Chapter 137
Kwee Ceng tidak mengerti. Ia menarik lengan baju Oey Yong dan, dengan sorot mata bertanya, ia menatap sang nona.
Oey Yong tampak merasa berat hati, tetapi dengan tangan kanannya, ia membacok ke arah tangan kirinya sendiri. Melihat itu, pemuda tersebut mengerti. Di dalam hatinya ia berkata, "Oh, rupanya dia hendak memotong tangannya sendiri. Bwee Tiauw Hong ini memang jahat sekali. Namun, setelah ia insaf, mengapa ia mesti dihukum secara hebat demikian? Mesti aku minta Yong-jie memohonkan keampunannya?"
Tengah pemuda itu berpikir demikian, Oey Yok Su berpaling padanya seraya menggapai. "Kaukah yang bernama Kwee Ceng?" tanyanya.
Kwee Ceng segera maju untuk memberi hormat sambil menjura. "Teecu Kwee Ceng menghadap Oey Locianpwee," katanya hormat.
"Tan Hian Hong yang menjadi murid kepalaku, kaulah yang membinasakannya. Kepandaianmu bukan main," kata Oey Yok Su.
Kwee Ceng terperanjat. Suara itu tidak berkesan baik untuknya. Namun, ia lekas menjawab, "Ketika itu teecu masih muda sekali dan belum tahu apa-apa. Teecu tertangkap oleh Tan Cianpwee. Dalam ketakutan dan bingung, teecu salah langkah hingga membinasakan dia."
"Hm!" Oey Yok Su memperdengarkan suara dingin. "Tan Hian Hong memang benar adalah murid murtad dari kalanganku, tetapi untuk membinasakannya, itulah hak kami. Apakah murid-murid dari Tho Hoa To boleh dibunuh oleh orang luar?"
Kwee Ceng tidak dapat menjawab, ia berdiam.
"Ayah," Oey Yong berkata, "Ketika itu dia baru berumur enam tahun, tahu apa dia?"
Oey Yok Su tidak melayani putrinya itu, ia seperti tidak mendengar perkataan orang. "Si pengemis tua bermarga Ang itu biasanya tidak suka menerima murid," katanya sejenak kemudian. "Tetapi sekarang ia telah mengajarkan kau Hang Liong Sip-pat Ciang sampai limabelas jurus. Itulah tentu kau mempunyai sifat-sifat baik yang melebihkan orang lain. Tidak demikian, pastilah kau sudah membujuknya dengan akal apa pun yang membuat hatinya girang hingga ia suka menurunkan kepandaiannya itu. Kau telah menggunakan kepandaian si pengemis tua untuk merobohkan—hm, hm! Kalau nanti si pengemis itu bertemu dengan aku, bukankah ia bakal banyak bicara?"
Kembali Oey Yong memotong perkataan ayahnya. "Ayah, memang benar ada bujukan!" katanya sambil tertawa. "Tetapi bukannya dia yang mengakalinya, melainkan aku! Dia seorang yang polos, jangan Ayah berlaku galak dan membuatnya ketakutan."
Oey Yok Su tidak melayani gadisnya itu. Sebenarnya semenjak istrinya meninggal dunia, ia sangat menyayangi gadisnya ini, karena itu anaknya menjadi termanjakan. Demikianlah yang terjadi; karena ditegur ayahnya, Oey Yong pergi melarikan diri. Tadinya Oey Yok Su menyangka, sebagai seorang wanita, setelah melarikan diri, anaknya bakal menderita sekali. Siapa sangka, anak itu sehat dan tetap manja seperti biasa.
Melihat anak itu sangat rapat pergaulannya dengan Kwee Ceng, bahkan hingga ia kurang rapat dengan ayahnya sendiri, ia tidak puas. Maka itu, ia berkata pula pada si anak muda, "Dengan si pengemis tua mengajarkan kau ilmu silat, kau terang sudah mengejek partaiku tidak ada orangnya, bahwa setiap muridku tidak berguna?"
Oey Yong bisa menebak hati ayahnya yang tidak senang Tiauw Hong dikalahkan dengan Hang Liong Sip-pat Ciang. Kembali ia menyela, "Ayah, siapakah bilang partai Tho Hoa To tidak ada orangnya? Dia ini beruntung sebab mata Bwee Suci buta! Nanti aku membuat Ayah puas!"
Ia lantas melompat ke depan seraya berseru, "Mari, mari! Nanti aku gunakan kemampuan biasa yang Ayah ajarkan untuk melayani kepandaian istimewa Ang Cit Kong!"
Ia menantang Kwee Ceng, yang ia tahu kepandaiannya sudah maju jauh sekali hingga hampir seimbang dengannya. Kalau dalam beberapa puluh jurus mereka berdua bertanding seri, itu saja sudah cukup untuk membuat ayahnya puas.
Kwee Ceng mengerti maksud si nona. Meskipun Oey Yong tidak membisikkan suatu apa pun, ia menerima tantangan itu. Tetapi ia berkata, "Biasanya aku kalah dari kau, baik aku membiarkan kau menghajar aku dengan beberapa pukulan lagi!" Ia mengayun tangan kanannya seraya berlompat maju.
"Lihat tanganku!" Oey Yong pun berseru seraya membacok dengan tangannya. Itulah bacokan dari samping dengan satu jurus ilmu silat Lok Eng Ciang. Kwee Ceng melayani dengan Hang Liong Sip-pat Ciang, tetapi ia menyayangi Oey Yong, maka ia tidak berkelahi dengan sungguh-sungguh. Di lain pihak, Lok Eng Ciang memang lihai, maka setelah banyak jurus, beberapa kali ia kena dihajar. Bahkan untuk memuaskan ayahnya, si nona menggunakan tenaga keras. Oey Yong berani berbuat demikian karena ia tahu tubuh sahabatnya itu kuat.
"Kau masih tidak mau menyerah!" Oey Yong berseru sambil menerjang tidak henti-hentinya. Kwee Ceng tidak menyahut, ia hanya berkelahi terus. Didesak, ia pun membela diri.
Di saat itu, mendadak Oey Yok Su mencelat ke arah mereka berdua. Hebat gerakannya itu; orang sampai tidak melihatnya, hanya tahu-tahu kedua tangannya sudah terulur, menyambar masing-masing kerah baju kedua bocah itu, lalu ia menghentak dan melemparkan mereka.
Oey Yong disambar dengan tangan kiri, ia dilempar asal saja. Kwee Ceng dicekal dengan tangan kanan, tangan itu dikerahkan tenaganya, maksudnya supaya si bocah roboh terbanting. Kwee Ceng tidak berdaya atas sambaran itu, tubuhnya terlempar ke belakang. Akan tetapi, ketika ia jatuh, kakinya turun lebih dulu. Begitu kakinya mengenai tanah, ia seperti menancapkan diri; ia tidak roboh terguling.
Sebenarnya, kalau bocah ini roboh dan mukanya babak belur atau ia tidak dapat bangun lagi, itulah yang ia harapkan. Namun sekarang, melihat ketangguhan kuda-kudanya itu, Oey Yok Su menjadi panas hatinya.
"Hai, kalian bermain sandiwara untuk aku tonton?" ia berseru. "Aku tidak mempunyai murid, mari, kau mencoba-coba menyambut beberapa jurus dariku!"
Kwee Ceng terkejut, lekas-lekas ia menjura memberi hormat. "Biar nyali teecu sebesar langit, tidak akan berani teecu melayani Locianpwee," katanya hormat.
"Hm, melayani aku!" kata Oey Yok Su tertawa dingin. "Kau tidak tepat, bocah! Aku akan berdiri di sini tanpa bergerak, kau boleh menyerang aku dengan Hang Liong Sip-pat Ciang! Asal aku berkelit atau menangkis, hitunglah aku kalah!"
"Teecu tidak berani," Kwee Ceng berkata pula.
"Tidak berani pun kau mesti beranikan!" desak Oey Yok Su.
Kwee Ceng menjadi serba salah. "Kelihatannya tidak dapat aku tidak melayaninya," pikirnya. "Apa boleh buat. Dia tentu hendak meminjam tenagaku untuk membuat aku roboh beberapa kali?"
"Lekas kau menyerang!" Oey Yok Su mendesak. Ia sadar, walaupun sang pemuda bersangsi, niatnya sudah bulat. "Jikalau tidak, aku akan menghajarmu!"
"Karena Locianpwee menitahkannya, teecu tidak berani membantah," sahut Kwee Ceng kemudian. Ia terus membungkuk seraya memutar tangannya melingkar. Ia cuma memakai tenaga enam bagian. Sebabnya ialah kesatu, ia khawatir nanti melukai ayah kekasihnya itu, dan kedua, umpama ia dibuat terjungkal, robohnya tidak hebat.
Ia menyerang ke dada. Hanya aneh, ketika mengenai sasarannya, tangannya itu seperti licin, lewat begitu saja.
"Apa? Kau tidak melihat kepadaku?" tegur Oey Yok Su. "Apakah kau takut aku tidak sanggup bertahan untuk pukulanmu? Benarkah?"
"Teecu tidak berani," sahut si anak muda. Ia lantas menyerang untuk kedua kalinya. Sekarang ia tidak menahan lagi tenaganya. Serangannya itu dibarengi dengan pengeluaran napas. Dengan tangan kiri ia mengancam, dengan tangan kanan ia menyerang perut.
"Nah, inilah baru pukulan yang benar," kata Oey Yok Su.
Kwee Ceng kaget bukan main. Serangannya hebat tetapi tidak mengenai sasaran. Sebaliknya, tangannya itu seperti tersedot, begitu keras hingga bagaikan tangannya hendak copot. Ia merasakan sakit bukan kepalang.
"Teecu kurang ajar, harap Locianpwee memaafkan," katanya. Tangannya sementara itu sudah tidak diangkat.
Kanglam Liok Koay heran, kaget, dan khawatir. Sungguh hebat Tong Shia ini; tanpa berkelit, tanpa menangkis, ia membuat lengan Kwee Ceng mati kutu.
"Kau pun rasai tanganku!" mendadak Oey Yok Su berseru. "Biarlah kau ketahui, mana yang lebih lihai, Hang Liong Sip-pat Ciang dari si pengemis tua atau kepandaian dari Tho Hoa To!"
Belum berhenti suara itu, angin sudah menyambar. Kwee Ceng menahan sakit, ia mencelat, maksudnya untuk berkelit. Di luar dugaannya, belum tinju orang sampai, tinju itu telah didahului gaean kaki, maka sedetik itu juga, robohlah Kwee Ceng.
Oey Yong kaget. "Jangan, Ayah!" ia menjerit seraya berlompat menubruk Kwee Ceng, di atas tubuh siapa ia mendekam.
Oey Yok Su menyerang terus, tetapi melihat anaknya, tinjunya diubah menjadi cengkeraman untuk menjambak baju anak itu dan mengangkatnya, kemudian tangan kirinya menggantikan menyerang terus.
Kanglam Liok Koay kaget sekali. Mereka tahu itulah pukulan maut. Maka mereka maju berbarengan untuk menolong murid mereka. Coan Kim Hoat berada paling depan, dengan dacinnya ia menghajar lengan kiri Tong Shia.
Oey Yok Su meletakkan gadisnya di samping. Ia seperti tidak memedulikan serangan Kim Hoat yang disusul pedang Han Siauw Eng. Ketika kedua serangan itu mengenai sasaran, mendadak saja dacin dan pedang patah menjadi empat potong!
Oey Yong lantas saja menangis. "Ayah, kau bunuhlah dia!" ia berteriak. "Untuk selamanya aku tidak mau lagi bertemu denganmu!"
Tanpa menoleh lagi, ia lari ke arah telaga dan terjun ke dalamnya! "Bur!" air itu berbunyi keras. Ia tahu putrinya itu pandai berenang dan menyelam; semenjak kecil putri itu biasa mandi di Tang Hay. Dapat ia tidak mendarat selama satu hari satu malam, akan tetapi kali ini sang putri bakal pergi entah untuk berapa lama, mungkin untuk tidak bertemu lagi seperti kata si anak. Maka dalam kagetnya, ia memburu ke tepi telaga, lalu berdiri bengong mengawasi telaga itu.
Sampai sekian lama, barulah Tong Shia, si Sesat dari Timur itu, berpaling. Ia melihat Cu Cong tengah menolong Kwee Ceng dengan menyambungkan kembali tangannya.