Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 217

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 217

Di tempat itu, sang nona menyulut api untuk membakar gudang kayu di keempat penjuru. Dalam sekejap, api berkobar hebat dan memicu kebakaran besar.

Terdengar teriakan orang-orang yang berlarian, "Kebakaran! Kebakaran! Tolong! Padamkan api!"

"Mari lekas ke depan!" bisik sang nona kepada rekannya. "Nanti mereka keburu lenyap lagi!"

"Malam ini aku harus berhasil menikam mati Wanyen Lieh!" kata Kwee Ceng sengit.

"Tetapi kita harus menemani Suhu masuk ke istana terlebih dahulu," kata Oey Yong. "Setelah itu, kita minta Ciu Toako menghadapi See Tok agar kita leluasa menghadapi sepasang manusia celaka itu!"

"Benar!" Kwee Ceng menyetujui.

Mereka lantas ikut berdesakan menuju ke depan, tepat saat Wanyen Lieh bersama Yo Kang dan Auwyang Hong terlihat keluar lagi dari rumah makan. Mereka menguntit dari kejauhan, melintasi sejumlah jalan dan gang, hingga sampai di Penginapan Siang Hong di See-sie-tiang. Setelah sekian lama menunggu dan tidak melihat Wanyen Lieh keluar lagi, mereka menduga bahwa ketiga orang itu menginap di sana.

"Mari kita pulang. Setelah mengajak Ciu Toako, barulah kita datangi mereka lagi!" kata Oey Yong.

Kwee Ceng menurut. Mereka pun kembali ke Penginapan Kim Hoa. Baru saja tiba di depan penginapan, terdengar suara berisik Ciu Pek Thong. Kwee Ceng terkejut karena mengkhawatirkan luka gurunya. Ia segera berlari masuk.

Setibanya di pekarangan, hatinya lega. Di sana tampak Pek Thong sedang berselisih dengan beberapa anak. Rupanya ia kalah bertaruh dan hendak mangkir, tetapi anak-anak itu tidak mau mengerti. Begitu melihat Oey Yong, karena takut ditegur, Pek Thong langsung meloyor masuk.

Oey Yong dan Kwee Ceng mengikuti langkahnya. Sesampainya di dalam, sang nona mengeluarkan berbagai macam topeng yang telah dibelinya lalu memperlihatkannya kepada orang tua itu. Pek Thong sangat gembira. Ia mengenakan topeng-topeng itu satu demi satu; sebentar ia menjadi hakim neraka, sebentar kemudian menjadi hantu.

Oey Yong kemudian mulai berbicara. Ia meminta kesediaan orang tua itu untuk membantunya menghadapi Auwyang Hong nanti.

"Baik!" jawab Pek Thong. "Nanti akan kulawan dia dengan kedua tanganku, menggunakan dua macam ilmu silat sekaligus!"

Oey Yong khawatir orang tua ini akan bertingkah seperti saat di Pulau Tho Hoa. Waktu itu, demi menghukum diri sendiri karena telah menggunakan ilmu silat Kiu Im Cin-keng, ia mengikat kedua tangannya sendiri saat bertarung melawan ayahnya. Oleh karena itu, Oey Yong segera berkata, "See Tok adalah orang yang sangat licik. Jika Anda menggunakan Kiu Im Cin-keng untuk menghajarnya, Anda tentu tidak melanggar larangan kakak seperguruan Anda!"

"Ah, tidak bisa!" bantah Ciu Pek Thong sambil membelalakkan matanya. "Lagipula, aku telah menguasai ilmu silat baru tanpa perlu menggunakan Kiu Im Cin-keng."

Oey Yong tidak mau memaksa karena khawatir orang tua itu akan merajuk.

Sejak siang hari, pikiran Ciu Pek Thong sudah melayang ke dapur istana. Begitu jarum jam menunjukkan pukul dua dini hari, Kwee Ceng segera menggendong gurunya. Dengan melompati atap-atap genting, mereka berempat menyusup ke dalam istana, langsung menuju ke dapur yang terletak di belakang Bukit Liok Pouw San, dekat dengan Pendopo Kee-beng-thian.

Pendopo ini merupakan tempat menyiapkan hidangan untuk kaisar. Istana memang dijaga dengan ketat, tetapi pada tengah malam seperti itu, suasana dapur sangat sepi; hanya menyisakan nyala api yang terang benderang. Beberapa kasim yang bertugas menjaga di sana pun sudah tertidur pulas.

