Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 47

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 47

Tin Ok mengantar orang sampai di depan tenda. Cie Peng memberi hormat sekali lagi. Mendadak orang bermarga Kwa ini berseru, "Kau pun jumpalitan!" dan tangan kirinya menyambar ujung baju lawannya tepat di bagian dada.

Saking kaget, Cie Peng menggerakkan kedua tangannya untuk membebaskan diri. Inilah hebatnya; jika ia diam saja, ia hanya akan jungkir balik. Kali ini ia membangkitkan amarah gurunya, Liok Koay. Tin Ok mengangkat tubuh orang itu dan membantingnya hingga jatuh dengan hebat. Bokongnya terasa sakit, sampai sekian lama ia baru bisa merayap bangun dan dengan terpincang-pincang pergi.

"Imam cilik itu tidak tahu adat, tepat kiranya jika toako mengajarinya," kata Po Kie.

Tin Ok berdiam diri, selang sesaat ia menghela napas. Semua saudaranya mengerti kedukaan sang toako dan turut masgul pula.

"Ya, apa boleh buat," kata Hie Jin kemudian.

"Benar, sieko," sahut Siauw Eng.

"Kita bertujuh saudara sudah puas berkelana. Banyak pengalaman yang kita miliki, baik maupun buruk, namun kita belum pernah gentar atau mundur!" Tin Ok mengangguk.

"Sekarang pergilah kau pulang dan tidur," katanya kepada Kwee Ceng. "Besok akan aku ajarkan kau senjata rahasia."

Cu Cong dan yang lainnya mengangguk setuju. Hebat benar senjata rahasia tok-leng dari kakaknya ini. Senjata itu adalah senjata rahasia istimewa untuk menjaga diri sejak si kakak tidak dapat melihat matahari. Senjata itu tidak pernah dipakai kecuali di saat genting, dan tidak pernah diwariskan kepada orang lain, tapi sekarang hendak diturunkan kepada murid ini.

"Anak Ceng, lekas hanturkan terima kasih kepada toa-suhu," Siauw Eng mengajari muridnya.

Kwee Ceng mengucapkan terima kasih sambil berlutut dan bersujud, setelah itu barulah ia mengundurkan diri. Tin Ok menghela napas lagi perlahan. Ia sangsi apakah Kwee Ceng dapat mewariskan kepandaiannya itu dengan sempurna. Semenjak itu, sang guru semakin rajin mengajari muridnya karena berkehendak agar si murid cepat maju. Mereka khawatir kalah berlomba dengan Khu Cie Kee dalam melihat kemajuan In Cie Peng.

Akan tetapi, sulit bagi mereka untuk mewujudkan kehendak itu. Sekalipun seorang yang berotak cemerlang akan sulit untuk diajarkan maju dalam tempo singkat, apalagi Kwee Ceng yang bebal dan lambat kesadarannya. Semakin didesak, semakin banyak kesalahan yang ia buat.

Pagi itu, Siauw Eng mengajari Kwee Ceng ilmu pedang Wat Lie Kiam jurus keempat yang bernama "Di Cabang Pohon Menyerang Lutung Putih". Untuk itu, orang perlu melompat tinggi dan jumpalitan. Murid ini mencoba melompat tujuh atau delapan kali, namun ia selalu gagal. Percuma saja gurunya mengajari ini dan itu. Siauw Eng menjadi sangat berduka hingga ia berlinang air mata. Dengan melempar pedangnya, ia meninggalkan muridnya.

Kwee Ceng terperanjat, ia menyusul dan memanggil-manggil, tapi gurunya berjalan terus. Ia menjadi sangat masgul hingga berdiri terpaku. Ia tahu semua gurunya ingin ia maju, maka ia menjadi sangat menyesal. Ia gelisah melihat guru-gurunya mulai memperlihatkan roman tidak puas.

Ia masih berdiam diri ketika dari belakang, ia mendengar teriakan putri Gochin, "Engko Ceng, mari lekas, mari lekas!"

Ketika bocah itu menoleh, tampak sang putri sedang duduk di atas seekor kuda dengan raut wajah cemas sekaligus gembira.

"Ada apa?" tanyanya.

"Mari lekas lihat!" sahut putri Temuchin itu. "Banyak burung rajawali sedang bertarung!"

"Aku sedang berlatih," Kwee Ceng memberitahu.

Putri itu tertawa. "Apakah kau tidak dapat berlatih dengan baik dan kembali dimarahi gurumu?" tanyanya.

Kwee Ceng jujur, ia mengangguk. Putri itu masih tertawa. "Hebat pertarungan itu!" ia mendesak lagi. "Mari lekas lihat!"

"Aku tidak mau," sahut Kwee Ceng. Ia ingat perlakuan Siauw Eng barusan, ia berduka sekali dan kegembiraannya lenyap.

Akhirnya si putri menjadi tidak sabaran. "Aku sendiri sampai belum melihat karena datang untuk mengajakmu!" katanya. "Kalau kau tetap tidak hendak pergi melihat, selanjutnya jangan pedulikan aku lagi!"

"Pergi kau kembali dan melihatnya sendiri," kata Kwee Ceng. "Bukankah sama saja kalau sebentar lagi kau menceritakannya kepadaku?"

Gochin melompat turun dari kudanya dan mengerucutkan mulutnya. "Sudahlah, kau tidak mau pergi, aku juga tidak mau pergi!" bilangnya sambil cemberut. "Aku tidak tahu, rajawali hitam atau putih yang menang?"

"Apakah itu sepasang rajawali putih yang besar yang berkelahi?" tanya Kwee Ceng.

"Benar! Kawanan si hitam banyak, tapi si putih lihai. Sudah enam atau tujuh ekor si hitam yang mati."

Mendengar itu, hati Kwee Ceng tertarik juga. "Mari!" katanya, lalu ia menarik tangan sang putri untuk diajak naik ke atas kudanya. Mereka memacu kuda ke kaki lembah di mana terlihat belasan ekor rajawali hitam tengah mengepung dan menyerang rajawali putih hingga sayap mereka rontok berhamburan.

Rajawali putih lebih besar dan paruhnya lebih kuat. Hebat setiap patukan dan cengkeramannya. Seekor musuhnya yang terlambat berkelit kena disambarnya, lalu bangkainya jatuh di depan Gochin. Sebentar saja sudah banyak penduduk yang datang melihat pertempuran itu, bahkan Temuchin yang mendengar kabar tersebut turut muncul bersama Ogotai dan Tuli.

Kwee Ceng, Gochin, dan Tuli sering bermain bersama di lembah itu. Hampir setiap hari mereka melihat sepasang burung rajawali putih tersebut dan menaruh kesan baik. Maka tidak heran jika sekarang mereka mengharapkan kemenangan si putih hingga berteriak-teriak memberi dukungan.

Mereka berseru bergantian, "Hayo putih, patuk dia! Awas di kiri, ada musuh, lekas berbalik! Bagus! Kejar dia!"

Dua ekor rajawali hitam jatuh mati, tetapi sepasang rajawali putih juga telah terluka; bulu putihnya ternoda darah merah. Seekor rajawali hitam yang bertubuh lebih besar dari yang lainnya lantas berbunyi berulang-ulang. Sekitar sepuluh kawannya terbang pergi, menyisakan tiga ekor yang masih bertempur seru. Menampak itu, penonton bersorak-sorai.

Tak lama, tiga ekor si hitam kabur dan si putih mengejar. Setelah pertarungan itu selesai dan orang banyak hendak membubarkan diri, justru terdengar riuh suara burung di udara. Belasan burung hitam terbang kembali ke jurang, menerjang si putih yang sedang berdiri merapikan bulunya.

"Bagus!" seru Temuchin yang menyaksikan siasat perang si hitam.

Hebat si putih, ia melawan sebisanya dan mematikan satu musuh, tetapi akhirnya ia jatuh karena luka-lukanya. Meski begitu, sepuluh ekor musuhnya masih menyerbu terus. Kwee Ceng, Tuli, dan Gochin menjadi kaget dan cemas, bahkan Gochin lantas menangis.

"Ayah, lekas panah!" teriaknya.

Sebaliknya, Temuchin berkata kepada Ogotai dan Tuli, "Si rajawali hitam menang perang karena menggunakan siasat, ingatlah itu!" Kedua putranya mengangguk.

Setelah membunuh si putih, kawanan hitam terbang ke arah lubang di atas jurang. Dari lubang itu tampak muncul dua kepala anak rajawali putih yang mencoba melakukan perlawanan.

"Ayah, masihkah kau tidak mau memanah?" tanya Gochin sambil menangis.

Temuchin tertawa, segera ia menyiapkan panah. Ia menarik busurnya, lalu anak panah menancap di badan seekor rajawali hitam yang langsung tewas. Riuh tempik sorak memuji Khan yang besar itu.

"Coba kau memanah!" kata Temuchin seraya menyerahkan panah kepada Ogotai. Putra itu menurut, ia memanah dan merubuhkan seekor rajawali hitam. Tuli pun mencoba dan berhasil. Setelah itu, sisa burung rajawali hitam terbang kabur. Panglima-panglima Temuchin lantas turut memanah, tetapi burung-burung itu sudah terbang tinggi dan sulit mengenai mereka. Burung-burung itu bahkan dapat menepis anak panah.

"Siapa yang dapat memanah burung itu, ia akan mendapat hadiah!" seru Temuchin.

Jebe, si Jago Panah, berdiri di samping Temuchin. Ia berniat mempertontonkan ilmu panah Kwee Ceng. Ia mendekati Kwee Ceng untuk menyerahkan busurnya.

"Kau berlutut! Panah leher burung itu!" bisiknya pelan.

Kwee Ceng menyambut busur tersebut, menekuk sebelah kaki, memegang busur dengan tangan kiri, dan mencekal anak panah dengan tangan kanan. Ia menarik hingga busur itu melengkung. Busur itu beratnya dua ratus kati, tapi ia dapat menariknya karena setelah sepuluh tahun berguru kepada Kanglam Liok Koay, tenaganya menjadi besar sekali.

Tepat saat dua ekor burung rajawali hitam terbang beriringan dari arah kiri, Kwee Ceng menarik tangan kanannya hingga busur melengkung sepenuhnya sembari membidik.

"Ser!" Anak panah menyambar, seekor rajawali rubuh meski mencoba berkelit. Anak panah itu tembus dan menyambar perut rajawali kedua, hingga keduanya jatuh bersamaan di samping si pemanah.

Melihat itu, orang banyak bersorak memuji. Itulah yang disebut sekali memanah dua ekor burung. Karena kejadian itu, sisa burung lainnya terbang kabur dan tidak lagi berputar di atas jurang.

"Serahkan burung itu kepada ayahku!" bisik Gochin.

Pemuda itu menurut, ia memungut dua bangkai burung tersebut, berlari kepada Temuchin, lalu menekuk lutut sambil mengangkat tinggi-tinggi persembahannya. Seumur hidupnya, Temuchin paling menyukai panglima yang gagah perkasa dan orang sakti. Sekarang, setelah menyaksikan Kwee Ceng beserta sikapnya, ia menjadi sangat girang.

Sebagai informasi, burung rajawali di utara ini luar biasa besar. Jika sepasang sayapnya direntangkan, lebarnya mencapai lebih dari satu tombak. Bulu sayapnya kuat seumpama besi. Saat menyambar ke bawah, ia dapat mencengkeram seekor kuda kecil atau kambing besar; bahkan tak jarang harimau atau macan tutul pun harus lari dari burung ini.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment