Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 201

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 201

"Tinggallah kakak angkatku, Ciu Pek Thong, tetapi ia pun sudah terjun ke laut untuk bunuh diri." Mengingat Ciu Pek Thong, Kwee Ceng menjadi bertambah benci dan murka kepada Auwyang Hong.

Ia merasa kasihan kepada kakak angkatnya itu, yang memahami Kiu Im Cin-keng tetapi tidak bersedia menggunakannya.

Kakak angkatnya itu pun pandai ilmu silat membelah diri, seolah-olah menjadi dua orang dengan dua pikiran yang berbeda.

Sayang sekali, kepandaian itu kini tidak ada gunanya lagi.

"Ah, Kiu Im Cin-keng! Kepandaian dua tangan, kiri dan kanan, saling berkelahi sendiri." Berpikir sampai di situ, Kwee Ceng seperti melihat bintang terang di langit yang gelap.

"Memang sekarang aku tidak dapat melawan See Tok," demikian ia mendapat pemikiran baru, "Tetapi di dalam Kiu Im Cin-keng ada pelajaran istimewa, seperti istimewanya cara berkelahi dengan dua tangan itu. Kenapa aku tidak mendalami ilmu itu bersama Yong-jie, mendalaminya terus bersama-sama siang dan malam, sampai tiba saatnya mengadu jiwa dengan si tua bangka berbisa itu?"

Meskipun Kwee Ceng berpikir keras, ia tidak memperoleh jalan keluar yang memuaskan.

"Ah, mengapa aku tidak menanyakan pendapat Suhu?" kemudian ia teringat lagi. "Suhu memang kehilangan kepandaiannya, tetapi tidak ingatannya. Beliau tentu dapat memberi petunjuk kepadaku."

Tanpa membuang waktu lagi, Kwee Ceng segera kembali.

Di atas pohon, ia mengutarakan apa yang baru saja dipikirkannya kepada gurunya. Tampaknya Ang Cit Kong menyetujui pemikiran muridnya ini.

"Sekarang coba kau membaca perlahan-lahan isi Kiu Im Cin-keng," kata sang guru. "Nanti aku lihat cara apa yang dapat mempercepat pendalamanmu."

Kwee Ceng patuh, ia pun mulai membaca.

Saat si anak muda membaca bagian, "Orang tahu dengan duduk berdiam dia akan memperoleh kemajuan, tetapi dia tahu untuk mencapai kemahiran dibutuhkan keinsafan, ketenangan, dan kecerdasan; tubuh dan pikiran harus bekerja bersamaan. Kita harus bergerak seperti berdiam, walaupun kita dibentur, kita tetap tenang," mendadak Cit Kong melompat bangun seraya berseru, "Oh!"

"Ada apa, Suhu?" tanya Kwee Ceng heran.

Pak Kay tidak menyahut, ia hanya terus berpikir, berusaha memahami arti dari kata-kata Kiu Im Cin-keng itu.

"Coba kau ulangi sekali lagi," katanya kemudian.

Kwee Ceng gembira. Ia percaya gurunya ini sudah memperoleh suatu petunjuk, maka ia pun membaca lagi.

"Benar," kata Cit Kong sambil mengangguk-angguk. "Lanjutkan terus."

Kwee Ceng patuh, ia terus melafalkannya dari hafalan. Menjelang bagian akhir, ia membaca, "Mokansukojie pintek kim-coat-ouwsongsu kosannie?"

"Apa yang kau katakan?" tanya Cit Kong heran, memotong bacaannya.

"Aku pun tidak tahu artinya," sahut Kwee Ceng. "Ciu Toako tidak menjelaskannya."

"Nah, bacalah terus."

Kwee Ceng melanjutkan membaca, "Kiatjie-hoatsu katlo?" dan seterusnya, melafalkannya dengan bunyi beradunya gigi dan lidah.

"Oh, kiranya kitab itu pun memuat mantra pengusir iblis?" kata Cit Kong kemudian.

Hampir saja ia melanjutkan kata-katanya, "Kiranya si imam busuk gemar main gila untuk memperdayai orang?" Namun, ia segera menahan diri. Ia mengerti bahwa Kiu Im Cin-keng pastilah sebuah kitab yang sangat istimewa.

"Anak Ceng," katanya setelah terdiam sesaat, "Kitab Kiu Im Cin-keng memuat ilmu yang luar biasa lihai. Tidak mungkin ilmu ini dapat dikuasai hanya dalam sehari semalam."

Kwee Ceng merasa kecewa dan hampir putus asa.

"Sekarang, pergilah cepat dan ubah dua puluh batang pohon itu menjadi sebuah rakit," kata Cit Kong. "Jalan terbaik bagimu adalah menyelamatkan diri. Aku akan tinggal di sini bersama Yong-jie, aku akan mengawasi arah selatan."

