Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 128

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 128

Ia berkata pula, "Saat ini banyak orang yang menyakinkan ilmu silat, tetapi kepandaiannya tidak ada seberapa."

"Siapakah orang-orang itu, Lojinkee?" tanya Oey Yong.

"Kaum Rimba Persilatan menyebutnya Tong Shia, See Tok, Lam Tee, Pak Kay, dan Tiong Sin Thong," sahut orang tua itu.

"Semua orang itu pernah aku temui sendiri. Aku lihat di antaranya yang terlihay ialah Tiong Sin Thong. Yang lainnya memang memiliki keistimewaan, tetapi ada kekurangannya masing-masing. Harus diketahui, ada panjang mesti ada pendek. Asal kita mengetahui cacat orang, tidak susah untuk merobohkannya."

Liok Chungcu bersama Kwee Ceng dan Oey Yong terperanjat. Koan Eng sendiri tidak, sebab ia tidak tahu siapa lima orang lihai yang disebutkan itu. Oey Yong terkejut dan mendongkol karena suara orang itu bernada menghina ayahnya. Ia tidak lagi memedulikan bahwa orang tersebut dapat berjalan di atas air sambil menjunjung jambangan, napasnya mengeluarkan asap, dan remasan tangannya sangat kuat.

"Apakah tidak bagus jika Locianpwee menghajar roboh kelima orang itu supaya namamu menjadi sangat kesohor di kolong langit ini?" tanya Oey Yong seraya tertawa.

Kiu Cian Jin tidak menjawab, ia hanya melanjutkan kata-katanya, "Sekarang ini Ong Tiong Yang itu telah menutup mata. Ketika terjadi perundingan ilmu silat pedang di Gunung Hoa San, lantaran kebetulan ada urusan, aku tidak dapat turut hadir. Dengan begitu, gelar jago silat nomor satu di kolong langit ini didapatkan oleh imam tua yang telah meninggal dunia itu. Tatkala itu mereka berlima memperebutkan kitab Kiu Im Cin Keng. Katanya, siapa yang paling tangguh, dialah yang mendapatkan kitab itu. Tujuh hari tujuh malam mereka bertempur, akhirnya Tong Shia, See Tok, Lam Tee, dan Pak Kay menyerah semua. Kemudian, sesudah Ong Tiong Yang meninggal, timbul lagi gelombang. Katanya ketika si imam tua hendak menutup mata, kitabnya itu diwariskan kepada Ciu Pek Thong, adik seperguruannya. Tong Shia Oey Yok Su lantas pergi mencari Ciu Pek Thong. Karena Ciu Pek Thong bukan tandingannya, kitab itu terampas sebagian. Entahlah kemudian bagaimana urusan kitab itu."

Oey Yong dan Kwee Ceng mengangguk diam-diam. Baru sekarang mereka mengetahui lelakon kitab Kiu Im Cin Keng yang sebagiannya dicuri Hek Hong Siang Sat.

"Oleh karena Lojinkee adalah orang yang nomor satu ilmu silatnya, sudah selayaknya kitab itu menjadi kepunyaanmu," kata Oey Yong.

"Aku malas berebutan dengan orang," sahut Kiu Cian Jin. "Tong Shia, See Tok, Lam Tee, dan Pak Kay itu ibarat setengah kati delapan tail. Selama beberapa puluh tahun ini mereka berlatih keras karena ingin menjadi jago nomor satu. Maka itu, kalau terjadi pertemuan kedua di Hoa San, pastilah ramainya bukan buatan."

"Oh, bakal terjadi pertempuran kedua di Hoa San?" tegas si nona.

"Dua puluh lima tahun adalah satu generasi!" berkata Kiu Cian Jin. "Mereka yang tua bakal mati, yang muda bakal muncul. Maka itu, satu tahun lagi akan tibalah saat perundingan kedua di Hoa San. Aku lihat yang bakal bertarung kembali adalah kami orang-orang tua. Sayang, sekarang tidak ada lagi anak-anak muda yang berarti. Ilmu silat menjadi lemah dari satu generasi ke generasi berikutnya."

"Apakah tahun depan Lojinkee hendak mendaki Gunung Hoa San?" tanya Oey Yong terus-menerus. "Kalau benar Lojinkee hendak pergi, maukah kau mengajak aku turut menyaksikan keramaian itu? Akulah orang yang paling gemar menonton orang berkelahi!"

"Ah, mana dapat itu dikatakan pertempuran? Sebenarnya aku tidak mengandung niat pergi. Bukankah kita yang tua bakal masuk ke dalam tanah? Untuk apa mengejar nama kosong? Hanya saja, di hadapan kita sekarang ada satu urusan sangat besar yang mengenai keselamatan seluruh umat manusia. Jikalau aku termakan hidup senang sendiri dan tidak bertindak, celakalah semua umat dan makhluk!"

Liok Chungcu dan yang lain lantas menanyakan bencana apa yang ancamannya demikian hebat.

"Ini adalah rahasia sangat besar. Kedua engko kecil, Kwee dan Oey, kamu bukan orang kangouw, lebih baik jangan ketahui urusan ini!"

Oey Yong tidak senang, sebaliknya ia tertawa. "Liok Chungcu ini sahabatku yang baik sekali. Asal kau menjelaskan kepadanya, tidak mungkin ia menyembunyikan hal itu kepadaku!" katanya.

"Ah, anak nakal!" kata Liok Chungcu dalam hati. Namun, ia berdiam diri.

"Kalau begitu, baiklah aku menjelaskan kepada kamu semua!" kata Kiu Cian Jin. "Cuma aku minta jangan sampai membocorkannya."

"Kamu bukan sanak bukan saudara, urusan rahasia ini baiklah kami tidak mendengarnya," pikir Kwee Ceng yang terus bangkit dan berkata, "Maafkanlah aku serta Saudara Oey ini, izinkan aku mengundurkan diri."

"Jiwi adalah sahabat karib Liok Chungcu, kalian bukan orang luar, silakan duduk!" Kiu Cian Jin meminta. Sembari berkata, ia menekan pundak si anak muda. Kwee Ceng tidak merasakan tekanan keras, akan tetapi karena ia mengaku tidak mengerti ilmu silat, ia tidak melawan dan duduk kembali. Karena itu, Oey Yong pun batal mengundurkan diri.

Kiu Cian Jin bangkit dan mengangkat arak untuk mengajak orang minum bersama. "Tidak sampai setengah tahun, Kerajaan Song bakal menghadapi bencana besar," katanya kemudian. "Apakah tuan-tuan mengetahui itu?"

Mendengar ini, semua orang terkejut. Bahkan Koan Eng lantas memerintahkan orang-orangnya mundur sampai ke pintu dan semua pelayan dilarang mendekat.

"Aku telah mendapat keterangan pasti," Kiu Cian Jin melanjutkan. "Dalam tempo enam bulan, pastilah angkatan perang bangsa Kim bakal menyerbu ke Selatan. Kali ini angkatan perangnya besar dan kuat, maka Kerajaan Song pastilah tidak dapat menahan pula. Ya, inilah takdir, kita tidak dapat berbuat apa-apa."

Kwee Ceng terkejut hingga ia lantas berkata, "Kalau begitu, haruslah Locianpwee lekas memberitahukan ancaman itu kepada pemerintah supaya pemerintah segera siap sedia untuk menyambut musuh!"

Orang tua itu mendelik kepada anak muda tersebut. "Kau tahu apa!" tegurnya. "Satu kali angkatan perang Song bersiap sedia, bahayanya bakal terjadi lebih hebat lagi!"

Kwee Ceng terdiam, tidak mengerti maksud orang itu. Oey Yong pun bungkam.

"Lama aku telah memikirkan itu," Kiu Cian Jin melanjutkan omongannya. "Aku lihat cuma ada satu jalan untuk membikin rakyat hidup damai dan senang supaya negara yang indah ini tidak sampai habis terbakar. Inilah tujuanku kenapa aku melakoni perjalanan ribuan lie datang ke Kanglam ini. Kabarnya Chungcu telah menawan pangeran muda negara Kim serta komandan tentara Toan Tayjin. Tolong, undang mereka hadir di sini untuk kita ajak bicara. Maukah kau meluluskan, Chungcu?"

Liok Chungcu terpengaruh kata-kata orang itu. Ia heran kenapa orang ini bisa tahu perihal tertawannya kedua orang tersebut. Ia lantas meluluskan, membawa kedua tawanannya menghadap, bahkan mereka dibebaskan dari belenggu dan disuruh duduk di sisi bawah. Kwee Ceng dan Oey Yong memperhatikan bahwa baru ditahan beberapa hari, roman Wanyen Kang sudah kucel dan pucat, sedang Toan Tayjin yang berumur lima puluh lebih dan berewokan tampak ketakutan.

"Siauw-ongya, kaget!" kata Kiu Cian Jin pada Wanyen Kang.

Pangeran itu mengangguk, tetapi hatinya berkata, "Si Kwee dan si Oey ini berada di sini, entah mau apa mereka? Dan adik Liam Cu itu, entah dia membawa ikat pinggangku kepada guruku atau tidak."

"Chungcu," berkata Kiu Cian Jin pada tuan rumah. "Di hadapanmu ada terbayang harta besar dan kemuliaan. Aku melihat itu tetapi tidak hendak mengambilnya, kenapakah?"

Tuan rumah heran. "Kemuliaan apakah itu, Locianpwee?" tanyanya.

"Kalau nanti angkatan perang Kim itu menyerbu ke Selatan ini dan peperangan terjadi, mesti banyak sekali orang yang terluka," kata Kiu Cian Jin. "Oleh karena itu, bukankah bagus jikalau Chungcu menggabungkan semua orang gagah untuk melenyapkan ancaman perang itu?"

"Memang itu urusan yang besar dan baik sekali," pikir Liok Chungcu. Maka ia menjawab, "Jikalau aku dapat mengeluarkan tenaga untuk negara dan juga dapat menolong rakyat dari marabahaya—yang mana adalah tugas kita sebagai rakyat jelata—tentu sekali aku bersedia melakukannya. Sebenarnya aku setia kepada pemerintah, tetapi sayang pemerintah sendiri yang tidak mengerti itu. Sekarang ini kawanan pengkhianatlah yang memegang tampuk pimpinan, maka sia-sialah belaka maksud hatiku. Locianpwee, tolong kau tunjukkan satu jalan yang terang, untuk itu aku akan sangat bersyukur kepadamu."

Kiu Cian Jin mengusap kumisnya dan tertawa lebar. Ia baru hendak berkata lagi, tetapi terhalang oleh kedatangan seorang chungteng yang memberi kabar, "Thio Cecu yang kebetulan berada di tengah telaga telah menyambut enam tetamu luar biasa, yang sekarang sudah berada di depan."

Kaget tuan rumah itu. "Lekas mengundang!" titahnya.

Koan Eng lantas berlari keluar untuk menyambut. Di antara terangnya api terlihat enam tetamu yang tinggi dan pendek tidak rata, di antaranya ada seorang wanita. Ketika mereka masuk, Kwee Ceng merasa girang dan segera lari memapaki untuk berlutut di hadapan mereka.

"Suhu!" katanya. "Apakah suhu semua baik?"

Keenam tetamu itu memang Kanglam Liok Koay adanya. Mereka datang dari Utara. Setibanya di Telaga Thay Ouw, lantas ada beberapa orang yang menyambutnya dengan manis. Sudah lama mereka meninggalkan Kanglam, sehingga mereka masih merasa asing. Maka itu, Cu Cong yang melayani mereka bicara. Kemudian ternyata, pihak penyambut adalah Thio Cecu dari Kwie-in-chung. Sebenarnya Cecu itu tidak tahu siapa keenam orang ini, ia hanya menduga mereka adalah musuh Chungcu tua, maka selama menyambut, ia terbenam dalam kesangsian. Ia ditugaskan Koan Eng berjaga-jaga sekaligus menyambut orang pandai, maka ia bertindak secara hati-hati. Liok Koay pun heran melihat muridnya ada di sini.

"Eh, bocah, mana silumanmu?" tanya Han Po Kie.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment