Chapter 102
Khu Cie Kee melihat seseorang hendak pergi. "He, Sam Hek Miauw, tinggalkan obatmu!" ia membentak.
Pheng Lian Cu menoleh, lalu tertawa lebar. "Cecu, kamu she Pheng!" sahutnya. "Akulah yang oleh kaum kangouw dijuluki Cian Ciu Jin-touw! Kau keliru melihat, Khu Totiang?"
Khu Cie Kee merasa gentar. "Pantaslah ia lihai sekali," pikirnya. Namun, kakaknya terancam bahaya. Maka ia berkata, "Tidak peduli kau seribu tangan atau selaksa tangan, obat itu harus kau tinggalkan! Jangan harap kau bisa meloloskan diri!" Imam itu mengejek dengan sebutan selaksa tangan, sebab julukan "Cian Ciu" dari Pheng Lian Houw berarti "seribu tangan". Lantas Khu Cie Kee melompat menyerang.
Pheng Lian Houw hanya memegang sebatang poan-koan-pit, tetapi ia tidak takut. Ia menyambut serangan itu hingga mereka kembali bertempur.
Cu Cong melihat Ma Giok duduk bersemedi dengan napas yang tersengal, sementara sebelah tangannya tampak hitam legam. Ia bertanya kepada sang imam perihal luka yang dideritanya.
"Dia berjabat tangan denganku; siapa sangka dia menggunakan jarum beracun," sahut imam itu. "Dia" yang dimaksud adalah Pheng Lian Houw.
"Baiklah, itu tidak masalah!" kata Biauw Ciu Sie-seng, si Mahasiswa Tangan Lihai. Ia berpaling kepada kakaknya dan berkata, "Toako, berikan aku satu biji leng-jie!" Kwa Tin Ok tidak mengerti maksud adiknya, namun ia tetap memberikan barang yang diminta. Leng-jie itu adalah lengkak beracun.
Cu Cong mengawasi dua orang yang tengah bertempur itu. Ia merasa tidak sanggup memisahkan mereka, maka ia berkata lagi kepada kakaknya, "Toako, mari kita pisahkan mereka. Aku punya cara untuk menolong Ma totiang." Kwa Tin Ok si Kelelawar Hitam tahu adiknya sangat cerdik, maka ia mengangguk.
Si Mahasiswa Tangan Lihai itu lantas berseru, "Kiranya di sana ada Cian Ciu Jin-touw Pheng Cecu! Kita adalah orang sendiri, lekas berhenti berkelahi, aku hendak bicara!" Sembari mengatakan itu, ia menarik tangan kakaknya, lalu berdua mereka menyerbu ke arah dua orang yang asyik bertempur. Satu memegang kipas, yang lain tongkat, dengan senjata itulah mereka memisahkan kedua petarung.
Baik Khu Cie Kee maupun Pheng Lian Houw heran mendengar perkataan orang yang menganggap mereka semua "orang sendiri". Mereka memilih untuk memisahkan diri sejenak guna mendengar penjelasan.
Dengan tertawa manis, Cu Cong menghadapi Pheng Lian Houw. Ia berkata, "Kami Kanglam Cit Koay dengan Tiang Cun Cu Khu Cie Kee telah bentrok delapan belas tahun yang lalu. Saat itu, lima saudara kami terluka parah, tetapi Khu Totiang pun terluka oleh kami. Urusan itu sampai sekarang belum tuntas." Ia menoleh kepada Khu Cie Kee untuk bertanya, "Bukankah begitu, Totiang?"
Tiang Cun Cu mendongkol sekali. Ia menduga orang itu hendak membuat perhitungan di saat ia sedang menghadapi musuh yang berbahaya. Maka ia menjawab dengan nyaring, "Tidak salah! Habis, kau mau apa?"
"Tetapi kita juga punya sangkutan dengan See Liong Ong," kata Cu Cong. "Aku dengar See Liong Ong bersahabat erat dengan Pheng Cecu. Karena kami punya masalah dengan See Liong Ong, apakah kami jadi turut bersalah terhadap Cecu?"
"Haha! Tidak berani aku menerima itu!" tawa Pheng Lian Houw.
Cu Cong tertawa, lalu berkata lagi, "Karena Pheng Cecu dengan Khu Totiang serta Kanglam Cit Koay bermusuhan, bukankah kalian berdua adalah 'orang sendiri'? Maka, untuk apa bertarung lagi? Dengan begitu, bukankah aku dengan Pheng Cecu pun adalah orang sendiri? Mari, mari kita mengikat persahabatan!" Si Mahasiswa Tangan Lihai mengulurkan tangan untuk menjabat tangan orang bermarga Pheng itu.
Pheng Lian Houw yang cerdik mulai curiga dengan perkataan Cu Cong yang tidak jelas juntrungannya. Bukankah Coan Cin Pay telah menolong murid Kanglam Cit Koay? Tidakkah itu berarti mereka berdua bersahabat? "Tidak, aku tidak dapat diakali. Obatku tidak boleh diperdayakan!" Namun, melihat orang mengulurkan tangan, ia segera menyelipkan senjatanya dan mengeluarkan ban beracunnya.
"Saudara Cu, hati-hati!" Khu Cie Kee memberi peringatan. Ia terkejut.
Cu Cong berpura-pura tidak mendengar dan terus mengulurkan tangannya dengan kelingking yang ditekuk. Dengan begitu, ia telah mengait ban tangan orang itu. Pheng Lian Houw tidak merasakan apa-apa saat berjabat tangan dengan si mahasiswa. Keduanya lantas mengerahkan tenaga masing-masing.
Mendadak, Pheng Lian Houw merasakan tangannya sakit sekali. Ia segera menarik tangannya untuk melihat apa yang terjadi. Ia kaget karena telapak tangannya telah berlubang tiga dengan darah berwarna hitam. Ia merasa gatal, sebuah sensasi gatal yang nikmat, hingga rasa sakitnya lenyap. Namun, sebagai orang lihai, ia insaf bahwa ia telah terkena racun jahat. Semakin tidak terasa sakit, semakin hebat racun itu bekerja. Ia juga merasa lukanya kaku. Ia kaget sekaligus gusar, tidak mengerti mengapa ia bisa dicurangi.
Ketika ia mengangkat kepala, ia mendapati Cu Cong berdiri di belakang Khu Cie Kee. Tangan kiri Cu Cong mengangkat ban beracun yang dijepit dengan dua jari, sementara tangan kanannya menunjuk sebuah lengkak hitam yang ujung tajamnya berlumuran darah. Kanglam Cit Koay nomor dua ini bergelar si Mahasiswa Tangan Lihai, maka tangannya benar-benar lihai. Saat hendak berjabat tangan, ia sudah menyiapkan lengkaknya; begitu kedua tangan bersentuhan, ia mengait ban tangan orang itu dan ujung lengkaknya pun bekerja!
Pheng Lian Houw murka luar biasa dan melompat untuk menerjang. "Kau mau apa!" bentak Khu Cie Kee sambil melintangkan pedang.
Cu Cong segera berkata, "Pheng Cecu, lengkak ini adalah milik kakakku, senjata rahasia yang istimewa. Siapa pun yang terluka karena ini, biarpun ia pandai mengukir langit, ia tidak akan hidup lebih dari tiga jam!" Pheng Lian Houw merasakan tangannya kaku, ia mulai percaya keterangan itu hingga tanpa sadar dahinya mengeluarkan keringat dingin.
"Kau mempunyai jarum beracun, aku mempunyai lengkak yang beracun juga," kata Cu Cong lagi. "Kedua racun ini berbeda sifatnya, maka berbeda pula obatnya. Marilah kita bersahabat dan saling menukar obat. Akur?"
Sebelum Pheng Lian Houw menyahuti, See Thong Thian sudah maju seraya berkata, "Bagus! Kau keluarkan obatmu!"
"Toako, berikan dia obat itu!" perintah Cu Cong kepada kakaknya. Kwa Tin Ok merogoh dua bungkusan kecil dari sakunya, dan Cu Cong menyambutnya.
Khu Cie Kee segera melangkah ke tengah. "Saudara Cu, jangan mudah percaya!" ia memperingatkan. "Harus dia yang menyerahkan obatnya lebih dulu!"
Cu Cong tertawa. "Perkataan seorang laki-laki harus dibuktikan dengan kepercayaan. Aku tidak khawatir dia tidak memberikannya."
Pheng Lian Houw merogoh sakunya, namun mendadak mukanya menjadi pucat. "Celaka!" serunya pelan. "Obatku lenyap!"
Melihat orang itu ragu-ragu, Khu Cie Kee murka. "Hm, kau masih memainkan tipu muslihat iblismu!" bentaknya. "Saudara Cu, jangan berikan!"
Cu Cong tertawa, lalu berkata lagi, "Ambillah! Kita adalah bangsa orang budiman, kata-kata kita ibarat kuda yang dicambuk lari; aku bilang memberi, tentu harus diberikan!" See Thong Thian tahu tangan orang itu lihai, sehingga ia tidak berani menyambut dengan tangan kosong. Sebagai gantinya, ia menyodorkan senjata pengayuhnya. Cu Cong meletakkan obat di atas pengayuh itu, kemudian See Thong Thian menariknya untuk mengambil bungkusan tersebut.
Semua orang heran dengan kejadian ini. Mengapa Cu Cong memberikan obatnya? Mengapa ia tidak memaksa pihak lawan untuk memberikan obat mereka terlebih dahulu? See Thong Thian masih menyangsikan apakah obat itu asli. "Kanglam Cit Koay adalah orang-orang kenamaan, tidak mungkin ia mencelakai orang dengan obat palsu!"
Cu Cong tertawa. "Tidak mungkin, tidak mungkin!" Ia berkata seraya perlahan-lahan memberikan lengkaknya kepada Kwa Tin Ok. Kemudian, dari sakunya ia mengeluarkan beberapa barang berupa sapu tangan, kim-cie-piauw, beberapa potong perak hancur, serta sebuah pie-yan-hu putih. Pheng Lian Houw terbelalak melihat barang-barang itu. Semuanya adalah miliknya. Ia heran mengapa benda-benda itu bisa berada di tangan orang lain. Ia tidak menyangka bahwa saat berjabat tangan tadi, Cu Cong telah mempertontonkan kepandaiannya.
Ada dua bungkusan obat, masing-masing berwarna merah dan abu-abu. "Bagaimana cara pakainya?" tanya Pheng Lian Houw. "Yang merah untuk dimakan, yang abu-abu untuk dibeboreh," sahut Cecu itu terpaksa.
Cu Cong menoleh kepada Kwee Ceng. "Lekas ambil air! Juga dua buah mangkok!" perintahnya. Bocah itu lari ke dalam hotel untuk mengambil mangkok dan air. Segera setelah itu, mereka mulai merawat Ma Giok.
Satu mangkok lainnya hendak ia berikan kepada Pheng Lian Houw. "Tunggu dulu!" cegah Cu Cong. "Berikan pada Ong Totiang!" Kwee Ceng terbelalak, namun ia tetap menyerahkan mangkok itu.
Ong Cie It juga heran. "Eh, bagaimana cara memakai dua bungkus obatmu ini?" tanya See Thong Thian tidak sabaran.
"Tunggu sebentar, jangan terburu-buru!" kata Cu Cong. "Baru satu jam tiga perempat menit, dia tidak bakal mati." Sembari berkata, Cu Cong mengeluarkan belasan bungkus obat dari sakunya.
Melihat itu, Kwee Ceng girang bukan main. "Itulah obatnya Ong Totiang!" serunya. Ia lantas menyambut semua obat itu, membuka bungkusannya, dan meletakkannya di depan Ong Cie It. Ia berkata, "Totiang, pilihlah sendiri mana yang kau butuhkan."
Ong Cie It mengawasi semua obat itu, menjumput gu-cit dan tiga bungkusan lainnya, lalu memasukkannya ke dalam mulut untuk dikunyah dan ditelan dengan air.
Nio Cu Ong mendongkol sekaligus mengagumi sang lawan. "Begini lihai si mahasiswa jorok ini," pikirnya. "Ia cuma menepuk bajuku, obat itu sudah langsung pindah ke tangannya?" Karena gusar, ia memutar tubuh dan mencabut guntingnya. "Mari, mari! Mari kita mengadu senjata!" tantangnya.
"Mengadu senjata?" Cu Cong tertawa. "Oh, sungguh-sungguh aku tidak sanggup menandinginya!"
Khu Cie Kee pun menyela, "Tuan ini adalah Cecu Pheng Lian Houw, tetapi tuan-tuan yang lainnya belum kami kenal?"
See Thong Thian, dengan suaranya yang serak, memperkenalkan kawan-kawannya.
"Bagus!" seru Tiang Cun Cu. "Di sini telah berkumpul semua orang rimba persilatan yang kenamaan."