"Tidak, Suhu!" kata Kwee Ceng. "Mana mungkin aku meninggalkan Suhu?"

"See Tok segan terhadap Oey Lo-sia, jadi dia tidak akan berani mencelakai Yong-jie," Cit Kong menjelaskan. "Sedangkan aku sendiri sudah tidak berguna lagi."

Kwee Ceng merasa sedih dan mendongkol. Karena sangat masygul, ia melampiaskannya dengan menghantam batang pohon di depannya. Pukulannya sangat keras, hingga suaranya terdengar jauh dan menggema.

"Eh, anak Ceng," tanya Cit Kong heran. "Barusan kau memukul dengan jurus silat apa?"

"Mengapa, Suhu?"

"Pukulanmu terdengar sangat hebat, tetapi mengapa batang pohon itu sama sekali tidak bergeming?"

Wajah si anak muda memerah. Ia mengaku bahwa karena kehabisan tenaga, ia tidak dapat mengerahkan tenaga lagi.

"Bukan, bukan begitu," kata sang guru. "Pukulan tadi terasa agak aneh. Coba kau ulangi sekali lagi!"

Kwee Ceng masih merasa heran, tetapi ia patuh. Ia menghantam pohon itu lagi. Suara hantamannya terdengar sangat keras, tetapi pohon itu tetap tidak roboh.

Kini ia menyadarinya sendiri. Maka ia segera berkata, "Sebenarnya ini adalah pukulan Kong-beng-kun yang terdiri atas tujuh puluh dua jurus, diajarkan oleh Ciu Toako."

"Kong-beng-kun?" tanya Cit Kong. "Aku belum pernah mendengarnya."

"Kong-beng-kun adalah ilmu pukulan tangan kosong. Arti sebenarnya adalah 'kosong dan terang'."

"Selama Ciu Toako dikurung di Pulau Tho Hoa," Kwee Ceng menjelaskan, "ia menganggur setiap hari, lalu menciptakan ilmu pukulannya ini. Ia mengajarkan enam belas huruf yang menjadi rahasia jurus silatnya, yaitu: 'Keberhasilan besar tampak seperti kerusakan, namun kegunaannya tidak akan berkurang; kepenuhan yang meluap tampak seperti kekosongan, namun kegunaannya tidak akan habis.' Haruskah murid mempraktikkannya sekarang agar Suhu bisa melihatnya?"

"Malam ini sangat gelap, aku tidak akan bisa melihatnya," sahut sang guru. "Lagi pula, ini adalah ilmu silat tingkat tinggi, tidak perlu kau peragakan sekarang. Cukup kau sebutkan saja agar aku bisa mendengarnya."

Kwee Ceng segera menuturkannya, mulai dari jurus pertama "Mangkuk Kosong Diisi Nasi", jurus kedua "Rumah Kosong Ditinggali Orang", dan seterusnya. Ia juga menjelaskan makna dari setiap kata rahasia tersebut.

Ciu Pek Thong berkarakter jenaka dan urakan, karena itu nama jurus-jurusnya pun terdengar lucu.

Ang Cit Kong sangat cerdas. Setelah mendengar penjelasan hingga jurus kedelapan belas, ia menyela, "Sudah cukup, tidak perlu kau teruskan lagi. Sekarang kita bisa menghadapi See Tok!"

"Dengan menggunakan Kong-beng-kun ini?" tanya Kwee Ceng heran. "Aku khawatir latihanku belum cukup matang."

"Aku tahu itu, tetapi kita harus mencari jalan hidup di tengah kematian; kita harus berani menerjang bahaya. Bukankah kau membawa belati pemberian Khu Cie Kee?"

Kwee Ceng menghunus belatinya, yang sinarnya masih berkilauan meski dalam kegelapan.

"Sekarang pergilah menebang pohon menggunakan belati ini dengan menerapkan ilmu silat Kong-beng-kun," perintah Cit Kong.

Kwee Ceng merasa ragu. Belati itu panjangnya hanya satu kaki lebih, dan bilahnya pun sangat tipis.

"Aku telah mengajarkan Hang Liong Sip-pat Ciang kepadamu," kata gurunya. "Itu adalah ilmu silat aliran luar, *Gwa-kee*. Sebaliknya, Kong-beng-kun adalah ilmu silat aliran dalam, *Lay-kee*. Jika kau menggabungkan kedua ilmu silat itu, belati ini akan menjadi sangat tajam hingga mampu memotong emas dan permata! Apa pulalah artinya sebatang pohon? Ingat, saat mengerahkan tenaga, kau harus mengutamakan kata kunci 'kosong' tersebut."

Kwee Ceng langsung mengerti, lalu ia segera melompat turun. Ia mencari sebatang pohon besar. Untuk menebangnya, ia mengerahkan tenaga Kong-beng-kun—tenaga yang ringan, seolah acuh tak acuh. Ia hanya menggores pangkal pohon itu berkeliling, tetapi akhirnya, pohon besar itu roboh. Bukan main gembiranya ia. Ia terus mencobanya, dan dalam waktu singkat sudah berhasil menumbangkan belasan pohon. Dengan cara ini, bahkan sebelum fajar menyingsing, ia telah berhasil menyediakan seratus batang pohon yang diminta.

"Anak Ceng, naiklah!" tiba-tiba Cit Kong memanggil.

Murid itu pun melompat kembali ke atas pohon. "Suhu, cara ini benar-benar berhasil!" serunya. "Aku sama sekali tidak perlu mengerahkan tenaga besar."

"Menggunakan tenaga besar justru berarti gagal, bukan?"

"Benar, Suhu."

"Untuk menebang pohon, tenagamu memang sudah lebih dari cukup," kata sang guru. "Namun, untuk melawan See Tok, itu masih kurang. Oleh karena itu, kau harus mendalami Kiu Im Cin-keng terlebih dahulu, baru ada kesempatan untuk mengalahkannya. Mari kita pikirkan siasat untuk melawannya."

Jika menyangkut urusan berpikir atau mencari akal, Kwee Ceng memang tidak bisa berbuat banyak. Karena itu, ia hanya diam saja.

"Aku juga belum menemukan jalan keluar," kata Cit Kong setelah sekian lama terdiam. "Kita tunggu saja besok, biar Yong-jie yang memikirkannya. Anak Ceng, mendengar kau membaca Kiu Im Cin-keng tadi, aku teringat akan sesuatu. Setelah kupikir-pikir, tampaknya pemikiranku tidak salah. Sekarang, bantu papah aku, aku ingin turun untuk berlatih silat."

Kwee Ceng terkejut. "Jangan, Suhu!" cegahnya. "Luka Suhu belum sembuh benar! Bagaimana mungkin Suhu bisa berlatih?"

"Namun, kitab itu sendiri menyebutkan, 'tubuh dan pikiran harus bekerja bersamaan, bergerak tetapi seperti diam, walaupun dihantam, kita tetap tenang.' Oleh karena itu, mari kita turun."

Kwee Ceng masih belum mengerti, tetapi ia tetap membopong gurunya itu turun. Ang Cit Kong berdiri tegak sambil memusatkan pikirannya, lalu memasang kuda-kuda.

Ketika ia melayangkan tinju, dalam kegelapan samar-samar Kwee Ceng melihat tubuh gurunya terhuyung. Ia segera maju untuk menolong, tetapi dengan cepat pula gurunya sudah kembali berdiri kokoh, hanya napasnya saja yang agak memburu.

"Tidak apa-apa," kata sang guru.

Sesaat kemudian, Cit Kong melayangkan pukulan dengan tangan kirinya. Kwee Ceng kembali melihat gurunya terhuyung, tetapi kali ini ia diam saja dan terus mengawasi dengan saksama.

Cit Kong terus melayangkan pukulan berulang-ulang, mulai dari gerakan lambat hingga berangsur-angsur cepat. Ternyata, semakin lama gerakannya semakin mantap. Mulanya napasnya terdengar berat, namun lambat laun menjadi teratur kembali. Saat memutar tubuh pun, kuda-kudanya tetap kokoh.

Sambil terus berlatih, Ang Cit Kong berhasil menyelesaikan seluruh jurus Hang Liong Sip-pat Ciang. Karena merasa tenaganya masih kuat, ia melanjutkannya dengan Hok Houw Kun, ilmu silat Menaklukkan Harimau.

Segera setelah gurunya selesai berlatih, Kwee Ceng berseru dengan sangat gembira, "Suhu sudah sembuh!" Ia merasa gembira bukan kepalang.

"Bopong aku naik!" pinta Ang Cit Kong.

Kwee Ceng patuh, ia membopong gurunya lalu melompat kembali ke atas pohon.

"Hebat, Suhu, hebat!" puji Kwee Ceng.

"Hebat apanya!" kata sang guru sambil menghela napas. "Apa yang kuperagakan tadi hanya indah dipandang, tetapi tidak ada gunanya."

Kwee Ceng merasa heran.

"Setelah terluka, aku hanya berdiam diri untuk beristirahat," jelas gurunya. "Padahal, sebenarnya semakin dilatih dan banyak bergerak, keadaannya justru akan semakin membaik."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment