Chapter 80
Oey Yong dan Kwee Ceng menempatkan diri di bagian belakang. Dengan hati-hati mereka menguntit sampai tiba di depan sebuah ruangan yang menyerupai kerangkeng binatang liar dengan jeruji besi kasar. Di dalam sana terdapat dua orang yang terlihat samar, yakni seorang pria dan seorang wanita. Seorang bujang masuk membawa lilin ke dalam kerangkeng tersebut sehingga sosok keduanya terlihat dengan jelas.
Kwee Ceng terkejut saat mengenali mereka. Mereka adalah Bok Ek dan putrinya yang tadi siang mengadakan *pibu* mencari jodoh. Bok Ek tampak gusar, sementara Liam Cu duduk di samping ayahnya dengan kepala tertunduk.
"Bagaimana dengan Wanyen Kang? Sebenarnya dia menyukai nona ini atau tidak?" Kwee Ceng merasa ragu.
Kedua bujang tadi memasuki ruangan untuk membawakan makanan dan arak. Bok Ek menyambar sebuah mangkuk lalu melemparkannya. Ia berseru, "Aku telah terjatuh ke dalam tipu muslihatmu yang busuk. Kalau kau hendak membinasakan, binasakanlah! Buat apa kau berpura-pura menaruh belas kasihan?"
Belum sempat si bujang menjawab, dari luar terdengar suara serdadu penjaga pintu, "Siauw-ongya baik?"
Mendengar itu, Kwee Ceng dan Oey Yong berpaling lalu segera mencari tempat persembunyian. Tak lama kemudian, terdengar suara bentakan Wanyen Kang yang datang dengan langkah lebar, "Siapa yang membuat Bok Loenghiong gusar? Awas, sebentar lagi aku hajar patah kaki anjingmu!"
Kedua hamba itu langsung berlutut. "Hamba tidak berani," jawab mereka ketakutan.
"Lekas berlalu!" bentak sang pangeran. Kedua hamba itu segera pergi dengan cepat sambil saling melirik ketakutan.
Setelah mereka pergi, Wanyen Kang menghampiri Bok Ek dan putrinya. "Jiwi, silakan kemari," katanya dengan suara sangat sabar. "Aku hendak membicarakan sesuatu, harap kalian jangan salah mengerti."
"Kau telah mengurung kami sebagai pesakitan, apakah artinya undanganmu ini?" tegur Bok Ek dengan gusar.
"Maafkan aku, aku sangat menyesal," jawab Wanyen Kang. "Untuk sementara, aku minta jiwi bersabar. Aku pun merasa tidak enak hati."
"Kau boleh membohongi bocah berumur tiga tahun, tapi aku tahu sifatmu, orang besar!" bentak Bok Ek lagi.
Wanyen Kang tetap sabar meski terus dipotong oleh bentakan orang tua itu. Ia justru tertawa. Akhirnya, Liam Cu berkata perlahan, "Ayah, coba dengar dulu apa yang hendak ia katakan."
"Hm!" Bok Ek mendengus.
"Nona seperti putrimu, mustahil aku tidak menyukainya," ujar Wanyen Kang. Wajah Liam Cu memerah mendengar hal itu, ia pun menunduk lebih dalam. "Hanya saja, aku adalah seorang pangeran dan aturan rumah tanggaku sangat keras. Jika orang mengetahui aku memiliki mertua seorang praktisi dunia persilatan, bukan hanya ayahku yang akan marah, kemungkinan Sri Baginda juga akan menegur ayahku."
"Lantas, apa yang kau inginkan?" tanya Bok Ek.
"Sekarang ini, aku minta jiwi berdiam dulu beberapa hari di sini untuk merawat luka," jawab pangeran itu. "Setelah itu, barulah kalian pulang ke kampung halaman. Selang satu atau setengah tahun, setelah suasana reda, aku akan menikahi putrimu. Aku akan datang menjemput ke rumahmu atau meminta *locianpwee* datang ke mari. Bukankah itu lebih baik?"
Bok Ek terdiam, ia sedang memikirkan hal lain.
"Peristiwa ini bisa merembet ke ayahku," lanjut Wanyen Kang sambil tertawa. "Oleh karena kenakalanku, beberapa kali ayah pernah ditegur Sri Baginda. Maka, jika urusan ini terdengar oleh beliau, pastilah pernikahan ini gagal. Oleh karena itu, aku minta kesediaan *locianpwee* untuk menyimpan rahasia."
Bok Ek gusar. "Menurut caramu ini, kalau nanti anakku menikah denganmu, seumur hidupnya ia mesti bersembunyi! Dia tidak akan menjadi istri yang diakui di muka umum!"
"Dalam hal ini, aku pasti akan mengaturnya," terang Wanyen Kang. "Aku akan meminta perantaraan beberapa menteri agar kita dapat menikah secara terhormat."
Wajah Bok Ek berubah. "Kalau begitu, panggil ibumu datang ke mari. Aku ingin kita bicara secara terus terang!"
Wanyen Kang tersenyum. "Mana mungkin ibuku menemui *locianpwee*?"
"Jika aku tidak dapat bicara dengan ibumu, bagaimanapun aku tidak sudi melayani kamu!" kata Bok Ek kaku. Ia menyambar sepoci arak lalu melemparkannya ke jeruji besi. Bok Liam Cu kaget dan berduka melihat sikap ayahnya. Sebenarnya, sejak bertanding, ia telah menaruh hati pada pangeran itu dan merasa penjelasannya masuk akal. Ia tidak menyangka ayahnya akan bersikap sekeras itu.
Wanyen Kang menangkap poci arak itu dan meletakkannya kembali ke meja. "Menyesal aku tidak dapat menemani lebih lama," katanya. Ia tertawa lalu berbalik untuk pergi.
Kwee Ceng merasa perkataan Wanyen Kang masuk akal. Bukankah sang pangeran memiliki kesulitannya sendiri? Ia berniat membujuk Bok Ek dan bergerak keluar dari persembunyiannya, namun Oey Yong menarik bajunya untuk mengajak pergi.
"Apakah sudah diambil?" terdengar suara Wanyen Kang berbicara kepada hambanya.
"Sudah," sahut hamba itu sambil mengangkat tangan yang mencekal seekor kelinci.
Wanyen Kang menerima kelinci itu, lalu tiba-tiba mematahkan kaki binatang tersebut dan memasukkannya ke dalam saku. Kelinci itu memekik sekali lalu tidak bergerak lagi. Oey Yong dan Kwee Ceng heran sekali. Mereka kemudian membuntuti pangeran itu yang berjalan memutari pagar bambu hingga terlihat sebuah rumah tembok putih kecil yang berarsitektur khas rakyat di Kanglam. Sangat aneh ada rumah sederhana di dalam pekarangan istana yang megah.
Wanyen Kang mendorong pintu rumah itu dan masuk. Kwee Ceng dan Oey Yong segera lari ke jendela untuk mengintip.
"Ma!" terdengar suara sang pangeran.
"Ya..." jawab seorang wanita dengan suara lembut.
Kwee Ceng dan Oey Yong berpindah ke jendela lain agar bisa melihat. Tampak seorang nyonya duduk di pinggir meja dengan tangan menopang dagu. Ia belum berumur empat puluh tahun dan wajahnya sangat cantik. Di rambut dekat telinganya terselip setangkai bunga putih, dan ia mengenakan pakaian dari kain kasar.
"Mama, apakah hari ini kau kurang sehat?" tanya Wanyen Kang seraya memegang tangan nyonya itu.
Nyonya itu menghela napas. "Bukankah aku tidak tenang memikirkanmu?"
Wanyen Kang bersandar pada tubuh ibunya, tampak manja. "Ma, bukankah anakmu ada di sini? Aku tidak kekurangan apa pun, bukan?"
"Kau mengacau. Jika ayahmu dengar, mungkin tidak apa-apa," kata sang ibu. "Tetapi bagaimana dengan gurumu? Bagaimana jika ia mendengar kabar ini? Tidakkah itu hebat?"
"Ma," kata pangeran itu tertawa, "Tahukah kau siapa orang yang datang menyela untuk menolong tadi?"
"Siapa?"
"Dialah adik seperguruan dari guruku!"
"Celaka!" seru nyonya itu kaget. "Pernah aku melihat gurumu saat ia murka. Ia dapat membunuh orang! Sungguh menakutkan!"
Wanyen Kang heran. "Pernah Mama melihat *suhu* membunuh orang? Di mana itu dan kenapa?"
Nyonya itu menatap lilin seolah sedang mengenang masa lalu. "Itu sudah lama sekali. Ah, kejadian itu hampir saja aku lupa."
Wanyen Kang tidak bertanya lebih jauh. Ia berkata dengan gembira, "Ong Susiok mendesakku untuk menyelesaikan urusan *pibu* itu. Aku menjanjikan untuk menerima baik. Asal orang she Bok itu datang, apa pun yang diatur, aku akan menerimanya."
"Apakah kau sudah bicara dengan ayahmu? Bersediakah dia memberikan perkenan?"
Wanyen Kang tertawa. "Ma, kau memang baik sekali! Sejak siang aku telah memperdaya orang she Bok itu dan putrinya untuk datang ke mari. Sekarang mereka ditahan di kerangkeng di belakang sini. Mana mungkin Ong Susiok dapat mencari mereka?"
Mendengar itu, Kwee Ceng merasa sangat marah dan kecewa. "Aku menyangka dia bermaksud baik, siapa tahu ia sebenarnya sangat licik!"
Sang ibu pun tidak menyetujui tindakan putranya. "Kau telah mempermainkan anak orang dan mengurung mereka di sini. Apa artinya itu? Lekas merdekakan mereka! Berikan mereka uang, sampaikan maaf, lalu persilahkan mereka pulang."
Kwee Ceng mengangguk, ia setuju dengan sikap nyonya itu.
Wanyen Kang tetap tertawa. "Ma, kau tidak tahu. Orang dunia persilatan seperti mereka tidak memandang uang. Jikalau dilepaskan, tentu mereka akan buka suara. Kalau itu terjadi, bagaimana *suhu* tidak akan mengetahui urusan ini?"
"Habis, apakah kau hendak mengurung mereka seumur hidup?" tanya nyonya itu.
Putranya hanya tertawa.