Chapter 116
Oey Yong mengangguk, lantas ia melompat bangun seraya menarik tangan orang.
Justru di atas pohon terdengar suara berkeresek, lalu terjatuh selembar kulit kayu, disusul bayangan seseorang yang berkelebat melompat di atas pepohonan di dekat situ, lantas lenyap.
Dengan heran, Oey Yong memungut kulit kayu itu. Di situ ia melihat sebaris huruf yang ditulis dengan jarum, bunyinya, "Dua nona yang baik sekali! Yong-jie, apabila kau main gila pula, Cit Kong ingin menggeplakmu beberapa kali!" Di bawah itu tidak ada tanda tangan, hanya gambaran sebuah cupu.
Tahulah ia, itu adalah perbuatan Ang Cit Kong. Maka tahu juga ia bahwa segala sepak terjangnya sudah diketahui si kepala pengemis itu. Ia merasa jengah sendiri.
Namun, ia mengajak Liam Cu ke rimba; di sana ia tidak menjumpai Cit Kong. Terpaksa mereka kembali ke pondokan. Kwee Ceng sudah kembali dari belakang bukit, heran ia melihat Oey Yong bergandengan tangan bersama Liam Cu.
"Enci Bok, apakah kau dapat melihat guruku?" tanyanya.
"Aku telah berpisah dari gurumu itu," jawab Liam Cu. "Mereka telah berjanji untuk bertemu kembali di Yan Ie Lauw di Kee-hin pada Pee Gwee Tiong Ciu."
"Baik-baikkah mereka semua?" tanyanya lagi.
"Jangan khawatir, Kwee Sieheng," sahut Liam Cu tersenyum. "Mereka semua tidak mendongkol karena perbuatanmu itu."
Tidak lega hati Kwee Ceng, yang menyangka gurunya pasti sangat gusar. Karena ini, ia menjadi tidak bernafsu makan dan minum; ia duduk berdiam saja. Liam Cu sebaliknya menanya Oey Yong mengenai cara mereka bertemu dengan Ang Cit Kong. Oey Yong memberikan keterangan dengan jelas.
"Kau sangat beruntung, adikku," kata Liam Cu seraya menghela napas. "Kau dapat berkumpul begitu lama bersamanya, sedangkan aku sendiri, bertemu pun susah."
"Tapi diam-diam ia melindungimu, Enci," Oey Yong menghibur. "Kalau tadi aku benar-benar mencelakai kau, ia tentu bakal turun tangan menolongmu."
Liam Cu mengangguk, ia membenarkan. Kwee Ceng mendengar pembicaraan mereka, ia heran. "Yong-jie, bagaimana?" tanyanya. "Kenapa kau hendak mencelakai Enci Bok?"
Oey Yong menoleh sambil tersenyum. "Tidak dapat aku menerangkan kepadamu," sahutnya.
"Dia takut, dia takut," kata Liam Cu tertawa. Ia pun meliuk, tidak berani bicara terus.
Oey Yong mengitik, "Kau berani menceritakan atau tidak?"
Liam Cu mengulurkan lidahnya. "Mana aku berani?" sahutnya. "Maukah aku bersumpah?"
"Cis!" Oey Yong meludah. Tapi mukanya kembali menjadi merah. Ia malu sendiri ketika ingat bahwa tadi sudah memaksa nona itu bersumpah untuk dinikahi Kwee Ceng. Kwee Ceng tidak tahu isi hati mereka, tapi ia senang melihat mereka rukun sekali.
Habis bersantap bertiga, mereka pergi berjalan-jalan ke rimba. Di sini Oey Yong bertanya bagaimana caranya Liam Cu bertemu dengan Ang Cit Kong hingga diajarkan silat.
"Itu waktu aku masih kecil," sahut Liam Cu bercerita. "Pada suatu hari, ayah mengajakku pergi ke Pian-liang, di sana kita menginap. Hari itu aku keluar untuk main-main di depan pintu, aku melihat dua orang pengemis rebah di tanah, tubuh mereka berlumuran darah bekas bacokan. Tidak ada orang yang memedulikan, rupanya mereka jijik atau ngeri."
"Aku mengerti," potong Oey Yong, "kau tentu baik hati, kau merawat mereka."
"Aku tidak bisa mengobati mereka, tetapi karena kasihan, aku memapah mereka ke kamar ayah, aku cuci lukanya dan membalutnya," Liam Cu melanjutkan. "Ketika ayah pulang dan aku tuturkan apa yang aku lakukan, ayah menghela napas dan memujiku. Ia pun berkata, dulu istrinya juga murah hati seperti aku. Kemudian ayah memberikan beberapa tail perak kepada kedua pengemis itu untuk membeli obat. Mereka menerima seraya mengucapkan terima kasih dan lantas pergi."
"Selang beberapa bulan, kami tiba di Sin-yang. Kebetulan sekali aku bertemu kedua pengemis itu, waktu itu luka mereka sudah sembuh. Mereka mengajak aku ke sebuah kuil rusak; di sana aku bertemu dengan Ang Cit Kong. Dia memuji aku, lantas ia mengajari ilmu silat Po-giok-kun itu. Baru tiga hari, aku sudah dapat memahaminya. Di hari keempat, aku pergi ke kuil tua itu, ternyata lojinkee sudah pergi, dan selanjutnya aku tidak pernah bertemu lagi dengannya."
Oey Yong tertarik hatinya. "Cit Kong telah mengajarkan banyak padaku, Enci," ia berkata. "Kalau kau suka, nanti aku turunkan beberapa di antaranya padamu. Mari kita berdiam di sini untuk belasan hari. Umpama kata Cit Kong mengetahui perbuatanku, ia tidak akan gusar."
"Terima kasih, Adik," kata Liam Cu. "Sekarang ini aku punya urusan sangat penting, tidak ada waktu luangku. Nanti saja, biarpun kau tidak mengajari, aku sendiri yang akan meminta padamu."
Sabar dan lembut kelihatannya Liam Cu dari luar, tetapi sekali ia berkata, ia membuat orang bungkam. Begitulah Oey Yong; tadinya ia ingin meminta keterangan, lalu ia batal sendiri.
Pagi itu Liam Cu pergi seorang diri, ia pulang di waktu sore, roman mukanya gembira. Oey Yong melihat itu, ia pura-pura pilon. Malam itu berdua mereka tidur dalam satu kamar. Oey Yong naik lebih dulu ke atas pembaringan. Diam-diam ia mencuri lihat orang duduk menghadap lampu seraya menunjang dagu, seperti lagi berpikir keras. Ia menutup matanya rapat-rapat untuk berpura-pura pulas.
Berselang beberapa saat, Liam Cu mengeluarkan serupa barang dari buntalannya, dengan lembut barang itu diciumi berulang-ulang, dimainkan di tangannya, dipandangi lama. Samar-samar Oey Yong melihat seperti sepotong sapu tangan sulam. Tiba-tiba Liam berbalik, tangannya mengebaskan barang itu. Oey Yong kaget, lekas-lekas ia memejamkan mata. Ketika ia mendengar siuran angin perlahan-lahan, ia membuka matanya sedikit untuk mengintai.
Ia mendapati Liam Cu jalan mondar-mandir di depan pembaringan, lengannya dilibatkan barang yang tadinya ia mainkan. Nyatalah itu adalah jwiran jubah Wanyen Kang yang didapat pada hari mereka pibu. Nona Bok tersenyum, rupanya dia membayangi kejadian di hari itu dan hatinya berbunga; begitulah satu kali ia menendang, lain kali kepalanya melayang, alisnya bergerak-gerak.
Oey Yong terus berpura-pura pulas tapi setiap waktu ia mengintai. Ia melihat orang datang dekat sekali padanya dan menatap mukanya. Ia mendengar orang menghela napas dan berkata dengan perlahan, "Kau cantik sekali."
Mendadak nona itu membalik tubuh, ia pergi ke pintu dan membukanya; di lain saat ia sudah berada di luar, melompati tembok pekarangan dan pergi. Oey Yong heran bukan main. Ia melompat turun, lantas keluar untuk menyusul. Ia melihat orang lari ke arah Barat. Ia menguntit, tentu saja ia berhasil karena ia dapat berlari dengan cepat. Ia hanya menjaga agar tidak diketahui nona bermarga Bok itu.
Liam Cu pergi ke pasar, menaiki sebuah rumah; sesudah melihat keempat penjuru, ia pergi ke Selatan di mana ada sebuah lauwteng paling tinggi. Setiap hari Oey Yong pergi berbelanja ke pasar, ia tahu itulah rumah keluarga Chio, hartawan terbesar di tempat itu. Ia menjadi heran dan menduga-duga apakah mungkin Liam Cu membutuhkan uang.
Sebentar saja keduanya sudah sampai di samping rumah keluarga Chio. Dari situ terlihat di depan rumah ada sinar terang dari dua buah lentera besar yang bertuliskan huruf-huruf air emas: "Utusan Negara Kim". Di bawah itu, di muka pintu, ada berjaga-jaga empat serdadu Kim dengan tangan mencekal golok.
Liam Cu pergi ke belakang di mana keadaan sunyi, tapi ia masih mencoba menimpuk dengan batu untuk mencari tahu di situ ada orang yang berjaga atau tidak. Setelah itu, ia melompati tembok masuk ke pekarangan dalam. Ia berjalan di antara pohon-pohon bunga dan gunung palsu. Oey Yong terus menguntit.
Liam Cu pergi ke jendela sebuah kamar timur; di situ di kertas jendela terlihat bayangan seorang lelaki yang tengah berjalan mondar-mandir. Si nona terpaku mengawasi bayangan orang itu. Oey Yong menduga, ia tapi tidak sabaran. "Baik aku masuk dari sebelah lain, aku totok roboh orang itu supaya ia kaget," pikirnya. Ia menganggap nona Bok terlalu ragu-ragu.
Di saat ia hendak membuka jendela untuk melompat masuk, ia dengar pintu dibuka, lalu seorang masuk. Orang itu memberi kabar bahwa menurut warta, utusan raja yang bakal menyambut, yaitu Toan Ciangkun yang berpangkat komandan tentara, akan tiba lusa. Orang di dalam itu menyahuti, lalu si pembawa kabar mengundurkan diri pula.
"Terang ini adalah utusan negara Kim, kalau begitu Enci Bok punya maksud lain," Oey Yong berpikir. "Aku tidak boleh sembrono." Ia lantas membasahi kertas jendela untuk membuat sebuah lubang kecil guna mengintai ke dalam. Ia heran berbareng gembira.
Orang di dalam kamar itu adalah si pangeran muda Wanyen Kang. Tangannya memegang serupa benda hitam yang tengah dimainkan sembari ia berjalan mondar-mandir, matanya mengawasi wuwungan, entah apa yang dipikirkannya. Tempo pangeran itu datang dekat ke api, Oey Yong melihat tegas barang itu adalah kepala tombak yang sudah karatan, masih ada sisa sedikit gagangnya. Nona Oey ini tidak tahu tombak itu adalah tombak warisan Yo Tiat Sim, ayah si pangeran; ia hanya menduga Liam Cu tentu ada hubungannya dengan itu.
Ia tertawa di dalam hatinya dan berpikir, "Kamu lucu! Yang satu memainkan jwiran jubah, yang lain memainkan ujung tombak! Kamu berada begini dekat satu sama lain, kenapa kamu bagaikan terpisah antara ujung dunia?"
Tanpa merasa, ia tertawa. Wanyen Kang dapat mendengar suara itu, ia terperanjat. "Siapa!" ia bertanya seraya mengebas mati api lilin.
Oey Yong tidak menyahuti, hanya ia melompat kepada Liam Cu; sebelum nona Bok mendusin, ia sudah ditotok hingga tidak dapat bergerak lagi. Baru setelah itu sembari tertawa ia berkata, "Enci, jangan khawatir, jangan sibuk!"