Chapter 78
"Sayang, Tuan," kata pelayan setelah membaca resep obat itu. "Kebetulan obat hiat-kat, gu-cit, bek-yo, dan hitam baru saja habis." Tanpa meminta penjelasan, Kwee Ceng mengambil resepnya dan bergegas lari ke rumah obat yang lain.
Di sana ia diberi tahu bahwa keempat rupa obat itu tidak ada. Ia pun terpaksa pergi ke toko obat lainnya. Namun, betapa terkejutnya ia saat tujuh atau delapan rumah obat yang ia datangi kehabisan empat jenis bahan obat tersebut. Ia menjadi bingung dan kesal. Bahkan di dua atau tiga rumah obat terbesar, obat-obatan itu tidak tersedia karena katanya baru saja ada orang yang memborong semuanya.
"Aku mengerti sekarang," ujar bocah itu kemudian. "Tentulah orang dari istana Chao Wang yang memborong semua obat itu karena mereka tahu Ong Cinjin pasti membutuhkannya. Sungguh jahat!" Dengan perasaan masgul, bocah itu berlari pulang ke hotel untuk menceritakan kegagalannya kepada Ong Cie It.
Imam itu menghela napas, wajahnya tampak muram. Kwee Ceng yang sangat jujur dan berhati lembut lantas meletakkan kepalanya di atas meja sambil menangis terisak-isak karena putus asa.
Ong Cie It tertawa. "Jiwa manusia sudah ditakdirkan. Kematian pun tidak harus disayangkan. Lagi pula belum tentu aku bakal mati, jadi mengapa kau menangis?" Lalu, dengan suara halus ia mulai bernyanyi. Kwee Ceng terheran-heran dan memperhatikan. Cie It tertawa lagi, lalu duduk bersemadi di atas pembaringan. Bocah itu tidak berani mengganggu dan diam-diam keluar dari kamar.
"Mengapa aku tidak pergi ke tempat yang lebih jauh?" pikirnya kemudian. "Di sana belum tentu obat itu sudah dibeli orang." Memikirkan hal itu, hatinya merasa lega. Ia pun bermaksud bertanya kepada pelayan hotel di mana letak toko obat terdekat. Tepat saat ia hendak mencari pelayan, pelayan itu datang dengan cepat dan menyerahkan sepucuk surat kepadanya.
Surat itu dialamatkan kepadanya, ditulis dengan tulisan yang bagus, dan kertasnya berbau harum. Ia heran. "Siapa yang mengirim surat ini?" tanyanya dalam hati. Ia segera merobek sampul surat untuk membaca isinya.
Surat itu berbunyi singkat: "Aku menunggu kau di telaga di luar kota barat, jaraknya kira-kira sepuluh lie. Ada urusan penting yang hendak aku bicarakan. Lekas datang!" Surat itu tidak disertai tanda tangan, hanya sebuah lukisan gambar pengemis cilik. Kwee Ceng sangat gembira saat mengenali sosok Oey Yong yang tersenyum berseri-seri dalam gambar tersebut.
"Siapa yang membawa surat ini?" tanyanya kepada pelayan dengan perasaan girang sekaligus heran.
"Seorang gelandangan di jalan besar," jawab pelayan itu.
Kwee Ceng masuk ke kamar Cie It dan melihat imam itu sedang melatih kaki serta tangannya. Ia lantas memberi tahu bahwa ia ingin pergi membeli obat di tempat lain.
"Kita bisa memikirkan ini, mengapa mereka tidak?" kata sang imam. "Tidak usahlah kau pergi."
Kwee Ceng tidak putus asa; ia ingin mencoba. Ia ingat Oey Yong sangat cerdik, mungkin ia bisa berunding dengan temannya itu. Maka, ia memberitahu bahwa ia ingin menemui sahabatnya dan menunjukkan surat dari Oey Yong.
Ong Cie It berpikir sejenak. "Bagaimana cara kau mengenal anak itu?" tanyanya.
Kwee Ceng menceritakan pertemuan pertamanya dengan Oey Yong hingga mereka menjadi sahabat.
"Aku telah menyaksikan caranya mempermainkan Sam-tauw-kauw Hauw Thong Hay," kata Ong Cinjin. "Gerak tubuhnya luar biasa. Kau harus berhati-hati. Dalam ilmu kepandaian, dia jauh lebih lihai daripada kau. Aku melihat seolah ada sifat-sifat kesesatan terselip padanya, hanya aku tidak tahu pasti apa itu."
"Kami bersahabat sangat erat, sehidup semati, dia tidak mungkin mencelakaiku," ujar Kwee Ceng yang sangat percaya pada sahabatnya itu.
Ong Cinjin menghela napas. "Baru berapa lama kalian bersahabat?" katanya. "Mana bisa itu disebut persahabatan sehidup semati? Jangan kau pandang enteng dia hanya karena dia bocah! Kau tahu, jika ia hendak mencelakaimu, kau tentu tidak akan mampu menghadapinya."
Dalam hatinya, Kwee Ceng berpikir, "Totiang bicara begini karena ia belum tahu sifat Oey Hiantee." Ia menyebutnya "Oey Hiantee" atau "Adik Oey" sebagai tanda ia sangat percaya pada Oey Yong. Ia pun menceritakan perihal kebaikan sahabatnya itu.
Ong Cinjin tertawa. "Baik, pergilah lekas! Semua anak muda berkelakuan seperti kamu. Tanpa mengalami sesuatu, tidak akan bertambah kecerdikanmu." Imam itu tetap merasa yakin bahwa Oey Yong bukanlah orang dari golongan yang baik.