Kwee Ceng mendudukkan Ang Cit Kong di atas blandar atap. Sementara itu, Oey Yong dan Ciu Pek Thong menggeledah lemari makanan untuk mencari hidangan yang ada. Tak lama kemudian, mereka berempat sudah asyik bersantap hingga janggut mereka bergoyang-goyang.

"Ah, pengemis tua, makanan di sini tidak ada yang lebih lezat daripada masakan Nona Oey," kata Pek Thong sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Jauh-jauh kau datang ke mari, ternyata hasilnya tidak memuaskan."

"Sebenarnya aku ingin menyantap hidangan Wanyen Ngo-tin-kwee, sayang sekali kokinya entah pergi ke mana," sahut Ang Cit Kong. "Makanan yang ada di sini hanyalah hidangan biasa, rasanya memang kurang lezat. Besok, sebaiknya kita tangkap koki itu dan suruh dia memasak untuk kita."

"Aku tidak percaya masakannya bisa mengalahkan masakan Nona Oey!" timpal Pek Thong.

Oey Yong tersenyum. Ia tahu dirinya dipuji karena Pek Thong merasa berterima kasih telah dibelikan topeng.

"Aku ingin tetap tinggal di sini untuk menunggu koki itu," kata Cit Kong. "Jika kau merasa bosan, pergilah bersama Ceng-er, biar Yong-er yang menemaniku di sini. Besok malam barulah kau datang untuk menjemputku."

Pek Thong mengeluarkan topeng malaikat pelindung kota miliknya, lalu memakainya. "Tidak, aku akan tinggal di sini menemanimu!" katanya sambil tertawa. "Besok aku akan memakai topeng ini untuk menemui kaisar! Saudara Kwee dan Nona Oey, kalian awasilah See Tok, jangan sampai ia berhasil mencuri surat wasiat Gak Bu Bok!"

"Loo Boan Tong benar, segeralah kalian pergi," kata Ang Cit Kong. "Yang penting kalian harus tetap waspada."

Kedua muda-mudi itu menyahut bahwa mereka akan menaati pesan tersebut.

"Malam ini jangan bertarung dengan tua bangka berbisa itu. Tunggu saja besok, lihat aksiku!" Pek Thong kembali berpesan.

"Meskipun tidak menang, kita harus tetap melawannya," kata Oey Yong.

Bersama Kwee Ceng, ia pun segera berlalu dengan maksud pergi ke Penginapan Siang Hong untuk mengintai Wanyen Lieh dan kedua rekannya.

Setelah melewati dua pendopo istana, sang nona merasakan hawa dingin dan telinganya menangkap suara gemercik air. Angin sepoi-sepoi membawa keharuman bunga yang semerbak. Oey Yong yang sangat menyukai bunga segera berpikir bahwa taman di istana ini pasti dipenuhi beraneka warna bunga yang indah dan ia harus melihatnya. Oleh karena itu, ia menarik tangan Kwee Ceng untuk mengajaknya mencari sumber keharuman tersebut.

Perjalanan menuju tempat itu ternyata tidak mudah. Mereka merasakan udara yang kian dingin dan suara deru air yang semakin keras. Setelah menyusuri dua lorong panjang yang berliku, mereka akhirnya tiba di sebuah taman asri yang dipenuhi pohon cemara dan rumpun bambu, menciptakan suasana yang teduh dan tenang. Oey Yong merasa gembira. Ia merasa bahwa tata jalan di istana ini memang kalah indah dibanding jalan-jalan di Pulau Tho Hoa, tetapi keasrian pepohonannya tidak kalah bersaing.

Setelah berjalan beberapa langkah, ia melihat air terjun mengalir turun dari bukit batu putih bagaikan rantai perak, jatuh ke sebuah kolam yang luas. Di dalam kolam itu tumbuh banyak tanaman teratai dengan bunga-bunga yang mekar berwarna merah dan putih. Di tepi kolam berdiri sebuah paviliun indah dengan papan nama bertuliskan "Cui Han Tong".

Tanpa ragu, Oey Yong melangkah masuk ke dalam paviliun tersebut. Di bagian depan paviliun tampak beraneka bunga musim panas yang harum, seperti melati, giokkui, dan ang-ciauw. Di bagian belakang, dupa dan hio wangi dibakar, semakin menambah keharuman ruangan. Di atas meja tersaji berbagai macam buah-buahan segar, seperti umbi teratai, semangka, persik, dan lainnya. Di atas kursi tergeletak beberapa buah kipas. Tempat itu tampaknya biasa digunakan oleh kaisar untuk bersantai menikmati angin malam sebelum beristirahat.

"Alangkah beruntungnya kaisar!" desah Kwee Ceng.

"Nah, cobalah kau menjadi kaisar barang sekali!" kata Oey Yong sambil tertawa.

Ia menarik tangan pemuda itu untuk duduk di atas ranjang peristirahatan, lalu mengambil beberapa buah segar. Sambil berlutut di hadapan Kwee Ceng, ia menyuguhkan buah-buah itu dan berkata, "Silakan Baginda menikmati buah-buahan ini!"

Kwee Ceng tertawa. Sambil mengambil buah persik, ia berkata, "Silakan bangun!"

"Salah!" potong Oey Yong. "Seorang kaisar tidak akan berkata 'silakan bangun', itu terlalu sungkan!"

Kwee Ceng pun tertawa, begitu pula sang nona.

Di tengah kegembiraan yang membuat mereka hampir terlena, tiba-tiba terdengar bentakan dari kejauhan, "Siapa di sana?!"

Keduanya terkejut. Serentak mereka melompat untuk bersembunyi di balik bukit batu buatan. Bentakan itu disusul dengan langkah kaki yang cepat dan berat dari dua orang. Mendengar derap langkah kaki tersebut, hati kedua muda-mudi itu menjadi tenang.

"Jangan pedulikan mereka!" bisik Oey Yong. "Dua 'kantong nasi' itu tidak akan bisa menemukan kita!"

Saat itu terlihat dua orang bertubuh besar tiba di paviliun dengan tangan masing-masing menggenggam sebilah golok. Mereka mengedarkan pandangan ke sekeliling. Sesaat kemudian, salah seorang dari mereka tertawa.

"Ah, Lao Su, kau pasti berhalusinasi melihat setan!" katanya.

"Ya, beberapa hari ini mataku rasanya agak lamur!" sahut rekannya yang dipanggil Lao Su.

Kedua penjaga itu pun segera mengundurkan diri.

Oey Yong tertawa geli di dalam hati. Ia baru saja hendak menarik tangan Kwee Ceng untuk keluar dari persembunyian, tetapi sebelum mereka sempat menampakkan diri, telinga mereka menangkap suara erangan tertahan dari kedua penjaga istana tadi. Meskipun suara itu sangat perlahan, sang nona dan si pemuda langsung tahu bahwa itu adalah suara orang yang titik meridian atau jalan darahnya ditotok.

Mereka pun berpikir, "Pasti Ciu Toako tidak sabar dan ikut keluar berjalan-jalan!"

"Paviliun di samping air terjun itu adalah Cui Han Tong!" Tiba-tiba Oey Yong dan Kwee Ceng mendengar suara seseorang berbisik perlahan. "Mari kita ke sana."

Kedua muda-mudi itu terkejut setengah mati. Mereka mengenali suara itu sebagai suara Wanyen Lieh. Mereka saling menggenggam tangan dengan erat dan menahan napas dalam persembunyian. Tubuh mereka sama sekali tidak bergerak, namun mata mereka tetap awas mengawasi ke arah depan.

Di bawah siraman cahaya bintang, tampak bayangan beberapa orang yang segera dapat mereka kenali. Selain Wanyen Lieh dan Auwyang Hong, terlihat pula Pheng Lian Houw, See Thong Thian, Leng Tie Siang-jin, dan Nio Cu Ong.

"Aneh, untuk apa mereka menyusup ke istana?" pikir kedua muda-mudi itu. "Mungkinkah mereka juga berniat mencuri makanan kaisar?"

"Saya telah meneliti surat yang ditinggalkan oleh Gak Bu Bok," terdengar suara Wanyen Lieh berbicara perlahan. "Saya juga telah memeriksa surat-surat dari kedua kaisar, Gaozong dan Xiaozong. Oleh karena itu, saya berani memastikan bahwa surat wasiat Gak Bu Bok pasti disimpan di sini, lima belas langkah di sebelah timur Cui Han Tong."

Sambil berkata demikian, pangeran dari Kerajaan Kim itu menunjuk dengan tangannya. Rekan-rekannya segera melayangkan pandangan ke arah yang ditunjuk. Di sana hanya ada air terjun, tidak terlihat benda apa pun lainnya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment