Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 26

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 26

Ia menyadari kenyataan bahwa nyonya itu tidak benar-benar gila. Ia hanya berpura-pura gila untuk sengaja menarik perhatian orang, agar perjalanan mereka, ke mana pun mereka menuju, dapat meninggalkan kesan.

Ia marah, tetapi tidak bisa bertindak keras terhadap nyonya itu, kecuali jika ia mengancam agar nyonya itu terus mengikutinya.

Ia menjadi semakin hati-hati.

Ketika itu, udara telah mulai berubah.

Udara panas mulai lenyap, dan angin sejuk telah mulai berembus.

Udara seperti ini tidak terlalu mengganggu orang-orang yang melakukan perjalanan, malah menyenangkan.

Thian Tek telah menyingkir jauh ke utara, akan tetapi ia tetap dibayangi pengejar-pengejarnya.

Celaka baginya, setelah berjalan jauh dan melewatkan banyak hari, bekal uangnya mulai habis.

Pada suatu hari, karena sangat kesal, ia mengoceh sendiri, "Selama aku hidup senang di Hangciu, betapa senangnya aku. Setiap hari aku bisa makan dan minum enak, aku bisa bersenang-senang dengan wanita-wanita cantik, tetapi dasar Pangeran Kim keenam itu yang serakah akan istri orang, dia telah mencelakaiku hingga seperti ini?" Saat ia mengoceh ini, mendadak ia teringat sesuatu.

"Bukankah aku tidak jauh dari Yan-khia?" demikian ia teringat.

"Mengapa aku tidak pergi kepada Liok-taycu?" Liok-taycu adalah putra keenam Raja Kim, pangeran Kim yang ia maksudkan.

Tanpa ragu-ragu lagi, ia berangkat menuju ke Yan-khia, ibu kota Kerajaan Kim.

Ibu kota Yan-khia itu juga disebut Tiong-touw atau Chungtu, yang berarti "Kota Tengah".

Sekarang ini adalah kota Pakkhia (Peking).

Di sana, Thian Tek langsung mencari istana pangeran itu, yaitu Tio Ong atau Chao Wang (Pangeran Tio atau Chao). Ketika Wanyen Lieh mendengar tentang kedatangan seorang perwira dari selatan, ia lantas mengizinkan orang itu menemuinya.

Ia terkejut mengetahui tamunya adalah Toan Thian Tek, dan orang itu ingin meminta perlindungan kepadanya.

Ia lantas mengerutkan kening, mulutnya mengeluarkan kata-kata yang tidak sesuai dengan perasaannya.

Di dalam hatinya, ia berpikir, "Tentang Pauw-sie, aku masih belum dapat mengurusnya, bagaimana aku bisa menerima Thian Tek? Ia tahu rahasiaku; kalau ia membocorkannya, urusan bisa menjadi rumit."

"Mengapa aku harus meninggalkan satu 'mulut hidup'?" Bukankah ada peribahasa kuno yang mengatakannya, "Orang yang berpikiran sempit adalah pengecut, dan orang yang tidak kejam bukanlah seorang laki-laki?" Karena ini, ia lantas tersenyum.

"Kau baru saja tiba dari perjalanan jauh, kau tentu letih. Pergilah beristirahat dulu," katanya dengan manis.

Thian Tek mengucapkan terima kasih.

Ia sebenarnya hendak memberitahukan juga bahwa ia datang bersama Lie Peng, tetapi seorang hamba pangeran itu tiba-tiba muncul mengabarkan "kunjungan Sam-ongya", yaitu pangeran yang ketiga.

Wanyen Lieh bangkit dari kursinya.

"Pergilah kau beristirahat!" katanya sambil mengibaskan tangannya, setelah itu ia beranjak menyambut tamunya.

Sam-ongya itu adalah Wanyen Yung Chi, putra ketiga dari Wanyen Ching, Raja Kim.

Ia bergelar Wei Wang atau Wee Ong, Pangeran Wei atau Wee.

Di antara saudara-saudaranya, ia bergaul paling erat dengan Wanyen Lieh, adiknya.

Ia berwatak lemah, oleh karena itu, dalam segala hal, ia suka mendengarkan adiknya yang cerdik dan tangkas.

Pada masa itu, pemimpin bangsa Mongolia, Temuchin, sudah mulai kuat kedudukannya, tetapi ia tunduk kepada bangsa Kim. Ia malah membantu negara Kim memusnahkan bangsa Tartar. Oleh karena itu, guna menghargai jasanya, Raja Kim mengutus Wanyen Yung Chi, putranya, untuk menganugerahi Temuchin gelar Pak Kiang Ciaouw-touw-su, semacam komisaris tinggi.

Di samping itu, kepergian putra ini sebenarnya untuk melihat sendiri keadaan bangsa Mongolia itu.

Karena tugasnya ini, Wee Ong telah datang menemui Tio Ong untuk meminta saran.

"Bangsa Mongolia itu tidak tetap tempat tinggalnya," kata Wanyen Lieh.

"Mereka juga bertabiat kasar; mereka gemar menghina yang lemah tetapi takut terhadap yang kuat. Untuk pergi ke sana, Kakak harus membawa satu pasukan tentara yang terpilih, supaya melihat kewibawaan kita, hati mereka menjadi ciut. Dengan begitu, selanjutnya mereka tidak akan berani memberontak."

Wanyen Yung Chi menerima baik nasihat itu, ia mengucapkan terima kasih. Setelah berbincang sebentar lagi, ia berpamitan.

Ketika ia hendak berbangkit, adik itu berkata kepadanya, "Hari ini ada seorang mata-mata yang datang kepadaku dari Kerajaan Selatan."

"Begitu?" tanya kakaknya, heran. "Lalu?"

"Dia datang untuk meminta perlindungan kepadaku," sahut adik itu.

"Itulah alasannya belaka, sebenarnya ia hendak mencari tahu keadaan bangsa kita, Kim."

"Kalau begitu, bunuh saja dia!" kata kakaknya.

"Tindakan itu tidak tepat," kata Wanyen Lieh.

"Kakak tahu sendiri kecerdikan bangsa Selatan itu. Mungkin mata-mata yang datang bukan hanya dia seorang; kalau dia ini dibunuh, yang lainnya pasti akan waspada."

"Aku pikir aku hendak memohon Kakak membawanya pergi ke utara."

"Bawa ia ke utara?" tanya Yung Chi.

"Ya," sahut Wanyen Lieh.

"Di sana, di padang gurun, di mana tidak ada orang lain, dengan mencari satu alasan Kakak boleh menghukum mati dia. Di sini, aku nanti akan melayani mata-mata yang lain."

"Bagus!" Yung Chi bertepuk tangan, dia tertawa riang.

"Sebentar kau kirim dia padaku, katakan saja dia hendak dijadikan pengiringku."

Adiknya menjadi girang.

"Baik!" katanya.

Sore itu, Wanyen Lieh tidak memanggil Toan Thian Tek untuk menghadap lagi kepadanya. Dengan dibekali dua potong uang perak, ia menyuruh Thian Tek pergi ke istana Wei Wang untuk membantu pangeran itu, katanya.

Thian Tek tidak tahu rencana itu, ia menurutinya saja.

Ia khawatir Lie Peng nanti membongkar rahasianya, maka ia tetap mengajak nyonya itu.

Ia memengaruhinya hingga nyonya itu diam saja.

Sementara nyonya itu masih mengharapkan datangnya pertolongan kepadanya.

Berselang beberapa hari, Wanyen Yung Chi berangkat ke Mongolia, ia mengajak Thian Tek bersamanya.

Sementara itu, perut Lie Peng makin membesar. Perjalanan jauh dengan menunggang kuda sangat meletihkannya.

Tapi ia telah bertekad untuk membalas sakit hatinya; ia menguatkan hati dan tubuhnya untuk melawan penderitaan ini.

Di pihak lain, ia menjaga diri baik-baik agar tentara Kim tidak tahu siapa dia.

Demikianlah selama beberapa puluh hari, ia terus menderita.

Wanyen Yung Chi berangkat bersama seribu serdadu pilihan, yang semuanya kelihatan gagah dan megah.

Ia sengaja menunjukkan pengaruhnya, sesuai nasihat Wanyen Lieh.

Pada suatu hari, tibalah barisan ini di sebuah tempat dekat dengan perkemahan Temuchin.

Wanyen Yung Chi lantas mengirim belasan serdadunya untuk memberi kabar terlebih dahulu tentang kedatangan mereka, sekaligus menitahkan Temuchin datang menyambut utusan Kim.

Tatkala itu, saat bulan kedelapan di wilayah Utara, udara dingin luar biasa.

Ketika malam tiba, salju beterbangan turun bagaikan lembaran-lembaran bunga.

Pada waktu seperti ini, barisan seribu serdadu pilihan dari bangsa Kim berjalan memanjang bagaikan seekor ular panjang, melintasi padang pasir yang seolah tak berujung pangkal.

Selagi pasukan ini berjalan terus, tiba-tiba terdengar suara berisik yang datangnya dari arah utara, suara seperti pertempuran.

Selagi Wanyen Yung Chi terheran-heran, ia lantas melihat sebuah pasukan kecil serdadu berlari mendatanginya.

"Sam-ongya, segera beri perintah untuk bersiap berperang!" demikian kata perwiranya yang memimpin pasukan kecil itu setibanya di depan Pangeran Kim.

Dialah Ouw See Houw.

Yung Chi menjadi kaget.

"Pasukan musuh manakah itu?" ia bertanya.

"Mana kutahu!" sahut perwira itu yang lantas mengatur barisannya.

Ia memacu kudanya untuk maju ke depan.

Tak lama setelah itu, yang disebut tentara musuh itu sudah datang sangat dekat.

Mereka itu terpencar ke segala penjuru, memenuhi bukit dan tegalan di hadapan angkatan perang Kim.

Ouw See Houw adalah seorang panglima berpengalaman yang diandalkan negaranya. Sebaliknya, Wanyen Yung Chi lemah, ia tidak dapat berpikir, maka itu panglima perang ini telah mendahului pangeran itu untuk mengatur persiapan.

Segera terlihat suatu keanehan.

Tentara "musuh" itu tidak langsung menerjang pasukan Kim, melainkan mereka kabur ke empat penjuru.

Setelah Ouw See Houw mengawasi sekian lama, ia menyadari kenyataan bahwa itulah pasukan sisa yang baru saja kalah perang. Mereka telah membuang panah dan tombak, semuanya tidak menunggang kuda, dan raut wajah mereka menunjukkan ketakutan.

Di samping itu, di belakang mereka, sejumlah pasukan berkuda menerjang, hingga banyak serdadu yang terinjak-injak.

Ouw See Houw bersikap tabah.

Ia memberi perintah kepada tentaranya untuk mengurung pangeran mereka, demi melindungi.

Mereka bersiap tanpa bersuara.

Tentara musuh yang kabur itu melihat pasukan Kim, mereka lari tanpa berani mendekat, mereka kabur menjauh.

Tiba-tiba dari arah kiri terdengar suara terompet tanduk yang ramai; di situ muncul sebuah pasukan serdadu, yang terus menerjang tentara sisa.

Tentara sisa ini berjumlah lebih besar, tetapi mereka tidak berdaya terhadap pasukan berkuda yang jauh lebih kecil itu.

Terpaksa menyingkir, tentara sisa ini bergerak ke arah pasukan Kim.

"Lepaskan panah!" Ouw See Houw bertitah.

Tentara sisa itu segera diserang; sejumlah di antaranya lantas rubuh, akan tetapi jumlah mereka banyak, dan mereka pun sedang ketakutan, sehingga mereka terus menerobos.

Dengan sendirinya mereka jadi bertempur dengan tentara Kim.

Akibatnya sangat buruk bagi tentara Kim itu, yang berjumlah lebih sedikit.

Kekacauan lantas terjadi, musuh dan kawan bercampur menjadi satu, saling bergumul.

Ouw See Houw kewalahan, maka bersama sejumlah serdadu ia melindungi Wanyen Yung Chi mundur ke arah selatan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment