Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 75

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 75

"Dia belum pernah datang ke Tionggoan, maka ini adalah pertama kalinya ia bertemu dengan tuan-tuan!" Bukan hanya Ong Cie It dan Kwee Ceng yang belum pernah melihat sancu (pemilik bukit) dari Pek To San itu, melainkan juga Nio Cu Ong, Peng Lian Houw, serta lainnya yang hadir di situ.

Semua orang kagum akan cara sancu ini muncul. Mereka belum pernah mendengar nama Pek To San atau Bukit Unta Putih itu.

Auwyang Kongcu lantas merangkapkan kedua tangannya dan berkata, "Sebenarnya aku harus tiba di kota Yankhia ini lebih awal, sayang di tengah jalan aku mendapatkan urusan penting sehingga terlambat beberapa hari. Untuk itu, aku mohon tuan-tuan sudi memaafkannya."

Kwee Ceng tidak mengenal sancu ini, tetapi mendengar nama Bukit Pek To San, ia teringat kepada nona berpakaian serba putih yang di tengah jalan mencoba merampas kudanya. Ia menduga-duga, "Mungkinkah keenam guruku sudah bertempur dengan orang ini?"

Ong Cie It pandai berpikir; ia tidak menunjukkan kemurkaan. Ia mengerti bahwa semua yang hadir di situ adalah orang-orang lihai, sehingga percuma jika ia melayani mereka. Maka, ia memandang tuan rumah.

"Mana gurumu?" tanyanya. "Kenapa tidak kau minta ia keluar?"

"Ya," sahut Wanyen Kang dengan sederhana. Ia berpaling kepada pengiringnya dan memerintah dengan singkat, "Undang suhu!" Pengiring itu segera mengundurkan diri.

Cie It merasa lega. Ia berpikir, "Dengan adanya Khu Suheng di sini, meskipun musuh bertambah, mungkinkah kami tidak dapat membela diri?"

Tidak lama kemudian, terdengar langkah sepatu. Di depan pintu, terlihat seseorang bertubuh gemuk mengenakan seragam baju sulam, tanda ia adalah seorang opsir. Ia berjanggut lebat, usianya empat puluh tahun lebih, dan roman mukanya sangat angkuh.

"Suhu!" Wanyen Kang memanggil. "Totiang ini hendak bertemu dengan suhu, bahkan ia sudah menanyakannya beberapa kali."

Melihat orang itu dan mendengar perkataan sang pangeran, hati Ong Cie It menjadi panas. Ia berpikir, "Bocah binatang ini, kau mempermainkanku!" Namun, ia mencoba mengendalikan diri.

"Untuk urusan apakah kau hendak bertemu denganku, Imam?" opsir itu bertanya dengan sikap jumawa. "Sudah biasa bagiku, aku paling tidak senang terhadap paderi, imam, atau paderi perempuan!"

Dengan memaksakan diri, Ong Cinjin tertawa. "Tayjin hendak memohon derma," katanya. "Aku ingin meminta sumbangan sebanyak seribu tail perak!"

Opsir itu terheran-heran atas permintaan tersebut. Namanya adalah Thung Couw Tek, kepala barisan pengiring dari Wanyen Lieh. Di masa Wanyen Kang masih muda, ia pernah mengajarkan ilmu silat kepada pangeran itu, sehingga ia dipanggil "guru". Yang lain pun turut memanggilnya demikian.

"Itulah selayaknya," ujar Wanyen Kang mendahului gurunya. Ia lantas berkata kepada pengiringnya, "Lekas kau siapkan uang itu, nanti antarkan ke hotelnya Totiang."

Thung Couw Tek ternganga; ia mengawasi imam itu dari kepala ke kaki dan sebaliknya. Ia tidak dapat menduga orang macam apa imam ini.

"Tuan-tuan, silakan duduk!" Wanyen Kang mengundang. "Totiang baru pertama kali tiba di sini, silakan duduk di kursi kepala."

Ong Cie It merendahkan diri, tetapi karena didesak terus, akhirnya ia duduk di kursi pertama. Setelah tiga putaran arak, ia berkata, "Sekarang telah hadir banyak cianpwee kaum Rimba Persilatan, maka bolehlah kita bicara mengenai keadilan. Tentang orang yang bermarga Bok dan anaknya itu, bagaimana urusannya harus diatur?"

Mendengar pertanyaan itu, semua mata tertuju kepada Wanyen Kang. Pangeran itu mengisi cangkir, berbangkit untuk membawanya kepada Ong Cie It, seraya berkata, "Silakan Totiang keringkan dahulu cawan ini. Tentang masalah itu, bagaimanapun cara mengaturnya, boanpwe selalu bersedia menuruti."

Cie It heran hingga tercengang. Ia tidak menyangka pangeran ini dapat bersikap demikian. Ia pun meminum arak itu, lalu berkata, "Bagus! Sekarang baiknya orang bermarga Bok itu diundang kemari untuk membicarakan urusannya."

"Bagus begitu," sahut Wanyen Kang. "Aku minta Saudara Kwee saja yang pergi mengundang Tuan Bok itu."

Ong Cie It mengangguk dan Kwee Ceng segera berbangkit untuk pergi ke hotel tempat Bok Ek dan gadisnya menginap. Sesampainya di sana, ia heran. Ayah dan anak itu tidak ada di kamarnya, barang-barangnya pun telah dibawa pergi. Ketika jongos ditanya, jawabannya adalah Bok Ek dan gadisnya telah diundang orang lain dan pergi entah ke mana, sementara uang sewa kamar telah dibayar lunas.

Kwee Ceng heran. Ia bertanya kepada jongos siapa yang mengundang, namun jongos itu tidak dapat memberikan keterangan. Terpaksa pemuda itu pulang ke onghu dengan tangan hampa.

Sambil tertawa, Wanyen Kang menyambut tamunya. "Banyak capek, Tuan Kwee! Mana Tuan Bok itu?"

"Ia telah pergi, entah ke mana," sahut Kwee Ceng, lalu menuturkan kepergian Bok Ek beserta anaknya.

"Oh, aku menyesal," kata Wanyen Kang cepat. Ia menoleh pada pengiringnya dan memerintah, "Kau lekas ajak orang mencari Tuan Bok dan putrinya itu, dia mesti dapat diundang datang kemari!" Pengiring itu menyahuti dan segera mengundurkan diri.

Ong Cie It membungkam, tetapi ia menaruh curiga. Akhirnya ia berkata, "Tidak peduli orang bermain sandiwara apa, urusan toh akan ketahuan akhirnya!"

"Totiang benar," sahut Wanyen Kang sembari tertawa.

Sementara itu, Thung Couw Tek heran dan mendongkol. Ia kesal cukongnya kehilangan uang seribu tail perak. Ia penasaran; selagi sang pangeran berlaku manis, imam itu justru bersikap seolah tidak tahu aturan. Akhirnya ia menegur, "Eh, Tosu, kau asal kuil mana? Kenapa datang kemari untuk main gila!"

Ong Cie It tidak menyahut, ia hanya balik bertanya, "Jenderal, kau berasal dari negara mana? Kau mengandalkan apa sampai datang kemari dan menjadi pembesar negeri?"

Couw Tek gusar sekali. Bukankah ia orang Han yang bekerja pada bangsa Kim? Kenapa ia mesti ditanya lagi jika bukan untuk menghina? Ia justru paling tidak senang jika orang menyebut-nyebut kebangsaannya. Ia tidak puas dengan kedudukannya; ia menganggap dirinya gagah dan sudah bekerja mati-matian untuk negara Kim, namun pemerintah tidak pernah mengizinkannya memimpin pasukan sendiri. Selama dua puluh tahun bekerja, pangkatnya tidak kecil, tetapi ia tetap ditempatkan di onghu.

Perkataan Ong Cie It membuatnya tersinggung. Ia melompat bangun dan, walaupun di depannya ada Nio Cu Ong dan Auwyang Kongcu, ia mengulurkan tangan untuk meninju muka Ong Cinjin!

Cie It tertawa. "Kau tidak hendak memberitahu pun tidak apa, Ciangkun," katanya. "Tetapi mengapa kau harus gusar dan menggunakan kekerasan?" Ia mengangkat sumpitnya untuk menjepit kepalan tangan orang itu.

Kepalan Couw Tek tertahan; ia tidak dapat meneruskan tinjunya. "Imam siluman, kau menggunakan ilmumu!" bentaknya, kaget dan gusar menjadi satu. Ia mencoba menarik tangannya, tetapi tidak berhasil. Mukanya menjadi merah karena malu.

"Jangan gusar, Ciangkun," ujar Nio Cu Ong yang berada di sampingnya. "Baiklah, Ciangkun duduk dan keringkan arakmu!" Ia mengulurkan tangan untuk menekan pundak sang jenderal.

Thie Kak Sian Giok Yang Cu tahu bahwa sumpitnya dapat memengaruhi Couw Tek, namun tidak bagi orang bermarga Nio ini. Maka, selagi orang itu menekan pundak sang jenderal, dengan kecepatan luar biasa ia melepaskan jepitannya dan menggunakan sumpitnya untuk menyambar sepotong paha ayam, lalu menyuapkannya secara paksa ke dalam mulut orang bermarga Thung itu!

Couw Tek tersedak; selagi mulutnya tersumpel, tubuhnya jatuh terduduk di kursi akibat tekanan Nio Cu Ong. Ia malu bukan main dan sangat mendongkol, sehingga ketika ia bangkit kembali, ia langsung lari ke dalam.

Menyaksikan kejadian itu, semua hadirin tertawa.

"Coan Cin Pay berpengaruh di Selatan dan Utara, sungguh namanya bukan kosong belaka!" kata See Thong Thian. "Aku hendak memohon sesuatu kepada Totiang, sudikah Totiang meluluskannya?"

"Tidak berani aku menerima pujianmu, See Locianpwe," jawab Giok Yang Cu. "Silakan Locianpwe mengatakannya."

"Pihak kami tidak ada sangkutannya dengan Coan Cin Pay," kata Kwie-bun Liong Ong. "Maka itu aku mohon keterangan, kenapa pihakmu berdiri sepenuhnya di belakang Kanglam Cit Koay dan dengan begitu menyusahkan pihakku? Walaupun Coan Cin Pay banyak anggotanya dan sangat berpengaruh, aku yang bodoh tidak merasa takut."

"See Locianpwe, dalam hal ini terang ada salah mengerti," sahut Giok Yang Cu. "Pinto tahu tentang Kanglam Cit Koay, tetapi dengan mereka itu, tidak satu pun yang pinto kenal, hanya salah satu suhengku yang memiliki sangkutan dengan mereka. Maka itu, sama sekali tidak ada soal pihakku membantu Kanglam Cit Koay menghadapi Hong Ho Su Koay."

"Bagus, kalau begitu!" seru See Thong Thian. "Sekarang kau serahkan bocah ini kepadaku!" Ia berbangkit dan hendak mengulurkan tangan guna menjambak leher Kwee Ceng.

Ong Cie It mengerti bahwa bocah itu tidak bakal lolos, setidaknya ia tentu akan terluka. Maka, ia lekas berbangkit untuk menghalangi. Lengan kirinya secara bersamaan digunakan untuk membentur bocah itu hingga tubuh Kwee Ceng terpental.

Menyusul itu, jambakan orang bermarga See tersebut mengenai kursi yang diduduki Kwee Ceng hingga kursi itu hancur dan menimbulkan suara keras. Jambakan itu adalah ilmu Gwa-kang (Bagian Luar); hebatnya tidak sama dengan Kiu-im Pek-ku Jiauw dari Hek Hong Siang Sat, akan tetapi tetap tidak bisa diremehkan.

"Hau, kau lindungi bocah ini?" tegur Thong Thian karena kegagalannya.

"Sabar, Locianpwe," kata Cie It tenang. "Anak ini pinto yang membawa datang ke istana ini, maka sudah selayaknya jika nanti pinto membawanya keluar secara baik-baik. Kalau benar Saudara tidak sudi melepaskannya, tidak dapatkah kau mencarinya di lain hari?"

Auwyang Kongcu lantas ikut campur bicara.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment