan ulet. Jikalau kau alpa dan malas, kau lihat contohnya gurumu ini."
Masih A Seng hendak berkata pula, tenaganya sudah habis, maka Siauw Eng memasang telinganya di mulut kakak angkatnya itu.
Si Nona masih mendengar: "Ajarilah anak ini dengan baik-baik, jaga supaya ia jangan kalah dengan itu."
"Jangan khawatir," Siauw Eng menjawab.
"Legakan hatimu, kau pergilah dengan tenang. Kita Kanglam Cit Koay, tidak akan kita kalah!"
A Seng tertawa, perlahan sekali, habis itu berhentilah ia bernapas.
Enam saudaranya itu menangis menggerung-gerung, kesedihan mereka bukan main. Walaupun semuanya bertabiat aneh, mereka tetap manusia biasa, mereka juga saling menyinta. Dengan masih menangis, mereka menggali liang untuk mengubur jenazah saudaranya itu di tempat itu. Sebagai nisan, mereka mendirikan satu batu besar.
Saat itu, cuaca sudah menjadi terang, maka Coan Kim Hoat dan Han Po Kie lantas turun gunung untuk mencari mayatnya si Mayat Perunggu serta Bwee Tiauw Hong, si Mayat Besi. Mereka mencari dengan sia-sia. Habis hujan lebat, di tanah berpasir mesti ada jejak kaki, tetapi ini tidak ada. Entah ke mana perginya Tiauw Hong beserta mayat suaminya itu.
"Di tempat begini, tidak mungkin wanita itu kabur jauh," kata Cu Cong sekembalinya kedua saudara itu. "Sekarang mari kita antar anak ini dan kita pun merawat diri, kemudian kau, shatee, lioktee, dan citmoay, coba kau pergi mencari pula."
Pikiran ini disetujui, maka habis mengucurkan air mata di depan kuburan A Seng, mereka pun turun dari gunung. Mereka berjalan belum jauh ketika mereka mendengar menderunya binatang liar, yang terus terdengar berulang-ulang.
Po Kie mengepak kudanya, maka itu kuda berlompat ke depan. Lari terperanjat, binatang itu berhenti dengan tiba-tiba, tak mau ia maju walaupun dipaksa majikannya. Po Kie menjadi heran, ia memasang mata ke depan. Di sana tampak serombongan orang serta dua ekor macam tutul menyorong-nyorong pada tanah. Itulah sebabnya kenapa kuda si Kiat tidak berani maju terus.
Tidak ayal lagi, Po Kie lompat turun dari kudanya, dengan memegang Kim-kiong-pian, ia maju ke arah mereka. Segera ia dapat mengetahui perbuatannya itu adalah macan tutul. Dua ekor macan tutul itu telah dapat mengorek satu mayat, malah jago Kanglam ini mengenali itu mayatnya Tan Hian Hong, yang terluka dari leher sampai ke perutnya, seluruhnya berlumuran darah, seperti ada dagingnya yang orang telah potong. Heran Po Kie. Ia berpikir: "Dia mati di atas gunung, kenapa mayatnya ada di sini? Siapakah orang-orang itu? Apakah maksudnya mayat itu diganggu?"
Saat itu Coan Kim Hoat semua telah datang menyusul, maka mereka pun menyaksikan mayatnya Hian Hong itu. Mereka menjadi heran sekali. Diam-diam mereka bergidik menyaksikan musuh tangguh itu. Coba tidak ada Kwee Ceng, entah bagaimana jadinya dengan mereka. Kedua macan tutul itu sudah mulai menggerogoti mayatnya Hian Hong.
"Tarik macan itu!" kata satu anak kecil yang menunggang kuda, yang berada di antara rombongan orang tadi. Ia memerintahkan orangnya, yang menjadi tukang pelihara macan tutul itu. Saat ia melihat Kwee Ceng, ia membentak: "Hai, kau sembunyi di sini! Kenapa kau tidak berani membantu Tuli bertarung? Makhluk tidak punya guna!"
Bocah itu ialah Tusaga, putranya Sangum.
"Eh, kamu mengepung pula Tuli?" tanya Kwee Ceng, yang agaknya kaget.
"Di mana dia?" Tusaga menunjukkan roman sombong dan puas.
"Aku menuntun macan tutulku menyuruhnya mengejar dia!" sahutnya. "Kau lekas menyerah! Kalau tidak, kau pun bakal dikejar macanku!" ia mengancam, tetapi ia tak berani mendekati musuhnya, takut ia melihat Kanglam Cit Koay. Kalau tidak, tentulah Kwee Ceng telah dihajarnya.
Kwee Ceng terkejut, "Mana Tuli?" ia bertanya.
"Macan tutulku telah mengejar Tuli!" sahut Tusaga berteriak. Ia lantas mengajak pemelihara macan tutul itu untuk berlalu.
"Tuan muda, dialah putranya Khan besar Temuchin!" kata tukang pelihara macan tutul itu, maksudnya memberitahu.
Tusaga mengayun cambuknya, menghajar kepala orang itu. "Takut apa!" teriaknya. "Kenapa tadi ia menyerang aku! Lekas!" Dengan terpaksa, tukang pelihara macan tutul itu turut perintah. Satu tukang pelihara macan tutul yang lainnya ketakutan, ia berkata, "Akan aku laporkan kepada Khan besar!" Tusaga hendak mencegah, tetapi sudah terlambat. Dengan mendongkol ia berkata: "Biarlah! Mari kita hajar Tuli dulu! Hendak aku lihat, apa nanti paman Temuchin bisa bikin!"
Kwee Ceng jeri kepada macan tutul, tetapi ia ingat keselamatan Tuli. "Suhu, dia hendak menyuruh macan itu makan kakak angkatku, hendak aku menyuruh kakak angkatku lari," ia berkata kepada Siauw Eng.
"Jikalau kau pergi, kau sendiri bakal dikejar macan itu," kata guru itu.
"Takutkah kau?" "Aku takut?" sahut murid ini.
"Jadi kau batal pergi?" tanya gurunya lagi.
Kwee Ceng bersangsai sebentar, ia menyahut: "Aku mau pergi!" Benar-benar ia lantas lari.
Cu Cong rebah di bokongnya unta karena lukanya, ia mengagumi bocah itu. Ia berkata kepada saudara-saudaranya: "Bocah ini bebal, tetapi dialah orang segolongan dengan kita!"
"Matamu tajam, jieko," kata Siauw Eng. "Mari kita bantu dia!"
Coan Kim Hoat lantas memesan: "Bocah galak itu memelihara macan tutul, ia mungkin putranya seorang pangeran atau raja muda, kita harus berhati-hati. Kita tidak boleh menciptakan masalah, ingat, tiga dari kita terluka?"
Po Kie mengangguk, ia lantas saja lari menyusul Kwee Ceng. Setelah menyahak, ia ulur tangannya, hendak menarik bocah itu, untuk terus dipanggul! Tetap tubuh Kwee Ceng di atas pundak orang, ia seperti lagi menunggang kuda, yang larinya sangat pesat. Sebentar kemudian tibalah di satu tempat, di mana tampak Tuli sedang dikurung oleh belasan orang. Orang-orang ini turut perintahnya Tusaga, dari itu putranya Temuchin cuma dikurung, tidak lantas dikeroyok.
Sebenarnya Tuli rajin melatih diri menuruti ajaran Cu Cong, ia pun sangat berani. Ketika besoknya pagi ia tidak dapat mencari Kwee Ceng, tanpa meminta bantuan Ogotai, kakaknya, seorang diri ia pergi memenuhi janji kepada Tusaga untuk bertempur. Tusaga datang dalam jumlah belasan, heran ia melihat Tuli sendirian. Tetapi ia tidak peduli suatu apa, pertempuran sudah lantas dimulai. Hebat Tuli itu, ia gunakan jurus ajaran Cu Cong, ia bikin musuh-musuhnya roboh satu demi satu. Ia tentu tidak tahu, jurusnya itu adalah jurus pojok dari "Khong Khong Kun", ilmu silat tangan kosong.
Tusaga penasaran, sebab dua kali ia roboh mencium tanah dan hidungnya kena diberi bogem mentah dua kali juga. Saking murkanya, ia lantas lari pulang untuk mengambil macan tutul ayahnya. Tuli yang sedang kegirangan tidak menyangka musuhnya itu bakal meminta bantuan binatang liar.
"Bawa macan tutul!" Tuli kaget, hendak ia lari, tetapi ia lagi dikurung. Sementara itu Han Po Kie dapat menangkap Tusaga dan melombainya. Kanglam Cit Koay dapat lantas mencegah Tusaga apabila mereka menghendaki itu, tetapi mereka tidak mau menciptakan masalah, sekaligus mereka ingin menyaksikan sepak terjangnya Tuli dan Kwee Ceng.
Saat itu ada beberapa kuda dilarikan keras ke arah mereka, salah satu penunggangnya berteriak-teriak. "Jangan lepaskan macan tutul! Jangan lepaskan macan tutul!" Segera terlihat ternyata mereka itu adalah Mukhali berempat, yang dengan laporan si tukang pelihara macan tutul, tanpa perkenan dari Temuchin lagi, mereka lantas datang menyusul.
Saat itu Temuchin bersama Wang Khan, Jamukha, dan Sangum tengah menemani dua saudara Wanyen di tenda mereka. Mereka terkejut mendengar laporan si tukang pelihara macan, semua lantas lari keluar tenda untuk menaiki kuda mereka. Wang Khan mendahului perintah satu pengiringnya: "Lekas sampaikan titahku, cegah cucuku main gila!" Pengiring itu segera kabur dengan kudanya.
Wanyen Yung Chi kecewa gagal menyaksikan orang diadu dengan binatang, ia masgul. Sekarang ia mendengar berita ini, kegembiraannya terbangun secara tiba-tiba, "Mari kita lihat!" katanya. Wanyen Lieh pun gembira, tetapi ia tidak memperlihatkan itu pada wajahnya. Ia pikir: "Jikalau anaknya Sangum membinasakan anaknya Temuchin, kedua mereka bakal jadi bentrok, dan inilah untungnya negaraku, negara Kim yang besar!" Ia terus membisiki pengiringnya, yang pun lantas berlalu dengan cepat. Wang Khan semua mengiringi kedua saudara Wanyen itu.