Chapter 167
"Tiga!" Maka bergeraklah keempat orang di atas tiang bambu itu, bergerak-gerak bagaikan bayangan. Oey Yong mengkhawatirkan Kwee Ceng, ia memasang mata. Ia melihat, dalam waktu singkat sudah lewat belasan jurus. Ia menjadi heran, tidak terkecuali Oey Yok Su, yang tidak menyangka pemuda itu demikian pesat kemajuannya.
"Aneh, mengapa dia masih belum kalah?" pikir Tong Sia, si Sesat dari Timur. Auwyang Hong sendiri berduka sangat, ia menjadi gelisah dan mulai mengerahkan tenaganya untuk mendesak. Ia heran melihat kelincahan si bocah. Di pihak lain, ia tidak dapat melukai pemuda itu. Namun, ia berpikir keras dan segera mendapatkan cara. Tiba-tiba saja ia menyapu dengan kedua kakinya untuk merobohkan lawannya. Begitu serangan pertama gagal, ia mengulanginya secara bertubi-tubi.
Diserang secara hebat, Kwee Ceng melakukan perlawanan dengan *Hang Liong Sip-pat Ciang* jurus "Naga Terbang di Langit". Tubuhnya berulang kali melompat ke atas, sementara kedua tangannya yang terbuka tajam seperti golok atau gunting senantiasa membabat ke arah kaki lawannya yang lihai. Ia selalu berkelit sambil menyerang. Hati Oey Yong berdebar menyaksikan pertempuran dahsyat itu. Ketika ia melirik ke arah Ang Cit Kong dan Auwyang Kongcu, ia mendapati cara mereka bertempur pun berbeda.
Auwyang Kongcu memperlihatkan kepandaian enteng tubuhnya; ia berlari ke timur dan barat, sama sekali tidak sudi berhadapan dengan Ang Cit Kong meski satu jurus. Kalau Ang Cit Kong merangsak, ia segera menyingkir. "Binatang ini hanya menyingkir, ia memperlambat tempo," pikir Cit Kong. "Kwee Ceng sebaliknya tolol, dia melayani Auwyang Hong mengadu tenaga dan kepandaian, pasti dia bakal jatuh lebih dulu," pikir pengemis dari Utara ini.
"Hm!" ia mengeluarkan suara di tenggorokannya, lalu tiba-tiba melompat tinggi, menubruk si anak muda dengan kedua tangan terulur dan sembilan jari terbuka menyerupai cengkeraman ceker baja. Melihat itu, Auwyang Kongcu terkejut. Segera ia menjejak dengan kaki kiri dan berkelit ke kanan. Ang Cit Kong menubruk tempat kosong, tetapi ia sudah menduga orang akan menyingkir ke kanan. Maka, dengan menjungkirbalikkan tubuh, ia mendahului melompat ke kanan dan berseru, "Biarlah aku kalah asal kau mampus lebih dulu!"
Auwyang Kongcu kaget bukan main oleh gerakan yang sebat itu, terlebih lagi karena ancamannya. Ia tidak berani menangkis serangan tersebut. Di luar keinginannya, kakinya menginjak tempat kosong sehingga ia jatuh. Ia sempat berpikir, apakah ia kalah dalam pertandingan ini? Tepat saat itu, Kwee Ceng pun jatuh di sampingnya!
Auwyang Hong telah berpikir keras karena sudah sekian lama tidak dapat merobohkan lawannya. Kejadian ini membuatnya gelisah. Ia berpikir, "Jikalau aku mesti melayani dia sampai lebih dari lima puluh jurus, ke mana perginya pamor See Tok?" Karena itu, ia mendesak. Bagaikan kilat, tangan kirinya menyambar ke belakang leher Kwee Ceng. Ia berseru, "Kau turunlah!" Pemuda itu berkelit sambil merendah, tangan kirinya diulur untuk menangkis. Saat itu, mendadak Auwyang Hong mengerahkan tenaganya. Kwee Ceng kaget hingga menegur, "Kau... kau..." Ia hendak bertanya mengapa tidak menaati peraturan, sementara Auwyang Hong tiba-tiba tertawa dan bertanya, "Aku kenapa?" Sembari itu, ia mendadak membatalkan pengerahan tenaganya.
Kwee Ceng mengatur tenaga untuk melawan. Ia khawatir jago tua itu akan menggunakan *kuntauw* kodoknya, ia takut terluka di dalam. Siapa sangka, saat ia sedang mengerahkan kekuatan, tiba-tiba penyerangnya lenyap dari hadapannya. Dalam hal latihan dan pengalaman, ia kalah jauh dibandingkan dengan See Tok. Untungnya, dari Ciu Pek Thong ia telah memperoleh ilmu silat *Kong Beng Kun* yang terdiri dari tujuh puluh dua jurus yang sifatnya "dalam keras ada kelembutannya". Jika tidak, pastilah tangannya akan salah urat seperti saat melayani Oey Yok Su di Kwie-in-chung. Meski demikian, ia tetap terjerembap dan kakinya limbung. Tak ampun lagi, ia jatuh dengan kepala di bawah dan kaki di atas!
Kalau Auwyang Kongcu jatuh lurus, Kwee Ceng menjadi terbalik. Keduanya jatuh berbarengan dengan tubuh yang berdekatan. Auwyang Kongcu melihat saingannya dan tiba-tiba timbul pikiran sesat. Ia memajukan kedua tangannya untuk menekan kaki Kwee Ceng, sembari meminjam kaki orang untuk melambungkan tubuhnya ke atas. Dengan demikian, selagi ia melambung, Kwee Ceng justru turun semakin cepat.
Oey Yong kaget bukan kepalang; itulah pertanda Kwee Ceng, pemuda pujaannya, bakal kalah. Tanpa sadar ia menjerit, "Ayo!" Hampir berbarengan dengan jeritan itu, tubuh Kwee Ceng berbalik mencelat ke atas, sementara tubuh Auwyang Kongcu justru turun dan jatuh ke tanah. Kwee Ceng telah tiba di atas pohon, berdiri di sebatang cabang, lalu dengan meminjam tenaga cabang itu ia mendekam!
Melihat kejadian itu, Oey Yong sangat girang. Ia tidak mengerti bagaimana hal itu bisa terjadi karena ia tidak melihat aksi apa pun dari Kwee Ceng. Bukankah pemuda itu tadi hanya terpisah beberapa kaki dari tanah? Auwyang Hong dan Ang Cit Kong sama-sama melompat turun. Ang Cit Kong tertawa terbahak-bahak dan berseru, "Sungguh indah! Bagus!" Paras See Tok sebaliknya tampak muram. "Saudara Cit, muridmu yang lihai ini campur aduk sekali ilmu kepandaiannya! Dia bahkan sampai dapat mempelajari ilmu gulat dari bangsa Mongolia!"
Ang Cit Kong tertawa. "Tetapi aku sendiri tidak becus ilmu gulat itu! Bukan aku yang mengajarkan dia, maka jangan kau main gila denganku!" Sebenarnya Kwee Ceng kaget sekali saat Auwyang Kongcu menekan kakinya sembari mengapungkan diri. Ia mengerti, jika ia jatuh, ia akan kalah dan celaka. Di saat genting itu, ia tidak gugup. Ia melihat kaki orang di depan mukanya dan segera menyambar dengan kedua tangan, menariknya dengan keras seraya tubuhnya sendiri diangkat ke atas.
Memang itulah ilmu gulat orang Mongolia agar sesudah roboh dapat melompat. Ilmu gulat itu tiada bandingannya. Kwee Ceng, yang besar di gurun pasir dan bergaul erat dengan Tuli serta anak-anak Mongolia lainnya, sering mengadu gulat. Sekarang, saat menghadapi bahaya, ia menggunakan ilmu itu. Ia meminjam tenaga lawan sama seperti Auwyang Kongcu, dan ia memperoleh kemenangan!
"Kali ini Kwee Sieheng yang menang!" Oey Yok Su segera memberikan keputusan. "Kau jangan bersusah hati, Saudara Hong. Auwyang Sieheng lebih lihai, siapa tahu pertandingan kedua dan ketiga dia yang menang?" "Kalau begitu, silakan Saudara Yok menyebutkan acara pertandingan yang kedua," pinta Auwyang Hong.
"Pertandingan nomor dua dan nomor tiga ini adalah pertandingan secara *bun*," kata Oey Yok Su. Cara *bun* ialah cara halus tanpa kekerasan. Mendengar itu, Oey Yong menjerit, "Ayah, terang-terangan kau berat sebelah! Kenapa kau menggunakan cara *bun*? Ah, Engko Ceng, sudahlah kau jangan mau bertanding pula!"
"Kau tahu apa!" sahut sang ayah. "Dalam ilmu silat, kalau telah dicapai puncak kemahiran, apakah orang akan terus main keras-kerasan saja? Acaraku yang kedua ini, kau tahu, adalah untuk meminta kedua *sieheng* mengenal sebuah lagu serulingku." Auwyang Kongcu girang mendengar hal itu. Ia membatin, "Si tolol ini, apakah tahunya tentang ilmu tetabuhan? Kali ini pastilah aku yang bakal menang!"
Auwyang Hong berkata, "Anak-anak muda masih lemah sekali latihannya dalam menenangkan hati, aku khawatir mereka tidak dapat bertahan dari lagumu, Saudara Yok." "Laguku lagu biasa saja, Saudara Hong, jangan kau khawatir," hibur Oey Yok Su. Lalu ia menghadapi Auwyang Kongcu dan Kwee Ceng, "Kedua *sieheng*, silakan kalian masing-masing mematahkan secabang pohon. Kapan nanti kalian mendengar suara laguku, kalian harus menimpali dengan mengetuk-ngetuk batang pohon itu. Siapa yang dapat menimpali paling tepat dan paling bagus, dialah yang menang."
Kwee Ceng menghampiri tuan rumah, "Oey Tocu, *teecu* ini sangat tolol. Tentang ilmu tetabuhan, *teecu* tidak tahu satu nol pun, maka dalam pertandingan kedua ini *teecu* menyerah kalah saja." "Jangan terburu-buru!" Ang Cit Kong mencegah. "Biar bakal kalah, apakah halangannya untuk mencoba dulu? Apakah kau khawatir ditertawakan orang? Jangan takut!" Mendengar perkataan gurunya, pikiran Kwee Ceng berubah. Ia melihat Auwyang Kongcu sudah mematahkan sebatang cabang, maka ia pun mencari cabang yang lain.
Oey Yok Su tertawa, "Saudara Cit berada di sini, sungguh *siauwtee* membuatnya kau nanti menertawainya!" Pemilik Tho Hoa To itu membawa seruling ke bibirnya dan mulai meniup. Auwyang Kongcu memasang telinga. Baru sebentar mendengar irama, ia lantas menabuh cabang pohonnya, memperdengarkan suara seperti timpalan kecrek. Ia mengerti lagu dan dapat menimpali dengan baik. Sebaliknya, Kwee Ceng tampak bingung. Ia mengangkat bambunya tetapi tidak mengetuknya. Bahkan ketika seruling Oey Yok Su sudah berbunyi selama waktu menghirup teh, ia masih belum menimpali sekali pun.