Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 50

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 50

"Ketujuh gurumu telah bertaruh dengan seseorang," ujar sang imam kembali. "Jika aku mengajarkan kau ilmu silat dan gurumu mengetahuinya, mereka pasti menjadi tidak senang. Mereka adalah orang-orang terhormat, mana mungkin mereka mau berlaku curang dalam sebuah pertaruhan?"

"Pertaruhan apakah itu, Totiang?" tanya Kwee Ceng.

"Rupanya gurumu belum memberi keterangan kepadamu, karena itu, sekarang sebaiknya kau tidak usah menanyakannya. Nanti dua tahun lagi, mereka akan memberitahukannya kepadamu. Sekarang begini saja, kesungguhan hatimu rupanya membuat kita berjodoh. Akan aku ajarkan kau ilmu mengendalikan napas, duduk, jalan, dan tidur."

Kwee Ceng heran bukan main. "Ilmu bernapas, duduk, jalan, dan tidur?" pikirnya. "Begitu aku terlahir, aku hampir bisa semua itu dengan sendirinya. Perlu apa kau mengajarinya pula?" Namun, ia memilih untuk tutup mulut.

"Kau singkirkan salju di atas batu itu," kata sang imam. "Kau tidur di situ," lanjutnya kemudian.

Kwee Ceng menjadi semakin heran, tetapi ia menurut. Dengan kedua tangannya, ia menyingkirkan salju itu, lalu merebahkan dirinya di atasnya. Sang imam mengawasi.

"Untuk tidur dengan caramu ini, buat apa aku harus mengajarinya?" katanya. "Aku memiliki empat kalimat, ingatlah baik-baik. Inilah dia: *Sue teng cek ceng bong, Tee hie cek kie oen, Sim soe cek cin hoat, Yang seng cek im siauw*."

Kwee Ceng menurut, ia mengingat dan mengulanginya sampai beberapa kali. Ia terus menghafalnya, meski tidak tahu arti sebenarnya. Ia hanya tahu itu berarti: "Pikiran tenang, perasaan terlupa, tubuh kosong, hawa berjalan, hati mati, semangat hidup, yang bangun, im hapus."

Imam itu menerangkan kembali, "Sebelum tidur, seseorang mesti mengosongkan otaknya, jangan memikirkan apa pun. Barulah naik ke pembaringan dan rebah miring, napas dijalankan perlahan-lahan, semangat jangan goncang, jangan ngawur. Nah, beginilah kau mesti bernapas." Lantas, sang imam mengajari cara menyedot napas masuk dan keluar sambil bersemadi. "Sekarang duduklah dan mulailah!"

Kwee Ceng menurut dan mencoba. Mulanya, pikirannya goncang karena banyak hal yang teringat, tetapi ia melawan dan mencoba melupakan segalanya. Lama-kelamaan ia menjadi tenang. Hanya saja, selang satu jam, ia merasakan kaki dan tangannya kaku serta kesemutan.

Sang imam yang bersila di depan Kwee Ceng membuka matanya. "Sekarang kau rebahlah," katanya. Kwee Ceng menurut dan segera tidur kepulasan. Saat ia sadar, fajar sudah menyingsing.

"Sekarang kau pulang, nanti malam datang lagi," kata sang imam sambil mengerek turun tubuh bocah itu.

Kwee Ceng menurut. Seterusnya, setiap malam ia datang menemui sang imam untuk belajar napas, duduk, tidur, dan jalan. Tak lama, ia merasakan suatu keanehan. Sang imam tidak mengajarinya ilmu lain, namun saat berlatih silat di siang hari, ia merasakan tubuhnya menjadi ringan dan gesit. Selang setengah tahun, ia mampu melakukan hal-hal yang tadinya tidak sanggup ia lakukan.

Kanglam Liok Koay melihat kemajuan itu dan mereka girang sekali. Mereka menyangka kemajuan muridnya ini berkat kerajinan dan keuletannya. Keanehan lain yang nyata adalah Kwee Ceng merasa dapat mendaki jurang lebih tinggi dan lebih gampang.

Satu tahun telah berlalu dengan cepat, dan beberapa bulan lagi tibalah saat *pibu*. Kanglam Liok Koay merasa gembira dan yakin muridnya bakal menang. Mereka juga senang akan segera kembali ke Kanglam.

Pada suatu pagi, Hie Jin berkata pada muridnya, "Anak Ceng, selama ini kau belajar memainkan senjata saja, mungkin kau kurang leluasa dengan tangan kosongmu. Mari, coba kau tunjukkan."

Kwee Ceng mengangguk dan mereka pergi ke tempat berlatih. Saat Hie Jin hendak memulai, terlihat debu mengepul di kejauhan dan terdengar suara derap kuda serta keriuhan manusia. Itu adalah segerombolan kuda Mongol yang sedang digembalakan. Tiba-tiba, dari arah barat datang seekor kuda kecil berwarna merah marong menyerbu rombongan itu, menggigit dan menyentil hingga kawanan kuda menjadi kacau, lalu kuda itu menghilang ke utara.

Tidak lama kemudian, kuda itu kembali dan mengacau lagi. Para penggembala menjadi dongkol tetapi tidak berdaya. Han Po Kie, yang merupakan penggemar kuda, segera menghampiri rombongan penggembala itu untuk bertanya. Ia kagum karena kudanya sendiri yang jempolan masih kalah jauh dari kuda merah itu.

"Setahu kami, dari mana keluarga kuda kecil ini berasal," sahut seorang penggembala. "Baru beberapa hari yang lalu kami melihatnya. Dia sangat cerdik dan gesit."

"Itu bukan kuda biasa," kata penggembala lain.

"Lalu apa itu?" tanya Po Kie.

"Inilah kuda turunan naga dari langit, ia tidak dapat diganggu!" jawab penggembala itu.

Kuda merah itu kembali menyerbu. Han Po Kie segera bertindak karena ia tahu sifat hewan itu. Ia berlari ke arah kuda itu akan mundur. Namun, saat ia mencoba melompat ke punggungnya, ia justru terjatuh. Ia menjadi dongkol dan mengejar kuda itu.

Tiba-tiba, dari samping ada seseorang yang melompat dan menyambar surai kuda tersebut. Kuda itu kaget dan berlari kencang, membawa serta orang yang menyambarnya karena orang itu tidak mau melepaskan cengkeramannya. Semua penggembala terkejut. Kanglam Liok Koay pun terkejut, karena itulah Kwee Ceng yang menyambar kuda itu. Mereka heran sejak kapan bocah ini mempelajari ilmu enteng tubuh (*keng-sin-sut*).

"Selama satu tahun ini, pesat sekali kemajuan anak Ceng," kata Siauw Eng.

Nona itu tidak tahu bahwa kepandaian Kwee Ceng adalah hasil ajaran sang imam konde tiga. Setiap malam saat naik-turun jurang, tanpa disadari, ia tengah meyakinkan ilmu ringan tubuh yang sangat lihai, yaitu *Kim-gan-kang* atau ilmu "Burung Welilis Emas".

Selagi Liok Koay membicarakan muridnya, Kwee Ceng kembali bersama kuda merah itu. Kuda tersebut mencoba menjungkirkan Kwee Ceng, tetapi bocah itu memeluk leher kuda tersebut dengan mengerahkan tenaga sekuat mungkin. Akhirnya, kuda itu kesulitan bernapas dan berhenti meronta.

"Bagus! Dia berhasil!" seru Po Kie.

Kwee Ceng, yang khawatir kuda itu akan kabur, tidak mau turun. "Cukup sudah! Kau turun! Dia sudah tunduk kepadamu," perintah Po Kie. Mendengar itu, Kwee Ceng melompat turun. Kuda itu benar-benar tidak lari, bahkan menjilati telapak tangan Kwee Ceng. Mereka semua tertawa melihatnya.

Tengah hari, setelah bersantap, Kwee Ceng pergi ke kemah gurunya.

"Anak Ceng, ingin aku lihat seberapa jauh kau punya ilmu *Kay-san-ciang*," kata Coan Kim Hoat.

"Di sini?" tanya sang murid.

"Ya. Di mana saja orang bisa menghadapi musuh, maka orang mesti siap akan bertempur di kamar yang kecil." Kata-kata itu disusul dengan serangan tangan kiri dan tinju kanan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment