Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 219

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 219

Ia bertekad membela surat wasiat Gak Hui. Oleh karena itu, ia tidak memedulikan musuh yang lihai, meskipun Oey Yong telah melarangnya bertempur melawan See Tok.

Ia berharap dalam waktu singkat kawanan pengawal akan segera tiba di sana.

Saat melihat gerakan Auwyang Hong, ia menduga bahwa pria itu tidak berniat kejam; ia hanya ingin menangkapnya.

Ia sebenarnya merasa heran.

Namun, tidak ada waktu untuk menduga-duga maksud lawannya itu.

Dengan tangan kirinya ia menangkis, sementara tangan kanannya menyerang ke arah pundak lawan.

Ia menggunakan salah satu jurus dari Khong-beng-kun, yaitu Pukulan Kosong.

Kwee Ceng menggunakan ilmu silat ajaran Ciu Pek Thong, yaitu teknik sepasang tangan saling bertarung sendiri. Jurus yang ia gunakan adalah jurus Khong-beng-kun, yang meskipun tidak sehebat Hang Liong Sip-pat Ciang, tetap tidak dapat dipandang enteng.

Tidak heran jika Auwyang Hong terkejut.

"Bagus!" seru See Tok yang lihai itu.

Ia merunduk dengan pundaknya, lalu menjulurkan sebelah tangannya untuk menangkap lengan si penyerang.

Bagaimanapun juga, ia bertarung dengan waspada karena menyadari bahwa kemampuan pemuda ini terus bertambah setiap hari.

Auwyang Hong merasa penasaran karena belum berhasil menguasai Kiu Im Cin-keng. Ia ingin memahami kitab itu dengan jelas, dan keinginannya kian membara setelah mendengar ocehan Ang Cit Kong di atas rakit.

Ia hanya tidak menyadari bahwa dirinya sedang dipermainkan oleh pemuda bermarga Kwee itu. Kitab Kiu Im Cin-keng yang berada di tangannya adalah kitab yang kacau-balau karena Kwee Ceng telah mengacak urutan huruf-hurufnya hingga tidak dapat diterjemahkan lagi.

Sementara itu, di keempat penjuru Cui Han Tong, cahaya obor sudah terlihat terang benderang bagaikan siang hari.

Berbagai rombongan pengawal muncul satu demi satu. Mereka berlari ke arah asal terdengarnya teriakan, yang tidak lain adalah teriakan Oey Yong.

Melihat terangnya cahaya obor, Wanyen Lieh pun menjadi panik.

Seat Auwyang Hong dan Yo Kang masuk ke dalam air terjun, mereka belum juga muncul kembali.

Beruntung baginya, semua pengawal berlari ke arah Oey Yong yang sedang menghadapi Pheng Lian Houw dan Nio Cu Ong yang terus mengejarnya.

Untuk sementara, area air terjun itu masih aman.

Walaupun demikian, sang pangeran tampak gelisah, ia menghentak-hentakkan kakinya dan tangannya terus melambai-lambai tanpa henti.

"Cepat! Cepat!" serunya memanggil Leng Tie Siangjin dan putranya.

"Jangan khawatir, Pangeran!" kata Leng Tie. "Biar saya masuk sekarang!"

Pendeta Tibet ini lantas menerobos ke dalam air terjun. Di sana ia melihat Auwyang Hong sedang bertarung melawan Kwee Ceng, sementara Yo Kang yang ingin ikut menerobos masuk belum mendapatkan kesempatan.

Leng Tie Siangjin merasa tidak puas saat mengamati pertempuran itu.

Bukankah waktu mereka sudah sangat mendesak? Mengapa Auwyang Hong bersikap seolah-olah sedang berlatih? "Tuan Auwyang, mari kubantu!" serunya.

"Minggir jauh-jauh!" bentak Auwyang Hong.

Leng Tie menjadi sangat kesal.

Dalam hatinya ia bergumam, "Dalam situasi seperti ini, bagaimana mungkin kau masih berlagak seperti seorang pendekar? Jangan membawa kesombonganmu sebagai seorang guru besar di sini!"

Ia lalu maju ke samping, mendekati Kwee Ceng, dan melayangkan tamparan keras ke arah pelipis kiri pemuda itu.

Melihat hal itu, Auwyang Hong menjadi sangat marah. Ia merangsek maju, mencengkeram pundak pendeta Tibet itu, lalu mengangkat dan melemparkannya!

Serangan See Tok ini sangat jitu.

Leng Tie Siangjin adalah orang yang lihai dan tangannya mengandung racun. Oleh karena itu, untuk menghadapinya, bagian tubuhnya yang tidak berbahaya sajalah yang harus diserang.

Betapa murkanya pendeta Tibet itu. Tanpa memedulikan kehebatan lawannya ataupun pandangan Wanyen Lieh, ia memaki dengan kalang kabut. Namun, karena ia menggunakan bahasa Tibet, Auwyang Hong sama sekali tidak mengerti.

Ia pun tidak bisa memaki lama-lama, dan segera kehilangan suaranya karena mulutnya langsung kemasukan air. Sebab, Auwyang Hong telah melemparkannya ke dalam air terjun hingga mulutnya tersumbat air!

Wanyen Lieh terkejut melihat tubuh Leng Tie Siangjin terlempar keluar dari air terjun.

Pada saat yang sama, telinganya juga mendengar suara gaduh dari arah Cui Han Tong, tempat sebuah pot bunga besar di depan pendopo pecah berantakan.

Setelah itu, ia melihat kemunculan sejumlah pengawal.

"Celaka!" keluhnya dalam hati.

Tanpa membuang waktu, ia mengangkat jubahnya lalu melompat ke dalam aliran air terjun untuk menyembunyikan diri di sana.

Ia memang mengerti ilmu silat, tetapi di tempat seperti itu kemampuannya tidak ada artinya. Begitu kakinya menginjak tanah yang licin, ia langsung terpeleset dan jatuh.

Beruntung baginya, Yo Kang melihat kejadian itu. Sang putra segera melompat dan menyambarnya untuk menolong.

Dengan termangu-mangu, pangeran dari Dinasti Kim itu memandang ke sekelilingnya.

"Tuan Auwyang, bisakah kau mengusir bocah ini?" tanyanya kepada See Tok.

Pertanyaan ini menunjukkan bahwa Wanyen Lieh adalah seorang pembesar; ia tidak memberi perintah, melainkan hanya bertanya. Namun, pertanyaan itu membangkitkan amarah See Tok.

Hati Auwyang Hong menjadi panas.

"Mengapa tidak bisa?" jawab Auwyang Hong.

Ia segera berjongkok sementara dari mulutnya terdengar suara berkerok mirip suara kodok. Dengan demikian, ia bersiap dengan Ilmu Tapak Kodoknya, lalu mendorong kedua tangannya ke depan.

Racun Barat ini telah mengerahkan seluruh tenaganya. Seandainya di sana ada Ang Cit Kong atau Sesat Timur Oey Yok Su sekalipun, mereka tidak akan berani menghadapinya langsung dari depan, apalagi pemuda seperti Kwee Ceng.

Sebenarnya, sejak tadi Auwyang Hong melayani Kwee Ceng seolah-olah sedang berlatih, sehingga tidak heran jika Leng Tie Siangjin menjadi muak melihatnya.

Ada alasan mengapa See Tok berbuat demikian. Hal itu disebabkan karena Kwee Ceng menggunakan jurus Khong-beng-kun.

See Tok melayaninya demi menunggu pemuda itu mengerahkan seluruh jurus dari ilmu silat tersebut. Setelah semuanya keluar, barulah ia berniat meringkusnya.

Sayang, rencananya itu tidak segera terlaksana.

Tiba-tiba Wanyen Lieh masuk ke dalam air terjun itu, dan Auwyang Hong harus mendengar pertanyaan yang terdengar seperti ejekan tersebut hingga membuat hatinya panas. Ia pun langsung bertindak.

Walau demikian, ia tidak ingin membunuh Kwee Ceng karena pemuda itu masih dibutuhkannya.

Di sisi lain, ia tidak menyadari bahwa pemuda yang polos dan jujur itu sangat patuh pada tugasnya. Kwee Ceng tidak akan mundur sedikit pun, bahkan jika ia harus mati binasa. Ia bertekad melindungi surat wasiat Gak Bu Bok.

Jika ia menyingkir, Auwyang Hong pasti akan mendapatkan surat wasiat tersebut. Di istana memang banyak pendekar kerajaan, tetapi menghadapi Auwyang Hong, mereka pasti tidak akan berdaya.

Dalam keadaan terdesak seperti itu, ketika bahaya mengancam—dan ia tahu ia tidak akan sanggup menangkisnya—ia menghentakkan kedua kakinya untuk melompat ke udara setinggi empat kaki. Dengan cara itu, ia terbebas dari serangan.

Saat mendarat kembali, ia tetap berada di depan mulut gua, menghadang jalan seperti semula.

"Bagus!" seru Auwyang Hong dengan kagum. Ia segera menarik kembali kedua tangannya.

See Tok memang sangat luar biasa. Jika serangannya bertenaga ratusan kati, tarikan tangannya pun masih menghasilkan daya tarik yang luar biasa kuat.

Kwee Ceng terkejut saat merasakan embusan angin yang kuat menekan punggungnya. Ia menyadari ancaman bahaya tersebut. Ia segera membalikkan tangannya untuk membela diri.

Kali ini ia menggunakan jurus *Sin liong pa bwee* atau "Naga Sakti Menggoyang Ekor". Tentu saja, itu adalah gerakan beradu keras melawan keras. Alih-alih mencoba berkelit, ia justru memilih untuk menangkisnya. Siapa pun yang kalah dalam adu tenaga dalam, dialah yang akan celaka.

Wanyen Lieh berdiri termangu menonton jalannya pertarungan yang sangat mengherankan baginya itu.

Mengapa Auwyang Hong diam saja seperti patung, dan hanya tangannya yang didorong ke depan serta ditarik kembali? Mengapa Kwee Ceng melompat-lompat dan hanya mengawasi See Tok? Mengapa setelah See Tok menarik tangannya dan pemuda itu menangkis ke belakang, keduanya kini diam mematung?

Kedua belah pihak sebenarnya sedang mengadu tenaga dalam; Auwyang Hong terus menarik, sementara Kwee Ceng sekuat tenaga bertahan.

Dalam waktu singkat, pemuda itu sudah mandi keringat. Ia harus mengerahkan seluruh kekuatannya agar dapat bertahan.

Sekali lagi Auwyang Hong dibuat kagum. Ia tahu benar bahwa dalam beberapa saat lagi Kwee Ceng akan terluka parah. Karena ia membutuhkan pemuda itu, ia tidak boleh mencelakainya.

Maka ia memutuskan untuk sedikit mengalah. Ia pun mengurangi tenaga tarikannya.

Namun, begitu ia mengurangi tenaganya, tiba-tiba ia merasakan dorongan balik yang sangat keras menghantam dadanya. Ia sangat terkejut. Beruntung tenaga dalamnya sangat matang, jika tidak, ia pasti sudah roboh terjungkir.

Ia benar-benar tidak menyangka bahwa di usia semuda itu, Kwee Ceng memiliki tenaga dalam yang begitu luar biasa. Ia segera menahan napas dan tangannya mendorong balik. Dengan demikian, lenyaplah daya dorong tersebut.

Seandainya Auwyang Hong terus mendesak, Kwee Ceng pasti akan langsung roboh. Namun, See Tok tidak melakukan hal itu. Ia masih berharap tenaga pemuda itu terkuras habis agar dapat menangkapnya hidup-hidup untuk mengorek keterangan mengenai kitab Kiu Im Cin-keng.

Sesaat kemudian, perbedaan tenaga di antara kedua orang itu mulai terlihat jelas; yang satu berlimpah, sedangkan yang lain kian menyusut.

Namun, Wanyen Lieh dan Yo Kang yang terus menonton tidak tahu kapan pertarungan seperti itu akan berakhir, sehingga mereka menjadi sangat cemas. Mereka juga panik mendengar suara gaduh dari kejauhan, pertanda rombongan pengawal sedang sibuk mencari penyusup.

Tiba-tiba, dari arah air terjun terlihat dua pengawal menerjang keluar.

Yo Kang bergerak dengan sangat cepat. Sebelum kedua pengawal itu menyadari keadaan, pangeran muda ini sudah menerjang mereka. Kedua tangannya menyambar ulu hati masing-masing pengawal hingga menembus ke dalam, seketika itu juga mereka roboh dan tewas. Dengan bengis, Yo Kang telah menggunakan jurus Cakar Tulang Putih Kiu Im.

Setelah itu, Yo Kang menghunus belatinya. Dengan sekali hentakan kaki, ia melompat ke arah Kwee Ceng untuk menikam pinggang pemuda itu.

Dalam kondisi seperti itu, Kwee Ceng tidak dapat mengelak. Jika ia mencoba menggeser tubuhnya, ia akan langsung tewas terkena Pukulan Kodok milik Auwyang Hong.

Oleh karena itu, dalam sekejap saja ia merasakan rasa sakit yang luar biasa di pinggangnya, hingga napasnya seketika terasa terhenti. Ia pun melupakan segalanya, dan tanpa sadar langsung menghantam lengan si penyerang licik yang membokongnya itu.

Yo Kang pun merasakan sakit yang luar biasa.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment