Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 174

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 174

Baru berjalan beberapa tindak, ia kembali teringat segalanya.

"Jalanan di Tho Hoa To ini sangat aneh," pikirnya. "Kalau nanti Oey Lao Shia mengetahui kepergianku, dia pasti bisa menyusulku."

"Haha, Oey Lao Shia, jikalau kau hendak berkelahi, kau tidak akan sanggup melawanku."

Orang tua itu merasa gembira. Mendadak ia mengibas tangannya ke arah sebuah pohon kecil di sampingnya. Terdengar suara ambruk yang keras, suara robohnya pohon itu yang terpapas buntung.

Ia menjadi kaget sendiri.

"Ah, bagaimana aku bisa maju begitu pesat?" tanyanya kepada diri sendiri.

Ia berdiam diri. Tidak lama kemudian, ia menyerang pula pohon di sampingnya hingga beberapa pohon tertebas buntung tanpa ia menggunakan senjata tajam.

Ia heran bukan main hingga berseru, "Bukankah ini ilmu Kiu Im Cin-keng? Kapankah aku melatihnya?"

Pek Thong menaati pesan Ong Tiong Yang, kakak seperguruannya. Ia tidak berani mempelajari isi kitab Kiu Im Cin-keng, akan tetapi saat mengajari Kwee Ceng, tanpa disadari ia seperti berlatih sendiri. Di luar dugaannya, ia telah berhasil.

Saking kaget, ia berteriak-teriak seorang diri, "Celaka! Celaka! Ini yang dibilang setan masuk ke dalam tubuh yang tak dapat diusir lagi!"

Ia lantas mengambil beberapa lembar kulit kayu yang ulet untuk dijadikan tambang, lalu dengan bantuan mulutnya, ia mengikat kedua tangannya sendiri. Di dalam hatinya ia berjanji, "Semenjak hari ini, jikalau aku tidak dapat melupakan isi kitab itu, seumur hidup tidak akan aku berkelahi dengan siapa pun! Biarlah Oey Lao Shia dapat menyandarku, aku tidak bakal membalas supaya aku tidak melanggar pesan suheng!"

Sudah tentu Oey Yok Su tidak mengetahui janji Pek Thong kepada dirinya sendiri itu. Ia menyangka si tua bangka jenaka ini sedang bergurau. Maka, ia berkata memperkenalkan, "Loo Boan Tong! Inilah saudara Auwyang yang kau telah kenal."

Belum lagi habis Oey Yok Su berbicara, Ciu Pek Thong sudah berjalan mengitari mereka. Ia mencium tubuh setiap orang, kemudian berkata sambil tertawa, "Inilah tentunya si pengemis tua Ang Cit Kong, inilah aku bisa menebaknya! Sungguh Thian Maha Adil, air kencing ini hanya membasahi Tong Shia serta See Tok berdua saja! Saudara Auwyang, tahun lalu kau pernah menghajarku dengan tanganmu, sekarang aku membalasnya dengan siraman air kencingku. Dengan begitu impaslah kita, tidak ada yang rugi!"

Auwyang Hong tersenyum dan tidak menjawab, ia hanya berbisik kepada Oey Yok Su, "Saudara Yok, orang ini sangat lincah. Terang sekali kepandaiannya berada di atas kita, maka lebih baik kita jangan mengganggunya."

Oey Yok Su berpikir, "Kita sudah tidak bertemu selama dua puluh tahun, mana kau tahu kemajuanku tidak bisa meladeni dia?"

Ia berkata kepada Ciu Pek Thong, "Pek Thong, telah kubilang padamu, asal kau mengajari aku Kiu Im Cin-keng, habis aku menyembahyangi mendiang istriku, akan aku merdekakan kau. Sekarang kau hendak pergi ke mana?"

"Sudah bosan aku berdiam di pulau ini, hendak aku pergi pesiar," sahut Pek Thong.

Oey Yok Su mengulurkan tangannya, "Mana kitab itu?"

"Toh sudah dari tadi aku memberikannya kepadamu," sahut Pek Thong.

"Kau mengacau! Kapan kau memberikannya?"

Pek Thong tertawa. "Kwee Ceng itu menantumu, bukan? Apa yang menjadi kepunyaannya, bukankah menjadi kepunyaanmu juga? Aku telah mengajari dia Kiu Im Cin-keng dari kepala sampai buntut, apa itu bukan sama saja seperti aku mengajari sendiri?"

Kwee Ceng terkejut. "Toako! Benarkah itu Kiu Im Cin-keng?"

Ciu Pek Thong tertawa terbahak-bahak. "Mustahilkah itu palsu?"

Oey Yok Su tetap heran. "Kitab bagian atas memang ada padamu. Habis, dari mana kau mendapatkan bagian bawahnya?"

Lagi-lagi Pek Thong tertawa. "Bukankah itu telah diberikan kepadaku oleh tangan menantumu sendiri?"

Panas hati Tong Shia. Ia lantas berpaling kepada Kwee Ceng dengan tatapan tajam. Ia membatin, "Kwee Ceng, bocah cilik, kau telah mempermainkan aku! Bukankah Bwee Tiauw Hong, si buta itu, sampai sekarang masih berkutat mencari kitab itu?"

Ia menoleh lagi pada Pek Thong seraya berkata, "Aku menghendaki kitab yang asli!"

Pek Thong tidak menyahut, ia hanya menghadapi Kwee Ceng. "Saudara, coba kau keluarkan kitab di dalam sakuku ini," katanya kepada adik angkatnya itu.

Kwee Ceng menuruti; ia merogoh saku kakak angkatnya dan mengeluarkan sejilid buku tebal kira-kira setengah dim. Pek Thong menyambut kitab itu lalu berpaling kepada Oey Yok Su.

"Inilah kitab Kiu Im Cin-keng yang asli bagian atas. Kitab bagian bawahnya pun terselip di dalam ini. Jikalau kau memiliki kepandaian, ambillah!"

"Kepandaian apa yang harus kugunakan?" tanya Oey Yok Su.

Pek Thong menjepit buku dengan kedua tangannya, lalu memiringkan kepala. "Nanti aku pikir dulu!" sahutnya.

Ia berdiam cukup lama, kemudian tertawa dan berkata, "Kepandaian si tukang tempel!"

"Apa!" Oey Yok Su menegaskan dengan heran.

Pek Thong tidak menyahut. Ia mengangkat kedua tangannya ke atas kepala, lalu berterbanganlah banyak hancuran kertas bagaikan kupu-kupu yang berseliweran mengikuti tiupan angin. Dalam sekejap, semuanya buyar entah ke mana.

Oey Yok Su murka sekaligus kaget. Ia tidak menyangka tenaga dalam Pek Thong begitu hebat hingga sanggup menjepit hancur kitab itu.

"Hai, bocah bangkotan yang nakal, kau mempermainkan aku!" bentak Oey Yok Su. "Hari ini jangan harap kau dapat berlalu dari pulauku ini!"

Ia berlompat maju menyerang. Tubuh Pek Thong berkelit, terhuyung ke kiri dan ke kanan, sehingga serangan Oey Yok Su meleset. Tong Shia heran orang itu tidak membalas, ia juga heran melihat cara lawannya menghindari serangan. Di sisi lain, ia sadar dan bertanya pada diri sendiri, "Aku Oey Yok Su, apakah bisa meladeni orang yang kedua tangannya terikat?"

Ia berlompat mundur tiga tindak. "Loo Boan Tong, kakimu sudah sembuh atau belum? Aku terpaksa berbuat tak pantas terhadapmu! Lekas kau putuskan ikatan pada kedua tanganmu itu, aku hendak menjajal Kiu Im Cin-keng-mu!"

Pek Thong berlaku sabar. "Tidak hendak aku mendustai kau. Aku memiliki kesulitan sendiri yang sukar kuberitahukan. Ikatan pada tanganku ini, biar bagaimana pun, tidak bisa kulepaskan."

"Biarlah aku yang memutuskannya!" kata Oey Yok Su.

Ia maju dan mengulurkan tangan. Mendadak Pek Thong menjerit-jerit, "Tolong! Tolong!" Sambil berteriak, tubuhnya melompat berjumpalitan, jatuh ke tanah, lalu menggelinding.

"Gakhu!" panggilnya kepada sang mertua. Kwee Ceng berniat maju untuk mencegah, tetapi Ang Cit Kong menarik tangannya. "Jangan berlaku tolol!" kata Ang Cit Kong pelan.

Kwee Ceng berdiam, matanya mengawasi Ciu Pek Thong. Si tua bangka jenaka itu bergulingan terus dengan gerakan yang lincah. Oey Yok Su terus menyerang dengan pukulan dan tendangan, namun tidak pernah mengenai sasaran.

"Perhatikan gerak-geriknya!" bisik Ang Cit Kong kepada muridnya.

Kwee Ceng mengamati dan segera memahami kepandaian berguling dari Ciu Pek Thong. Itulah ilmu silat yang di dalam kitab disebut *Coa heng lie hoan* atau "Ular menggeleser, rase jumpalitan". Saat melihat bagian yang indah, tanpa sadar ia berseru, "Bagus!"

Oey Yok Su menjadi penasaran karena berbagai serangannya menemui kegagalan. Hatinya semakin panas, ia menyerang makin hebat. Tubuh Ciu Pek Thong tidak terkena pukulan, tetapi bajunya robek di sana-sini, bahkan rambut dan kumisnya ada yang terputus terkena serangan dahsyat dari tokoh Tho Hoa To itu.

Lama-kelamaan, Pek Thong menyadari bahaya yang mengancam. Jika salah sedikit saja, ia bisa celaka atau terluka parah. Akhirnya ia mengerahkan tenaga hingga ikatannya putus. Dengan tangan kiri ia menangkis serangan, sementara tangan kanan meraba punggung untuk menangkap seekor tuma. Ia menggigit tuma itu lalu berteriak, "Aduh! Aduh! Gatal sekali!"

Oey Yok Su terkejut melihat Pek Thong masih sanggup bergurau dalam keadaan terancam, tetapi karena penasaran, ia tidak menghentikan serangan. Tiga kali berturut-turut ia melancarkan pukulan.

Ciu Pek Thong berteriak, "Dengan sebelah tangan tidak bisa aku menangkis, mesti aku pakai dua tangan sekaligus!" Tangan kanannya menangkis, tangan kirinya menyambar kopiah lawan.

Dalam hal tenaga dalam, Ciu Pek Thong sebenarnya kalah dari Oey Yok Su. Saat Tong Shia menangkis tangan kanannya, Pek Thong terhuyung dan roboh setelah beberapa langkah. Namun, ia cukup gesit; tangan kirinya berhasil menyambar kopiah Oey Yok Su.

Oey Yok Su berlompat maju, dalam murkanya ia menyerang dengan kedua tangan. "Gunakan kedua tanganmu!" serunya. "Sebelah tangan saja tak cukup!"

"Tidak bisa!" seru Pek Thong. "Cukup dengan satu tangan!"

Oey Yok Su bertambah gusar. "Baiklah! Kau coba saja!"

Ia menyerang dengan kedua tangannya, menghajar sebelah tangan lawan yang digunakan menangkis. Begitu kedua tangan beradu, terdengar suara keras. Ciu Pek Thong langsung jatuh terduduk dengan mata tertutup rapat. Melihat hal itu, Oey Yok Su tidak menyerang lagi.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment