Chapter 112
Ketika ia dilahirkan, ibunya lantas menutup mata karena sukar melahirkan. Semenjak bayi, ia dirawat oleh ayahnya. Kemudian, terjadi peristiwa Oey Yok Su murka besar karena Tan Hian Hong dan Bwee Tiauw Hong, kedua muridnya, memainkan lelakon asmara dan melarikan diri. Saking kalapnya, ia memutuskan urat-urat semua murid lainnya dan mengusir mereka dari Pulau Tho Hoa To. Di pulau itu hanya tertinggal beberapa bujang tua, hingga sang nona belum pernah mendengar soal pemuda dan pemudi dewasa.
Begitulah sampai usianya lima belas tahun, ia tetap tidak tahu mengenai hal itu.
Kalau toh ia menyukai Kwee Ceng, itulah karena perasaannya yang wajar; perasaan yang ia rasakan manis, dan apabila mereka berpisah, segera ia merasa sunyi seorang diri.
Namun, ia tahu jika orang menjadi suami-istri, mereka tidak bakal berpisah lagi seumur hidup. Karena itu, ia menganggap Kwee Ceng sudah menjadi suaminya; lain daripada itu, ia tidak tahu apa-apa.
Untuk sejenak, Cit Kong pun dipersulit oleh pertanyaan si nona hingga ia tidak lantas memberikan jawaban.
"Setelah seorang nona dirusak kesuciannya, apakah dia lantas dibunuh?" tanya Oey Yong lagi.
"Bukannya begitu," Cit Kong tertawa.
"Wanita yang diperhina secara demikian, hebatnya melebihkan daripada dibunuh. Maka juga ada pepatah, 'Hilang kesucian urusan besar, mati kelaparan urusan kecil'."
"Habis, apakah dia dihajar kemaluannya?" si nona bertanya lagi.
"Cis!" Cit Kong meludah tetapi ia tertawa. "Bukannya begitu, budak! Baiklah kau pulang untuk menanyakan keterangan ibumu!"
"Ibu sudah lama tutup mata," sahut si nona.
"Oh," si pengemis melongo. "Nanti saja, kapan tibanya kamu berdua merayakan pernikahan, kau bakal mengerti sendiri."
Wajah si nona menjadi merah, ia memonyongkan mulutnya. "Sudahlah jika kau tidak sudi menerangkan!" katanya.
Samar-samar ia mulai mengerti duduk perkaranya. Ia bertanya lagi, "Habis, bagaimana sesudah kau pergoki si siluman bangkotan itu berbuat buruk?"
Lega si pengemis mendengar orang berbicara soal lain. "Pasti sekali aku urus dia!" ia menyahut. "Orang bermarga Nio itu telah kubekuk, kuhajar, dan kupaksa ia mengantar pulang semua nona itu ke rumahnya masing-masing. Selain itu, aku paksa ia mengangkat sumpah bahwa lain waktu dia tidak lagi berbuat sejahat itu, dan aku ancam, apabila aku memergokinya pula, ia bakal mati tidak, hidup pun tidak!"
"Oh, kiranya demikian!"
Kemudian, setelah bersantap, Oey Yong berkata, "Cit Kong, kalau sekarang kau berikan tongkatmu kepadaku, aku juga tidak sudi menerimanya, hanya masih ada satu soal. Bukankah kita tidak bakal berdiam bersama-sama untuk selama-lamanya? Bagaimana kalau lain waktu kami berdua bertemu pula sama siluman bermarga Nio itu dan dia bilang padaku, 'He, budak yang baik, dulu kau mengandalkan Ang Pangcu, kau menghajarku dengan tongkatnya, sekarang aku hendak membalas sakit hati!' Kalau sampai terjadi begitu, bagaimana kami harus berbuat?"
Ang Cit Kong tertawa. "Ha! Kau sebenarnya menghendaki aku mengajari lagi ilmu silat kepada kalian berdua! Kau kira aku tidak tahu? Sekarang pergilah kau masak sayur lagi, buatlah yang banyak, kau boleh percaya Cit Kong tidak akan membuatmu kecewa!"
Oey Yong menjadi sangat girang, ia menyambar tangan si pengemis untuk dibawa ke rimba tadi.
Ang Cit Kong mengajarkan jurus baru kepada Kwee Ceng, yaitu jurus kedua dari Hang Liong Sip-pat Ciang, yang bernama "Hoei Liong Thay Thian" atau "Naga Terbang ke Langit". Jurus ini mewajibkan Kwee Ceng melompat tinggi sekali, lalu dari atas ia menyerang turun hingga tenaganya menjadi luar biasa besar. Untuk ini, Kwee Ceng memerlukan waktu tiga hari baru dapat melatihnya dengan baik.
Selama tiga hari itu, Oey Yong sendiri sudah mendapatkan pelajaran lain, yaitu cara menggunakan tempuling ngo-bje-cie untuk memecahkan sebatang golok. Sementara itu, Ang Cit Kong sendiri telah menikmati belasan macam makanan lezat dari si nona.
Demikianlah hari-hari berlalu. Tidak sampai satu bulan, Cit Kong sudah mewariskan lima belas jurus dari Hang Liong Sip-pat Ciang, dari "Naga Menyesal" sampai pada "Liong Thian Ie Ya" atau "Naga Bertempur di Tanah Datar". Ilmu silat itu diciptakan Cit Kong sendiri setelah ia memahami kitab "Ya Keng". Jurusnya terbatas sekali, tetapi kegunaannya besar sebab setiap jurusnya hebat. Hanya ketika dulu di puncak Hoa San ia mengadu silat dengan Oey Yok Su, ilmu ini belum ia ajarkan habis, meski begitu, Ong Tiong Yang memuji ilmunya itu. Cit Kong menyesal belum sempat menyelesaikan ilmu tersebut; jika tidak, mungkin ia yang menjadi pemenang nomor satu.
Mulanya ia hanya hendak mengajari Kwee Ceng dua-tiga jurus untuk menjaga diri, tetapi masakan Oey Yong hebat sekali. Hari demi hari berlalu, hingga akhirnya ia mewariskan lima belas jurus itu. Dalam waktu satu bulan, Kwee Ceng telah berubah seperti orang lain. Oey Yong sendiri telah memperoleh beberapa jurus luar biasa yang campur aduk.
Pada suatu pagi sehabis sarapan, Cit Kong berkata kepada kedua bocah itu, "Eh, anak-anak, kita sudah berkumpul sebulan lamanya, sudah tiba waktunya kita berpisah."
"Oh, tidak!" Oey Yong mencegah. "Aku masih mempunyai beberapa macam masakan yang hendak aku buat untuk kusediakan kepadamu, Lojinkee!"
"Ingat, anak, di kolong langit ini tidak ada pesta yang tidak bubar. Kau tahu biasanya aku, si tua bangka, belum pernah mengajari orang lebih dari tiga hari, tetapi terhadap kamu, aku telah meluangkan waktu satu bulan. Kalau mesti ditambah hari lagi, oh, itu hebat sekali!" kata si pengemis.
"Kenapa begitu, Cit Kong?" tanya si nona heran.
"Dengan begitu, habislah semua kepandaianku diturunkan kepada kamu!" sahut si raja pengemis.
Oey Yong tersenyum tetapi ia berkata, "Cit Kong, orang baik mestinya sekali berbuat baik, seterusnya berbuat baik hingga akhirnya. Jika kau ajarkan semua delapan belas jurus dari Hang Liong Sip-pat Ciang kepadanya, bukankah itu baik sekali?"
"Fui!" si pengemis berseru. "Ya, buat kamu baik, tetapi bagi aku, si pengemis, tidak!"
Oey Yong menjadi bingung. Ia lantas memikirkan cara untuk menahan orang tua itu, tetapi sebelum ia mendapat pikiran, Cit Kong telah menggendong cupu-cupunya, mengangkat tongkatnya, dan melangkah pergi sambil menyeret sepatunya.
Kwee Ceng menjadi bingung juga, ia berlari menyusul. Hebatnya Cit Kong, sebentar saja ia telah lenyap di dalam rimba.
"Cit Kong! Cit Kong!" Kwee Ceng menyusul dan berteriak-teriak. Tidak ada jawaban. Oey Yong juga menyusul, ia pun memanggil-manggil, tapi tidak memperoleh sahutan.
Namun, tak lama kemudian, terlihatlah suatu bayangan dan Cit Kong muncul dengan tiba-tiba.
"Ha, kamu berdua budak busuk, mau apa mengikuti aku?" ia bertanya, agaknya ia mendongkol. "Apakah kau masih meminta aku mengajari silat? Oh, itulah sukar di atas sukar!"
"Lojinkee sudah mengajarkan banyak, teecu telah puas," kata Kwee Ceng yang menyebut dirinya teecu atau murid. "Teecu tidak akan berlaku tamak, cuma teecu belum dapat membalas budimu yang besar sekali." Ia lantas menjatuhkan diri, berlutut untuk memberi hormat kepada guru sementara itu.
"Ha, tahan!" mendadak si pengemis berseru. "Aku mengajarkan kau silat sebab aku tergiur sayur masakan dia, untuk itu, pengajaranku adalah bayarannya! Di antara kita tidak ada soal guru dan murid!"
Mendadak ia pun berlutut, membalas hormat anak muda itu. Kwee Ceng kaget sekali, hendak ia memberi hormat lagi untuk membalas, tetapi ia tidak dapat berbuat begitu. Tiba-tiba saja si pengemis mengulurkan tangannya dan menotok jalan darah di rusuk Kwee Ceng hingga ia berdiri dengan kedua kaki ditekuk; ia tak dapat menggerakkan tubuhnya!
Cit Kong mengangguk sampai empat kali guna membalas penghormatan orang, baru ia menotok lagi untuk membebaskan jalan darah orang itu. Ia berkata, "Ingat, sekarang jangan kau katakan bahwa kau sudah memberi hormat padaku atau bahwa kaulah muridku!"
Kwee Ceng berdiam, tidak berani ia membuka mulut lagi. Sekarang ia menginsyafi benar-benar tabiat aneh dari si raja pengemis yang berjari sembilan itu.
Cit Kong lantas memutar tubuhnya hendak melangkah, namun mendadak ia bersuara "Ih!" lantas membungkuk. Tangannya diulurkan ke tanah, di antara rumput, dua jarinya menjepit seekor ular hijau sepanjang dua kaki.
"Ular!" Oey Yong menjerit saat si pengemis mengangkat tangannya. Baru saja ia berseru, pundaknya telah didorong Ang Cit Kong hingga ia terpental jauhnya lebih dari satu tombak!