Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 115

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 115

Ia tampak seekor kuda mendekat, bahkan penunggangnya pun segera ia kenali, yaitu Bok Liam Cu, anak gadis Yo Tiat Sim.

Ia berdiri diam, mengawasi dengan bengong, hatinya pepat. Ia tahu nona itu memiliki hubungan jodoh dengan Kwee Ceng. Ia berpikir, "Apa baiknya wanita ini sehingga enam guru engko Ceng dan imam-imam dari Coan Cin Pay hendak memaksa engko Ceng menikah dengannya?" Memikirkan hal itu, karena dasarnya masih kekanak-kanakan, ia menuruti hati panasnya.

"Baik aku hajar ia untuk melampiaskan hatiku!" pikirnya. Lantas ia bergegas memasuki penginapan. Ia melihat Bok Liam Cu duduk seorang diri di sebuah meja dengan roman muka yang sangat berduka, sementara seorang pelayan sedang menanyakan ia hendak makan apa.

Ia memesan semangkuk mi dan enam kati daging. "Apa enaknya daging matang?" tanya Oey Yong.

Liam Cu menoleh dan tercengang. Ia mengenali nona yang bersama Kwee Ceng di Pakhia. Ia lantas bangkit. "Oh, Adik pun ada di sini?" katanya. "Silakan duduk! Mana itu semua imam? Mana si kate terokmok, si mahasiswa jorok? Ke mana perginya mereka semua?"

"Aku sendiri saja," sahut Liam Cu. "Aku tidak bersama Khu Totiang beramai-ramai." Oey Yong merasa ngeri terhadap Khu Cie Kee dan rombongannya, maka mendengar jawaban itu, hatinya girang. Sembari tertawa, ia mengamati nona itu. Ia melihat orang yang mengenakan pakaian berkabung itu memiliki sekuntum bunga putih dari wol di rambutnya. Dia tampak lebih kurus dan mengharukan, tetapi justru karena itu, wajahnya lebih menarik hati.

Di pinggang si nona itu terdapat sebatang belati. Ia teringat, "Itulah pisau yang menjadi tanda perjodohannya dengan engko Ceng, pemberian ayah mereka masing-masing." Maka ia berkata, "Enci, bolehkah aku pinjam melihat pisau belatimu itu?"

Itulah pisau yang dikeluarkan Pauw Sek Yok saat ia mengembuskan napas terakhirnya. Setelah ia dan suaminya meninggal dunia, pisau itu jatuh ke tangan Bok Liam Cu. Mulanya Bok Liam Cu tidak berniat memberikannya karena raut wajah Oey Yong yang luar biasa, tetapi karena Oey Yong mendekat perlahan sambil mengulurkan tangan, ia tidak dapat menolak. Ia memberikannya sekalian dengan sarungnya.

Oey Yong melihat ada ukiran nama Kwee Ceng pada pisau itu. Ia berpikir, "Inilah barang milik engko Ceng, mana bisa diberikan padanya?" Ia mencabut pisau itu; sinarnya berkilat dan hawanya dingin. "Sungguh pisau yang bagus!" pujinya. Ia memasukkan kembali pisau itu ke sarungnya, lalu menyelipkannya ke dalam sakunya sendiri.

"Akan aku kembalikan ini pada engko Ceng," katanya.

"Apa?" tanya Liam Cu tercengang.

"Di sini terukir nama engko Ceng, pasti ini adalah pisaunya," ujar Oey Yong. "Sebentar bertemu dengannya, hendak aku pulangkan."

Liam Cu gusar. "Inilah warisan satu-satunya dari ayah ibuku, mana boleh aku berikan padamu! Lekas pulangkan padaku!" Ia pun segera bangkit.

"Kalau kau bisa, ambillah!" sahut Oey Yong yang terus lari keluar. Ia tahu Cit Kong sedang tidur dan Kwee Ceng sedang berlatih sendiri di belakang bukit. Liam Cu mengejar dengan cemas. Ia tahu, sekali nona itu menunggang kuda merahnya, ia pasti akan lolos.

Oey Yong lari berliku-liku hingga sampai di bawah sebuah pohon besar, lalu ia berdiri diam. Ia melihat di sekitar situ tidak ada orang lain. Sembari tertawa, ia berkata, "Jikalau kau dapat mengalahkan aku, segera aku kembalikan pisau ini!"

"Adik, jangan main-main," kata Liam Cu sabar setelah menyusul. "Melihat pisau itu, aku seperti melihat ayah ibuku, kenapa kau hendak mengambilnya?"

"Siapa adikmu!" bentak si nona Oey, lalu ia menyerang. Liam Cu kaget dan berkelit, tetapi Oey Yong lincah. "Buk! Buk!" dua kali ia dihajar pada bagian iganya. Ia menjadi gusar sekali, lantas membalas menyerang dengan hebat.

Oey Yong tertawa, "Ilmu silat Po-giok-kun, apa anehnya!" katanya mengejek. Liam Cu heran, "Inilah ilmu silat ajaran Ang Cit Kong, kenapa dia bisa tahu?" pikirnya. Ia menjadi lebih heran ketika nona itu menyerang lagi dengan ilmu silat yang sama.

"Tahan!" seru Liam Cu seraya melompat mundur. "Siapa yang mengajarimu ilmu silat ini?"

"Aku yang menciptakan sendiri!" sahut Oey Yong tertawa. "Inilah ilmu yang kasar, tidak ada keanehannya!" Perkataannya disusul dengan dua serangan jurus "Kepalan Memecahkan Kumala".

Liam Cu semakin heran. "Apakah kau mengenal Ang Cit Kong?" tanyanya sambil menangkis.

"Dia sahabat kekalku, tentu saja aku kenal!" Oey Yong tertawa. "Kau gunakan ilmu silat ajaran dia, aku menggunakan ciptaanku sendiri. Coba lihat, bisa tidak aku mengalahkanmu!" Nona itu tertawa, tetapi serangannya bertambah dahsyat.

Setelah itu, Oey Yong menghunus pisau belatinya dan memainkan pisau itu di depan wajah Liam Cu hingga sering kali hampir menyentuh kulit wajahnya. Liam Cu menutup matanya, ia tidak merasakan luka, hanya angin dingin meniup kulit mukanya. Begitu ia membuka mata, ia melihat pisau itu berkelebat. Ia menjadi mendongkol. "Mau membunuh, bunuhlah! Buat apa kau menggertak!" bentaknya.

"Kita tidak bermusuhan, buat apa aku membunuhmu?" kata Oey Yong tertawa. "Dengarkan aku, kau angkat sumpah, lantas aku akan membebaskanmu!"

Liam Cu beradat keras, ia tidak sudi menyerah. "Kalau kau berani, bunuhlah! Untuk meminta sesuatu dariku, bermimpi pun jangan kau harap!"

Oey Yong menghela napas, lalu berkata dengan nyaring, "Nona begini elok, mati muda, sungguh kecewa." Liam Cu memejamkan mata dan menutup telinganya, ia berdiam diri.

Hening sejenak, lalu ia mendengar nona itu berkata, "Engko Ceng baik denganku. Biar dia menikah denganmu, bukankah ia tidak akan mencintaimu?" Ia menjadi heran, segera ia membuka matanya. "Apa kau bilang?" tanyanya.

"Kau tidak mau mengangkat sumpah, tidak apa," kata Oey Yong tanpa menjawab. "Biar bagaimana pun, dia tidak bakal menikah padamu, itu aku tahu pasti!"

"Sebenarnya siapa yang baik padamu?" tanya Liam Cu semakin heran. "Kau bilang aku hendak menikah dengan siapa?"

"Dengan engko Ceng... Kwee Ceng!" jelas Oey Yong.

"Oh, dia!" kata Liam Cu. "Katakan, kau menghendaki aku bersumpah apa?"

"Aku ingin kau bersumpah dengan berat, biar bagaimana pun, kau tidak bakal menikah dengan engko Ceng itu!" sahut Oey Yong.

Akhirnya Liam Cu tertawa. "Biarpun kau ancam dengan golok di leherku, aku tidak akan menikah dengannya!" katanya.

Oey Yong girang mendadak. "Benar?" tanyanya. "Kenapa begitu?"

"Benar ayah angkatku telah memberikan pesan terakhir, aku telah dijodohkan dengannya," sahut Liam Cu, lalu meneruskan dengan perlahan, "Sebenarnya ayah angkatku itu telah berlaku khilaf karena pelupa; dia lupa bahwa aku telah dijodohkan kepada orang lain."

Oey Yong menjadi sangat girang. "Oh, maaf!" katanya. "Aku telah salah sangka." Ia lantas menotok nona itu untuk melepaskannya, lalu mengurut tangan dan kakinya. Sembari berbuat begitu, ia menegaskan, "Enci, kau telah berjodoh dengan siapa?"

Wajah Liam Cu menjadi merah. "Orang itu pernah kau lihat," sahutnya.

Oey Yong berpikir. "Orang mana yang pernah aku lihat? Mana ada pemuda lain yang sepadan untuk dipasangkan denganmu, Enci?" Mau tidak mau, nona Bok itu tertawa. "Apakah di kolong langit ini cuma ada satu engko Cengmu yang paling baik?" ia balik bertanya.

Oey Yong tertawa. "Enci," katanya, "Kau tidak sudi menikah dengannya, apakah karena kau menganggap dia terlalu tolol?"

"Siapa yang bilang engko Kwee itu tolol?" Liam Cu memperbaiki. "Yang benar dia itu sangat polos dan wajar, bahkan aku sangat mengagumi hatinya yang mulia."

Oey Yong heran. "Habis kenapa kau tidak sudi menikah dengannya walaupun kau diancam dengan golok?" tanyanya pula.

Melihat orang di depannya polos, Liam Cu mencekal tangannya erat-erat. "Adikku," katanya, "Di dalam hatimu sudah ada engko Kwee itu, umpama di lain waktu kau bertemu orang lain yang seribu kali lipat lebih baik darinya, kau tidak akan mencintai orang lain, bukankah begitu?"

Oey Yong mengangguk. "Sudah pasti," sahutnya. "Cuma tidak akan ada orang yang melebihi dia!"

Liam Cu tertawa. "Kalau engko Kwee itu mendengar pujianmu ini, entah berapa besar kegirangannya," katanya. "Kau tahu, di hari ayah angkatku mengajak aku ke Pakhia di mana kita bertarung, di sana ada orang yang mengalahkan aku?"

Oey Yong lantas sadar. "Oh, aku tahu sekarang!" serunya. "Orang yang kau pikirkan itu adalah si pangeran muda, Wanyen Kang!"

"Dia boleh menjadi pangeran, dia boleh menjadi pengemis, di hatiku cuma ada dia seorang," aku Liam Cu. "Dia boleh menjadi orang baik, dia boleh menjadi orang jahat, di dalam hatiku tetap ada dia seorang." Suara nona Bok terdengar pelan, namun tetap tegas.

Oey Yong mengangguk, ia membalas mencekal erat tangan orang itu. Mereka berdua berderet di bawah pohon itu, hati mereka bersatu padu. Sebentar kemudian, Oey Yong memberikan kembali pisau itu. "Ini aku kembalikan," katanya.

Liam Cu sebaliknya menolak. Katanya, "Ini kepunyaan engko Cengmu itu, ini harus menjadi kepunyaanmu." Bukan kepalang girangnya Oey Yong. Ia menyimpan kembali pisau itu. "Enci, kau baik sekali!" katanya bersyukur.

Ia lantas berniat memberikan sesuatu, tetapi ia tidak ingat memiliki barang berharga sebagai tanda mata. Maka ia bertanya, "Enci, kau datang ke Selatan ini seorang diri untuk urusan apakah? Maukah kau menerima bantuan adikmu ini?"

Wajah Liam Cu bersemu merah. "Tidak ada urusan yang penting," sahutnya.

"Kalau begitu, mari aku ajak kau menemui Ang Cit Kong," kata Oey Yong. Liam Cu menjadi sangat girang. "Cit Kong ada di sini?" tanyanya cepat.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment