Chapter 39
Jika mereka berdua, tidak dapat mereka melayani. Tapi, siapa tahu Tong Sie bersembunyi di mana? Siapa tahu kalau dia muncul mendadak untuk membokong kita? Toako telah berpikir jauh, baiklah kita taati pesannya.
"Biar toako yang mendahului?" Habis memeriksa isi perut mayat, Tiat Sie nampaknya puas, ia lantas duduk bersila di tanah.
Menghadap rembulan, ia menarik napas keluar masuk untuk melatih tenaga dalamnya.
Ia duduk membelakangi Cu Cong dan Siauw Eng, nampak nyata bokongnya bergerak-gerak.
"Kalau sekarang aku tikam dia, sembilan puluh sembilan persen, aku dapat tembus bokongnya!" pikir si Nona Han.
"Hanya kalau aku gagal, akibatnya mesti hebat sekali?" Karena ini, karena ragu-ragu, ia gemetar sendiri.
Tegang hatinya.
Cu Cong pun sama tegangnya sampai ia menahan napasnya.
Setelah melatih napasnya, Bwee Tiauw Hong bangkit berdiri.
Ia lantas menyeret mayat korbannya, membawanya ke peti mayat di mana Kwa Tin Ok menyembunyikan diri.
Ia membungkuk untuk mengangkat tutup peti mati istimewa itu.
Enam saudara itu bersiap.
Begitu tutup dibuka, hendak mereka menerjang bersamaan.
Tiba-tiba Bwee Tiauw Hong mendengar berdesiknya daun pohon di sebelah belakangnya.
Sangat perlahan suara itu, seperti desiran angin.
Ia berpaling dengan segera.
Ia dapat melihat seperti bayangan satu kepala orang di atas pohon.
Tak ayal lagi, bersamaan dengan pekiknya, ia melompat ke arah pohon itu.
Itulah Ma Ong Sin Han Po Kie yang bersembunyi di pohon itu.
Bertubuh kate, ia percaya dengan bersembunyi di atas pohon, ia takkan terlihat.
Ia hendak melompat turun ketika tubuhnya bergerak bangun, ia tidak menyangka ia dapat dipergoki wanita lihai itu yang segera menerjang ke arahnya.
Tanpa ragu ia kerahkan tenaganya, akan menyambut wanita itu dengan cambuknya Kim-liong-pian.
Ia mengarah ke lengan.
Bwee Tiauw Hong tidak berkelit atau menangkis, sebaliknya ia pakai cambuk itu untuk terus disambar, untuk dicekal, dan dibarengi ditarik dengan keras!
Po Kie merasakan satu tenaga keras menariknya, tetapi ia juga bertenaga besar, ia pun balik menarik.
Mengikuti tarikan orang, atau lebih tepat mengikuti cambuk Naga Emas.
Bwee Tiauw Hong menyambar dengan tangan kirinya, yang cepat bagaikan angin, anginnya pun tiba lebih dahulu.
Po Kie menyadari bahaya, ia lepaskan cambuknya, terus ia lompat berjingkat.
Tiauw Hong tidak hendak memberi lolos, lima jarinya menyambar ke arah bokong si cebol itu.
Po Kie merasakan angin dingin di pundaknya, lagi sekali ia injakkan tubuhnya, untuk melesat ke depan.
Saat itu, di bawah pohon, Lam Hie Jin dengan Touw-kut-cui, Bor Menembus Tulang, dan Coan Kim Hoat dengan sepasang panahnya, menyerang musuh itu.
Tiauw Hong mengetahui itu, seperti juga sebuah kipas besi, ia menyambar dengan tangan kirinya, hingga kedua senjata rahasia itu jatuh ke tanah, sedang di lain pihak, tangan kanannya telah merobek baju Po Kie di bagian bokongnya!
Po Kie menekan tanah dengan kaki kiri, ia injakkan tubuhnya, akan melompat pula.
Tetapi Tiauw Hong, yang sangat gesit, sudah melompat hingga di depannya dan sambil bertanya: "Kau siapa!
Perlu apa kau datang kemari?" Sepasang tangannya sudah mampir di pundak orang, hingga Po Kie merasakan sakit sekali, sebab sepuluh kukunya telah menancap di dagingnya.
Ia menjadi kesakitan, kaget, dan gusar, ia angkat kakinya, menendang ke arah perut.
Hebat kesudahan tendangan ini.
Tendangan seperti mengenai batu, di antara suara keras, kaki itu terkilir tekukannya, hingga karena sakitnya, yang sampai ke ulu hati, ia roboh hampir pingsan, hanya karena jago, ia masih bisa menggulingkan diri, untuk menyingkir jauh.
Tiauw Hong sangat lihai dan gesit sekali, masih ia melompat, untuk menendang bokong musuh gelapnya itu, hanya saat itu, sebuah kayu pikulan yang hitam menyambar dia dari samping, mengarah kakinya.
Batal menyerang, ia melompat mundur satu langkah.
Hanya kali ini, dengan lihainya matanya dan jeli kupingnya, ia segera mengerti bahwa ia telah berada dalam kepungan.
Satu mahasiswa yang memegang kipas totokan dan satu nona yang bersenjatakan pedang, menyerang ia dari kanannya, sedang di kirinya datang serangan golok dari seseorang yang bertubuh jangkung gemuk serta seorang kurus dengan senjatanya yang aneh, sementara penyerang dengan kayu pikulan itu adalah seorang desa.
Ia menjadi heran dan gentar pula.
Semua penyerang itu tidak dikenalnya dan mereka agaknya lihai.
Maka ia lantas berpikir: "Mereka banyak, aku sendirian, baiklah aku robohkan dulu beberapa di antaranya." Demikian, dengan satu kali meleset, ia menyambar ke muka Siauw Eng!
Cu Cong melihat ancaman bahaya untuk adiknya itu, ia menyerang jalan darah kiok-tie-hiat dari musuh lihai itu.
Tapi Tiat Sie si Mayat Besi benar-benar lihai, malah aneh juga, sebab ia tidak pedulikan totokan itu, ia teruskan sambarannya kepada nona Han itu.
Dengan satu gerakan "Pek louw heng kang" atau "Embun putih melintangi sungai", Siauw Eng membabat tangan musuh, atas mana, dengan putaran tangannya yang ugal-ugalan, Bwee Tiauw Hong dengan berani berbalik menyambar pedang.
Ia agaknya tidak takut senjata tajam itu.
Siauw Eng menjadi terkejut, cepat-cepat ia melompat mundur.
Saat itu, dengan terdengarnya suara berdebat, kipas Cu Cong telah mengenai tepat sasarannya, ialah jalan darah kiok-tie-hiat.
Biasanya, siapa terkena totokan itu, segera tangannya kaku dan mati.
Cu Cong tahu ia telah berhasil menghajar sasarannya, hatinya girang sekali.
Justru ia girang itu, tahu-tahu tangan musuh berkelebat, menyambar ke kepalanya!
Bukan main kagetnya Manusia Aneh yang kedua ini.
Dengan menunjukkan kegesitannya, ia melompat melesat, untuk membebaskan diri dari sambaran itu.
Ia lolos tetapi kagetnya tak kepalang, herannya bukan buatan.
"Mungkin ia tidak punya jalan darah?" pikirnya.
Ketika itu, Han Po Kie sudah mengambil kembali cambuknya, dengan bekerja sama dengan kelima saudaranya, ia maju pula, mengepung musuh yang lihai itu, maka juga pedang dan golok semua menyerbu Bwee Tiauw Hong.
Akan tetapi si Mayat Besi tak jeri, ia seperti tidak menghiraukan enam macam senjata musuh itu, ia terus melawan dengan sepasang tangannya yang berdarah daging!
Dengan kuku-kukunya yang seperti cakar besi, Bwee Tiauw Hong menyambar musuh, untuk merebut senjata, guna mencengkeram daging.
Menyaksikan itu, enam Manusia Aneh itu menjadi ingat semua tengkorak yang berhiaskan bekas jari tangan itu, dengan sendirinya hati mereka menjadi gentar.
Mereka juga mendapatkan tubuh orang seperti besi kuatnya. Dua kali ayunan timbangan Coan Kim Hoat mengenai bokong Tiat Sie dan satu kali kayu pikulannya Kanglam Liok Koay menyambar paha, tetapi Bwee Tiauw Hong agaknya tidak terluka, sedang seharusnya ia mesti patah atau remuk tulang-tulangnya.
Karena ini, teranglah orang telah punya ilmu Kim-ciong-tiauw "Kurungan Loncang Emas", dan Tiat-pou-san "Baju Besi", dua macam ilmu bela diri.
Kecuali golok lancipnya dari Thio A Seng dan pedang tajam dari Han Siauw Eng, semua senjata lainnya, berani Tiat Sie sambut dengan tubuhnya yang tangguh itu.
Lagi sesaat, Coan Kim Hoat berlaku agak lamban, tidak ampun lagi bahu kirinya kena dicengkeram Bwee Tiauw Hong.
Lima Manusia Aneh lainnya kaget, mereka menyerang bersamaan untuk menolong saudara mereka itu.
Tapi si Mayat Besi sudah berhasil, tak saja baju Kim Hoat robek, sepotong dagingnya pun kena tercukil dan ia berdarah-darah.
Cu Cong jadi berpikir, ia menduga-duga di mana kelemahan musuh lihai itu.
Ia tahu betul, siapa punya ilmu bela diri, ia pasti punya suatu anggota kelemahan.
Karena ini ia melompat-lompat, menyerang sambil mencari-cari.
Di ubun-ubun ia totok jalan darah pek-hoay, di tenggorokan jalan darah hoan-kiat, sedang di perut jalan darah cee-cun dan di bokong jalan darah bwee-liong, demikian pun jalan darah lainnya.
Ia sudah menotok belasan kali, tidak juga ada hasilnya, hingga ia menjadi berpikir keras.
Bwee Tiauw Hong dapat menerka maksud orang.
Ia berseru: "Siucay bodoh, ketahuilah olehmu, pada nyonya besarmu tidak ada bagiannya yang lemah, semua anggota tubuhnya telah terlatih sempurna!" Dan tangannya menyambar lengan si mahasiswa itu!
Cu Cong terkejut, beruntung ia gesit dan cerdik, tak menunggu tibanya cengkeraman, ia mendahului menotok telapak tangan orang.
Tiauw Hong kena cekal barang keras, ia heran, justru itu Cu Cong membebaskan diri.
Manusia Aneh yang kedua itu menyingkir beberapa langkah, untuk melihat lengannya.
Di sana terpahat tapak lima jari tangan, melihat mana, ia menjadi terkesiap hatinya.
Syukur ia buru-buru membela dirinya, kalau tidak, celakalah ia.
Ia menjadi ragu.
Di pihaknya, sudah ada tiga yang kena tangan lihai si Mayat Besi.
Coba Tong Sie si Mayat Perunggu muncul, tidakkah mereka bertujuh saudara bakal roboh semuanya? Thio A Seng, Han Po Kie, dan Coan Kim Hoat sudah lantas mulai tersengal-sengal napasnya, dahi mereka bermandikan peluh.
Tinggal Lam Hie Jin yang masih dapat bertahan, demikian juga dengan Lam Siauw Eng. Hie Jin karena tenaga dalamnya sempurna, Siauw Eng lantaran kegesitan tubuhnya.
Di pihak sana, Tiauw Hong malah bertambah gagah tampaknya.
Satu kali Cu Cong kebetulan menoleh ke arah tumpukan tengkorak, ia dapat melihat cahaya putih dari tengkorak-tengkorak itu.
Tiba-tiba ia bergidik, tetapi tiba-tiba juga, ia jadi ingat sesuatu.
Segera ia melompat, untuk lari ke arah peti mati, di mana Kwa Tin Ok lagi menyembunyikan diri, sambil berlari, ia berteriak: "Semua lekas menyingkir!" Lima saudara itu mengerti teriakan itu, mereka lantas berkelahi sambil mundur.
"Dari mana munculnya segala orang hutan yang hendak mencurangi nyonya besarmu!" kata Tiauw Hong dengan ejekannya.
"Sekarang sudah terlambat untuk kamu melarikan diri!" segera ia merangsek.